Posted by niasbaru on May 28, 2009
Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd
Pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia mencapai kedewasaan. Sebagai suatu upaya menuju ke arah perbaikan hidup dan kehidupan manusia yang lebih baik, pendidikan harus berlangsung tanpa awal dan akhir, tanpa batas, ruang dan waktu.
Indonesia ditengah persaingan global, mutlak memerlukan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, jujur, berakhklak mulia, berkarakter dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Manusia Indonesia harus punya daya tahan dan daya saing paripurna. Read the rest of this entry »
Posted in Opini | 2 Comments »
Posted by niasbaru on May 27, 2009
Saudara dan Saudari Terkasih,
Pertama, Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang, Saya ingin menyampaikan kepada anda beberapa permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran itu secara istimewa dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri. Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya ingat akan mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru demi mamajukan pemahaman dan rasa kesetiakawanan manusia. Teknologi baru sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya tentu dipergunakan untuk melayani semua manusia secara pribadi dan komunitas, teristimewa mereka yang kurang beruntung dan menderita. Read the rest of this entry »
Posted in Tidak terkategori | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on May 27, 2009
Marinus W. (Artikel April, 2009)
Pemilu legislatif 9 April lalu memberi banyak kesan. Untuk sebagian warga negara, pemilu ini dianggap berhasil, sesuai rencana, dan berlangsung damai, tertib. Kendati pun negara ini berada dalam situasi sulit, dimana rakyat masih banyak yang tidak bisa makan karena miskin, ternyata kita mampu menyelenggarakan pemilu legislatif yang memakan biaya triliunan rupiah. Biaya sebesar itu pun tidaklah sia-sia. Biaya perlu, dan harus demi berlangsungnya pesta demokrasi yang lahir, berkembang, dan berdiri kokoh kuat sejak reformasi.
Di sisi lain, pemilu legislatif yang telah berlalu bukannya tanpa masalah. Masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap), dugaan kecurangan oleh sejumlah partai politik peserta pemilu, ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja KPU (Komisi Pemilihan Umum) dalam menyelenggarakan pemilu, paling tidak memberi gambaran kepada kita bahwa pemilu memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Rakyat pun seolah-olah terbelah dalam menanggapi berbagai persoalan pasca pemilu legislatif 9 April lalu. Read the rest of this entry »
Posted in Opini | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Tak disangkal lagi bahwa tema perubahan (change) di abad-21 ini telah menjadi tema yang sangat laku, magis, dan mampu menyihir publik agar beralih ke tokoh-tokoh muda, progresif, terbuka, berpandangan visioner akan kesejahateraan rakyat. Tak heran dengan label perubahan ini juga, beberapa tokoh muda dunia berhasil menjadi orang no.1 di negerinya masing-masing, misalnya di Amerika Serikat, Barack Obama dengan slogan: Yes, We Can Change, hanya dalam sekejab saja karier politiknya menanjak drastis. Ia pun berhasil menjadi orang no.1 di negeri adi daya itu. Selain di Amerika, tema-tema perubahan juga diusung oleh tokoh-tokoh muda seperti PM Abishit di Thailand, Presiden Ahmadinejad di Iran, dan terakhir di Madagaskar oleh pemimpin oposisi, yang kemudian menjadi Perdana Menteri Yaitu Andry Rajoelina dan lain-lain. Tentu sikap rakyat yang cenderung lebih memilih tokoh-tokoh muda bukan tanpa alasan. Krisis ekonomi, ketidakstabilan politik dalam negeri akibat tekanan internasional maupun tekanan dari dalam negeri sendiri, kemiskinan yang semakin bertambah, perilaku para elite politik yang cenderung pragmatis-hedonis ketimbang menjadi tulang punggung masyarakat dalam mewujudkan negara sejahtera (welfare state) semakin menyadarkan publik pada umumnya untuk lebih memilih tokoh-tokoh yang baru muncul kemarin sore, namun menjanjikan untuk membawa sebuah perubahan (change) di masa depan. Maka muncullah istilah utopia masyarakat akan perubahan itu.
Utopia perubahan seringkali diartikan dengan impian akan terjadinya perubahan di masa depan. Ia menunjuk ke masa yang akan datang dimana hidup yang kita alami kini, yang penuh dengan penderitaan (suffering), penolakan (refusal), dosa (sin) suatu ketika akan berakhir dan digantikan oleh situasi di mana tema-tema perubahan terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Maka tidak heran bila tema perubahan itu selalu menjadi harapan (expectation), tumpuan masyarakat untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Namun, slogan tokoh-tokoh muda akan perubahan itu seringkali menjadi bahan tertawaan kaum elit politik, kaum mapan, kaum tua. Akan tetapi slogan perubahan itu sendiri justru mendapat tempat di hati masyarakat bawah. Tokoh-tokoh muda seperti di Amerika, Thailand, dan Madagaskar, dll telah membuktikannya. Read the rest of this entry »
Posted in Opini | 4 Comments »
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Rumah! Kalau diartikan secara harafiah berarti tempat untuk beristirahat, tidur, tempat berlindung. Rumah juga dapat diartikan sebagai tempat untuk melakukan hal-hal positif misalnya tempat untuk mengembangkan diri, membangun diri yang berkualitas, kompoten. Namun hal itu hanya dapat tercapai jika pemilik rumah sungguh-sungguh menciptakan suatu suasana yang kondusif, nyaman untuk didiami sehingga orang-orang yang mendiaminya pun terasa nyaman, damai. Maka istilah rumah sebagai istana akan terwujud bila pemilik rumah dapat menciptakan suasana kondusif dan nyaman untuk didiamin dalam rumah tersebut.
Sayang! Alangkah menyedihkan jika sebuah rumah sarang dengan aktivitas negatif misalnya tempat untuk merencanakan kejahatan, tempat untuk bersekongkol atau tempat untuk mencari rejeki dari hal-hal yang tidak halal, misalnya rumah dimanfaatkan sebagai tempat WTS, aborsi, judi, klab malam, atau sebagai tempat warung remang-remang, dll. Maka dengan fungsinya yang seperti ini rumah akan menjadi tidak nyaman untuk didiamin oleh orang lain. Setiap orang yang berkunjung ke sana akan selalu merasa tidak nyaman karena takut jika secara tiba-tiba polisi datang dan merajia setiap pengunjung dalam rumah.. Dengan itu, rumah ini bukan lagi menjadi berkah bagi orang lain, sesama. Tetapi rumah ini beralih fungsi sebagai pembawa bencana. Bukan hanya bagi pemilik rumah tetapi semua orang yang terkait dengan rumah tersebut. Rumah ini pun bukan lagi sebagai istana yang nyaman, damai tetapi sebagai sarang penyamun seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil minggu ini. Read the rest of this entry »
Posted in Renungan | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Dalam Injil Mrk 9:2-13, berkisah tentang peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung. Peristiwa tersebut berawal ketika Yesus membawa tiga murid-Nya yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke sebuah gunung. Setelah sampai diatas gunung, tiba-tiba rupa Yesus berubah. Pakaian-Nya putih mengkilat.
Dalam peristiwa yang mengagumkan ini, nampak juga kepada para murid nabi Elia dan Musa. Kedua nabi besar tersebut ada yang disebelah kanan Yesus dan ada yang disebelah kiri. Petrus pun berkata dengan antusias kepada Yesus: Guru betapa bahagianya kami di tempat ini. Biarlah kami mendirikan tiga kemah. Satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia. Petrus mengatakan hal ini dengan penuh ketakutan karena seolah-olah mereka sedang melihat penampakkan yang luar biasa. Dan memang itu yang sedang terjadi. Read the rest of this entry »
Posted in Gema Gereja | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Dunia kita jahat. Dunia kita gelap. Kekerasan demi kekerasan yang terjadi antara manusia tak terhindarkan. Bahkan kekerasan (violence) itu telah membudaya. Tak terelakkan lagi. Itulah dunia kita saat ini. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Kekerasan di dunia yang mengindentikkan dirinya pejuang kebebasan, pejuang kemanusiaan, malah membawa bencana bagi kemanusiaan itu sendiri. Itulah gambaran dunia. Itulah wajah dunia yang muram. Dunia yang penuh dengan lumuran darah. Dunia yang penuh dengan kebencian manusia. Dunia para setan! Seru korban teror di Bali sesaat setelah terjadi bom pada tahu 2003.
Kejahatan manusia. Kebencian manusia. Kekerasan manusia terhadap sesamanya tampak dalam wajah terorisme, perang antara negara, pembantaian etnis minoritas, perusakan rumah ibadat penganut agama lain. Dunia pun tidak nyaman untuk di huni. Dunia seolah-olah neraka bagi manusia. Bukan sebagai surga bagi kemanusiaan. Contoh paling praktis adalah serangan terorisme di gedung WTC dan Pentagon (USA) tahun 2001. Lebih dari 3000 jiwa manusia melayang sia-sia. Mereka adalah orang-orang tak berdosa. Mereka tidak tahu apa itu politik. Mereka tidak tahu apa itu fundamentalisme agama yang tampak dalam wajah terorisme. Mereka tidak tahu apa itu kekeuasaan. Mereka hanya tahu apa dan untuk apa hidup. Sebelum kejadian yang memilukkan itu, hidup mereka hanyalah dicurahkan untuk kebaikan keluarga, dan mencari nafkah di gedung pencakar langit itu. Namuan apa daya, mereka menjadi korban keganasan sesama manusia. Mereka menjadi korban balas dendam karena kebencian. Mereka menjadi korban peradaban yang buruk, tak berperikemanusiaan. Itulah hidup manusia. Hidup penuh kejahatan dan kekerasan. Read the rest of this entry »
Posted in Gema Gereja | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on March 1, 2009
“Amaedola” (pepatah) sangat disukai oleh orang Nias.
Misalnya:
Ono nidegu-degu mõi bõrõ wa’aurigu,
ono nidehe-dehe mõi bõrõ wa’amate.
Nah, saya mau minta pendapat/komentar Saudara-saudari orang Nias berkaitan dengan “amaedola’ ini.
Apa sih peran dan fungsinya dalam hidup harian orang Nias? Komentarnya bisa ilmiah atau sekedar opini.
Terima kasih banyak sebelumnya.
Ote Daeli – Manila Philippines
Posted in Filsafat | 1 Comment »
Posted by niasbaru on January 25, 2009
Marinus Waruwu
Dalam Buku “Di Atas Segala Puncak Sukses” tulisan motivator dunia Zig Ziglar membahas secara tuntas orang-orang yang pada awalnya sangat sederhana, miskin pengetahuan dan pengalaman, tidak mempunyai modal untuk menjadi orang besar di perusahaan atau lembaga kepemerintahan, cacat fisik ternyata pada akhirnya mereka bisa mencapai puncak di atas segala puncak sukses. Di tengah keterbatasan fisik, ekonomi, modal, atau pengetahuan, orang-orang sukses ini dapat meraih segala cita-cita, impian menuju puncak sukses. Orang-orang yang mau sukses tidak mau berperan hanya sebagai penonton. Yang diinginkan adalah menjadi pemain dan memberikan yang terbaik. Nafsu untuk sukses sebagai motivatornya. Buku “di atas segala puncak sukses” telah menginspirasi ratusan juta manusia di bumi untuk sukses mencapai puncak. Ia merupakan salah satu buku terlaris di dunia.
Sebaliknya, dalam buku yang berjudul: Optimal Thinking, tulisan Rosaline Glickman, Ph.D menguraikan dengan gamblang bahwa kesuksan seseorang justru karena orang bersangkutan sungguh-sungguh mengoptimalkan pemikiran di setiap kesempatan, yang ia sebut sebagai Optimal Thinking. Menurut Rosaline, Optimal Thinking adalah bahasa diri kita yang tertinggi. Pemikiran optimal menguatkan kita untuk selalu menjadi yang terbaik di setiap waktu. Optimal Thinking mencegah kita merasa puas hanya menjadi orang nomor dua. Read the rest of this entry »
Posted in Motivasi | 3 Comments »
Posted by niasbaru on January 24, 2009
(Tulisan ini merupakan komentar yang dikirim saudara Mario Vau ke redaktur Nias Baru dan Ono Niha: Marinus Waruwu)
Kalau ingin berbagi kiat-kiat sepertinya dapat disederhanakan menjadi beberapa pokok :
1. Orang Nias harus mandiri
2. Orang Nias harus maju
3. Orang Nias harus membantu sesamanya dalam kapasitas masing-masing
Saya melihat banyak diantara kita sudah loncat ke poin 3 sebelum memenuhi kriteria 1 dan 2. Marilah kita rubah pola pemikiran tersebut.
Saya bukannya tidak menganjurkan membantu sesama, tapi untuk bisa membantu kita harus bisa berdiri sendiri dahulu.
Kegigihan Ono Niha tidak perlu dipertanyakan. Yang harus kita lakukan bersama adalah:
Tunjukkan kepada dunia pada umumnya bahwa setiap anak Nias mau dan mampu menjadi yang terbaik. Itu sebatas potensi. Tinggal bagaimana kita mendorong hal tsb.
Jangan kejar yang muluk-muluk. Pastikan saja bahwa solidaritas Ono Niha bukan solidaritas semu yang banyak kita jumpai di Indonesia.
Let’s be the best that we can be. Only then can we help others become the best as well.
Ya’ahowu,
Mario Vau
Posted in Motivasi | Leave a Comment »