NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • December 2007
    M T W T F S S
    « Nov   Jan »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

Kiat Sekolah Menghadapi Perubahan

Posted by niasbaru on December 13, 2007

 Oleh Fidelis Waruwu

Salah satu masalah pendidikan yang sedang dialami bangsa kita saat ini adalah tidak adanya orientasi jangka panjang yang jelas dan menjadi
acuan semua pihak. UU dan peraturan yang mengatur pendidikan terus berubah. Setiap kali, pemerintah membuat peraturan barn yang membuat para pelaksana pendidikan kalang kabul. Misalnya, pemerintah sejak tahun 2000 memperkenalkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sekolah-sekolah tentu saja mulai menyesuaikan diri dengan sistem baru ini. Tak lama kemudian pemerintah mengundangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada KTSP penyusunan kurikulum diserahkan kepada masing-masing guru (Satuan Pendidikan).


Contoh lain, menurut UU Sistem Pendidikan Nasional “hak mengevaluasi dan menentukan kelulusan siswa ada pada guru”, karena lebih mengetahui keadaan anak didik apa adanya. Namun Pera~uranPemerintah yang berkuasa saat ini menjadikan Ujian Nasional (UN) menjadi syarat kelulusan siswa pada jenjang SMP, SMA, dan rencananya untuk SD tahun 2008. Sekarang, pemerintah sedang menyusun dan membicarakan RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP). Entah perubahan dan dampak apa lagi yang akan ditanggung oleh dunia pendidikan kita ketika BHP ini akan dilaksanakan di lapangan.

Dampak perubahan yang terus-menerus ini menimbulkan kebingungan dan disorientasi pada para penyelenggara pendidikan, terlebih guru di lapangan. Akibatnya, . guru lebih menekankan latihan mengerjakan soal-soal atau drill materi-materi UN. Jadi sekolah berubah fungsi.
Bukan lagi mendidik tapi sekadar melatih atau mengajarkan teknik agar lulus UN. Maka pendidikan direduksi menjadi sekadar mengejar agar lulus, belajar bukan lagi untuk hidup, melainkan untuk lulus. Belajar sekadar memperoleh selembar ijazah. Maka tak heran jika teIjadi berbagai kecurangan. Jual beli soal UN, perdagangan ala multi level teIjadi pada UN yang lalu. Sampai-sampai guruguru di Medan yang masih jujur dan
tidak ingin ikut kecurangan tersebut memprotes dan bergabung dalam “Air Mata Guru.”

Menghadapi fenomena ini, jajaran Depdiknas seolah tidak dapat melakukan apa-apa. Ada kekuatan “dagang” tain yang mengatur secara invisible. Maka tidak heran kalau Mantan Menteri Pendidikan, Daoud Yoesoef menulis di Kompas ( 29/8) yang lalu bahwa Depdiknas sudah berubah menjadi Departemen Perdagangan Pendidikan Nasional. Tak seorang pun mengetahui perubahan apa lagi yang akan terjadi dalam RUU BHP yang akan disusun, disahkan dan kemudian diberlakukan oleh pemerintah. Maka di tengah berbagai perubahan ini, apa yang sebaiknya kita lakukan, agar sekolah-sekolah yang kita kelola dapat tetap mempunyai “kompas” yang jelas. Kita perlu mengembangkan diri menjadi pelaku sejarah, pembuat
perubahan dan menemukan jalan keluar dari semua kebingungan atas berbagai perubahan dalam perundang-undangan yang mengatur dunia pendidikan kita.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan: Pertama, kita perlu menggalang persatuan dan memberdayakan setiap guru-guru di setiap unit sekolah kita. Sehingga setiap guru mampu mengajarkan hal-hal yang esensial dan dasariah secara menarik. Kita perlu membantu guru menciptakan
“materi pembelajaran” (modul) yang didesain menarik, mudah dipahami, dan kontekstual. Mungkin hal ini dapat dikoordinasiMPK di masing-masing keuskupan.

Kedua, di setiap keuskupan ada temp at pelatihan (Training Center) dan tersedia pelatih profesional. Melatih guru menggunakan modul pembelajaran yang telah diciptakan. Guru perlu dilatih menggunakan modul-modul tersebut, esensi ilmu yang ada di balik setiap latihan dan modul yang perlu dikuasai oleh siswa kita. Misalkan, setiap hari Senin, semua guru Matematika belajar di Training Center. Pada jam-jam itu, jadwal mengajar guru dikosongkan. Hanya melalui pelatihan yang terus-menerus inilah kita dapat membantu guru-guru terbebas dari kebingungan menghadapi undang-undang dan aturan yang terus berubah mendera dunia pendidikan kita.

Ketiga, alangkah cantiknya apabila pengadaan modul dan pengadaan para pelatih profesional itu dapat dikoordinir secara nasional dibawah MPK Pusal. Galangan kekuatan lebih luas, dukungan ahli yang sungguh profesional dapat melatih trainer-trainer yang nanti akan bertugas
di keuskupannya masing-masing. Bila kita saling bergandengan tangan dan berhasil memampukan setiap guru di sekolah, maka saya yakin, perubahan apapun yang teIjadi di tataran UU atau PP tidak membuat kita getar menghadapinya. Karena guru-guru kita mampu mengajarkan hal
yang esensial pada murid-murid, sehingga setiap anak didik menguasai pohon ilmu dengan sangat baik. Maka soal apapun yang mereka hadapi tidak ada masalah.

Kesimpulannya, menghadapi berbagai isu perubahan UU dan PP sekolah-sekolah Katolik perlu menjawab dengan mempersiapkan setiap guru menjadi guru-guru profesional (menguasai bidang ilmu yang diajarkannya dan tahu mengajarkannya secara efektif dan menarik).
Sehingga proses pembelajaran di sekolah menjadi proses pemberdayaan bagi anak didik yang membuat mereka mandiri dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: