NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • October 2008
    M T W T F S S
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

Archive for October, 2008

DPR RI Mengesahkan 12 RUU Pembentukan Daerah Otonom Baru

Posted by niasbaru on October 31, 2008

*Termasuk 3 RUU untuk pembentukan: Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat

Hari ini, Rabu 29/10, DPR RI mengesahkan 12 Rancangan Undang-undag (RUU) pembentukan daerah otonom yang baru dalam suatu rapat paripurna yang dipimpin langsung oleh Ketua DPR Agung Laksono. Melalui ke 12 RUU ini, akan dibentuk Kab. Nias Utara, Kab. Nias Barat, Kota Gunung Sitoli (Sumut), Kab. Pringsewu (Lampung), Kab. Tulang Bawang Barat (Lampung), Kab. Mesuji (Lampung), Kota Tengerang Selatan (Banten), Kab. Sabu Raijua (NTT), Kab. Kepulauan Morotai (Malut), Kab. Tambrauw (Papua Barat), Kab. Intan Jaya (Papua) dan Kab. Deiyai (Papua). Read the rest of this entry »

Advertisements

Posted in Tidak terkategori | 4 Comments »

Fenomena Perkawinan Usia Dini di Nias Difilmkan: Diputar di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli

Posted by niasbaru on October 28, 2008

Kisah perkawinan usia dini di Kabupaten Nias bukan merupakan hal baru yang kita dengar. Berdasarkan penelitian Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), sepanjang 2005 – 2007 tercatat 109 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan dominasi kasus perkawinan usia dini.
Karenanya, PKPA bekerjasama dengan Sineas Film Documentary (SFD) dan didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, membuat film bergenre dokudrama yang mengangkat fenomena kentalnya perkawinan dini di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Nias.
Film berjudul “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” dan berdurasi 35 menit ini akan ditayangkan di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli, Sabtu malam (25/10), setelah sebelumnya ditayangkan di Kecamatan Lahewa pada Selasa (21/10) dan di Desa Sawo, Rabu (23/10). Read the rest of this entry »

Posted in Tidak terkategori | 14 Comments »

Membangun Persaudaraan Yang Retak

Posted by niasbaru on October 26, 2008

Marinus Waruwu

 

Hubungan persaudaraan yang retak, bermasalah selalu layak untuk dipulihkan. Sebab hidup manusia adalah tentang belajar bagaimana mengasihi, menghargai suatu hubungan yang telah dibangun. Berusaha memelihara hubungan tersebut, dan bukan merusaknya karena ada perselisihan, pertentangan karena luka hati atau konflik yang tidak terselesaikan.

Persaudaran, perdamaian yang menuju kepada persekutuan sejati adalah harga mati di jaman ini.  Sebab dimana ada persaudaran, perdamaian, disitulahlah tercipta kemanusiaan yang sejati. Kemanusiaan sejati tercipta bilamana setiap manusia menghargai martabat, derajat sesamanya sebagaimana layaknya manusia. Dan hal tersebut hanya tercipta apabila di sana persaudaran, perdamaian selalu dijaga dan dipelihara. Muncul pertanyaan: Bagaimana manusia menyikapi hubungan yang retak dengan manusia lain akibat perselisihan, pertentangan? Manusia lemah, tapi manusia selalu dituntut untuk tidak menghindari konflik yang terjadi. Manusia harus mengalami konflik yang muncul dan menjadikannya sebagai pengalaman hidup yang berharga. Konflik mendewasakan manusia dalam membangun relasi yang bertanggung jawa. Selain itu, konflik juga membantu pribadi manusia untuk memahami secara lebih mendalam karakter, kepribadian sesamanya. Sebab hubungan yang retak, hancur selalu layak untuk dibangun, dan dipulihkan kembali. Ada tujuh langkah untuk membangun kembali persaudaraan yang retak.

The first, Talk to God before you talk to the problem people. Bawalah masalah-mu kepada Tuhan. Anda diskusikan kepada-Nya segala permasalahan yang sedang anda alami. Sebab tak seorang pun yang dapat menyelesaikan persoalan anda selain Tuhan. Sebab perdamaian tak akan tercapai tanpa kekuatan Tuhan.

The second, Take an initiative action always. Anda dituntut mengambil langkah pertama. Jangan menunggu pihak lain untuk berdamai dengan anda. Ketika persaudaran tegang, rusak, rencanakanlah sebuah pertemuan perdamaian. Jangan pernah menunda-nunda dengan berbagai dalih. Masalah yang tidak cepat diselesaikan akan menjadi duri dalam daging, dan membesar.

The third, Be a simpatic man to the other people especially the problem people. Mulailah dengan simpati, dan jangan solusi. Jangan mencoba membuat orang lain melupakan perasaan mereka. Tapi dengarkanlah dan biarkanlah emosi orang tersebut tanpa bersikap defensif. Adalah kesabaran andalah yang paling dituntut disini.

The fourth, Admit your part in the conflict. Akuilah kesalahan, kesilafan yang anda buat. Jangan mengelak, mengindar. Kita semua manusia pasti punya kekurangan dan kelemahan, karena itu bila perlu ajaklah pihak ketiga untuk mengevaluasi tindakan-tindakan anda.

 The fifth, Attack the problem, but not the man. Sebuah masalah yang lemah lembut akan lebih baik dari sebuah jawaban yang kasar. Dalam memecahkan sebuah konflik, bagaimana anda mengatakannya sama pentingnya dengan apa yang anda katakan. Jika anda mengatakannya secara menyinggung, maka orang yang bermasalah dengan anda akan menerimannya secara defensif.

The sixth, Work together as possible. Perdamaian selalu ada harganya demi persaudaraan sejati, lakukan yang terbaik untuk kompromi, menyesuaikan diri dengan orang lain, dan mementingkan apa yang mereka butuhkan.

The seventh, Give priority to reconciliation, but not resolution. Rekonsiliasi berfokus pada hubungan, sedangkan resolusi berfokus pada masalahnya. Ketika anda berfokus pada rekonsiliasi, masalahnya kehilangan maknanya dan sering menjadi tidak relevan. Anda dapat membangun kembali sebuah hubungan bahkan ketika anda tidak bisa menyelesaikan perbedaan-perbedaan anda. 

Mempraktekkan ketujuh langkah di atas bukanlah hal mudah. Ketika seseorang berada dalam pesakitan biasannya yang terjadi bukan mencari solusi agar masalah terselesaikan  secepat mungkin, tetapi sebaliknya mencari berbagai cara untuk balas dendam. Jika ini yang terjadi, maka masalah akan semakin besar. Bahkan bukan hanya menyangkut masalah pribadi tetapi akan membawa orang-orang sekitar masuk dalam masalah tersebut sehingga hubungan persaudaraan yang pernah ada, terjalin berlalu begitu saja, dan rusak.

Menerapkan, mempraktekkan ketujuh langkah di atas kendati sulit. Tetapi kita diajak untuk selalu mencoba, mencoba, dan mencoba…bagi kita manusia tak mungkin, tetapi bagi Allah tak ada yang tak mungkin. Karena itu, untuk membantu menerapkannya, jangan pernah lupa untuk berdoa. Hadaplah Tuhan, dan curahkanlah keluh kesahmu kepada-Nya. Tuhan tidak tuli dan buta. Tuhan akan membimbing, mencurahkan Roh-nya kepada anda sehingga segala permasalahan teratasi dengan baik. Saya berani berkata demikian karena tulisan ini bukan hanya slogan. Tulisan ini berasal dari pengalaman konkret yang telah dibahasakan sesuai dengan karya Roh kudus. Percayalah jika anda membiarkan diri anda dimbimbing Roh Tuhan, Tuhan akan menuntun jalan agar hubungan persaudaraan yang telah rusak dapat dibangun dan dipulihkan kembali. Tuhan memberkati.

 

 

Penulis, Pengamat Politik, Student Representative Assembly of Parahyangan Catholic University, Philoshophy. Menulis di berbagai media cetak.

Posted in Gema Gereja | 1 Comment »

Pemilu 2009, Ranah Politik Kian Panas

Posted by niasbaru on October 25, 2008

“it`s not only problem of education, but it`s problem of mentality”,

Prof, Dr. Budiono Kusumohamidjojo

 

Menjelang pemilu 2009, situasi politik kian panas. Para capres, caleg, dan para pemimpin partai politik besar saling klaim menjadi pemenang pemilu. Singkatnya, pertarungan belum dimulai sudah saling sikut. Tak mau kalah dengan gertakan dari partai politik besar seperti Golkar, PDI-P, Demokrat, atau PAN, dan lain-lain, Partai yang baru berdiri kemarin sore juga ikut-ikutan mengklaim. Dan menjadi pemenang pemilu Nasional. Apakah ini hanya sebuah gertakan sambal? Tunggu tanggal main-nya, begitulah komentar salah seorang fungsionaris partai politik. Yang penting menang, dan kembali ke Senayan, lanjutnya.

            Sensasi para capres tidak kalah serunya. Dengan kendaraan politik yang dimiliki seperti Partai politik, organisasi kemasyarakatan seolah sudah memenangi pertarungan. Mengumbar janji menjadi pemerintahan yang bersih, tegas, sungguh-sungguh mengabdi  untuk rakyat, hingga janji sekolah gratis bagi orang yang miskin. Vonis terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa pun dilakukan. Singkatnya, pemerintah sekarang dianggap gagal, kurang tegas, tak peduli terhadap rakyat yang mengakibatkan angka kemiskinan di negeri ini kian melonjak, meningkatnya angka pengangguran membuat para capres harus turun tangan menyelamatkan situasi. Selain para capres, para calon legislatif di pusat, di daerah tingkat I dan II juga melakukan hal sama. Seolah berlomba dengan waktu yang begitu singkat, para caleg mulai memasang kuda-kuda sebagai pertahanan, persiapan menghadapi pertarungan sesama anggota caleg. Bahkan sejauh yang saya amati, baik di media masa, cetak maupun situs-situs tertentu, beberapa caleg sudah mulai menjelek-jelekkan caleg lain. Tujuannya tidak lain, agar para pemilih tidak memilih caleg tersebut dan beralih memilihnya.

Kemudian muncul pertanyaan klasik, sebenarnya yang dicari para politikus negeri ini apa? Kekuasaan, kekayaan, wanita, pujian, prestasi atau pengabdian bertanggung jawab. Untuk menjawab pertanyaan klasik tersebut memang susah. Ada banyak alternatif jawabannya. Artinya tergantung dari masing-masing orang. Jika kita melihat masa lalu, ada banyak pelajaran yang dipetik dari para politikus negeri ini. Selama masa kampanye, para politikus berlomba-lomba mengambil hati rakyat. Mereka menjanjikan ini dan itu. Sehingga rakyat sering terperangkap, dan jatuh pada euforia yang mereka janjikan. Pemilu tahun 2004 lalu memberi pelajaran untuk kita. Sebelum pemilu para capres ataupun caleg pusat, daerah tingkat I dan II selalu berbicara yang manis-manis dihadapan rakyat. Mereka menjanjikan kesejahteraan, pemberantasan korupsi, layanan kesehatan yang baik, maupun biaya pendidikan yang terjangkau. Ternyata apa kata pepatah yang berkata: habis sepah dibuang benar juga. Kekuasaan, kekayaan, pujian sudah dalam genggaman berarti lepas dengan masyarakat. Tidak terikat lagi dengan janji-janji yang pernah dijanjikan kepada rakyat. Tragisnya, selain tidak pernah perkunjung ke daerah yang diwakilinya, ternyata banyak diantara mereka juga tersandung berbagai macam kasus yang memalukan. Mulai dari kasus korupsi, kasus pesta seks anggota dewan sampai kasus pemerasan. Dimanakah etika para politikus negeri ini?

Saya sendiri tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Masalahnya sangat kompleks, beragam. Ini bukan hanya masalah pendidikan tetapi menyangkut ranah mentalitas. Di negeri ini tidak sedikit pejabat yang pendidikannya rata-rata Doktor, mendapat gelar Profesor. Tetapi ketika sudah di puncak kekuasaan, tingkah laku mereka cenderung kekanak-kanakan. Nasibnya berakhir di bui karena terlibat kasus korupsi, atau pemerasan. Karena itu, pernyataan Bapak Prof. Dr. Budiono Husumohamijodjo, SH Guru Besar di Fakultas Filsafat Unpar yang mengatakan bahwa it`s not only problem of education, but it`s problem of mentality menjadi bahan refleksi bersama. Kita tidak perlu berbicara masalah pendidikan. Penyakit para pemegang kekuasan di negeri ini adalah penyakit mentalitas. Singkatnya, mentalitas pemalas, perampok, dan sejenisnya harus diubah. Bila tidak, maka negeri ini hanya jalan di tempat.

Selain masalah mentalitas, menjelang pemilu 2009 kita dihadapkan pada berbagai isu-isu menyangkut para capres, maupun politik keluarga yang semakin masif. Masalah pelanggaran hak asasi manusia tahun 1997/1998, dan penghilangan orang secara paksa di masa lampau diungkit kembali oleh DPR. Masalahnya adalah Wiranto, Sutiyoso, Prabowo Subianto, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikait-kaitkan dengan masalah tersebut. Padahal para Jenderal Purnawirawan tersebut juga maju sebagai capres pada pemilu 2009. Pertanyaan pun muncul terhadap langkah yang diambil oleh anggota dewan. Para pengamat politik menilai langkah yang diambil anggota dewan syarat muatan politis, mengingat pemilu sudah di depan mata. Itu berarti anggota dewan mengambil keuntungan di air keruh sehingga melemahkan popularitas para mantan Jenderal tersebut, komentar salah seorang pengamat politik.

Di sisi lain, menjelang pemilu 2009, politik keluarga kian marak. Bahkan lebih mengkhawatirkan dibandingkan pemilu 2004 lalu. Menurut Direktur Eksekutif Charta Politica Bima Arya Sugiaro penyebab kian maraknya politik keluarga pada pemilu 2009 mendatang. Pertama, sejumlah politisi senior harus mundur. Akan tetapi mereka memilih keluarganya untuk menjadi penerus di Partai karena kaderisasi di Partai sangat lemah. Artinya dari pada menyerahkan kursi kepada orang lain lebih baik kepada keluarga. Kedua, politik keluarga semakin mengarah ke dinasti. Itu terjadi karena sistem pemilu dan persaingan yang ketat dan liberal. Banyak masyarakat menilainya pun wajar-wajar saja mengingat figur-figur lama, dan penggantinya sangat dibutuhkan di Parpol, misalnya mantan Presiden Megawati dengan suaminya Taufik Kiemas, Puan Maharani, dan saudara-saudaranya yang lain. Dalam penilaian masyarakat figur mereka sangat dibutuhkan untuk mendongkrak suara pemilih partai pada pemilu 2009.

Masalahnya adalah politik keluarga sangat tidak baik dalam kehidupan politik. Bahkan bisa mematikan kader-kader partai yang berkualitas, tetapi disingkirkan demi keluarga besar. Hal ini tidak mengutungkan dalam kehidupan partai. Terlebih-lebih dalam rangka pendidikan politik warga negara.

            Karena itu, masyarakat diajak untuk berperan aktif dalam perpolitikan nasional terutama menjelang pemilu 2009. Masyarakat diajak untuk memilih calon pemimpin berkualitas, berwibawa, responsif terhadap kepentingan rakyat, dan punya kepedulian akan kemajuan bangsa dan negera. Janganlah memilih calon pemimpin yang bermental pemalas, dan perampok. Pilihlah calon pemimpin yang responsible, punya sense of belonging terhadap bangsa dan negara ini. Bila salah memilih berarti masyarakat terlalu banyak membuang-buang  waktu. Dan negara ini akan semakin tertinggal dari negara-negara tetangga.

 

Marinus Waruwu, Pengamat Politik dari Parahyangan Catholic University, Philoshophy. Aktif menulis di berbagai Majalah lokal, Nasional. Peneliti di Remaja Masyarakat.

Posted in Opini | 3 Comments »

DPRDSU Menilai Bupati Nias Telah Melanggar Undang-undang

Posted by niasbaru on October 21, 2008

Medan (SIB)

Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Sumut, Senin (13/10) mendatangi DPRD Sumut memprotes Bupati Nias Binahati B Baeha SH yang mempensiunkan 3 pengawas sekolah/guru di Nias dalam batas usia jabatan 56 tahun, karena kebijakan yang diambil Bupati itu dinilai melanggar UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Read the rest of this entry »

Posted in Tidak terkategori | 6 Comments »

Pemkab Nias Bongkar Paksa Kios di Lokasi Pasar Luaha Gunungsitoli

Posted by niasbaru on October 17, 2008

Gunungsitoli, (Analisa)

Pemerintah Kabupaten Nias bersama pihak terkait lainnya, Rabu (15/10) pagi bongkar paksa sejumlah kios yang berada di lokasi pasar Luaha Gunungsitoli.

Pembongkaran itu dilakukan, karena beberapa kali surat peringatan yang dilayangkan pihak Pemerintah Kabupaten Nias kepada para warga tidak di pernah indahkan. Read the rest of this entry »

Posted in Tidak terkategori | Leave a Comment »