NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • January 2008
    M T W T F S S
    « Dec   Feb »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

Nama saya Alina

Posted by niasbaru on January 19, 2008

 

“Apa kabar?” sapaan itu terdengar khas dari dari Alina Brad. Dia perempuan dari Austria yang berambut pirang dan berparas ayu. Aksennya memang terdengar janggal di telinga. Namun usahanya untuk bisa berbahasa Indonesia membuat setiap orang yang pernah  mendengarnya menjadi terharu.

  Oleh: Veronika Lase

Alina Brad lahir pada 14 juli 1978. Tepatnya Sighetu Marmatiei sebuah kota kecil di daerah Maramure, Rumania. Alina sangat beruntung memiliki daerah yang indah seperti Rumania. Negara kecil ini sangat terkenal karena lukisannya yang indah. Keindahan-keindahan bisa dilihat dengan mudah dibanyak tempat, seperti di gereja dan biara.    

                           Kenangan masa kecil cukup membekas bagi Alina. Karena keadaan politik yang tidak menentu, Ayah Alina terpaksa pindah ke Austria di tahun 1988. Setahun kemudian, keluarganya yang lain ikut menyusul. Waktu itu Alina masih berusia 11 tahun.“Kami ke sana (Austria) karena rezim komunis di Rumania,” kenangnya.                                            “Sesampai di Austria keluarga saya dibantu oleh Caritas Austria,” lanjutnya.

Seperti kisah pendatang (imigran) kebanyakan. Hidup di negeri asing pasti tidak mudah. Hal itu juga dialami Alina dan keluarga ketika menapaki hari-hari pertama mereka di Austria. Kesulitan demi kesulitan mendera mereka. Salah satunya masalah bahasa. Maklum bahasa Rumania sangat berbeda dengan bahasa Austria yang kental dengan aksen Jerman. Mau tidak mau Alina kecil harus mempelajari bahasa negara Viennese Waltz itu. Hampir setahun lamanya Alina harus beradaptasi dengan bahasa Jerman ini. Di bulan-bulan pertamanya, Alina tidak banyak berkomunikasi. Alina hanya bisa mendengar orang-orang berbicara.“Dua bulan pertama saya hanya tinggal diam…,” tukas Alina.Di bidang pekerjaaan, Alina punya segudang pengalaman sebagai pekerjaan sosial (social workes). Panggilan batinnya pernah membawanya bekerja pada sebuah NGO (Non Goverment Orgnization) yang bergerak dibidang perlindungan terhadap perempuan korban perdagangan manusia (woman victim for human trafficking) di AustriaMenurut Alina, banyak perempuan yang dipekerjakan secara tidak layak dipelbagai kota di Austria. Perempuan-perempuan itu diiming-imingin pekerjaan yang baik. Namun kenyataanya berbeda. “ Mereka diberi janji misalnya sebagai pelayan namun sesampai di Austria menjadi  PSK (Pekerja Seks Komersial),” jelas Alina dengan mimik wajah yang serius.Perempuan-perempuan itu kebanyakan berasal dari Albania dan Rumania. Kesulitan ekonomi di negara-negara Eropa Selatan itu, membuat banyak perempuan terpaksa mencari pekerjaan ke belahan Eropa yang lain. Sebagai seorang konsultan Alina melakukan konseling, diskusi dan mengunjungi para korban. Dia bersama NGOnya berusaha membantu para korban agar mempunyai kehidupan yang layak di negara kelahiran Mozart itu. Setelah bekerja di NGO itu, perempuan energetik ini memutuskan bekerja untuk Caritas Austria. Rupanya pertemuannya dengan Caritas Austria semasa kecil bukanlah pertemuan yang terakhir. Keinginannya untuk membantu orang-orang miskinpun kembali mendapatkan tempat. “Caritas adalah organisasi yang tepat untuk mewujudkannya,” kata Alina.

Perempuan yang suka membaca dan menulis itu ditugaskan Caritas Austria untuk  menulis sebuah tesis. Isinya bagimana Caritas sebagai sebuah lembaga sosial bekerja.”Tugas saya adalah memperkuat partisipasi dan perkembangan kerja,” jelasnya.

Alina yang pernah berkunjung ke benua Amerika itu akhirnya datang ke Nias (Indonesia). Di pulau Nias dia akan melakukan penelitian pengembangan program livelihood yang didonori Caritas AustriaBagi Silvia Holzer, perwakilan Caritas Austria di Indonesia, kedatangan Alina ke Nias mempunyai arti penting. Karena hasil penelitian Alina akan menjadi panduan bagi program livelihood yang dirancang untuk daerah Moroe (Nias Barat). “Ini merupakan langkah pertama bagi kami sebagai panduan livelihood bagi proyek di Alasa,” kata Silvia.Sebelum ke Nias, Pastor Raymond Laia (Wakil Direktur Caritas Keuskupan Sibolga) sempat bertemu dengan istri dari Oliver Ottenschlàger ini. Dengan maksud bercanda Pastor Raymod menakuti Alina dengan cerita buruk tentang Nias. “Jangan ke Nias, orang Nias suka makan orang,” kata sang Pastor.Bagi perempuan yang pernah ke Afrika Selatan ini, cerita menyeramkan seperti itu adalah tantangan. Dan ia pun tak takut dengan kata-kata Pastor ini. Alinapun memutuskan untuk ke pulau Nias.Setelah melakoni penerbangan yang menegangkan selama satu jam. Pada Kamis (18/10) Alina tiba juga di pulau Nias. Pulau yang tersohor akibat tsunami dan gempa buminya.Selama di Nias Alina bekerja dengan keras. Dia mengunjungi daerah yang sulit diakses seperti Alasa. Hujan, panas terik dan jalan yang penuh lumpurpun menjadi teman kesehariaannya di Danggari, satu daerah miskin di Alasa, Nias Barat.Alasa bukanlah satu-satunya daerah miskin yang pernah dia kunjungi. Dia sudah pernah pula berkunjung ke Calcuta, India. Di Calcutta, Alina melihat banyak orang miskin yang tidur dipinggir jalan karena tidak punya rumah. “Saya tidak pernah melihat (itu) sebelumnya …,” kenangnya.Selama di India, Alina juga hidup bersama petani disana. “Sewaktu di India saya punya kesempatan untuk berjumpa dengan para petani. Mengunjungi mereka, tidur bersama mereka, melihat bagaimana mereka bekerja…” tambahnya lagi.Untuk urusan tempat tidur atau pemondokan. Alina bukan type yang bermanja-manja. “Saya tidak suka travelling dengan memilih tinggal di hotel dengan kolam renangnya,” katanya dengan serius. Alina lebih memilih tinggal dan hidup dengan kesederhanaan. Terlebih dengan yang miskin. Menurut Alina kemewahan bisa dengan mudah didapatkan di mana saja. Tapi tidak demikina dengan kemiskinan. “Hal-hal yang seperti ini (kemewahan) kita bisa dapatkan dimana saja…,” jelas alina lagi.Hal itu dibuktikan Alina ketika di Alasa. Dia harus hidup dengan akses komunikasi yang terbatas. Tidak hanya itu, Alina juga memilih menginap dirumah warga desa yang miskin.                                                                                                                     Alina menceritakan pengalamannya selama di Alasa. Salah satu yang paling diingatnya adalah pertemuannya dengan Nani Waruwu.“Nani masih berumur 18 tahun ketika menikah,” tukas Alina mengenang teman barunya itu.

Alina melihat bagaimana Nani bertahan hidup. Dari cerita Nani, Alina mengetahui  bahwa wanita muda tersebut harus bekerja mulai jam 4 pagi sampai sore hari. Semuanya demi untuk kebutuhan melanjutkan hidup. Terlihat Alina juga amat dekat dengan Nani dan bahkan nomor telpon Nanipun ia simpan .Tapi sebagai bule (orang asing) Alina kerap kesulitan berkomunikasi dengan penduduk setempat. Terutama kendala bahasa.“…seringkali saya merasa mereka membuat tembok pemisah hanya karena saya adalah orang asing,” ucapnya dengan sedih.Pengalaman lucu sebagai orang asing juga dia rasakan. Pengalaman Alina itu dituturkan Barbara Dettori, perwakilan Caritas Italia di Indonesia. “… suatu malam di rumah dia (Alina) menginap, orang-orang duduk disekitarnya hanya untuk melihat dan memandang Alina,” kata Barbara.Seperti pepatah : Dimana Bumi di Pijak disitu langit dijunjung. Pepatah itu ternyata dilakoni Alina dengan baik. Budaya Nias yang kental dengan makanan dari daging sebenarnya bertolak belakang dengan Alina. Dia tidak mengkonsumsi daging. Namun Alina mencoba mensiasati semua itu. Dengan senang hati dia memakan daging yang disuguhkan untuknya.”…dia melakukannya demi untuk (bisa) menjalin hubungan dengan orang-orang,” tambah Barbara.Salah satu “trik” jitu yang digunakan Alina adalah mempelajari bahasa lokal. Alina  belajar keras agar bisa berbicara dalam bahasa Indonesia. Sampai-sampai dia mengikuti kursus. Tidak hanya belajar keras, Alinapun mempraktekkannya sehari-hari. Salah satu dengan selalu mengucapkan,” Apa kabar,” kepada siapapun yang dia temui.Tak cukup hanya bahasa Indonesia. Beberapa kata-kata dalam bahasa Nias pun dia kuasai. Dengan fasih dia bisa mengucapkan amisibai, mõigauwa he (enak sekali, kami duluan ya)Kehangatan dan keramahan Alina juga dirasakan banyak orang. Diantaranya Yusuf Nehe, seorang pekerja Caritas. Dia seringkali menemani Alina dalam mengunjungi desa-desa. Dengan wajah ekspresif, Pak Yusuf berujar,”Alina adalah orang yang baik, terbuka dan suka bergaul dengan siapa saja.”Hal senada juga diungkapkan Silvia Holzer.” Dia adalah teman yang baik untuk berdiskusi, bisa diajak untuk meluangkan waktu bersama dan humoris,” tukas Silvia.Selama di Nias Alina telah membuktikan ucapannya. Menurutnya, apa yang dilakukan selama di Nias bukan karena paksaan. Bahkan sampai dipemondokan masih saja dia meneruskan pekerjaan. “saya tidak memiliki dinding pemisah antara kerja dan rumah” kata Alina. Banyak orang bekerja hanya demi uang. Namun bagi Alina tidaklah demikian. “uang bisa membuat kita senang namun hanya sebentar saja,”ujarnya. Alina ingin melakukan banyak hal untuk orang lain, tetapi bukan semata-mata karena uang.Setelah hampir 45 hari tinggal di Nias, perempuan yang menyukai lagu Tano Niha (tanah Nias-red) ini pun harus kembali negaranya. Dia harus menyelesaikan tesis di jurusan Political science and International Development dan tentunya laporan program livelihood untuk Caritas Austria.Kamis (29/11) adalah hari terakhir kerja buat Alina. Dengan mata yang berkaca-kaca, Alina tersenyum dan berkata ,”..Terimakasih…” “Saya senang bisa melakukan banyak hal” ungkap Alina dengan bangga. ***Sumber: Situs Caritas Keuskupan Sibolga

2 Responses to “Nama saya Alina”

  1. Marinus W. said

    Sungguh fantastis hidup Alina. Di tengah gaya hidup yang serba modern, yang ditandai dengan individualisme, acuh tak acuh akan kehidupan orang lain, dan kebutaan terhadap penderitaan orang lain justru pribadi Alina menampilkan sisi-sisi lain dari itu semua. Ketika gempa melanda pulau Nias beberapa tahun lalu, Alina datang bagai seorang gembala. Ia bukan hanya mendengar dari seberang sana, negeri jauh. Tapi ia datang ke Pulau Nias untuk bertindak, dan memberi secercah harapan di tengah-tengah keputusasaan orang Nias yang merasa bahwa Tuhan tidak berpihak kepada mereka dan telah meninggalkan mereka akibat dosa-dosa yang diperbuatnya.
    Alina hanyalah sebagian dari sekian banyak orang yang telah berkorban untuk Nias kita. Selain kita harus berterima kasih kepada mereka dan terutama Sister Alina, marilah kita juga meneladani hidup mereka dan tidak tengelam dalam individualisme yang berlebihan dan buta akan penderitaan orang lain.

    Alina, walaupun engkau telah pulang ke negeri tempat asalmu, namun kami orang Nias selalu mengenangmu sebagai orang yang telah berkorban untuk Nias.

    Salam

  2. Postinus said

    Sang guru kebijaksanaan, Konfusius pernah berkata: seseorang yang berbudi adalah pribadi yang peduli pada kemanusiaan. Manusia tak tergantikan nilainya dan tak terbandingkan maknanya. Mrs Alina adalah figur yang peduli pada kemanusiaan tanpa pamrih tanpa do ut des. Semoga perjuangan semacam ini kita teladani dan hayati bersama. Anda setuju?….

    Postinus Gulo (moderator http://www.mandrehe.wordpress.com).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: