NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • November 2007
    M T W T F S S
    « Oct   Dec »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

Manusia Bertanya Manusia Menjawab

Posted by niasbaru on November 7, 2007

(Lan Fang, Penulis, Bermukim di Surabaya)

Faktanya adalah sejak purba, hidup manusia selalu bergantung pada tanda-tanda. Sebab, pada dasarnya manusia mempunyai perasaan cemas karena segala sesuatu dalam kehidupan adalah kegelapan dan ketidakpastian.

Hal itu menimbulkan tanda tanya besar dalam diri manusia. Tanda tanya akan Dia, akan alam semesta, akan masa depan, dan sebagainya. Maka, manusia membutuhkan tanda sebagai jawaban atas pertanyaan. Manusia butuh pegangan untuk mendapatkan kepastian akan sesuatu.

Audifax rupanya ingin menjawab pertanyaan tentang keberadaan Tuhan sebagai Zat Tertinggi. Bukan dalam pandangan Tuhan manakah yang paling benar atau paling tinggi. Karena Tuhan terlalu besar untuk ditelaah dari sudut yang demikian kecil. Setidaknya, Tuhan adalah suatu daya (energi) yang mahakuat sampai melampaui batas keterbatasan manusia. Tuhan bisa mengada dalam berbagai bentuk tanda yang seharusnya bisa dibaca manusia.

Tidak ada kebetulan

Bagaimana membaca tanda Zat Tertinggi yang disebut semiotika? Inilah yang menjadi tema buku ini. Audifax mengambil perbandingan dari dua tokoh semiotika, yaitu Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Pierce.

Bagi Saussure, semiotika merupakan ilmu umum yang mengkaji kehidupan tanda-tanda dalam masyarakat sehingga merupakan bagian dari disiplin psikologi sosial. Sedangkan menurut Pierce, semiotika adalah bentuk lain dari logika yang merupakan salah satu cabang dari filsafat.

Sedangkan dalam perspektif pandang Audifax, tidak ada sesuatu yang namanya “kebetulan” di dunia ini. Semua kejadian, pertemuan, perpisahan, orang-orang yang saling bertemu, bahkan mimpi pun, mengusung pesan yang bisa dihubungkan satu sama lain akan membawa kita kepada kesempatan yang kita inginkan. Dan, itu adalah tanda yang harus kita baca sebagai pesan yang ingin disampaikan-Nya.

Audifax membaginya menjadi dua esensi, yaitu: real dan unreal. Karena membaca tanda bisa jadi tidak menalarnya dengan pemikiran yang didasari oleh logika. Esensi unreal itu hanya bisa dirasakan di dalam alam bawah sadar tiap manusia. Sebagai suatu energi besar di dalam alam semesta yang berpengaruh ke dalam perjalanan (pencarian) hidup manusia secara spiritual.

Sampai di titik inilah, maka manusia kemudian membutuhkan figur Tuhan dalam bentuk sebagai suatu pegangan yang tidak absurd. Entah itu dalam bentuk simbol-simbol berbagai macam dewa dalam mitologi kuno. Dari zaman Mesir, China, Yunani, Romawi, sampai ke dalam peradaban agama-agama samawi dalam bentuk para nabi, ulama, rohaniwan, sampai kepada salib atau tulisan huruf tertentu. Ini membuktikan bahwa manusia adalah zat yang lemah, sederhana, tak berdaya, yang bergantung pada zat lain yang lebih besar. Celakanya, dalam proses ini, manusia terjebak ke dalam ritual-ritual bahasa dan legitimasi pemujaan kepada Tuhan dan nabi yang ditulis sepanjang sejarah manusia.

Kita justru menjauh dari Tuhan. Kita tidak memedulikan tanda atau pesan yang disampaikannya melalui kebetulan-kebetulan. Kita hanya memandang hidup semata berada dalam esensi real yang bisa dianalisa oleh akal kecerdasan manusia. Karena dari sana, manusia mendapatkan jaminan kepastian melalui ilmu pengetahuan, logika, dan rasio. Atau bahkan kita sibuk dijejali oleh khotbah-khotbah dalam teks-teks agama tentang jaminan keselamatan yang dipaksakan pengertiannya.

Sampai tahap ini, Audifax dengan cerdas membedakan antara Tuhan sejarah dan Tuhan semesta.

Tuhan sejarah adalah yang tampil dalam simbol-simbol real. Bisa ditangkap pancaindra yang dipergunakan manusia untuk memberikan kenyamanan iman. Karena sekalipun manusia itu seorang ateis, sosok tentang Tuhan yang tertanam dalam jiwanya mendorongnya untuk menempatkan sesuatu yang lebih perkasa dalam bentuk simbol-simbol. Inilah “Tuhan” yang tampak dan muncul dari alam nirsadar manusia karena manusia sendiri yang menginspirasinya.

Sedangkan tanda dari Tuhan semesta yang merupakan satu energi (daya) mahadahsyat yang berada di dalam lingkaran waktu yang kerap tidak diperhatikan.

Kekosongan sejati

Di tataran inilah, pembacaan semiotika poststrukturalis yang melandasi pikiran Nietzche menjadi muara pemikiran poststrukturalis lainnya, seperti Jacques Lacan, Jacques Derrida, Gilles Delueze, Felix Guattari, dan Julia Kristeva. Pemikiran-pemikiran ini yang digunakan untuk “membaca ulang” tentang Tuhan yang melampaui dualisme di atas atau oposisi biner. Makna lain yang masuk adalah pluralisme. Keberadaan pluralisme ini hanya bisa ditangkap melalui kerendahan hati yang menimbulkan harapan akan Tuhan karena semua makna menjadi plural, termasuk makna Tuhan.

Menurut saya, pemikiran Nietzche itu bisa disamakan dengan pemahaman Buddhisme mengenai ruang dan waktu alam semesta yang berawal dari kekosongan sejati. Kemudian pikiran delusif manusialah yang melahirkan corak-corak Tuhan yang mempunyai identifikasi tertentu. Kegiatan identifikasi inilah yang kemudian melahirkan manifestasi perbedaan corak yang dipersepsikan oleh masing-masing manusia.

Sesungguhnya, bukankah “sesuatu yang tidak sama itu pun tidak berbeda”? Disebut “tidak sama” karena manusia mempunyai corak tersendiri. Sedangkan disebut “tidak berbeda” karena semua manusia sebetulnya berbagi satu substansi “hidup” yang sama.

Dengan mengutip pendapat Rusybroeck bahwa gambar Tuhan pada dasarnya secara pribadi terdapat dalam diri tiap manusia. Masing-masing memilikinya semua, seluruhnya, tak terbagi dan semuanya bersatu, Audifax memaparkannya dalam konsep manusia Jawa yang selalu berusaha menyatukan dirinya (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos), yaitu dalam keblat papat lima pancer, yaitu arah wetan, kidul, kulon, lor, serta pancer (tengah). Arah ini juga terkait dalam perjalanan hidup manusia yang ditemani kadang papat lima pancer. Kadang papat di sini diartikan sebagai kawah, getih, puser, dan ari-ari. Sedangkan pancer (tengah) adalah ego atau manusia itu sendiri. Dengan demikian, maka Tuhan ada di dalam alam semesta dan diri manusia sehingga manusia melihat alam semesta di dalam dirinya dan dirinya adalah alam semesta. Konsep inilah yang kita temukan dalam buku Sindhunata, Anak Bajang Menggiring Angin.

Inilah sebenarnya energi (daya) luar biasa Tuhan yang bisa kita baca melalui tanda dari alam semesta, bila kita mau sedikit lebih peka menandai setiap kebetulan yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Karena tidak ada “kebetulan” yang cuma kebetulan.

Skema inilah yang ada di dalam buku Audifax yang ketiga ini. Tentang konsep yang memadukan intelektualitas dan spiritual manusia untuk menyerap pengetahuan dan singkapan-Nya yang berserakan dalam realitas dan peristiwa yang terjadi. Manusia seharusnya bisa melihat realitas secara transparan melalui kepekaannya sehingga mampu membaca fenomena yang Dia inginkan bukan hanya dalam gerakan linear.

Keindahan abadi

Selain itu, Audifax juga memadukannya teori-teori semiotika dari para pemikir dunia itu dengan apresiasi yang terbaca dari fenomena masyarakat modern sekarang, seperti dalam bait-bait lagu With or Without You (U2), Hero (Mariah Carey), One of Us (Joan Osborne), Spirit Carries On (Dream Theater), bahkan membawa Harry Potter ke dalam bukunya.

Karena itu, buku ini menjadi unik. Karena pemahaman akan pencarian makna ini bisa diibaratkan suatu keindahan karya seni. Yang walaupun menyimpan berbagai gejolak kepedihan, tetapi bila ditangkap melalui karya seni, maka bisa menjadikannya sebuah keindahan abadi.

Sebelumnya, Audifax telah menerbitkan dua buku psikoanalisa, yaitu: Mite Harry Potter (Jalasutra, 2005) dan Imagining Lara Croft (Jalasutra, 2006). Bagi pembaca yang mencari pola pencarian manusia akan Tuhan, buku Semiotika Tuhan ini bisa merupakan salah satu alternatif, karena disuguhkan dengan cukup sederhana, tetapi cerdas dan tidak mengurangi makna kedalamannya.

Tidak berlebihan bila saya menulisnya sebagai salah satu penulis filsafat muda yang menjanjikan dan cukup mampu berbicara. Hal itu terbaca dari daftar referensi buku yang dipakainya untuk menulis buku ini. Setidaknya ada 14 buku referensi dan beberapa informasi yang diambilnya dari website. Sudah pasti dibutuhkan suatu napas panjang dan energi kuat untuk melahap data-data itu dan mengolahnya kembali menjadi sebuah buku yang padat.

Jadi, bila Audifax pada bagian penutup mengutip bait lagu Agnes Monica yang bertanya “Di manakah surga itu?”, maka saya mencoba menjawabnya dengan mengutip bait lagu Ebiet G Ade, “tanyakan saja pada rumput yang bergoyang”.

Bukankah tidak sulit untuk memahami semiotika?

(Lan Fang, Penulis, Bermukim di Surabaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: