NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • May 2008
    M T W T F S S
    « Apr   Jul »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

KURIKULUM, GURU DAN MAKNA KEBERADAANNYA

Posted by niasbaru on May 17, 2008

Oleh : Dedi Haryono*

Berbicara tentang kurikulum maka artinya kita berbicara persoalan yang sangat tendensial dalam dunia pendidikan, karena perlu kita akui bersama bahwa kurikukum mempunyai peran yang urgen, dimana dengan fungsinya kita dapat melihat keberhasilan suatu pendidikan, kurikulum bak sebuah kendaraan yang mengantar mata pelajaran. Ketika tidak dapat memaknai arti, tujuan serta keberadaannya, bagaimanapun bagusnya suatu mata pelajaran tidak sampai dengan sempurna terhadap siswa sehingga arti dari tujuan pendidikan menjadi semu. Karena kurikulum adalah seperangkat rencana, pengaturan tentang isi dan tujuan dan bahan perkuliahan/pengajaran serta sebagai pedoman dan cara untuk sampai pada tujuan pendidikan. Maka dapat kita bayangkan arti sebuah kurikulum.
Guru dalam hal ini dapat diidentitasi karena kemampuan dalam mengimplementasikannnya, sehingga semua perencanaan pengajaran yang ditargetkan dalam waktu tertentu dapat dilaksakan. Bukan hanya sebatas kemampuannya dalam pengetahuan. Kalau ini yang terjadi maka proses pengajaran bak sebuah sebuah kendaraan yang tidak memahami rambu-ramu perjalanan bisa dipastikan tidak akan sampai, atau bahkan tersesat.
Berangkat sadar atau tidak, kita dapat melihat bahwa sangat sedikit sekali guru memperhatikan kenyataan tersebut. Mereka hanya memprioritaskan kemampuannya dalam memahami sebuah ilmu dan menyampaikan ke siswa sebatas transformasi keilmuan, mereka tidak mau repot berfikir apakah siswa sebagai subyek dalam pendidikan dapat mencerna baik? Apakah nilai-nilai dapat terserap pula? Apakah pengajaran menuju pada tujuannya? Atau inikah sebuah realitas dalam dunia pendidikan kita? Sehingga akhirnya kita memperoleh peringkat ke 109 dari 172 negara dalam pantauan UNDP dalam peringkat HDI-nya (Human Development Index). Padahal guru yang Indonesia sudah tidak diragukan lagi dalam keilmuannya, mengapa akhirnya pada kenyataannya akan memperoleh predikat memalukan tersebut? Maka kita sebenarnya berilmu tapi lemah dalam memahami tujuan dan target dalam penyampaian keilmuan. Ibarat seorang yang memegang ceret air, menyiramnya terus ke gelas tetapi tidak mau perduli apakah air itu sudah masuk dengan baik ke dalam gelas? Atau malah hanya akan membuat sekitarnya becek?
Sejenak dengan usaha sadar kita mencoba mengurai perumpamaan apa arti kurikulum, guru atau bahkan lembaga pendidikan. Di abad yang serba cannggih ini semua pengetahuan tersedia dimana-dimana, melalui media massa, internet dan sebagainya. Seseorang walaupun tidak masuk dalam dunia pendidikan formal atau nonformal bisa saja tahu dan mendengar tentang keberadaan internet. Bahkan mengoperasikannya. Tapi mampukah mereka memahami tentang semua fungsi yang ada dalam media tersebut? Bahwa internet tidak hanya sebatas media informasi, bahkan masih banyak fasilitas lainnya seperti komunikasi. Dengan internet seseorang dapat melakukan hubungan dengan lainnya tanpa dibatasi tempat. Masih belum kedalam bagian yang terdalam lagi, tentang pembuatan internet baik dari sisi hardware maupun software serta bagaimana memproses sehingga sampai ke monitor komputer? Dapatkah mempelajarinya tanpa lembaga pendidikan dan tuntunan guru? Maka dapat dipastikan bahwa jawabnya adalah sulit. Nah persoalan ini yang hanya dapat di temui dalam lembaga pendidikan formal.
Melihat uraian diatas bahwa keberadaan guru adalah puncak pada proses pendidikan. Namun apalah arti seorang guru apabila tidak memahami makna kurikulum secara integral? Bak petani yang tidak punya cangkul. Maka paling tidak akan memberikan sumbangsih yang jelek terhadap proses pendidikan. Memang sekarang saatnya pemerintah untuk melihat kebawah atau kebelakang tentang kompetensi guru-guru kita. Predikat guru tidak hanya sebatas lahan pencarian penghasilan seperti pekerjaan lainnya. Karena guru adalah ikon yang melahirkan generasi-generasi. Maka pepatah klassik benar ketika guru kencing berdiri maka murid kencing berlari. Pertanyaannya adalah “Relakah kita apabila murid-murid di Indonesia kencing berlari?”. Menurut Drs. Syaiful Bahri Djamarah (2000) Guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan peranan penting dalam pendidikan, ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti terlibat dalam agenda pembicaraan, terutama yang menyangkut pendidikan formal disekolah
Indonesia kita yang tercinta ini dalam tataran dunia pendidikan sudah beberapa kali menerapkan berbagai model kurikulum, mulai dari CBSA, KBK, KTSP bahkan masih banyak model-model kurikulum dalam tataran wacana. Tapi dapatkah mengangkat harkat dan martabat dunia pendidikan kita ke permukaan pendidikan internasional? Tapi yang terjadi justeru pendidikan kita dalam berbagai pertanyaan. Atau malah-malah bukan kurikulumnya yang tidak layak pakai, dalam istilah modern ada Manajemen error dan Human error. Mungkin dalam tataran logis ketika otak-atik manajemen tidak mampu, maka kemungkinannya adalah human error. Pendidikan di Vietnam, bahwa semua pendidikan yang mencetak guru wajib dipegang pemerintah, dalam rangka menjaga nilai kompetensi seorang guru atau yang lebih ekstrim lagi bahwa paling tidak profesi guru tidak hanya sebatas profesi untuk mencari penghasilan semata. Dari gambaran tersebut dapat kita tarik maknanya bahwa begitu berhati-hatinya pemerintah vietnam terhadap kwalitas guru-guru yang dimilikinya. Tidak asal-asalan seperti negara kita, yang akhirnya harus ditebus semua dosa dengan sertifikasi guru. Mengapa baru sadar? Atau kita terbiasa melakukan sesuatu berorientasi pada proyek?
Maka perlu sekali kita beropini “Buzzword” guru-guru diindonesia. Penting sekali, tidak semata-mata mengolok-olok seorang guru tetapi paling tidak agar memotivasi kepada mereka untuk menghargai profesinya sendiri. Agar melihat diri sejauh mana kualifikasi akademiknya? Sejauhmana kemampuan memahami kurikulum serta apakah guru mengajar sudah membuat rencana yang tentunya ada silabus yang dapat dipertanggungjawabkan? Jika tidak maka jangan harap pendidikan di Indonesia masuk pada ranah globalisasi, tetapi terus menerus berada digaris tepi (terpinggirkan). Atau malah kita akan bangga dengan predikat yang diberikan masyarakat dunia bahwa pendidikan kita berperingkat ratusan dari sekian ratus, End.
* Penulis sedang studi S2 Prodi Pendidikan Dasar UPI Bandung

One Response to “KURIKULUM, GURU DAN MAKNA KEBERADAANNYA”

  1. Mosea Gulo said

    apakah ada silabus, RPP, Kisi-kisi, dan perangkat pembelajaran lain budaya Nias yang sudah dibuat dalam kurikulum KTSP? apa bisa dikirim di email saya di atas. terima kasih sebelumnya supaya berguna untuk perkembangan budaya Nias

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: