NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • July 2008
    M T W T F S S
    « May   Aug »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

TAKARAN KEBENARAN : MANUSIA SANG KHALIK

Posted by niasbaru on July 8, 2008

By: DS Ollyn Zb.

 

Jiwa kaum muda akan tetap bergejolak mengiringi gempuran hidup yang berdinamika multilevel. Berbagai aspek kehidupan menuntut vitalitas super sekaligus “merogoh” akar-akar makna hidup. Demonstrasi hidup ini bisa saja akan mencapai titik ironi dan level ideal yang mampu menciptakan “kepincangan” jiwa-jiwa manusia yang berkehendak masuk ruang ketenangan. Mungkinkah ruang ketenangan itu bagaikan ruang yang kedap suara? Segala sesuatu yang terjadi di luar tidak akan mengusik kehidupan ideal? Ataukah, ruangan itu tetap penuh dengan perbedaan?

 

Tetapi, siapakah yang sungguh siap menerima perbedaan?

 

Ruang itu bisa saja adalah rumah, hidup, urusan, masa depan, iman kita sendiri. Dan ruang pribadi itu kini bukan hanya ruang buat diri sendiri tetapi telah ada sekian banyak orang yang keluar-masuk. Mereka mungkin tinggal untuk sementara, mempelajari kehidupan dan seluk beluk rumah kita [anda] dengan berbagai kepentingan. Ada yang sekedar bertamu, melepas lelah atau mungkin saja suatu saat ada orang-orang yang akan memaksa kita untuk keluar dari rumah kita sendiri dengan berbagai dalil kebenaran yang menurut mereka merupakan kebenaran ilahi. 

 

Pertanyaannya adalah “Atas takaran siapakah kebenaran yang dimiliki dan diteriakan oleh manusia? Apakah manusia itu sendiri dengan pikirannya yang memaksa Khalik berkehendak sama dengan dirinya? Ataukah, Khalik sebagai pemilik kebenaran itu sendiri?”

 

Mungkinkah manusia telah menjadi Khalik atas dunia tempat ia singgah. Sehingga mereka mampu menentukan kebenaran dan kesalahan atas hidup dan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup. Entah siapapun yang akan membaca tulisan ini, silahkan anda menjawab pertanyaan ini: “Atas takaran siapakah kebenaran yang kita teriakkan dan kerap kita paksakan?” Dan, “Apakah kebenaran itu?”

 

Alih-alih kita berpikir dari sisi pemilik kebenaran, manusia sang khalik, yang telah menahbiskan dirinya sebagai pencipta, telah menentukan takaran kebenaran yang mereka katakan. Dan takaran itu adalah kitab-kitab yang mereka miliki. Penulis akan tetap berusaha untuk tidak mengatakan bahwa takaran itu salah dan tidak sempurna karena ini adalah soal kepercayaan mereka. Kita juga bisa mengatakan bahwa kitab-kitab itu berasal langsung dari tangan Khalik, maka kebenarannya tidak ada yang diragukan?

 

Tetapi, jika kita sejenak mau melepas semua asumsi dan silahkan berpikir: “Apakah tafsiran manusiawi kita atas isi kitab-kitab itu sama seperti Khalik melihat dan berpikir?” Ataukah, “kita berpikir dan mengatakan bahwa semua itu sama seperti Khalik berpikir atas isi kitab yang sama?”

 

Dan sekarang, jika kita telah membalik semua itu dalam takaran manusiawi kita, bukankah manusia telah menjadi Khalik atas kebenaran. Dan pemilik kebenaran sejati telah di-“peti-kemas”-kan secara perlahan.    

 

Begitu getolnya dunia saat ini, dalam konteks agama, untuk melihat kebenaran imani yang tidak akan pernah terkatakan dan terjelaskan oleh manusia. Tetapi ironisnya, mereka sungguh sangat percaya atas takaran yang telah mereka ciptakan sendiri. Dan jika takaran ini, dipertanyakan apalagi jika diotak-atik, pedang adalah jawabannya. Banyak bukti yang terjadi di antara kita, dimana agama menjadi sebilah pedang yang diacungkan tinggi-tinggi untuk membunuh sang perbedaan [the stranger].

 

Jika jawaban atas takaran kebenaran yang mereka teriakkan adalah pedang, lalu apakah Khalik sungguh menakar kebenaran yang demikian? Pedang bisa saja dalam arti yang sangat luas. Pedang bisa diartikan pembunuhan karakter, pemaksaan, invasi terhadap yang lain, membela keraguan, berteriak atas nama Khalik dalam pembunuhan, atau apapun yang terjadi dalam dunia saat ini.

 

Selama ini, mungkin kita telah mengerti “perbedaan” dengan cara-cara yang salah. Sehingga ketika kita melihat “perbedaan” kita mulai dari keinginan untuk meruntuhkannya dan bukan untuk mencari kebenaran Khalik. Kita berdiri di atas takaran kebenaran kita sendiri dan dengan demikian sangatlah mudah mencabik-cabik yang lain. 

2 Responses to “TAKARAN KEBENARAN : MANUSIA SANG KHALIK”

  1. Otenieli Daeli said

    Ya’ahowu
    Sdr. Ollyn Zb, Tulisannya sangat bagus. Tapi, sebenarnya mau ngomong apa sih? Apakah tidak ada lagi bahasa yang lebih sederhana untuk menyampaikan apa itu kebenaran? Kalau teorinya saja secanggih itu, apa lagi praktiknya.

  2. Salam: P. Othen, OSC

    Senang bisa bertemu di media ini. Sebenarnya tulisan ini hanya satu bagian dari rangkaian tulisan yang harus dikembangkan lagi. Sebenarnya Tulisan ini berkembang dari satu tema pikiran tentang bergolaknya agama yang jarang berada pada koridor win-win. Selain itu, tulisan ini juga bersumber dari the islamic invasion [Robert Morey] dan buku Erick Formm [Manusia Menjadi Tuhan].

    Selebihnya adalah progresi manusia [kelompok] yang meneriakkan kebenaran mereka sendiri tetapi khalik sering menjadi pelengkap penderita dari kebenaran itu, atau dengan kata lain “terpaksa / dipaksa” membenarkan kebenaran itu [what ever they called the truth].

    How’s your study in Philipine?

    DS Ollyn Zb.
    Email:squallvita@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: