NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • November 2008
    M T W T F S S
    « Oct   Dec »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

BARACK OBAMA, dan KITA

Posted by niasbaru on November 18, 2008

 

Marinus W.

 

Terpilihnya Barack Obama dalam pemilu presiden Amerika menunjukkan bahwa orang Amerika sudah siap menerima perubahan seperti yang didengung-dengungkan Obama pada setiap kampanyenya (Cange, we can believe in). Orang Amerika yang mayoritas kulit putih telah siap menerima Obama sebagai penguasa Gedung Putih walaupun Obama sendiri seorang kulit hitam (African-American). Kedewasaan orang Amerika dalam berdemokrasi telah menembus batas. Masalah ras, agama, atau golongan di kesampingkan demi tujuan bersama yaitu mewujudkan mimpi amerika yang memberi kesempatan kepada setiap golongan baik mayoritas maupun minoritas untuk memimpin.

Kemenangan Obama menjadi pelajaran berharga bahwa demokrasi yang diterapkan secara total dapat memberi peluang kepada golongan minoritas untuk memimpin. Maka, dominasi-dominasi kaum mayoritas (kulit putih amerika) yang identik dengan Gedung Putih pupus sudah. Itu dimungkinkan terjadi karena demokrasi sungguh-sungguh dipraktekan secara total. Karena itu, sekat-sekat, tembok pemisah antara kaum mayoritas dan kaum minoritas (African-American) telah dirobohkan. Yang tertinggal tinggal puing-puingnya, dan kenangan. Itulah namanya demokrasi total.

 

Bagaimana dengan kita?

           

Kemenangan Obama dalam pesta demokrasi Amerika menjadi inspirasi untuk rakyat Indonesia dan dunia. Dalam konteks Indonesia, seperti juga di Amerika, ada tiga tembok pemisah yang seringkali menjadi pemecah belah bangsa ini.

Pertama, dominasi agama mayoritas terhadap agama minoritas (religion domination). Religion domination tertentu menjadi hal biasa di negeri ini. Bahkan ada istilah yang mengatakan bahwa, Presiden harus berasal dari agama mayoritas. Itu berarti menutup pintu bagi kaum  minoritas untuk tampil, mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin negeri ini. Maka tidak heran bila selama berdirinya republik ini, tak pernah muncul pemimpin yang berasal dari agama minoritas.

Kedua, dominasi pribumi terhadap non-pribumi (indigene domination). Etnik pribumi yang mayoritas identik dengan warga negara asli Indonesia. Sedangkan Etnik non-pribumi yang minoritas, identik dengan etnis Tionghoa, dan para pendatang lainnya. Di negeri ini, yang nota bene pernah terpilih menjadi Ketua Komisi Hak Asasi Manusia PBB, ternyata masih mempraktikan diskriminasi terhadap etnik minoritas terutama etnik Tionghoa. Bahkan ada image warga pribumi yang mengganggap etnik Tionghoa sebagai pendatang dan bukan sebagai warga negara Indonesia asli. Dengan itu, etnik minoritas merasa diperlakukan tidak adil, walaupun mereka sendiri lebih Indonesia dari warga pribumi.

Ketiga, dominasi suku mayoritas terhadap suku-suku minoritas (ethnic group domination). Di negeri ini, kita sangat prihatin terhadap praktik-praktik sukuisme, dan golongan tertentu. Biasanya itu terjadi antara suku mayoritas dan suku minoritas. Misalnya, menjelang pemilu, kita seringkali mendengar istilah Jawa dan luar jawa. Jika mau menjadi Presiden berarti harus menguasasi pulau jawa. Atau menjadi seorang Presiden berarti harus seorang Jawa. Akibatnya selama berdirinya republik ini, hampir semua penguasa berasal dari Pulau Jawa atau suku jawa.

Ketiga bentuk dominasi yang mengakibatkan diskriminasi terhadap kaum minoritas di atas menjadi refleksi bersama di republik tercinta ini. Namun, kemenangan Barack Obama memberi secercah harapan untuk kaum minoritas agar berani tampil, siap memimpin negeri ini. bahwa dalam demokrasi tak ada yang tak mungkin seperti pengalaman Obama di Amerika.

Masalahnya adalah demokrasi Amerika berbeda dengan demokrasi Indonesia. Pengetahuan dan pengalaman orang Amerika dalam berdemokrasi  berbeda dengan pengalaman dan pengetahuan orang Indonesia dalam berdemokrasi. Jika warga Amerika menerapkan demokrasi secara total, maka di Indonesia masih memperhitungkan agama, suku, dan golongan tertentu.

Karena itu, demokrasi sungguh-sungguh menang, tegak di republik ini bila demokrasi diterapkan secara total seperti di Amerika. Demokrasi tidak memperhitungkan ras, agama, suku, atau golongan tertentu. Demokrasi mampu menembus sekat-sekat, membagun persaudaraan, menegakkan persatuan bangsa. Demokrasi mampu merobohkan tembok pemisah antara agama mayoritas dan agama minoritas (religion domination), Etnik pribumi dan non pribumi (indigene domination), suku mayoritas dan suku minoritas (ethnic group domination). 

Kita berharap agar di republik tercinta ini demokrasi sungguh-sungguh menang, dan tegak. Demokrasi menang dan tegak, jika tidak ada lagi tembok pemisah antara mayoritas dan minoritas. Yang ada adalah persaudaraan sejati. Dalam persadaraan sejati tercipta persatuan dan kesatuan sejati. Sebab semua saling menghormati, dan menerima sebagai saudara demi tujuan bersama yaitu masyarakat adil, damai, dan sejahtera. Maka, demokrasi menang!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: