NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • May 2009
    M T W T F S S
    « Mar   Aug »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

PENDIDIKAN TANPA AWAL TANPA AKHIR

Posted by niasbaru on May 28, 2009

Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd

Pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia mencapai kedewasaan.  Sebagai suatu upaya menuju ke arah perbaikan hidup dan kehidupan manusia yang lebih baik, pendidikan harus berlangsung tanpa awal dan akhir, tanpa batas, ruang dan waktu.

Indonesia ditengah persaingan global, mutlak memerlukan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, jujur, berakhklak mulia, berkarakter dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Manusia Indonesia harus punya daya tahan dan daya saing paripurna.

Upaya apa yang harus dilakukan untuk memenuhi harapan itu? Tak ada jalur lain selain pendidikan sebagai jalur utama pengembangan SDM dan pembentukan karakter. Dalam pengertian lebih luas, eksistensi bangsa ini bergantung bagaimana manusia-manusia didalamnya mengelola dan memuliakan pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah kata kunci dalam mementukan nasib bangsa.

Ironi Pendidikan Kita

Belakangan, permasalahan pendidikan di Indonesia terus menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Bukan saja masalah hasil belajar yang rendah, tapi juga soal carut marut serta inkonsistensi aturan dan kebijakan tentang sistem pendidikan nasional. Soal rendahnya mutu pendidikan, jujur harus dikaui serta tak usah diperdebatkan lagi. Hasil survei dan penelitian baik tataran nasional maupun dunia membuktikan hal itu.

Pemerintah, setidaknya dalam berbagai peraturan telah melakukan upaya perbaikan. Bahwa hasilnya belum maksimal sesuai yang diharapkan, pasti ada yang salah atau kurang terperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Penulis tak hendak menyimpulkan karena pemerintah tentu lebih tau dimana dan apa saja yang harus diperbaiki.

Tapi yang jelas, kualitas dan mutu pendidikan Indonesia ketinggalan 20 tahun jika dibandingkan dengan negara Malaysia. Sekali lagi, ini tak perlu diperdebatkan karena survei dan penelitian yang bicara. 20 tahun silam, Indonesia menjadi acuan bagi Malaysia dalam hal
pendidikan. Mereka meminta pengiriman guru untuk mengajar di sekolah milik negara Malaysia. Pun, tak sedikit ketika itu pelajar asal Malaysia yang menuntut ilmu di Indonesia.

Kondisi dewasa ini justru terbalik. Pelajar Indonesia berbondong ke Malaysia. Mahasiswa Indonesia juga bangga menyandang gelar kesarjanaannya dari Malaysia sehingga negara yang 20 tahun lalu belajar dari Indonesia itu menjelma menjadi salah satu negara yang paling banyak dituju masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Ironis. Lalu timbul pertanyaan dimana salahnya? Pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, juga peningkatan kualitas manajemen sekolah telah dilakukan pemerintah. Tak cukup hanya itu, penyediaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN dan APBD juga telah dilakukan. Hasilnya? Pendidikan kita tetap belum mampu keluar dari ketertinggalan dibanding perkembangan pendidikan negara lain.

Ada yang mengatakan pendidikan Indonesia tidak maju karena setiap kegiatan pendidikan selalu dijadikan konsumsi politik? Entahlah.

Kualitas dan Ketulusan Guru

Banyak yang percaya bahwa didunia ini cuma ada dua profesi yakni, guru dan bukan guru. Sangat beralasan karena profesi apapun seperti hakim, jaksa, polisi, wali kota, gubernur hingga presiden dilahirkan dari profesi guru. Ini berarti, guru merupakan salah satu bagian penting sukses atau tidaknya dunia pendidikan. Guru adalah profesi yang sangat mulia.

Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2009 ini, barangkali ada baiknya kita memikirkan kembali fungsi dan peran guru. Saya bukan hendak mengatakan bahwa saat ini guru tak lagi sesuai peran dan fungsinya.

Tugas guru itu sangat berat dan tidaklah gampang jika dibandingkan profesi lainnya. Sebagai ujung tombak peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, seyogyanya guru tidak dan jangan dibebankan dengan berbagai tugas mengerjakan berbagai proyek fisik dan sejensinya selain mengajar, mengajar dan mengajar. Dalam kaitan ini, termasuklah mengembalikan kewenangan dan kewibawaan guru dan sekolah dalam menentukan kelulusan siswa yang selama ini telah dirampas oleh UN (Ujian Nasional).

Namun demikian, mengembalikan kewenangan dan kewibawaan guru itu bukan pula berarti dengan serta merta peningkatan kualitas pendidikan Indonesia langsung terdongkrak. Ada pandangan yang harus diubah baik oleh guru itu sendiri maupun generasi muda yang berniat menjadi guru.

Saat ini semakin nyata, generasi muda kita nyaris tidak memiliki kebanggaan menjadi guru, bahkan profesi guru pun sudah tidak dianggap sebagai profesi pilihan utama. Buktinya dapat dilihat dari minat lulusan sekolah menengah memilih perguruan tinggi. Pilihan menjadi guru kadang adalah keterpaksaan karena gagal memilih jurusan yang diinginkan. Akibatnya kita mendapatkan para pelaku pendidikan yang hilang dalam hal pengabdian.

30 tahun lalu, menjadi guru adalah kebanggaan tersendiri. Demikian juga peserta didik, sangat menghormati dan menghargai guru sehingga mendorong pengabdian guru memberikan apa yang dia miliki untuk peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan kualitas merupakan yang
utama dari segalanya. Padahal di zaman itu yang namanya anggaran untuk dunia pendidikan dan fasilitas sangat terbatas. Tapi, mutu pendidikan kita setidaknya lebih bagus dari Malaysia.

Mungkin inilah yang kita lupakan, bahwa di zaman itu orang-orang yang menangani dunia pendidikan adalah orang-orang yang betul-betul memiliki niat mengabdi. Memiliki ketulusan. Mereka fokus, tak pernah berpikir bagaimana mendapatkan proyek, tidak pernah berfikir masalah apa yang mereka terima cukup atau tidak. Mereka jauh dari bicara masalah kesejahteraan.

Saat ini, ketika perhatian besar diberikan terhadap dunia pendidikan, mengapa justru banyak guru telah kehilangan nilai-nilai ketulusan, kejujuran, dan kebanggan tersebut?

Menurut hemat saya, selama 20 tahun terakhir pembangunan pendidikan Indonesia tidak berorientasi pada pengembangan mutu dan kualitas. Tapi lebih fokus pada pembangunan fisik. Anggaran 20 persen untuk dunia pendidikan justru lebih besar untuk birokrasi pendidikan ketimbang peningkatan mutu pendidikan. Lebih ekstremnya, ada anggapan bahwa 20 persen anggaran untuk dunia pendidikan tak lebih sekadar pencitraan politik.

Harapan
Sejarah dunia pendidikan di Indonesia mencatat bahwa dari dulu– entah sampai sekarang– belum satu partai politik, organisasi massa, atau lembaga negara yang mampu dan benar-benar berkomitmen mengubah wajah dunia pendidikan. Banyak elite politik membicarakan nasib pendidikan, mengklaim dirinya berkomitmen pada pendidikan, tetapi hanya untuk kepentingan politik semata.

Setelah Pemilu 2009 yang baru saja kita lalui, harapan itu agaknya bisa kita gantungkan pada mereka yang telah terpilih menjadi wakil rakyat. Dengan mereka kita berharap komitmen untuk memajukan dunia pendidikan tak sekedar kepedulian semu. Perlu dipahami benar hakikat pendidikan demi eksistensi sebuah bangsa. Pendidikan tanpa awal dan akhir serta tanpa ruang, batas dan waktu.

Semoga kejayaan 30 tahun silam dapat kita rengkuh kembali.

* Penulis adalah Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai-Riau

10 Responses to “PENDIDIKAN TANPA AWAL TANPA AKHIR”

  1. Hendik Keinsyafan Telaumbanua said

    Ya’ahowu, buat: Drs. Firman Harefa, S.Pd

    Perkembangan teknologi saat ini sudah semakin berkembang pesat. Politik para pemegang kekuasaan sedang berpikir untuk mendapatkan teknologi untuk kepentingan diri mereka sendiri. Kadang mereka mengira bahwa mereka sudah memiliki posisi yang paling tinggi tanpa menghiraukan orang-orang yang masih jauh menderita karena ulah egoisme yang mereka lakukan. Di Indonesia sampai sekarang tidak berhenti kasus-kasus korupsi dan bahkan perbuatan yang sangat-sangat-sangat dan sangat merugikan masyarakat yang semakin terlantar hanya gara-gara ulah korupsi yang mereka lakukan.

    NIAS adalah salah satu Pulau yang menyimpan sumber daya Alam yang luar biasa. Sumber daya alam di Nias diolah oleh orang-orang yang bukan orang Nias. Mana generasi-generasi penerus ononiha.. ??????
    Apakah ononiha sudah tidak memiliki generasi penerus ?
    atau pendidikan di Nias sudah tidak memiliki guru-guru yang dapat handal.

    Saya sebagai generasi penerus bangsa Indonesia dan khususnya generasi ononiha yang sedang menimbang ilmu di luar pulau ononiha yaitu di Universitas Pelita Harapan (JAKARTA), yaitu salah satu Universitas Kristen di Indonesia yang Berstandar Internasional, yang memiliki relasi erat (bekerjasama) dengan perguruan tinggi yang ada di Luar Negri (Australia, dan AS). Universitas ini menampung serta mendidik siswa-siswa yang memiliki kemampuan dalam bidang pedidikan, yang kelak akan menjadi seorang guru yang mampu mendidik generasi penerus bangsa Indonesia. SAlah satu fakultas yang menangani Pendidikan guru di Universitas Pelita Harapan ini adalah Teacher College.
    Universitas ini juga memliki dosen-dosen yang yang berkualitas dan mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
    Kami hanya ada 6 orang dari NIas yang dapat menerima program beasiswa untuk melanjutkan pendidikan menjadi seorang guru di Universitas ini. Yakni, (Hendik Keinsyafan Telaumbanua dari SMA Pembda Gunungsitoli, Hasanti Putra Gea dari SMAN 1 Gunungsitoli, Syukur Gulo dari SMAN 1 Gunungsitoli, Perhatian Ndruru dari SMA S XAVERIUS, Yan Kristiaman Lase dari SMAN 1 Gunungsitoli dan Andreas Sastra Wijaya Zandroto dari SMAN 3 Gunungsitoli) kami mahasiswa angkatan 2008.
    Kami sangat bangga karena bisa melanjut di sini. Kami berenam sudah memutuskan jika kelak kami selesai dari sini kami akan kembali ke Nias untuk bersama-sama memajukan pendikan di Nias yang selama ini telah tidur.

    Saya sangat sedih melihat perkembangan pendidikan di Nias. Saya tidak akan diam dan kami merasa terbeban dan peduli dengan generasi penerus Nias yang saat ini masih dalam kebohongan (Pendikan) yang luar biasa.
    Benar yang Drs. Firman Harefa, S.Pd katakan bahwa pelaksanaan UN di dunia pendidikan di Indonesia saat ini sudah tidak dapat dipercaya lagi, terkhusus di Nias.

    Harapan kami kepada Drs. Firman Harefa, S.Pd, dukunglah kami generasi penerus ononiha dalam dunia pendidikan agar bisa membawa dampak yang baik ke Nias untuk mentranformasi pendidikan di NIas.
    Bukan hanya kami tetapi masih banyak yang berada di Universitas yang lain, yang sekarang masih dalam proses penimbangan ilmu.

    Tanpa pendidikan, maka pembangunan yang akan dilakukan untuk membangun Nias tidaklah akan berjalan dengan baik. tetapi sebaliknya hanyalah pendidikan yang bisa memberikan trasformasi bagi generasi penerus ononiha.

    Salam dari saya,
    Hendik Keinsyafan Telaumbanua
    Semoga Tuhan memberkati kita , dan juga seluruh generasi penerus ononiha.
    Semoga bapak di berkati >..>…>….>…..>……>…….>>>>>>

    YA’AHOWU

  2. Merlin H. said

    Untuk Hendik K. T

    Kami setuju unek-unek-mu! Ini tidak lain sebagai bentuk keprihatinan-mu terhadap kondisi dan situasi kita Ono Niha. Gue sendiri akan menununggumu Hendik untuk menempati janjimu dalam membangun nias kita.

    Yang gue bingung tuh ama looo ya…komentar loo ini promosi UPH atau memang mau membangun nias. Karena gue sendiri kuliah di Universitas ternama, malah lebih ok dibanding UPH, tetapi gue ga pernah promosi sperti ini.

    gue tunggu janjimu ya…

  3. Anonimus said

    kita org nias hanya banyak beretorika, tanpa tindakan satu pun!!!

  4. kipas said

    bwt merlin: ya fine2 z donk klo hendrik blg kyk gt…
    mank napa??
    lw sirik??!!
    mrka tu da mnujukan pa yg baik bwt daerah na..
    sdkgkn qm???
    gmn??

  5. gunhelmi said

    saya setuju dengan penulis, pada hatekatnya di dunia ini hanya ada dua profesi yaitu guru dan bukan guru, semua dari kita bila ingin menjadi pemimpin baik itu level supervisor, manager , kepala bagian derektur sekalipun, kita wajib memberi pembelayaran kepada bawahan kita.itulah tugas utama dari jajaran management.
    Mungkin kita kedepan ada peraturan dari pemerintah untuk menjadi wajib guru,seperti wajib militer, sebelum meningkat menjalankan tugas kita sebagai masyarakat terjun di dunia pekerjaaan.
    dari sanalah akan di dapat guru-guru yang mempersembahkan seluruh kekuatannya untuk mengabdi menjadi guru yang profesional.untuk dapat cepat kita mengejar ketertinggalan dalam dunia pendidikan di negara tercita ini.
    maafkan saya atas pendapat yang dangkal ini,hal ini hanya terlintas begitu saja ide yang jauh api dari panggang ini.
    salam
    balog

  6. buala s, lombu

    dlm pokok pengenal sgala pengetahuan adlh karna tuhan, namun ap yg terjadi akhir2 ne dpulau nias khusus nya adlh penyalh gunaan pendidikan tuk media politik ,,,,,,” masa seorang lulusan theologia jadi politisi aneh?????? knp karna seharus nya fungsi nya membangun iman org2 yg msh buta iman akan kristus ,, tpi malah seblk nya,, smua berbondong bondong jadi parpol ???? saya bingung dengan pikiran seperti itu, politik adlh sisi dua dunia antara baik dan buruk dan tujuan akhir mencari sensasi dunia ????/ kecuali klo lulusan perguruan lain itu sah2 saja sbab pengalaman mereka memang tuk membangun sdm dunia semata bukan utk ke jln tuhan tpi ne kenyataan terjadi ?? bayangkan saja pada pemilu nisbar cabup ada yg pendeta ad yg pastor anehhhhhh

    YA.AHOWU

  7. amandrowa gulo said

    Yaahowu Bapak Lombu
    Menurut ndaodo talifuso buala. gak salh klo seorng teologia jd politisi. sebab mnjdi politisi kan panggilan, pilihan hidup. kta tdk bisa begitu saja melarang mereka.

    Talifusogu Buala, haogo-haogo klo memberikan komentar ya. Saya niha nias barat, dan ikut terjun jga dlm politik nias barat terutama dlm pemilu kali ini. Sayang lohadoi di antara para calon bupati itu yang backgroundnya pasitoro, ma amada fandita…makanya belajar teliti.

    Abang Marinus W. Slmt sukses. Saya sering membca tulisan2 abang di berbagai media cetak lokal dan nasional. Abang salah satu calon pemimpin masa depan di nias barat

    Amndrowa G.
    Pengamat politik NisBar

  8. YA.AHOWU GULO

    sbumnya bapak gulo, saya minta ma.af atas kelancangan saya, tpi dblik tu perlu kita ketahui bahwa sblum terbentuk nya NISBAR banyak para CALEG yg saya lihat dari lulusan theologia,????? bpk gulo mgkin seorang politisi tpi bkan pengamat firman tuhan ??? bpk gulo sah2 saja, ,/,/,/,/,/,/,/,/ artinya pak ini bukan sebuah lotere/yg bisa dipilih oleh orang2 yg tak tau arti politik “””””””””””””” sekali lagi pak saya merasa menggigil dgn pikiran semacam tu ,,,,,,, ?////////.,/,.,/,/,.,/ dan disini kita bersatu memberi pendapat atau kritik utk masa depan NIAS /NIAS BARAT khususnya ??/ saya hanya merasa aneh aja ??/ bukan jga tujuan mengeksplosi siapa dan mengapa <<<<,,,,,,<,<,, dan sebuah pnggilan difirman tuhan bkan turut serta dlm politik tpi menjadi hamba ALLAH dlm suka dan duka sebagai DOMBA yg bisa diteladani AMIN,,,……………??? TUHAN JESUS MEMBERKATI Bpk GULO.
    INGAT ;SAYA MENDUKUNG DLM DOA YG HANYA MEMILIH SATU SISI BUKAN DUA SISI

    YA.AHOWU

  9. apuaks said

    Saya di Nias (Barat) masih setahun jagung dan jikalau diizinkan tuk bergabung, saya ucapkan terima kasih banyak-banyak. Apa yang terjadi dengan Nias Barat, sejak dia lahir dan sekarang sudah mulai berjalan selangkah demi selangkah. Tapi saya sangat menyayangkan, Baby Sisternya yang terlalu buanyak dan terlalu pinter-pinter itu mencecarkan masing-masing teori berjalan dan berlari mereka pada si bayi Nisbar tadi yang akhirnya menyesakkan otak kecil dan tak tau mau mengiyakan kata siapa.
    Artinya : Mayoritas dari kita adalah orang-orang yang pinter semua, tp baru sebatas personil individu, golongan, Ormas, Status. Dan tidak mau bekerja sama, tidak mau berinteraksi dengan yang bukan pihak kita.
    Nah, intinya sekarang. Nias Barat membutuhkan Orang-orang yang mau (tdk hanya pinter) berbuat demi Nias Barat, bekerja dengan motivasi “memberi” dan bukan “menerima”!
    Assalamu ‘alaikum, salam sejahtera untuk kita semua, Ya Ahowu!

  10. fangera dodo s. said

    Umonoma dan La`oma Puaks:
    Setuju sekali La`o. Ada Indikasi bahwa kerja sama di antara orang Nias sendri memajukan daerahnya kurang. Malah setiap individu saling show off, menunjukkan kelebihan diri, dan tidak mau bekerja dalam team. Hal inilah yang merupakan salah satu kekurangan kita di Nias. Banyak orang yang pintar dan mengungkapkan pendapt. Namun ketika disruh kerja, malah hilang begitu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: