NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • July 2008
    M T W T F S S
    « May   Aug »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

Remaja Kini

Posted by niasbaru on July 11, 2008

Marinus W.

Artikel ini terbit di Majalah REMAS (Remaja Masa Kini), 9/7/08, Bandung, Jawa Barat.

 

Menulis di Majalah se tenar majalah REMAS (Remaja Masa Kini) merupakan kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan saya terus-menerus. Sebab itu, saya berterima kasih sekali kepada PEMRED (Pemimpin Redaksi) Majalah Remas yang telah meminta saya untuk menulis secuil artikel berkaitan dengan gaya hidup anak remaja dewasa ini.

            Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa gaya hidup  anak remaja kini sangat berbeda dengan gaya hidup anak remaja dulu. Kalau dulu, anak remajanya tidak mengenal yang namanya narkoba, komputer, HP (Hand  Phond), fashion, atau berbagai macam model pakaian. Kini justru sebaliknya. Anak remaja, atau istilah lainnya ABG (Anak Baru Gede) justru bergelut dengan hal-hal tersebut. Dan menjadi gaya hidup mereka tiap harinya. Maka apa yang pernah dikatakan oleh filsuf Baudrillard beberapa abad lalu memang ada kebenaranya. Menurutnya, gaya hidup manusia jaman kini  dibentuk oleh pabrik-pabrik imajinasi seperti fashion, komputer, HP, dll. Bukan oleh nilai-nilai moral yang beberapa dekade lalu mendapat tempat istimewa dalam kehidupan manusia. Karena itu, apa yang telah diwanti-wanti oleh beliau memang tepat, dan benar. Yang mana hal tersebut dapat kita temukan dalam gaya hidup remaja masa kini.

            Terjadinya perubahan gaya hidup (life style) anak remaja masa kini tak terlepas dari perubahan budaya, pola pikir yang dianut oleh masyarakat bersangkutan. Kini anak remaja lebih senang dengan hal-hal yang serba instan, pragmatis, dan cenderung kebarat-baratan. Hal itu dapat kita lihat dalam bentuk rambut, pakaian, maupun sepatu, dll. Itu dimungkinkan karena alam modern menyediakan berbagai macam alternatif dalam kehidupan. Manusia tinggal memilih mana yang suka, dan tidak suka, cocok dan tidak cocok. Akibatnya sangat fatal. Budaya asli yang dulu menjadi tonggak budaya masyarakat menjadi terkubur oleh budaya baru yaitu budaya modern yang tidak lain adalah budaya barat. Contoh yang paling praktis adalah kebaya. Pada jaman dulu Kebaya menjadi salah satu pakaian istimewa, favorit di masyarakat kita. Setiap ada upacara besar pun kebaya tidak pernah luput dari mata. Namun seiring dengan berkembangnya jaman yang makin maju, terbuka kebaya lama kelamaan dtinggalkan oleh masyarakat. Dan beralih ke bentuk pakaian-pakaian yang lebih simple, praktis, dan memberi warna tersendiri bagi setiap orang yang menggunakannya.

            Selain dalam hal pakaian, gaya hidup anak remaja masa kini memang lebih maju, terbuka dibandingkan dengan jaman dulu. Pola pikir, cara bertindak, dan cara berbicara pun sangat dipengaruhi oleh gaya hidup modern yang tidak lain adalah generalisasi budaya barat itu sendiri. Itu semua adalah sisi positif dari lahirnya budaya maju. Dan sisi-sisi positif gaya hidup modern tersebut tidak terbantahkan lagi. Akan tetapi kita juga jangan lupa bahwa di mana ada sisi positif, maka sisi negatifnya juga pasti ada. Begitu juga dalam hal gaya hidup modern. Gaya hidup modern selain memberi nilai-nilai positif, juga mengakibatkan sisi negatif yang tidak kalah bahayanya.

Kasus narkoba, free seks, korupsi waktu, dan lebih memilih hal-hal yang lebih instan ketimbang mengikuti proses merupakan sisi lain dari kehidupan anak remaja dewasa ini. Ratusan ribu anak-anak remaja dewasa ini tersandung kasus narkoba, dan nasibnya berakhir di bui. Maraknya free seks dalam kehidupan anak remaja juga tidak  kalah hebatnya. Akibatnya ada ratusan ribu anak remaja di tanah air menjadi pengidap penyakit HIV/Aids. Dan nasibnya sangat tragis. Lalu muncul pertanyaan perlukah gaya hidup anak remaja semacam itu diteruskan atau justru ditinjau kembali dengan memberlakukan kembali nilai-nilai tradisional? Pertanyaan semacam ini sangat dilematis. Sebab jika kita mengatakan ya untuk mendukung gaya hidup anak remaja modern seperti kasus-kasus diatas kita dituduh terlalu liberal. Bahkan dituduh tidak bermoral, dan tidak memperhatikan tata nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Lalu jika kita mengatakan tidak! Malah kita dituduh terlalu konservatif, berpikiran sempit, dan tidak mengikuti perkembangan jaman. Bahkan jika tidak hati-hati bisa dituduh sebagai pengkhianat kemoderenan, dan masuk dalam keanggotaan kaum fundamentalis. Lalu bagaimana?

Para pengagum modernitas sepakat bahwa proyek modernitas yang dilahirkan beberapa abad lalu dalam kehidupan manusia memang tak terhindarkan. Budaya modern, dan segala hal yang berbau gaya hidup modern harus diikuti. Bila tidak, maka akan ketinggalan jaman. Dan menjadi korban proyek modernitas itu sendiri. Karena itu, mengganti budaya-budaya lokal dengan budaya baru, dengan segala macam tawaran gaya hidupnya adalah suatu keharusan.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar diatas, maka menurut pengamatan saya harus ada keseimbangan antara gaya hidup budaya modern dengan gaya hidup budaya asli/lokal. Dan jangan sampai berat sebelah. Hal itu bisa dilakukan dengan melihat kembali keraifan lokal, nilai-nilai positif yang ada dalam budaya lokal. Dan menggunakannya untuk menyaring budaya-budaya modern yang cenderung agresif dan tidak adil. Ini adalah tugas kita semua. Kita sebagai pemilik budaya lokal perlu ketegasan dalam hal ini.

 

 

8 Responses to “Remaja Kini”

  1. Marinus Waruwu. said

    Sebagai tambahan:

    Koran lokal beberapa waktu lalu di Bandung mengadakan polling untuk anak2 SMA/setingkat yang telah berhubungan Seks. Ternyata hasil polling menunjukkan bahwa hampir 70% anak-anak SMA telah berhubungan Seks. Selebihnya masih mencoba-coba. Pertanyaannya: apakah agama masih punya andil untuk menyadarkan remaja-remaja yang baru gede tersebut agar mereka taat pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat?

  2. remaja abad 21 kali ini sudah jauh dari garis agama tapi jangan terlalu memfonisnya ,itu semua juga di sebabkan cara didik orangtua bagaimana orang tua harus bisa memeneg anaknya baik atau tidak ,kalau mau tau lebih jauh tanggal 20 di adakan seminar remaja abad 21 bintang tamu jupiter dan ello jika ingin daftar tlpon ke no ini

    imam:02195512362

  3. etha said

    kaum remaja memang sulit dimengerti… gejolak yang ada di dalam diri mereka, merupakan suatu hal yang alamiah terjadi di masa-masa seperti itu. Kita juga pasti pernah mengalami hal yang sama. Mungkin memang ada pergeseran budaya dari generasi sebelumnya ke generasi sekarang. Namun tetap bukan berarti generasi yang lalu lebih baik dari generasi yang sekarang. Remaja generasi yang terdahulu pasti mengalami hal yang sama dengan remaja generasi yang sekarang, yaitu kehilangan jati diri. Hanya saja remaja post-mo lebih mudah mengaktualisasikan diri mereka sebebas-bebasnya hingga terkadang lepas kontrol. Apalagi sekarang adalah zaman post-modernisme, zaman yang sangat mengagungkan kebenaran yang bersifat relatif. “Jika A menurut lo bener, jalanin aja.. Gw mah lebih percaya B. Kita hargai ya jalan kita masing-masing.” Itu kalimat yang sering dilontarkan oleh orang-orang post-mo. Paham atau konsep seperti itu, dikolaborasikan dengan gejolak anak remaja yang seringkali ‘kehilangan jati diri’ mereka, menghasilkan mereka yang seperti kita seringkali lihat pada zaman sekarang ini.
    Memang ini tidak mudah untuk diubah, karena jika diubah, kita sedang melawan arus deras yang ‘ga mungkin untuk diterjang. Salah satu hal yang dapat kita lakukan sekarang adalah melalui pendekatan secara pribadi. Saya cukup dekat dengan beberapa anak remaja yang ‘nakal.’ Semakin saya dekat, menerima mereka apa adanya, tidak menghakimi mereka, mereka semakin terbuka dan percaya kepada saya. Setelah saya mendapatkan penerimaan yang cukup penuh dari mereka, mereka dengan gampangnya membuka semua ‘aib’ yang pernah mereka lakukan, tanpa sungkan untuk mengeksposnya. Jika mereka sudah terbuka pada kita, maka terbukalah pintu gerbang bagi kita untuk masuk ke dalam kehidupannya dan mencoba untuk menyelamatkannya. Pendekatan secara pribadi mungkin salah satu cara yang cukup efektif, karena sebenarnya mereka butuh figur orang yang dewasa dan mau membimbing mereka. Tinggal gimana kita bisa mendekati mereka aja.. Jangan pernah menghakimi mereka, n jangan pernah memandang mereka rendah, karena justru itulah yang mereka butuhkan.. mereka butuh pengakuan dan penghargaan, apalagi dari orang yang lebih dewasa dari mereka.
    Yah.. walapun memang metode ini dipandang sebelah mata, karena memang tidak akan banyak hasil yang dicapai secara kuantitas, malah mungkin banyak menyita waktu dan tenaga, tetapi lebih baik melakukannya daripada tidak melakukan sama sekali. Lebih baik menyelamatkan, dua, tiga, atau empat orang, daripada tidak sama sekali. Manatahu.. dari antara dua, tiga, atau empat orang yang kita bina dan dekati, muncul generasi penerus bangsa yang kompeten dan handal. Who knows? Ingat.. remaja sekarang merupakan generasi penerus bangsa.. apa jadinya bangsa Indonesia kalo dipimpin oleh pemimpin yang masa remajanya hancur dan tidak dapat terselamatkan???

  4. Marinus W. said

    Yaahowu Bertha alias Etha.

    Saya sebagai Moderator http://www.niasbaru.wordpress.com mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan dan komentar anda di gubuk sederhana ini. Selamat datang, selamat bergabung. Semoga ide-ide yang Etha curahkan di sini dapat berguna untuk semua kaum remaja baik remaja Nias maupun di seluruh Nusantara.
    Saya senang Etha menyebut kata Post-mo/aliran posmodernisme. Istilah ini sebenarnya kotroversial. Satu sisi, istilah pos-modernism seringkali dianggap hanya mode intelektual yang dangkal, kosong atau juga hanya sekedar renungan-renungan reflektif yang sifatnya reaksioner semata atas berbagai perubahan sosial yang kini sedang berlangsung. Di sisi lain pos-modernisme juga sangat menggugah hati sebagian besar masyarakat dunia saat ini. Dan ini menunjukkan bahwa aliran besar ini punya ketajaman reflektif atas berbagai krisis dan perubahan sosio kultural fundamental manusia. Lain dari pada itu, bahwa gagasan-gagasan dasar dalam dunia pra-modern, patristik, skolastik, renaisance, dan modernisme dikonstruksi kembali. Ide-ide tentang filsafat, rasionalitas, dan epistemologi dipertanyakan kembali secara radikal.
    Karena itu, aliran besar “posmodernism” muncul sebagai reaksi atas berbagai worldviev atau gambaran-gambaran dunia, epistemologi dan ideologi-ideologi modern.
    Akan tetapi perlu diperhatikan juga bahwa istilah post-modernism sebaiknya dibedakan dengan post-modernitas. Post-modernism lebih mengarah ke paham, ideologi karena ada “isme”nya. Maka sebutan “remaja postmodernism’ untuk remaja masa kini kurang tepat. Tapi yang tepat adalah “remaja post-modernitas” yang memang berkaitan dengan artikel. Post-modernitas di sini menunjuk pada situasi dan tatanan sosial produk teknologi informasi, masalah-masalah globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, jatuhnya negara bangsa, dan pengembalian kembali tradisi-tradisi yang selama sekian abad jauh dari hiruk pikuk modernitas.

    Lain dari pada itu (penjelasan tentang post-modernisme & post-modernitas), pendapat Etha sungguh mencerahkan, membuka cakrawala pemikiran anak remaja kini. Bukan hanya saya yang terbuka pikirannya. Tapi teman-teman dari kampus yang sempat baca komentar dari Etha juga merasa terbuka wawasannya. Bukan hanya karena akar permasalahan yang dimunculkan (kehilangan jati diri) tapi juga solusinya yang sangat tajam. Saya kira solusi dari Etha adalah pengalaman pribadi yang kemudian diolah, direnungkan secara mendalam sehingga menghasilkan sebuah sharing-pribadi yang mengagumkan. Terima kasih sharingnya Etha. Anda memang brilian. Anda membahasakan artikel singkat ini secara sederhana, dan mendalam.

    Tapi saya masih bertanya-tanya nih Etha kenapa anak remaja masa kini seringkali disebut “kehilangan jati diri”. Apakah ada kaitannya dengan kehilangan “otensitas diri” (Apakah ini hanya persoalan bahasa semata?), yang seringkali terperangkap dalam prabrik-prabrik imaginasi modern. Mungkin di wilayah teologis ada jawabannya ya…????

    Yaahowu!

    Bandung

  5. Rani Mendofa said

    Hiii semuanya

    slm knela bang Marinus dan juga kak Etha. Yaaga ira adik2 mi tetap berharap agar masa depan anak2 nias cerah dan semakin banyak yang sekolah

    slm untuk semua

  6. yan bria said

    Waduh………,ketika membaca beberapa komentar tentang kehidupan remaja di dunia modern ini, saya juga merasa terpaanggil untuk sedikit memberikan kommentar dan masukan. Memang kita kaum muda yang hidup di zaman ini, tak bisa memungkiri dan menghindri diri dari berbagai macam kemajuan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tanpa kita sadari telah merasuki setiap sisi hidup kita. Melihat realitas kehidupan semacam ini, lantas bagaimana dengan sikap kita sebagai kaum muda, harapan masa depan bagi kehidupan ini…? Secara pribadi, saya merasa kagum dengan sikap dan reaksi kaum remaja masa kini, yang mana dengan begitu gampang dan mudahnya dapat menyelusup masuk dan menyiasati hidupnya dalam menghadapi berbagai tantangan, entah secara positif maupun negatif. Sekilas kalau kita bercermin pada kaum remaja masa dulu, maka akan kita temukan beberapa sifat dan karakter dasar. Misalkan saja, kaum remaja dulu, dunia relasinya tidak begitu luas, maka boleh dikatakan agak ‘kuper’ alis kurang pergaulan. contoh lain, mereka tidak mudah untuk dipengaruhi oleh kebudayaan ala barat, menampilkan diri apa adanya, bukan ada apanya. Sedangkan kalau saya melihat kaum remaja di dunia sekarang ini, wah…., sepertinya hidup mereka sangat kontras dengan kaum remaja masa dulu.
    Saya melihat bahwa, kaum remaja sekarang sangat berani untuk mencoba dan memasuki setiap hal baru yang dipancarkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang serba canggih. Hal ini adalah suatu aksi yang positif, tapi sebaliknya ada juga kekuatiran yang tanpa sadar dapat merongrong identitas dan menantang eksistensi mereka sebagai kaum remaja. Maka ketika hal ini terjadi dan dapat mereka alami, bahkan hidupi, janganlah heran jika sebagian hidup kaum remaja dapat menjadi bagian dari korban teknologi di zaman modren ini.
    Melihat realitas hidup seperti sekarang ini, maka sebaiknya kaum remaja cobalah berusaha untuk menghindari diri dari prinsip ‘Konsumerisme’, artinya bahwa jangan berani untuk menikmati saja semuanya dengan mentah-mentah, tapi sebaliknya berusahalah untuk menyiasati semua tantangan dan kehidupan baru dengan suatu komitmen. Maka mungkin hal yang perlu diingat dan untuk dilaksanakan adalah ‘berusaha untuk mengambil sebuah sikap dan prisip hidup dengan mengutamakan prioritas nilai’,pilih mana yang penting dan mendesak untuk ditindaklanjuti, bukn saja penting ,tapi tidaak mendesak yang harus dihidupi.

  7. Otenieli Daeli said

    Hai teman-teman,

    Saya sedang berfikir apakah memang banyak orang muda zaman sekarang maunya bernostalgia dengan zaman “dulu”, yaitu zaman yang belum pernah dialaminya? Barangkali banyak orang menilai zaman “dulu” itu “lebih baik.” Apakah memang begitu? Orang tua-tua memang sering mengatakan tentang zaman dulu. Kita anak muda sekarang sering mendengar, “Dulu…, waktu saya masih muda, semua anak muda itu aktif dalam kegiatan masyarakat.” Atau, “Dulu…, anak-anak muda itu sangat menghargai budaya lokal,” dan sebagainya, dan sebagainya.
    Menurut saya, barangkali baik kalau kita pertanyakann: apakah pada zaman “dulu” itu sudah ada pilihan-pilihan. Bayangkan saja zaman tahun 70-an ketika channel televisi di Indonesia hanya ada TVRI, apakah ada pilihan lain untuk berganti channel? Oleh sebab itu, meskipun acaranya tidak menarik, tetapi tetap saja ditonton karena tidak ada pilihan. Coba kita bandingkan zaman sekarang ketika pilihan itu bertaburan hingga susah memilih di antara banyak. Acara TV saja perhatikan: setahu saya, zaman sekarang ini, tidak ada orang yang puas dengan satu acara saja dalam waktu satu jam. Selalu ada godaan untuk berpindah channel.
    Nah, dalam kerangka ini barangkali kita boleh melihat keberadaan anak-anak muda (remaja) sekarang. Saya menduga, oleh karena banyaknya pilihan, maka anak-anak muda sekarang menjadi bingung untuk menentukan pilihan dan mungkin saja mereka kehilangan pegangan karena tidak berani memilih atau mungkin memilih sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipilih. Zaman dulu pilihan terbatas atau bahkan satu-satunya pilihan, maka pusing apa lagi. Seandainya orang-orang yang sudah tua sekarang, hidup muda di zaman sekarang, apakah persepsi mereka tentang anak muda, sama dengan anak muda sekarang ini? Boleh kita tanya kepada orang-orang tua sekarang atau kita jawab nanti kalau kita sudah tua.

    Ada teka-teki: apa bedanya anak muda zaman dulu dengan anak muda zaman sekarang??
    Barangkali ada banyak jawaban yang bisa muncul. Namun, versi teka-teki ini menjawab: anak muda zaman dulu sekarang sudah tua, sedangkan anak muda zaman sekarang masih muda.
    (sekedar intermezo)

    Ada suatu pengalaman nyata di lapangan. Saat itu saya di Asmat Papua sedang mengadakan suatu kegiatan yang melibatkan orang-orang yang sudah tua, setengah tua, dan anak-anak muda. Ketika membahas soal budaya orang-orang tua dan setengah tua berteriak dan menyalahkan anak-anak muda. Mereka mengatakan, “Anak-anak muda sekarang ini sudah lupa adat. Tidak ada lagi yang tahu lagu-lagu tradisi. Anak-anak muda sekarang terlalu banyak lari ke keyboard (organ kecil) atau lagu-lagu kaset. Mereka tidak mau lagi belajar adat. Tidak ada lagi yang mau datang ke rumah bujang (rumah adat).” Tamparan ini tidak bisa diterima begitu saja oleh anak-anak muda. Maka, mereka pun membalas. Anak-anak muda mengatakan: “Kamu ini omong kosong besar. Bagaimana kita anak muda bisa belajar kalau orang tua-tua adat saja tidak ajar kita. Bagaimana kita mau belajar kalau tua-tua adat sendiri kerjanya nonton tv di kios orang Bugis/makasar. Bagaimana kita mau belajar di rumah adat kalau tua-tua adatnya sendiri tidak ada di sana. Sebenarnya anak-anak muda mau belajar dan mau datang ke rumah adat, tetapi tua-tua adatnya tidak ada di sana. Lalu untuk apa kita datang. Bukan anak muda yang salah kalau tidak datang dan belajar, malainkan tua-tua adat karena mereka lupa tugas.” Singkatnya, terjadilah saling menyalahkan, antara orang-orang tua dan orang-orang muda tentang budaya lokal yang sekarang ini sedang sekarat.

    Ini hanya sebuah pengalaman yang boleh kita timba. Maksud saya menceritakan pengalaman ini bukan untuk menilai bahwa itu baik atau jelek, melainkan untuk menunjukkan bahwa masalah anak muda zaman sekarang sangatlah rumit.
    Komentar ini pun bukan untuk menunjukkan suatu solusi, melainkan mencoba menawarkan alternatif berfikir. Kalau ada teman mengharapkan supaya berpegang pada kearifan lokal, ya silakan aja, tapi mau pegang yang mana karena orang-orang tua yang sedang memangkunya sedang kebingungan juga. Maksud saya, banyak orang menjadi bingung, ragu, minder, tidak berani ketika berhadapan dengan budaya atau kebiasaan lain yang barangkali dalam benak mereka lebih bagus dari pada apa yang mereka punya. Kearifan lokal yang dulunya sangat mutlak, jadinya menjadi sangat relatif ketika berhadapan dengan kearifan (baca=kebiasaan) lain. Dulu, kearifan (kebiasaan) itu diikuti begitu saja tanpa banyak pertimbangan, sekarang pertimbangan terlalu banyak sehingga ragu-ragu untuk memangkunya/memegangnya. Lalu, apa yang harus kita pegang, sementara pegangan itu sedang goyah?

    Yah, selamat berfikir dan berdiskusi!

  8. Sony Maing, Osc Papua said

    mat siang and mat bertemu….pace..apa kabar nih? saya sedikit mau mengomentari tulisan marinus mengenai persoalan yang sedang di hadapi oleh genersi muda kita sekarang…bagi saya sebenarnya hal itu merupakan hak dari setiap pribadi untuk mengekspresikan diri cuma pada level tertentu anak muda mulai lupa akan kebijakan-kebijkan yang pada dasarnya membentuk watak dan karkter hidup mendasar hidup sosial kita yaitu culture…anak muda zaman sekarang selalu mendewakan segala-galanya…bagaimana koment pastor….aku tunggu ya…salamku buat pastor Tinus.kami selalu mendoakan pastor biar selalu sukses dalam study dan cepat balik ke tanah air kita tercinta kuala lumpur Asmat ha…ha…ha…

    salam dan doa

    Sonny Maing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: