NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • September 2008
    M T W T F S S
    « Aug   Oct »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

I ALWAYS REMEMBER YOU, BADUI!

Posted by niasbaru on September 22, 2008

Marinus W.

 

Pengantar

 

            Badui! Sebuah daerah yang khas, istimewa untuk sebagian besar para Antropolog dan Sosiolog. Kekhasan dan keistimewaan Badui tampak pada budaya (culture), adat istiadat, dan manusianya. Kekhasan dan keistimewaanya itulah yang membuat para ilmuwan dari berbagai Universitas ternama di dunia jatuh hati padanya.

 

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman dari Universitas Parahyangan (Fakultas Filsafat) berkunjung ke Badui. Sungguh berkesan! Begitulah opinion beberapa teman ketika ditanya bagaimana perasaan mereka selama pejiarahan kami ke Badui. Perjalanan yang menyenangkan. Seolah kami berada di dunia lain. Dunia yang sebelumnya tidak pernah kami alami, kunjungin. Maka pendapat Om Don yang mengatakan bahwa kami sedang berada di zaman batu, jaman 2000 tahun Sebelum Masehi benar. Tak terbantahkan!

 

Karena itu, artikel yang sangat sederhana ini tidak lebih dari sebuah sharing pejiarahan kami selama berkunjung ke Badui. Tentu sharing tersebut bukan hanya sharing kosong. But juga disertai refleksi mendalam dari sang penulis. Bentuk sharingnya berupa cerita & refleksi yang dilihat, dialami, dirasakan penulis dari diri orang-orang tertentu. Hal itulah yang ingin dibagikan ole penulis.

 

 

Totalitas Om Don Hasman

Setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer dari kota kembang, Bandung, akhirnya kami turun di desa Citorek – Bogor. Di situ kami beristirahat sejenak sambil beres-beres dan sarapan. Tanpa menunggu lama setelah sarapan, kami memulai perjalanan panjang lagi. Perjalanan kali ini tidak menggunakan bus, tetapi cukup dengan berjalan kaki dari desa ke desa. Dari desa Citorek kami menuju kampung Lebah Cibeduk yang jaraknya sekitar 9 kilometer. Suatu perjalanan yang menarik sekaligus menantang karena kami harus melalui jurang, kaki gunung, sawah, dan lembah-lembah berbahaya. Jika tidak hati-hati, kecelakaan bisa saja terjadi setiap saat. Perjalanan ini saya ibaratkan  sebagai santapan yang harus kami makan selama perjalanan meskipun tidak enak.

Meskipun capek, pada akhirnya sampailah kami di kampung Lebah Cibeduk ketika jam sudah menunjuk angka 13.00 siang. Di kampung itu kami beristirahat di rumah bapak Murda, teman lama Om Done. Di rumah inilah kami menghabiskan malam sambil bercerita dan melepaskan lelah setelah perjalanan panjang yang kami lalui hari itu.

Ada banyak pengalaman yang bagi saya sendiri sangat menarik dan membuat hati tergugah olehnya selama dalam perjalanan dari desa Citorek ke kampung Cibeduk. Namun, dari sekian banyak pengalaman yang menarik itu ada satu hal yang bagi saya perlu diangkat, yaitu kepribadian Om Done. Hal ini saya anggap penting karena bisa menjadi bahan refleksi anak manusia. Menurut saya, Om Done merupakan orang yang luar biasa karena perhatian dan kasihnya kepada siapa saja.

Sejak kami berangkat dari desa Citorek ke kampung Lebah Cibeduk, Om Done selalu berbicara, mengobrol, dan memotivasi kami semua. Apapun pertanyaan yang dilimpahkan oleh para frater, selalu beliau jawab dengan mantap dan dengan hati. Dari jawaban dan penjelasan beliau, tampaklah pada kami sisi kelembutan seorang bapak kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu, perjalanan kami tidak sepi karena selalu saja ada bahan pembicaraan dari beliau.

Umur tuanya yang sangat jauh dari kami yang muda-muda ini, bahkan lebih pantas disebut cucu-cucunya, tidak menjadi jarak penghalang bagi kami untuk bersahabat dan berbagi rasa. Beliau sangat hangat dan ramah serta selalu melemparkan senyum kepada para frater. Ilmu ini sangat mujarab ketika ada frater yang sudah mulai capek, lelah, dan loyo karena bisa memompa motivasi dan membangkitkan semangat baru. Oleh karena sikapnya yang hangat dan kebapaan, kami pun tak pernah sungkan untuk mengobrol dan bertanya kepadanya tentang apa saja, terutama tentang Badui dan suku-suku terasing lainnya di Indonesia. Beliau tidak pernah membeda-bedakan siapa kami dan memilih siapa yang paling pantas untuk berbicara dengannya. Kami semua sama di hadapannya. Beliau selalu menjawab pertanyaan yang kami lontarkan dan berbicara apa adanya. Tentu saja sesuai dengan pengetahuan yang beliau miliki. Di sinilah letak kebapaan Om Done yang dapat kami alami sendiri. Bukan hanya satu orang yang mengalami kehangatan Om Done, melainkan  kami semua. Kami semua merasa senang, dan lebih dari pada itu kami merasa termotivasi oleh kehadiran dan kepribadiannya.

Perhatian beliau menjadi lebih kentara lagi ketika salah seorang dari kami kena pisau. Beliau langsung turun tangan untuk memberi obat. Dia mengikatnya dengan kain. Akibatnya, tangan beliau penuh dengan darah. Sebenarnya hal ini, kena darah, merupakan pamali bagi beliau, namun pada saat itu tidak menjadi masalah bagi beliau karena ada orang yang memerlukan bantuan.  Sekali lagi, tampaklah sikap pelayanan dan pengorbanan Om Done.

 Pengalaman-pengalaman yang kami temukan selama perjalanan bersama Om Done membuktikan bahwa beliau sungguh-sungguh merupakan bapak bagi kami. Ia sungguh-sungguh memberi diri bagi kami secara total. Totalitasnya dalam pekerjaan dan perhatian tidak perlu diragukan lagi. Walaupun umurnya sangat jauh di atas kami, tetapi beliau sungguh-sungguh dapat menyesuaikan diri dengan kami yang masih muda-muda ini. Di sinilah saya melihat inti kerendahan hati Om Done yang luar biasa. Beliau tidak menuntut supaya orang lain menghargai dan memujinya. Namun, sebaliknya beliau memberi contoh kepada kami semua bagaimana menghargai orang lain. Ini merupakan poin yang sangat penting yang selalu saya ingat dalam hidup ini. Kata-katanya menjadi aktual dalam sikap, tindakan, tingkah laku, dan seluruh kepribadiannya. Pribadinya utuh dan seimbang, antara kata dan tindakan. 

 

 

Ibu Sana Yang Ramah

 

            Pagi-pagi buta sekitar pukul 07:15, kami memulai lagi pejiarahan kami ke tempat tujuan yaitu badui dalam, tepatnya di cikeusik. Jarak antara kampung lebak cibeduk dengan kampung cikeusik kira-kira 25 kilometer. Dan ditempuh dengan berjalan kaki. Lagi-lagi seperti hari sebelumnya, kami melewati medan yang tidak mudah untuk dilalui. Jurang, sawah, gunung, bukit, sungai, lembah, dan hutan adalah santapan selama perjalanan, yang kadang-kadang membuat kami putus semangat, putus harapan. Tapi lagi-lagi Om Done, dengan modal sebagai seorang motivator selalu hadir disamping, memberi semangat, harapan untuk kami.

             Diantara kampung lebah cibeduk dengan ciekusik, kami melewati beberapa kampung, dan desa. Kampung-kampung tersebut sudah lumayan modern dan ramai. Diantaranya kampung Jamrud, desa mangunjaya cigemblong. Dulu, kampung ini menurut cerita kepala desa adalah kampung yang dibuka oleh jepang. Penduduknya kira-kira 150 kepala keluarga. Dan dapat dilalui oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Setelah kampung jamrud, kami meneruskan perjalanan ke kampung cikareo. Jarak antara kampung jamrud dengan kampung cikareo kira-kira 6 kilometer. Setelah kampung cikareo tidak ada lagi kampung selama perjalanan. Tapi hutan lebat, yang kadang-kadang membuat hati terasa takut, yang disertai dengan rasa capek karena medan yang tidak mudah.

             Sebelum menelusuri hutan, kami istirahat dan makan siang di kampung cikareo. Di kampung ini kami semua melepaskan lelah, dan mengisi kembali energi yang mulai kehabisan. Kami istirahat di Rumah Ibu Sana dan Bapak Samat. Ibu Sana punya warung kecil di rumahnya. Di rumah Ibu inilah kami makan, dan minum sambil melepaskan lelah, dan meluruskan kaki.

             Di rumah Ibu Sana, kami merasa diterima dengan baik walaupun mereka sendiri seorang muslim. Basa basi seperti layaknya ibu-ibu pada umumnya tidak ada dalam diri ibu sana. Ibu sana dengan penuh semangat mengambilkan minum untuk kami, dan menyediakan tormos air. Ibu sana membuat minuman istmewa untuk kami yaitu kopi mix. Padahal kopi itu sendiri merupakan barang jualan ibu sana yang dia ambil dari warung kecilnya nan sederhana. Dan setelah kami selesai makan, ibu sana mengambil bantal untuk kami karena beberapa teman sudah mulai tidur-tiduran di lantai rumah ibu sana.

             Yang menarik buat saya adalah pribadi ibu sananya sendiri. Selama kami istirahat di rumahnya, ibu sana selalu senyum. Tak pernah sungkan bertanya, berbicara kepada kami. Ibu sana selalu meleparkan senyum manisnya kepada kami. Tidak heran kalau pada awalnya saya mengira kalau ibu sana rada-rada miring. Ternyata tidak. Pribadinya memang seperti itu. Menurut cerita tetangga-tetangganya, ibu sana memang dikenal sebagai pribadi yang ramah, baik dan taat kepada suami. Hidup sosialnya kepada para tetangga juga sangat luar biasa. Keramahan dan hidup sosialnya kepada orang lain pun saya lihat, merasakan sendiri. Kopi mix yang tidak lain adalah barang dagangannya beliau gunakan untuk kami minum. Dan itu tanpa dibayar. Padahal kopi mix tersebut tidak lain adalah barang dagangannya. Keramahan ibu sana juga terlihat dari tutur kata, sikap dan senyumnya terus-menerus kepada orang lain. Sehingga orang lain merasa senang, tenang, terjamin bila istirahat di rumahnya.

             Karena itu, dalam renungan saya sepanjang perjalanan selanjutnya, saya berkesimpulan bahwa pribadi ibu sana memang pribadi yang langka. Jarang ditemukan diantara ibu-ibu yang lain. Pribadinya sangat luar biasa, brilian. Keramahannya membuat semua orang yang berkunjung ke rumahnya (walaupun terkesan sangat sederhana) namun terasa betah, dan aman. Hidup sosialnya yang tak pernah mencari kepentingan pribadi semata membuat orang lain selalu bahagia, dan terasa senang, nyaman jika bergaul dengannya. Itulah pribadi ibu sana yang saya lihat.

 

 

Keheningan, Kesederhanaan Kampung Cikeusik

 

            Setelah kami melalui perjalanan yang sangat melelahkan nan panjang, akhirnya kami sampai ke tanah impian, tanah yang ditunggu-tunggu yaitu badui dalam. Tepatnya di kampung cikeusik. Di kampung cikeusik, kami menginap di rumah bapak juli menantunya Puun (raja). Kampung cikeusik merupakan asal muasal leluhur orang badui. Menurut ceritera orang-orang badui sendiri, kampung ini merupakan asal-muasal kampung-kampung orang badui. Dan di kampung inilah orang badui pertama lahir, diciptakan.

             Sungguh di luar perkiraan! Begitulah kataku saat baru menginjakkan kaki di kampung cikeusik. Sebelumnya, saya mengira bahwa kampung ini setidaknya sudah mencicipilah sedikit hal-hal yang berbau kemoderenan. Ternyata anggapan saya salah. Bahkan terbalik.

            Saat saya mengamati kampung, orang-orangnya, bentuk rumahnya dan perabotannya, seolah saya berada di dunia lain. Dunia di mana saya tidak pernah lihat, dan kunjungin sebelumnya. Maka apa yang dikatakan oleh Om Done bahwa sekarang ini kita sedang berada, dan mengalami lagi zaman 2000 tahun sebelumnya (pra-modern) adalah benar, tepat. Tak terbantahkan.

             Saya melihat di kampung leluhur orang badui ini semuanya serba sederhana. Tak ada yang istimewa. Namun dibalik itu, kampung ini sangat hening, yang terdengar hanyalah suara burung-burung dan angin sepoi-sepoi. Dan juga suara sungai yang memang berada di samping kampung orang badui. Suara orang yang teriak-teriak seperti di pasar kosambi, atau pasar baru tidak ada. Lingkungannya seperti di pertapaan. Hening, dan kelihatan agak-agak angker juga.

             Di kampung ini juga hampir tidak pernah ditemukan orang yang lulu lalang kesana kemari tanpa arah dan tujuan seperti di kota-kota besar. Orang-orang di sini, dikampung ciekusik tidak pernah ribut. Orang-orang kampung baik orang tua maupun anak-anak yang baru menginjak dewasa melakukan aktivitasnya di rumah dengan tenang. Hampir tidak ada keributan. Bisa saja faktor dari ini semua adalah karena orang badui jika bekerja, mereka biasanya sambil bersemedi, dan berdoa untuk umat manusia. Mereka semua mendoakan manusia agar terhindar dari dosa. Dan mengaharapkan agar bumi yang kita huni dapat dijaga dengan baik oleh penghuninya yaitu manusia sendiri.

            Karena itu, walaupun orang-orang badui ini dianggap tidak maju, terasing, primitif, namun orang-orang modern perlu belajar banyak kepada orang badui. sikap setiap penduduknya yang selalu menjaga kelestarian alam, menjaga ketenangan, dan berdoa untuk orang lain agar selamat adalah sangat mulia. Hal inilah yang perlu dipelajari oleh orang-orang modern. Belajar untuk menjaga ketenangan, menjaga alam ini, dan mendoakan orang lain adalah sikap yang harus di pupuk dalam hidup ini. Sikap demikian sangat baik, brilian untuk menjaga hidup manusia agar hidup manusia berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada gangguan akibat fatal dari setiap tindakan manusia yang tidak seimbang. Karena itu, memperlajari nilai-nilai moral seperti yang dimiliki oleh orang badui adalah sikap/tindakan yang luar biasa mulianya.

 

 

Pemotongan Ayam, dan Kerja Sama Orang Badui

 

 

            Setelah kami bermalam di kampung cikeusik, pagi harinya kami memulai petualangan kami lagi. Kami berangkat dari kampung cikeusik menuju kampung cibeo. Jarak antara kampung cikeusik dengan kampung cibeo ditempuh dengan 2 ½ jam perjalananan. Gunung cikeusik, lembah, dan jurang yang sangat tinggi menjadi sarapan pagi untuk kami. Tidak heran kalau beberapa orang teman hampir putus asa, putus semangat akibat beratnya perjalanan hidup ini. Tapi sang motivator ulung Om Done tak pernah jauh di samping kami. Saat kami berada dalam bahaya keputusasaan akibat beratnya beban hidup ini, beliau selalu hadir, memberi semangat kepada cucu-cucunya.

             Sebelum sampai di kampung cibeo, tempat saya dan teman-teman berlabuh, kami melewati satu kampung orang badui dalam. Kampung tersebut adalah kampung cikartawana. Kami istirahat sejenak di kampung ini. Lalu karena kebetulan di kampung tersebut ada orang yang sakit perut, maka salah seorang dari kami memberikan obat sakit perut, yang memang telah dipersiapkan untuk jaga-jaga sebelumnya. Orang yang sakit perut tersebut sangat bahagia, dan senang karena kami memberi perhatian kepada mereka. Lalu mereka memberi kami pisang mas, minuman hangat sebagai obat kelelahan.

             Perjalanan kami akhirnya berakhir di kampung cibeo. Tepatnya di rumah Pak Sardi, yang saat itu sedang melangsungkan pernikahan anaknya. Kira-kira pukul 12.00 siang, kami ikut rombongan pemotong ayam di tepi sungai. Memotong ayam saat pernikahan adalah hal biasa bagi orang badui. Dan syukur, dengan usaha yang sangat brilian, Om Done dan rombongan akhirnya diijinkan ikut, melihat, dan mengalami sendiri cara pemotongan ayam di kampung cibeo. Ini adalah kesempatan yang sangat langka. Dan orang luar biasanya tidak pernah diijinkan untuk ikut karena bagi orang badui, upacara pemotongan ayam adalah upacara yang sangat suci, sacret.

             Pemotongan leher ayam dilakukan oleh tiga orang. Satu orang yang memotong leher dengan pisau yang sangat tajam. Satu orang yang memegang tubuh ayam. Dan lainnya memegang tempurung tempat darah ayam yang tercurah dari leher ayam.

             Pemotong ayam adalah orang terpilih. Menurut ceritera orang kampung, orang-orang yang memtong ayam biasanya hanya 3 orang atau satu orang dari setiap kampung. Sebelum leher ayam kena pisau tajam, pemotong (orang terpilih) terlebih dahulu berdoa, lalu beraksi sesuai dengan tugasnya. Lalu setelah ayam-ayam semua dipotong dengan pisau bedah yang sangat tajam, ayam-ayam tersebut dikumpulkan kembali di satu tempat. Lalu pemotong leher ayam, pemegang pisau, mengelilingi ayam-ayam yang telah dikumpulkan di satu tempat tadi sebanyak 3 kali putaran. Setiap satu putaran selesai, pemotong ayam memotong salah satu bagian tubuh ayam. Pada putaran pertama, pemotong ayam memotong kuku. Putaran kedua memotong paruh. Dan putaran ketiga memotong jengger ayam. Lalu bagian-bagian tubuh ayam yang telah dipotong tadi dibawa ke depan rumah jaro (wakil puun) untuk ditanam. Sebelum di tanam terlebih dahulu pemotongnya berdoa. Dan setelah selesai, pemotong ayam mengucapkan doa seperti sebelumnya. Setelah itu, pemotong ayam balik lagi ke tempat pemotongan ayam di tepi sungai. Di hadapan ayam-ayam yang tak bernyawa, pemotong ayam berdoa lagi dengan menghadap keempat arah mata angin, kearah atas dan kearah bawah.

             Anehnya untuk membersihkan ayam-ayam dengan mencabut bulu-bulu ayam, dan memotongnya tidak dilakukan hanya di satu tempat saja. Tapi dilakukan di tempat terpisah sesuai dengan kelompok masing-masing. Kelompok pertama adalah kelompok pengantin laki-laki. Dan kelompok kedua adalah kelompok pengantin perempuan. Kegiatan membersihkan ayam semuanya dilakukan di tempat berbeda, sungai berbeda.

             Lalu saya dengan beberapa orang teman ikut menyaksikan caranya membersihkan ayam. Yang menarik bagi saya adalah cara orang badui dalam membersihkan ayam. Membersihkan ayam tidak dilakukan secara sendiri-sendiri. Tapi secara bersama-sama. Ada yang memegang kepala. Ada yang mencabut bulu. Ada yang memotong, dan sebagainya. Dan luar biasanya semuanya selesai hanya dalam waktu 15 menit. Padahal jumlah ayamnya sekitar 100-an. Padahal orang yang membersihkannya tidak begitu banyak. Ini bagi saya sangat luar biasa fantastis. Orang-orang modern tidak mungkin selesai dalam jangka waktu yang sesingkat itu. Tapi bagi orang badui hal itu belum apa-apanya. Hal itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka semua.

             Ternyata dalam refleksi saya ketika itu, ada satu hal yang menarik saya kenapa orang-orang badui begitu cepat dalam membersihkan ayam. Pertama adalah kerja sama antara orang-orang yang mempunyai tugas membersihkan ayam sangat baik. Semua turun tangan. Yang duduk-duduk tidak ada. Semuanya bekerja bersama (working together). Anak kecil yang umurnya baru tujuh tahun hingga orang dewasa semuanya bekerja dengan kompak. Namun walaupun mereka sangat serius dalam bekerja, ternyata mereka juga sangat lucu-lucu. Mereka sering membuat humor-humor yang sering kali orang yang mendengarkannya bisa ketawa terbahak-bahak sambil mengelus-ngeluskan perut karena kelaparan. Menurut saya hal ini merupakan kekuatan orang badui yang seharusnya menjadi pelajaran berharga.

 Sekali lagi dalam bekerja mereka tidak sendiri-sendiri. Tapi dilakukan secara bersama-sama. Mereka tidak membeda-bedakan umur, tapi semuanya sama, dan setara. Karena itu, unsur hospitality dalam komunitasnya juga sangat tinggi, dan luar biasa. Hal itu terbukti ketika kami mengikuti dan mengalami sendiri cara hidup mereka. Walaupun sederhana, tapi nilai-nilai moral, dan pesan penting dari badui ini sangat luar biasa terutama dalam menjalani hidup ini.

 

 

                                    Jembatan Akar (sasak areuy)

 

            Syukur kepada Allah, ketika kami masih di kampung cibeo, tak disangka-sangka para tetua adat mengundang kami untuk menyaksikan pernikahan anaknya Pak Sardi. Tepatnya di rumah pengantin perempuan. Pernikahan ini disebut pernikahan yang dielar. Artinya pernikahan yang digelar di halaman rumah pengantin perempuan. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang sangat langka, dan jarang terjadi. Walaupun ada, tapi orang-orang asing biasanya tidak pernah diijinkan masuk, dan diijinkan untuk menyaksikannya. Karena itu, kami bersama rombongan memanfaatkan momen penting ini. Yang mana hanya sekali dialami dalam seumur hidup.

             Setelah semua beres, kami mulai meneruskan pejiarahan kami lagi ke arah lain. Sekarang tempat yang kami tuju bukan lagi badui dalam. Tapi sekarang kami mulai mengarah ke badui luar yang disebut panamping. Disebut panamping karena orang-orang yang berada di tempat tersebut masih terbuka terhadap hal-hal yang berbau modernitas. Dan inilah yang membedakan mereka dengan orang badui dalam, di mana hal-hal yang berbau kemoderenan dianggap semu, dan ancaman.

             Kami berangkat dari kampung cibeo, lalu menuju kampung kadujangkung di badui luar. Jarak antara kampung cibeo dengan kampung kadujangkung kira-kira 16 kilometer. Jarak yang panjang, dan melelahkan itu sendiri kami tempuh dalam waktu kira-kira 4 jam. Gunung, lembah, sungai, bukit merupakan santapan siang kami selama perjalanan. Karena kekompakan tim yang luar biasa, perjalanan itu sendiri kami jalani dengan baik. Tanpa merasa lelah, capek. Tanpa hambatan, walaupun beberapa orang teman sudah mulai teler, akibat medan yang sangat melelahkan.

             Di kampung kadujangkung, kami menginap di rumah anaknya Pak Sueb. Di rumah tersebut kami bermalam selama dua hari, dan merasakan nikmatnya makanan, dan minuman yang disediakan oleh pemilik rumah. Saya mengatakan makanan dan minuman di kampung ini nikmat karena makanannya sangat sederhana. Lagi makanan tersebut tidak pernah kami makan sebelumnya, dan juga cara masaknya tidak pernah kami alami. Karena itu, makanan dan minumannyan is very special.

             Pada hari jumaat, kami berkesempatan untuk mengunjungi jembatan akar, yang dalam bahasa sundanya disebut sasak areuy. Jarak antara kampung kadujangkung dengan tempat jembatan tersebut sekitar 6 kilometer. Walaupun jaraknya pendek, namun lagi-lagi medan yang kami tempuh tidaklah muda. Gunung yang berbatu, jalan setapak, batu-batu licin selama perjalanan adalah sarapan pagi untuk kami. Tidak heran bila salah seorang teman hampir nangis. Tapi karena keteguhan hati untuk melawan, menantang diri sendiri membuat dirinya jadi tidak nangis. Dan kembali memancarkan lagi wajah yang cerah, dan ceria.

             Untuk mencapai tujuan yaitu jembatan akar dalam bahasa indonesianya, kami melewati beberapa kampung, yang sudah mulai modern. Lebih maju dibanding orang-orang badui dalam. Kampung-kampung tersebut diantaranya kampung gerendeng. Kampung ini terletak di sebelah timur kampung kanekes. Kampung ini walaupun sudah mulai terlihat modern, tapi dalam hal kepercayaan dan keyakinan, ternyata mereka masih mengikuti keperacayaan orang-orang kanekes yaitu menganut paham animisme. Yang percaya pada roh leluhur nenek moyang mereka. Menurut beberapa ceritera orang di sana, jaman dahulu di kampung ini pernah dibangun sebuah mesjid oleh para pendatang dari luar. Tapi tidak sampai seumur jagung, mesjid ini dirobohkan oleh warga kampung. Mereka tidak mau dipengaruhi oleh orang luar. Dan tetap berusaha melestarikan budaya nenek moyang mereka yang telah mereka anut selama ribuan tahun. Karena itu, dalam hal keyakinan dan keperacayaan, mereka tidak mampu dipengaruhi. Jika ada orang yang berasal dari luar, dan mau menikah dengan gadis kampung-kampung ini, dengan sendirinya mereka harus meninggalkan kepercayaan dan keyakinan sebelumnya. Mereka diharuskan untuk menganut kepercayaan animisme. Jika tidak mau, orang bersangkutan disuruh pulang ke rumahnya di mana tempat ia berasal.

             Kampung-kampung lain yang kami lewati selain kampung gerendeng adalah kampung cakuem I dan kampung cilanggir. Ciri khas kampung-kampung ini adalah bahwa selalu berada di samping sungai-sungai. Dan setelah kami melewati kampung-kampung tersebut, akhirnya kami sampai di tempat tujuan utama kami yaitu tempat jembatan akar or sasak areuy. Ini berada di leuwinyalahan. Leuwinyalahan artinya sungai yang ada cekungannya. Dan di sungai ini terdapat jembatan akar. Nama sungai itu sendiri disebut sungai cisimeut yang artinya sungai air serangga.

             Jembatan akar atau sasak areuy merupakan jembatan tradisional. Jembatan ini dibuat oleh orang kampung yang berada di sekitar sungai ini. Tidak heran karena orang kampung yang membuatnya, segala hal-hal yang berbau modernitas tidak ada. Beton yang terbuat dari semen tidak ada. Begitu juga besi-besi hampir tidak ditemukan di jembatan ini.

           Jembatan ini dibuat dengan menggunakan kearifan lokal. Menerapkan teknologi tepat guna. Walaupun jembatannya besar, tapi ternyata peralatan yang digunakan untuk membangun jembatan ini sungguh luar biasa. Jembatan ini dibangun dengan memanfaatkan akar pohon karet, dan juga beberapa bambu, serta beberapa akar pohon lainnya. Memang kelihatan sangat sederhana, tapi sangat alami. Bukan hanya itu, ternyata umur jembatan ini juga sangat lama. Padahal jembatan-jembatan yang telah tercium oleh kemoderenan umurnya paling lama lima tahun. Setelah itu, sudah mulai tua, dan goyang-goyang karena umurnya yang sudah menua.

 Karena itu, saya dapat mengambil hikmahnya bahwa tidak semua kearifan lokal itu jelek, tidak sempurna. Justru kerarifan lokal bila sungguh-sungguh dimanfaatkan akan memberi nilai lebih untuk kita semua. Jembatan akar adalah hasil budaya kearifan lokal. Dan  walaupun sederhana, tapi ternyata jembatan ini sungguh-sungguh memberi nilai lebih kepada semua orang terutama orang-orang kampung yang berada di sekitar tempat beradanya jembatan ini. Karena itu, budaya lokal perlu dihidupkan kembali. Dan bila perlu kita seharusnya lebih hati-hati dalam menggunakan barang-barang yang berbau kemoderenan karena bisa saja tanpa kita sadari merusak kita, dan juga budaya kita. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan:

Om Done adalah seorang Antroplog yang ahli Suku Badui. Beliau mengajar di berbagai Universitas ternama, diantaranya: Universitas Leuven, Belanda, dan Universitas Gajah Mada, Jokyakarta. Juru bicara kami selama perjalanan.

 

Penulis: Marinus Waruwu. Penulis aktif menulis artikel baik berupa laporan maupun opini di berbagai majalah baik nasional maupun lokal. Majalah Nasional, misalnya: Majalah Hidup, Majalah Komunikasi (milik Keuskupan Bandung), Majalah Meragi, dan lain-lain. Selain menulis di berbagai media cetak, penulis juga sedang mendalami ilmu filsafat dan politik di Universitas Parahyangan, Bandung.

 

4 Responses to “I ALWAYS REMEMBER YOU, BADUI!”

  1. Servatius Berchams said

    Jika saya diminta berkomentar, hanya satu kata terakhirnya:
    “Brilian! Jangan berhenti, kreatif terus-menerus!

  2. dominiriahulu said

    jadih pengen kesana:(

  3. dominiriahulu said

    brother, bisa taw alamat e-mailnya Om Done….
    yah, biar bisa share, alnya domi jurusan’a antropologi:)
    thx b4r.

  4. Mrafin S.Sos said

    Terima Kasih Sdr Dominiria. Adek sudah berkenan memberi ide yang bagus di Blog ini. Selamat berjuang!

    Salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: