NIAS BARU

Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!

  • October 2007
    M T W T F S S
    « Sep   Nov »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Ya’ahowu Banuada

    Salam dari saya, Marinus Waruwu. Weblog "Nias Baru: Ya`ahowu Tano Niha" ini kita jadikan wahana bertukar pikir serta mengerti lebih dalam "berita aktualita Nias". Partisipasi masyarakat Nias sangat diharapkan. Ya'ahowu. Nias berjuang, Nias Nias bertindak, Nias Sejahtera, Nias maju. Semoga!
  • Pages

  • Marinus W. : Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama

    Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
  • Nias bangkit, Nias berjuang, Nias sejahtera, Nias sejahtera!

    Bukanlah slogan kosong untuk masyarakat nias. Tapi slogan nias bangkit, berjuang, bertindak, sejahtera adalah slogan yang punya makna. makna apa? makna kebangkitan masyarakat nias dari ketertinggalan dan keterpurukannya terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan segala bidang lainnya. Caranya adalah melalui modernisasi pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk membawa nias ke arah kemajuan. Bila masyarakat punya pola pikir maju dan punya visi dan misi ke depan bukan tidak mungkin masyarakat kita nias dalam 10 tahun ke depan akan sejajar dengan daerah-daerah lain yang telah mencicipi kemajuan.
  • Asking Pardon and Forgiving Offenses:

    You should either avoid quarrels altogether or else put an end to them as quickly as possible; otherwise, anger may grow into hatred, making a plant out of a splinter, and turn the soul into a murderer. For so you read: “ Everyone who hates his brother is a murderer “ (I Yoh 3:15) Whoever has injured another by open insult, or by abusive or oven incriminating language, must remember to repair the injury as quickly as possible by an apology, and he who suffered the injury must also forgive, without further wrangling. But if they have offended one another, they must forgive one another`s trespasses for the sake of your prayers which should be recited with greater sincerity each time you repeat them. Although a brother is often tempted to anger, yet prompt to ask pardon from one he admits to having offended, such a one is better than another who, though less given to anger, finds it too hard to ask forgiveness. But a brother who is never willing to ask pardon, or does not do so from his heart, has no reason to be in the community, even if he is not expelled. You must then avoid being too harsh in your words, and should they escape your lips, let those same lips not be ashamed to heal the wounds they have caused. Thank You!
  • Tulisan Teratas

  • Meta

Kebenaran Tak Pernah Mutlak

Posted by niasbaru on October 16, 2007

Oleh: Riston Situmorang S.Sos

One Thing itu ternyata “Kebenaran”

Saya mulai dari judul. Judul film “13 Conversations About One Thing” tampaknya tidak biasa dan bukannya tidak disengaja. Angka 13 (tiga-belas) saja sudah mengundang tanya. Film ini sudah diawali dengan rasa ingin tahu, yang terselip dibaliknya suatu “kebenaran” yang telah menjadi mitos dengan sebuah artificial makna. Angka 13 tentu saja identik dengan angka sial bagi banyak orang dan bahkan sudah ada dalam berbagai peradaban kuno, dan telah diimani lama oleh kaum anti-revolusioner yang akrab dengan dunia kaku yang berbau “mistis” serta tabu dengan perubahan. Angka 13 adalah angka keramat dengan berbagai kemalangan dan kesialan yang mengiringinya.

Oleh karena itu, angka 13 kerap dihindari, diabaikan dan diacuhkan demi mencegah suatu persoalan, kerumitan masalah bahkan bencana. Semua atribut konotatif angka 13 itu telah menjadi sebuah “kebenaran” bagi orang zaman sekarang. Ironisnya, kita percaya pada “kebenaran” tersebut dan berupaya untuk menantikan sesuatu yang buruk pada orang yang berkaitan dengan angka 13 itu. Lebih parah lagi, kita tidak begitu mudah untuk mengubah pandangan akan “kebenaran” kita pada angka 13 itu bila suatu saat kita menemukan fakta “tidak terjadi apa-apa” berkaitan dengan angka sial itu. Ada banyak kebenaran yang kita temukan dan tak jarang kita ciptakan sendiri. Sayangnya, kita lupa bahwa kebenaran itu bukanlah suatu kebenaran mutlak yang harus terjadi sesuai dengan kehendak kita manakala ada banyak kejadian dan peristiwa yang persis terbalik dengan apa yang kita pandang sebagai kebenaran sebelumnya.

Film “13 Conversations About One Thing” persis mau mengatakan hal yang kontras dengan “kebenaran” yang telah lama kita agungkan itu. Sebagaimana kita percaya bahwa angka 13 adalah angka sial, maka dalam fim tersebut kita akan dibawa pada percakapan dimana kita terlibat di dalam “kebenaran-kebenaran” lainnya. Seakan-akan kita masuk pada kebenaran yang diciptakan oleh beberapa tokoh di dalamnya. Adanya peristiwa dan momen-momen yang berseberangan dengan “kebenaran” yang kita percayai sebelumnya, tentu saja menyebabkan kita akan sulit untuk menghancurkan pegangan yang telah lama kita ciptakan dan kita seakan tidak mau lepas dari paradigma yang ada dalam pikiran kita sendiri.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah berkaitan dengan One Thing. 13 percakapan pada dasarnya membahas sebuah ketersambungan yang sama yakni mempersoalkan One Thing. One thing itu tampaknya adalah kegembiraan (happy), atau lebih tepat saya menyebutnya sebagai “kebenaran”. Sekelompok orang hidup secara terpisah dan tanpa sadar mempunyai interkoneksitas yang subtil sehingga membawa mereka pada sebuah pertemuan yang ganjil: Ada pengacara muda yang melarikan diri setelah menabrak seorang gadis, seorang profesor universitas yang istrinya menjadi korban dari hidup berkeluarga, seorang manajer perusahaan asuransi yang bermasalah dengan mantan isterinya serta anaknya, dan seorang gadis muda yang ditabrak mobil. Semua dari mereka menginginkan sebuah kegembiraan atau bahkan kebahagiaan dengan memegang teguh “kebenaran” mereka masing-masing. Setiap orang memiliki cita-cita kebahagiaan sendiri dan ingin menggapainya dengan cara “kebenaran”-nya sendiri. Akan tetapi, di saat mereka mencarinya, timbul sebuah peristiwa yang seolah bertolak belakang dengan apa yang mereka idam-idamkan. Film ini sungguh sebuah film tentang kehidupan. Film “13 Conversations About One Thing” mau mengungkapkan One Thing yang tidak bisa dilepaskan dari hidup manusia begitu saja. Film ini memunculkan sebuah nilai dari hidup yang paradoks atas “kebenaran” yang telah lama dibangun.

Kebenaran dalam “13 Conversation about One Thing”

Film yang di sutradarai oleh Jill Sprecher ini ditulis oleh Jill Sprecher sendiri bersama Karen Sprecher dan produsernya adalah Beni Atoori dan Gina Resnick. Para pemainnya adalah Matthew McConaughey ( sebagai Troy), John Turturro (Walker), Clea DuVall (Beatrice), Amy Irving (Patricia), Alan Arkin (Gene), Barbara Sukowa (Helen), Tia Texada (Dorrie) and Frankie Faison (Dick Lacey). Gagasan dasar “13 Conversation about One Thing” adalah mencari ketersambungan di antara hidup manusia. Ketersambungan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak awal percakapan antara Troy dan isterinya. Lantas 13 percakapan yang dipisahkan oleh judul-judul kecil (ada 12 yakni Show me a happy man, You look so serious, Ignorance is bliss, I once meet a happy man, this happines is a curse, Fuck guilt, Ask yourself if you’re happy, Fortune smiles at some and laugh at others, Wisdom comes suddenly, I can never go back, The mind is it’s own place, I’m ready to surrender, Eighteen inches of personal space) itu seolah-olah membuat keterpisahan satu dengan yang lain. Padahal sebenarnya tetap ada ketersambungan dan bahkan ada korelasi yang semakin jelas bila melihat secara keseluruhan berbagai karakter yang kita lihat dalam film tersebut.

Troy, Gene, Walker, Beatrice mempunyai kehidupan yang saling berhubungan dalam beberapa even. Troy bertemu dengan Gene di sebuah bar, menabrak Beatrice di jalan dalam sebuah kecelakaan lantas menjual mobilnya kepada Walker. Melalui relasi yang tidak kronologis ini, kita terlibat dalam drama personal dimana semua orang memiliki kegembiraan yang relatif dan betapa tidak terprediksinya hidup itu. Dalam “13 Conversation about One Thing”, setiap karakter memiliki moment kegembiraan dan memiliki pengharapan dari “kebenaran” dalam hidupnya yang pada akhirnya bisa diubah oleh episode yang tidak diharapkan. Dengan kata lain, kebenaran yang mereka abadikan dalam sebuah tindakan tak pernah mutlak dalam sebuah kenyataan.

Gene menjadi pusat dari seluruh alur kisah ini. Gene mempunyai masalah dengan anaknya, Ronnie yang kecanduan narkoba dan hidup perkawinannya yang hancur-berantakan. Kehidupan keluarganya membuat hidupnya sangat tidak bahagia dan bersikap sarkastik kepada orang-orang yang bekerja bersamanya. Kebenaran menurutnya adalah bahwa setiap orang telah ditentukan hidupnya sedemikian sehingga seorang pecundang akan tetap menjadi pecundang dan pemenang akan tetap menjadi seorang pemenang. Gene juga akhirnya mengambil sebuah keputusan dengan memberhentikan Wade Bowman salah seorang yang bekerja di perusahaannya. Gene berpikir bahwa Bowman, seorang yang optimistik dan paling berbahagia akan kehilangan kebahagiannya setelah ia memecatnya. Akan tetapi, ternyata Bowman tidak merasa kehilangan kegembiraannya segera setelah ia diberhentikan. Kebenaran yang dibangun oleh Gene serta merta tidak sinkron dengan apa yang ia hadapi dan alami.

Troy, seorang pengacara berhubungan dengan Gene ketika keduanya sedang minum dengan alasan yang berbeda berada di bar yang sama. Ia merayakan kegembiraan bersama dengan teman-temannya karena ia memenangkan kasus besar dalam pengadilan. Troy merasa sebagai seorang pemenang dalam hidupnya. Kebenaran menurut Troy adalah seseorang yang merasakan kegembiraan, dan kebahagiaan tersebut tidak akan pernah diambil daripadanya. Orang yang berbahagia adalah orang yang beruntung dan ia merasa sebagai seorang pemenang yang dipenuhi dengan kemujuran. Hidup Troy mulai berubah ketika ia menabrak Beatrice dan lantas menjual mobilnya.

Walker, seorang Profesor yang tidak merasa bahagia dalam pernikahannya dengan Patricia. Ia merasa perkawinan keduanya akan berakhir. Suatu saat ketika makan bersama, isterinya bertanya kepada Walker : “Apa yang kamu mau?”. Walker menginginkan sesuatu seperti setiap orang juga menginginkannya yaitu: menjalani kehidupannya, bangun dengan antusias, dan mendapatkan kebahagiaan. Orang yang bahagia menurutnya adalah orang kaya dengan harta berlimpah dan menjalani rutinitas dengan gembira dan ringan. Itulah kebenaran yang Walker idam-idamkan dan apa yang ia alami persis kebalikannya. Walker yang melakukan hubungan unfair dengan wanita lain di tempat kerjanya akhirnya hidup sendiri dalam sebuah ruangan yang sempit. Tidak hanya kehilangan isterinya, ia juga kehilangan kebenarannya yang identik dengan “irreversibility”. Ia merasa dan berpikir bahwa segala sesuatu tidak bisa ditarik kembali ke asalnya. Kebenaran menurutnya adalah R= Vo √2h/g. Kebenaran itu serta merta menjadi invalid ketika salah seorang muridnya mati dan jatuh ke bawah. Kalau berdasarkan teorinya maka seharusnya si anak tidak jatuh ke rumput dan jarak jatuh si anak tidak jauh dari bangunan di sebelahnya. Dengan kata lain, teorinya patah karena ternyata si anak tersebut lompat dari jendela.

Beatrice adalah seorang gadis muda yang membersihkan rumah orang kaya. Bersama Dorrie temannya, ia membayangkan apa yang akan terjadi bila seseorang hidup di tempat yang menakjubkan. Beatrice yang hampir mati saat kecil tidak memiliki pengalaman yang pahit. Dia adalah seorang anak yang baik kepada siapapun. Akan tetapi hidupnya berubah setelah ditabrak. Setelah pulang dari rumah sakit bersama dengan ibunya, Beatrice mengalami transformasi dalam memandang dan menghayati hidupnya. Dia tetap menjadi seorang yang baik dengan sikap yang berbeda. Kebenaran menurut Beatrice di awal adalah segala sesuatu pasti ada sebabnya dan Tuhan itu bersikap adil pada semua orang. Kebenarannya menjadi ganjil dan berubah ketika ia mendapat musibah. Ia akhirnya mengatakan bahwa Tuhan memang tidak adil dan mempertanyakan apa sebabnya ia ditabrak, mengapa baju putih terlepas dari tanganya, mengapa ia berdiri di tepi jalan dan mengapa ia dituduh mencuri jam orang dirumah tempat ia bekerja.

Wade Bowman selalu melihat segalanya baik dan menilai segala sesuatu dari sisi positif terhadap hidupnya. Bagi dia, tidak ada persoalan kendati ada masalah yang menimpanya ketika ia diberhentikan dari sebuah perusahaan. Ia melihat sebuah kegembiraan yang selalu melimpah pada dirinya dan ia bagikan kepada orang lain di sekitar kerjanya. Pandangan yang selalu “positive-thinking” ini menjadikannya tanpa beban dalam menjalani kehidupannya. Kebenaran bagi dia adalah sebuah kegembiraan dan keberuntungan dalam setiap hidupnya. Oleh karena itu, ia selalu menjalin relasi yang baik kepada siapa saja termasuk terhadap Gene yang telah memberhentikannya. Dia selalu menawarkan senyum setiap saat kendati sedang mengalami keterpurukan dan sedang dilanda masalah sekalipun. Akan tetapi kebenaran Bowman tidak dapat dikatakan mutlak karena keberuntungan dan kemujurannya dengan mendapat pekerjaan baru adalah hasil dari usaha Gene yang mencarikannya pekerjaan tanpa sepengetahuan Bowman.

Kegembiraan, Kebenaran dan Cinta

Pikiran yang paling mulia adalah selalu pikiran yang berisi kegembiraan. Sabda yang paling murni adalah kata yang berisi kebenaran. Perasaan yang paling agung adalah perasaan yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai cinta. Kegembiraan, kebenaran dan cinta: ketiganya dapat dibolak-balik dan yang satu selalu membawa ke yang lainnya. Urutan tidak penting. Kalau setiap orang merasa dan berpikir sebagai satu-satunya kebenaran, siapa lagi yang perlu berbicara kepada Tuhan. Setiap orang kerap melupakan bahwa kebenaran yang dipegang teguh oleh setiap manusia hanyalah ilusi yang dapat merintangi jalan menuju Tuhan sendiri. Apa yang terjadi seandainya segala sesuatu yang dikira “salah” ternyata benar? Kita tidak dapat mengenal Tuhan sebelum kita berhenti memberitahu diri kita sendiri bahwa kita sudah mengenalnya. Kita tidak dapat mendengar Tuhan sebelum kita berhenti berpikir bahwa kita telah mendengar-Nya. Tuhan tidak dapat memberitahu kita akan kebenaran-Nya sebelum kita berhenti memberitahu Tuhan akan kebenaran kita sendiri. Oleh karena itu, dengarkanlah perasaan kita, dengarkan pikiran termulia kita sendiri, dan dengarkan pengalaman kita. Kapan saja salah satu darinya berbeda dengan apa yang telah kita dengar sebelumnya, lupakan kata-kata tersebut. Di mana saja kita menemukan salah satunya berbeda dengan pemahaman kita sebelumnya, segera lupakan “kebenaran” kita itu.

Suatu hal hanya benar atau salah karena kita mengatakannya demikian. Suatu hal pada dasarnya tidak benar atau salah secara hakiki. Benar atau salah bukanlah kondisi intrinsik melainkan penilaian subjektif dalam sistem nilai pribadi. Dengan penilaian subjektif, kita menciptakan diri kita sendiri. Dengan nilai pribadi, kita menentukan dan menunjukkan siapa diri kita. Ide kita tentang benar dan salah hanyalah sebuah ide. Dengan pikiran kita menghasilkan ide yang lantas dapat menciptakan hakikat siapa diri kita. Hanya ada satu alasan untuk mengubah semua itu. Hanya ada satu maksud dalam membuat perubahan yakni kalau kita tidak bahagia dengan siapa diri kita. Hanya kita sendiri yang dapat mengetahui kalau kita bahagia. Hanya kita sendiri yang dapat berkata tentang hidup kita. Kalau nilai-nilai kita berguna, berpeganglah padanya. Berdebatlah deminya. Berjuanglah untuk membelanya. Namun berusahalah untuk berjuang tanpa mencelakai orang lain. Akan tetapi, yang terjadi adalah sangat sedikit pertimbangan nilai yang telah kita masukkan dalam kebenaran kita adalah pertimbangan yang berasal dari orang lain. Akibatnya, kita sering menciptakan diri kita melalui pengalaman orang lain. Kita sering membantah pengalaman kita sendiri demi apa yang diperintahkan untuk kita pikirkan.

We are All One

Tuhan sebenarnya sudah berbicara kepada banyak orang, dalam banyak cara dan sudah bertahun-tahun lamanya. Ironisnya, hanya sedikit orang saja yang mau mendengarkan dan mau berbagi kepada orang lain. Dan dari sedikit orang tersbut, kebanyakan telah berhasil merubah dunia. Mereka adalah pewarta yang membawa kebenaran sebaik yang mereka pahami dan semurni yang mereka ketahui. Meskipun mereka menangkap dengan filter-filter mereka, pada hakikatnya mereka sudah membuka kesadaran akan kebijaksanaan yang luar biasa. Mereka telah membawa keuntungan yang menakjubkan dan mereka memiliki kesamaan dalam perkataan-perkataan mereka: “Kita semua adalah satu”. Segala hal memancar dari “Yang Satu” yang kemudian memecah menjadi banyak termasuk menjadi seperti kita sekarang ini. Jadi sebenarnya kita mempunyai satu suara. Pada awalnya, pikiran kita adalah milik-Nya dan milik-Nya adalah milik kita. Segala sesuatu memancar dari satu sumber yang menerangi segala sesuatu sehingga muncul proses individuasi dari The Oneness in many form. The Oneness in many form itulah yang kita sebut dengan kehidupan. Kehidupan itu adalah Tuhan sendiri yang ditafsir ke dalam berbagai bentuk. Proses individuasi itu dimulai dari unified non-physical menjadi individuated physical. Dari individuated physical berubah menjadi unified physical dan kembali ke unified non-physical.

Kita semua adalah totalitas dari Tuhan. Kita diciptakan oleh Tuhan sehingga kita pun adalah bagian dari-Nya. Jika saja kita memilih pengalaman ini yakni bersatu dengan Tuhan, kita akan mengetahui damai dan mengalami cinta yang sungguh dan penuh kebebasan. Jika saja kita memilih kebenaran ini, kita akan mengubah dunia. Jika saja kita memilih realitas ini, kita akan menciptakan dan akhirnya mengalami dengan penuh siapa kita sebenarnya. Maka kita tidak perlu melakukan banyak hal. Yang kita lakukan cukup hanya menjadi Tuhan karena kita dan Tuhan adalah satu. Unifikasi dengan Tuhan dan dengan segala hal serta segala yang hidup menandakan bahwa kita adalah satu. Anggapan bahwa kita tidaklah satu adalah ilusi. Banyak orang percaya pada Tuhan tetapi mereka tidak percaya pada Tuhan yang percaya pada mereka. Tuhan percaya pada mereka mencintai mereka lebih dari yang mereka tahu. Gagasan bahwa Tuhan berhenti berbicara pada manusia adalah salah. Anggapan bahwa Tuhan marah pada manusia dan mengeluarkannya dari surga adalah salah. Anggapan bahwa Tuhan sebagai hakim dan juri dalam memutuskan nasib manusia adalah salah. Tuhan itu mencintai setiap manusia yang pernah hidup, yang hidup sekarang dan yang akan hidup. Keinginan Tuhan adalah agar setiap jiwa kembali kepada-Nya. Tuhan tidak terpiash dari apapun dan tidak ada yang terpisah dari-Nya. Tidak ada yang dibutuhkan oleh Tuhan karena Tuhan adalah segalanya.

Kita sekarang dan telah selalu dan akan selalu menjadi satu bagian ilahi dari keseluruhan ilahi, anggota kumpulan. Itulah sebabnya tindakan menggabungkan kembali keseluruhannya, kembali kepada Tuhan disebut dengan kenangan. Kita sebenarnya memilih untuk kembali menjadi anggota siapa diri kita sebenarnya atau bergabung bersama dengan berbagai bagian dari diri kita untuk mengalami segala-Nya. Karena itu, tugas kita adalah bukan untuk belajar tetapi untuk kembali menjadi anggota dari Siapa diri kita dan untuk kembali menjadi anggota dari setiap orang lain. Itulah sebabnya satu bagian besar dari tugas kita adalah untuk mengingatkan orang lain sehingga mereka pun dapat kembali menjadi anggota pula. Dalam Yang Absolut tidak ada pengalaman, yang ada hanya mengenal. Mengenal adalah keadaan ilahi, namun kegembiraan terbesar adalah menjadi. Menjadi dicapai hanya setelah mengalami. Evolusinya adalah mengenal, mengalami dan menjadi. Keberadaan sederhana ini adalah kebahagiaan. Dia adalah keadaan Tuhan setelah mengetahui dan mengalami Dirinya sendiri. Dia adalah apa yang dirindukan Tuhan pada mulanya.

Tak ada yang kebetulan, tak ada apapun yang terjadi secara “kebetulan”. Setiap peristiwa dan petualangan dipanggil ke diri kita oleh diri kita agar kita dapat menciptakan dan mengalami siapa diri kita sebenarnya. Yang diperlukan hanyalah mengetahui ini. Karena kita adalah pencipta relitas kita, dan hidup tak dapat muncul dengan cara lain bagi kita daripada dengan cara yang kita pikirkan. Kita memikirkannya hingga ada. Ini adalah langkah pertama dalam penciptaan. Pikiran adalah orang tua yang melahirkan segala sesuatu. Rahasia terdalamnya adalah bahwa hidup bukanlah proses penemuan melainkan proses penciptaan. Kita tidak sedang menemukan diri kita sendiri tetapi menciptakan ulang diri kita. Karena itu, berusahalah tidak untuk menemukan siapa diri kita melainkan beruasahalah untuk menentukan Diri yang Kita cita-citakan. Kita berada di sini untuk mengingat, menciptakan kembali siapa diri kita. Sejatinya, kalau kita tidak menciptakan diri kita sebagai siapa Diri kita, kita tidak akan menjadi diri kita. Hidup adalah suatu kesempatan bagi kita untuk mengetahui berdasarkan pengalaman apa yang telah kita ketahui secara konseptual. Kita hanya perlu mengingat apa yang telah kita ketahui dan bertindak menurut hal itu.

Akan tetapi, kita sering menyangkal pikiran yang kita miliki dan kita telah menyangkal diri kita karena rasa takut. Apa yang sangat kita takutkan akan terjadi dan dialami. Emosi adalah energi yang sedang bergerak. Saat memindahkan energi, kita telah menciptakan efek. Pikiran adalah energi yang murni. Setiap pikiran yang kita miliki, yang pernah kita miliki dan yang akan selalu kita miliki bersifat menciptakan. Energi pikiran kita tak akan pernah mati. Selamanya. Energi itu meninggalkan tubuh kita dan keluar menuju alam semesta selamanya meluas. Pikiran adalah abadi. Semua pikiran membeku; semua pikiran bertemu dengan pikiran-pikiran lain, sambil saling menyilang dalam labirin energi yang luar biasa, membentuk pola keindahan yang tak terucapkan dan kompleksitas yang tak masuk akal yang terus berubah. Cinta adalah realitas tertinggi. Satu-satunya. Segalanya. Perasaan cinta adalah pengalaman kita tentang Tuhan. Dalam kebenaran teragung, cinta adalah satu-satunya yang ada sekarang, satu-satunya yang ada dulu, dan satu-satunya yang akan selalu ada. Saat kita masuk ke dalam yang absolut, kita masuk ke dalam cinta. Pada kenyataannya, setiap orang mempunyai tendensi dasar untuk melupakan relasi bahwa kita mempunyai hubungan yang satu dengan yang lain dan dengan berbagai cara kita menyentuh kehidupan orang lain dan sebaliknya banyak orang yang menyentuh dan berperanan dalam hidup kita. Sebab apa? Sebab kita adalah satu. Tidak ada yang kebetulan sebab semua bersumber dari Yang Satu. Kebenaran, kebahagiaan dan cinta hendaklah mengarah pada satu kesatuan, bahwa kita adalah satu.

Penulis: Mahasiswa Filsafat dan Teologi Unpar, Bandung

13 Conversation about One Thing

Kebenaran tak pernah Mutlak

Oleh: Riston Situmorang S.Sos

One Thing itu ternyata “Kebenaran”

Saya mulai dari judul. Judul film “13 Conversations About One Thing” tampaknya tidak biasa dan bukannya tidak disengaja. Angka 13 (tiga-belas) saja sudah mengundang tanya. Film ini sudah diawali dengan rasa ingin tahu, yang terselip dibaliknya suatu “kebenaran” yang telah menjadi mitos dengan sebuah artificial makna. Angka 13 tentu saja identik dengan angka sial bagi banyak orang dan bahkan sudah ada dalam berbagai peradaban kuno, dan telah diimani lama oleh kaum anti-revolusioner yang akrab dengan dunia kaku yang berbau “mistis” serta tabu dengan perubahan. Angka 13 adalah angka keramat dengan berbagai kemalangan dan kesialan yang mengiringinya. Oleh karena itu, angka 13 kerap dihindari, diabaikan dan diacuhkan demi mencegah suatu persoalan, kerumitan masalah bahkan bencana. Semua atribut konotatif angka 13 itu telah menjadi sebuah “kebenaran” bagi orang zaman sekarang. Ironisnya, kita percaya pada “kebenaran” tersebut dan berupaya untuk menantikan sesuatu yang buruk pada orang yang berkaitan dengan angka 13 itu. Lebih parah lagi, kita tidak begitu mudah untuk mengubah pandangan akan “kebenaran” kita pada angka 13 itu bila suatu saat kita menemukan fakta “tidak terjadi apa-apa” berkaitan dengan angka sial itu. Ada banyak kebenaran yang kita temukan dan tak jarang kita ciptakan sendiri. Sayangnya, kita lupa bahwa kebenaran itu bukanlah suatu kebenaran mutlak yang harus terjadi sesuai dengan kehendak kita manakala ada banyak kejadian dan peristiwa yang persis terbalik dengan apa yang kita pandang sebagai kebenaran sebelumnya.

Film “13 Conversations About One Thing” persis mau mengatakan hal yang kontras dengan “kebenaran” yang telah lama kita agungkan itu. Sebagaimana kita percaya bahwa angka 13 adalah angka sial, maka dalam fim tersebut kita akan dibawa pada percakapan dimana kita terlibat di dalam “kebenaran-kebenaran” lainnya. Seakan-akan kita masuk pada kebenaran yang diciptakan oleh beberapa tokoh di dalamnya. Adanya peristiwa dan momen-momen yang berseberangan dengan “kebenaran” yang kita percayai sebelumnya, tentu saja menyebabkan kita akan sulit untuk menghancurkan pegangan yang telah lama kita ciptakan dan kita seakan tidak mau lepas dari paradigma yang ada dalam pikiran kita sendiri.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah berkaitan dengan One Thing. 13 percakapan pada dasarnya membahas sebuah ketersambungan yang sama yakni mempersoalkan One Thing. One thing itu tampaknya adalah kegembiraan (happy), atau lebih tepat saya menyebutnya sebagai “kebenaran”. Sekelompok orang hidup secara terpisah dan tanpa sadar mempunyai interkoneksitas yang subtil sehingga membawa mereka pada sebuah pertemuan yang ganjil: Ada pengacara muda yang melarikan diri setelah menabrak seorang gadis, seorang profesor universitas yang istrinya menjadi korban dari hidup berkeluarga, seorang manajer perusahaan asuransi yang bermasalah dengan mantan isterinya serta anaknya, dan seorang gadis muda yang ditabrak mobil. Semua dari mereka menginginkan sebuah kegembiraan atau bahkan kebahagiaan dengan memegang teguh “kebenaran” mereka masing-masing. Setiap orang memiliki cita-cita kebahagiaan sendiri dan ingin menggapainya dengan cara “kebenaran”-nya sendiri. Akan tetapi, di saat mereka mencarinya, timbul sebuah peristiwa yang seolah bertolak belakang dengan apa yang mereka idam-idamkan. Film ini sungguh sebuah film tentang kehidupan. Film “13 Conversations About One Thing” mau mengungkapkan One Thing yang tidak bisa dilepaskan dari hidup manusia begitu saja. Film ini memunculkan sebuah nilai dari hidup yang paradoks atas “kebenaran” yang telah lama dibangun.

Kebenaran dalam “13 Conversation about One Thing”

Film yang di sutradarai oleh Jill Sprecher ini ditulis oleh Jill Sprecher sendiri bersama Karen Sprecher dan produsernya adalah Beni Atoori dan Gina Resnick. Para pemainnya adalah Matthew McConaughey ( sebagai Troy), John Turturro (Walker), Clea DuVall (Beatrice), Amy Irving (Patricia), Alan Arkin (Gene), Barbara Sukowa (Helen), Tia Texada (Dorrie) and Frankie Faison (Dick Lacey). Gagasan dasar “13 Conversation about One Thing” adalah mencari ketersambungan di antara hidup manusia. Ketersambungan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak awal percakapan antara Troy dan isterinya. Lantas 13 percakapan yang dipisahkan oleh judul-judul kecil (ada 12 yakni Show me a happy man, You look so serious, Ignorance is bliss, I once meet a happy man, this happines is a curse, Fuck guilt, Ask yourself if you’re happy, Fortune smiles at some and laugh at others, Wisdom comes suddenly, I can never go back, The mind is it’s own place, I’m ready to surrender, Eighteen inches of personal space) itu seolah-olah membuat keterpisahan satu dengan yang lain. Padahal sebenarnya tetap ada ketersambungan dan bahkan ada korelasi yang semakin jelas bila melihat secara keseluruhan berbagai karakter yang kita lihat dalam film tersebut.

Troy, Gene, Walker, Beatrice mempunyai kehidupan yang saling berhubungan dalam beberapa even. Troy bertemu dengan Gene di sebuah bar, menabrak Beatrice di jalan dalam sebuah kecelakaan lantas menjual mobilnya kepada Walker. Melalui relasi yang tidak kronologis ini, kita terlibat dalam drama personal dimana semua orang memiliki kegembiraan yang relatif dan betapa tidak terprediksinya hidup itu. Dalam “13 Conversation about One Thing”, setiap karakter memiliki moment kegembiraan dan memiliki pengharapan dari “kebenaran” dalam hidupnya yang pada akhirnya bisa diubah oleh episode yang tidak diharapkan. Dengan kata lain, kebenaran yang mereka abadikan dalam sebuah tindakan tak pernah mutlak dalam sebuah kenyataan.

Gene menjadi pusat dari seluruh alur kisah ini. Gene mempunyai masalah dengan anaknya, Ronnie yang kecanduan narkoba dan hidup perkawinannya yang hancur-berantakan. Kehidupan keluarganya membuat hidupnya sangat tidak bahagia dan bersikap sarkastik kepada orang-orang yang bekerja bersamanya. Kebenaran menurutnya adalah bahwa setiap orang telah ditentukan hidupnya sedemikian sehingga seorang pecundang akan tetap menjadi pecundang dan pemenang akan tetap menjadi seorang pemenang. Gene juga akhirnya mengambil sebuah keputusan dengan memberhentikan Wade Bowman salah seorang yang bekerja di perusahaannya. Gene berpikir bahwa Bowman, seorang yang optimistik dan paling berbahagia akan kehilangan kebahagiannya setelah ia memecatnya. Akan tetapi, ternyata Bowman tidak merasa kehilangan kegembiraannya segera setelah ia diberhentikan. Kebenaran yang dibangun oleh Gene serta merta tidak sinkron dengan apa yang ia hadapi dan alami.

Troy, seorang pengacara berhubungan dengan Gene ketika keduanya sedang minum dengan alasan yang berbeda berada di bar yang sama. Ia merayakan kegembiraan bersama dengan teman-temannya karena ia memenangkan kasus besar dalam pengadilan. Troy merasa sebagai seorang pemenang dalam hidupnya. Kebenaran menurut Troy adalah seseorang yang merasakan kegembiraan, dan kebahagiaan tersebut tidak akan pernah diambil daripadanya. Orang yang berbahagia adalah orang yang beruntung dan ia merasa sebagai seorang pemenang yang dipenuhi dengan kemujuran. Hidup Troy mulai berubah ketika ia menabrak Beatrice dan lantas menjual mobilnya.

Walker, seorang Profesor yang tidak merasa bahagia dalam pernikahannya dengan Patricia. Ia merasa perkawinan keduanya akan berakhir. Suatu saat ketika makan bersama, isterinya bertanya kepada Walker : “Apa yang kamu mau?”. Walker menginginkan sesuatu seperti setiap orang juga menginginkannya yaitu: menjalani kehidupannya, bangun dengan antusias, dan mendapatkan kebahagiaan. Orang yang bahagia menurutnya adalah orang kaya dengan harta berlimpah dan menjalani rutinitas dengan gembira dan ringan. Itulah kebenaran yang Walker idam-idamkan dan apa yang ia alami persis kebalikannya. Walker yang melakukan hubungan unfair dengan wanita lain di tempat kerjanya akhirnya hidup sendiri dalam sebuah ruangan yang sempit. Tidak hanya kehilangan isterinya, ia juga kehilangan kebenarannya yang identik dengan “irreversibility”. Ia merasa dan berpikir bahwa segala sesuatu tidak bisa ditarik kembali ke asalnya. Kebenaran menurutnya adalah R= Vo √2h/g. Kebenaran itu serta merta menjadi invalid ketika salah seorang muridnya mati dan jatuh ke bawah. Kalau berdasarkan teorinya maka seharusnya si anak tidak jatuh ke rumput dan jarak jatuh si anak tidak jauh dari bangunan di sebelahnya. Dengan kata lain, teorinya patah karena ternyata si anak tersebut lompat dari jendela.

Beatrice adalah seorang gadis muda yang membersihkan rumah orang kaya. Bersama Dorrie temannya, ia membayangkan apa yang akan terjadi bila seseorang hidup di tempat yang menakjubkan. Beatrice yang hampir mati saat kecil tidak memiliki pengalaman yang pahit. Dia adalah seorang anak yang baik kepada siapapun. Akan tetapi hidupnya berubah setelah ditabrak. Setelah pulang dari rumah sakit bersama dengan ibunya, Beatrice mengalami transformasi dalam memandang dan menghayati hidupnya. Dia tetap menjadi seorang yang baik dengan sikap yang berbeda. Kebenaran menurut Beatrice di awal adalah segala sesuatu pasti ada sebabnya dan Tuhan itu bersikap adil pada semua orang. Kebenarannya menjadi ganjil dan berubah ketika ia mendapat musibah. Ia akhirnya mengatakan bahwa Tuhan memang tidak adil dan mempertanyakan apa sebabnya ia ditabrak, mengapa baju putih terlepas dari tanganya, mengapa ia berdiri di tepi jalan dan mengapa ia dituduh mencuri jam orang dirumah tempat ia bekerja.

Wade Bowman selalu melihat segalanya baik dan menilai segala sesuatu dari sisi positif terhadap hidupnya. Bagi dia, tidak ada persoalan kendati ada masalah yang menimpanya ketika ia diberhentikan dari sebuah perusahaan. Ia melihat sebuah kegembiraan yang selalu melimpah pada dirinya dan ia bagikan kepada orang lain di sekitar kerjanya. Pandangan yang selalu “positive-thinking” ini menjadikannya tanpa beban dalam menjalani kehidupannya. Kebenaran bagi dia adalah sebuah kegembiraan dan keberuntungan dalam setiap hidupnya. Oleh karena itu, ia selalu menjalin relasi yang baik kepada siapa saja termasuk terhadap Gene yang telah memberhentikannya. Dia selalu menawarkan senyum setiap saat kendati sedang mengalami keterpurukan dan sedang dilanda masalah sekalipun. Akan tetapi kebenaran Bowman tidak dapat dikatakan mutlak karena keberuntungan dan kemujurannya dengan mendapat pekerjaan baru adalah hasil dari usaha Gene yang mencarikannya pekerjaan tanpa sepengetahuan Bowman.

Kegembiraan, Kebenaran dan Cinta

Pikiran yang paling mulia adalah selalu pikiran yang berisi kegembiraan. Sabda yang paling murni adalah kata yang berisi kebenaran. Perasaan yang paling agung adalah perasaan yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai cinta. Kegembiraan, kebenaran dan cinta: ketiganya dapat dibolak-balik dan yang satu selalu membawa ke yang lainnya. Urutan tidak penting. Kalau setiap orang merasa dan berpikir sebagai satu-satunya kebenaran, siapa lagi yang perlu berbicara kepada Tuhan. Setiap orang kerap melupakan bahwa kebenaran yang dipegang teguh oleh setiap manusia hanyalah ilusi yang dapat merintangi jalan menuju Tuhan sendiri. Apa yang terjadi seandainya segala sesuatu yang dikira “salah” ternyata benar? Kita tidak dapat mengenal Tuhan sebelum kita berhenti memberitahu diri kita sendiri bahwa kita sudah mengenalnya. Kita tidak dapat mendengar Tuhan sebelum kita berhenti berpikir bahwa kita telah mendengar-Nya. Tuhan tidak dapat memberitahu kita akan kebenaran-Nya sebelum kita berhenti memberitahu Tuhan akan kebenaran kita sendiri. Oleh karena itu, dengarkanlah perasaan kita, dengarkan pikiran termulia kita sendiri, dan dengarkan pengalaman kita. Kapan saja salah satu darinya berbeda dengan apa yang telah kita dengar sebelumnya, lupakan kata-kata tersebut. Di mana saja kita menemukan salah satunya berbeda dengan pemahaman kita sebelumnya, segera lupakan “kebenaran” kita itu.

Suatu hal hanya benar atau salah karena kita mengatakannya demikian. Suatu hal pada dasarnya tidak benar atau salah secara hakiki. Benar atau salah bukanlah kondisi intrinsik melainkan penilaian subjektif dalam sistem nilai pribadi. Dengan penilaian subjektif, kita menciptakan diri kita sendiri. Dengan nilai pribadi, kita menentukan dan menunjukkan siapa diri kita. Ide kita tentang benar dan salah hanyalah sebuah ide. Dengan pikiran kita menghasilkan ide yang lantas dapat menciptakan hakikat siapa diri kita. Hanya ada satu alasan untuk mengubah semua itu. Hanya ada satu maksud dalam membuat perubahan yakni kalau kita tidak bahagia dengan siapa diri kita. Hanya kita sendiri yang dapat mengetahui kalau kita bahagia. Hanya kita sendiri yang dapat berkata tentang hidup kita. Kalau nilai-nilai kita berguna, berpeganglah padanya. Berdebatlah deminya. Berjuanglah untuk membelanya. Namun berusahalah untuk berjuang tanpa mencelakai orang lain. Akan tetapi, yang terjadi adalah sangat sedikit pertimbangan nilai yang telah kita masukkan dalam kebenaran kita adalah pertimbangan yang berasal dari orang lain. Akibatnya, kita sering menciptakan diri kita melalui pengalaman orang lain. Kita sering membantah pengalaman kita sendiri demi apa yang diperintahkan untuk kita pikirkan.

We are All One

Tuhan sebenarnya sudah berbicara kepada banyak orang, dalam banyak cara dan sudah bertahun-tahun lamanya. Ironisnya, hanya sedikit orang saja yang mau mendengarkan dan mau berbagi kepada orang lain. Dan dari sedikit orang tersbut, kebanyakan telah berhasil merubah dunia. Mereka adalah pewarta yang membawa kebenaran sebaik yang mereka pahami dan semurni yang mereka ketahui. Meskipun mereka menangkap dengan filter-filter mereka, pada hakikatnya mereka sudah membuka kesadaran akan kebijaksanaan yang luar biasa. Mereka telah membawa keuntungan yang menakjubkan dan mereka memiliki kesamaan dalam perkataan-perkataan mereka: “Kita semua adalah satu”. Segala hal memancar dari “Yang Satu” yang kemudian memecah menjadi banyak termasuk menjadi seperti kita sekarang ini. Jadi sebenarnya kita mempunyai satu suara. Pada awalnya, pikiran kita adalah milik-Nya dan milik-Nya adalah milik kita. Segala sesuatu memancar dari satu sumber yang menerangi segala sesuatu sehingga muncul proses individuasi dari The Oneness in many form. The Oneness in many form itulah yang kita sebut dengan kehidupan. Kehidupan itu adalah Tuhan sendiri yang ditafsir ke dalam berbagai bentuk. Proses individuasi itu dimulai dari unified non-physical menjadi individuated physical. Dari individuated physical berubah menjadi unified physical dan kembali ke unified non-physical.

Kita semua adalah totalitas dari Tuhan. Kita diciptakan oleh Tuhan sehingga kita pun adalah bagian dari-Nya. Jika saja kita memilih pengalaman ini yakni bersatu dengan Tuhan, kita akan mengetahui damai dan mengalami cinta yang sungguh dan penuh kebebasan. Jika saja kita memilih kebenaran ini, kita akan mengubah dunia. Jika saja kita memilih realitas ini, kita akan menciptakan dan akhirnya mengalami dengan penuh siapa kita sebenarnya. Maka kita tidak perlu melakukan banyak hal. Yang kita lakukan cukup hanya menjadi Tuhan karena kita dan Tuhan adalah satu. Unifikasi dengan Tuhan dan dengan segala hal serta segala yang hidup menandakan bahwa kita adalah satu. Anggapan bahwa kita tidaklah satu adalah ilusi. Banyak orang percaya pada Tuhan tetapi mereka tidak percaya pada Tuhan yang percaya pada mereka. Tuhan percaya pada mereka mencintai mereka lebih dari yang mereka tahu. Gagasan bahwa Tuhan berhenti berbicara pada manusia adalah salah. Anggapan bahwa Tuhan marah pada manusia dan mengeluarkannya dari surga adalah salah. Anggapan bahwa Tuhan sebagai hakim dan juri dalam memutuskan nasib manusia adalah salah. Tuhan itu mencintai setiap manusia yang pernah hidup, yang hidup sekarang dan yang akan hidup. Keinginan Tuhan adalah agar setiap jiwa kembali kepada-Nya. Tuhan tidak terpiash dari apapun dan tidak ada yang terpisah dari-Nya. Tidak ada yang dibutuhkan oleh Tuhan karena Tuhan adalah segalanya.

Kita sekarang dan telah selalu dan akan selalu menjadi satu bagian ilahi dari keseluruhan ilahi, anggota kumpulan. Itulah sebabnya tindakan menggabungkan kembali keseluruhannya, kembali kepada Tuhan disebut dengan kenangan. Kita sebenarnya memilih untuk kembali menjadi anggota siapa diri kita sebenarnya atau bergabung bersama dengan berbagai bagian dari diri kita untuk mengalami segala-Nya. Karena itu, tugas kita adalah bukan untuk belajar tetapi untuk kembali menjadi anggota dari Siapa diri kita dan untuk kembali menjadi anggota dari setiap orang lain. Itulah sebabnya satu bagian besar dari tugas kita adalah untuk mengingatkan orang lain sehingga mereka pun dapat kembali menjadi anggota pula. Dalam Yang Absolut tidak ada pengalaman, yang ada hanya mengenal. Mengenal adalah keadaan ilahi, namun kegembiraan terbesar adalah menjadi. Menjadi dicapai hanya setelah mengalami. Evolusinya adalah mengenal, mengalami dan menjadi. Keberadaan sederhana ini adalah kebahagiaan. Dia adalah keadaan Tuhan setelah mengetahui dan mengalami Dirinya sendiri. Dia adalah apa yang dirindukan Tuhan pada mulanya.

Tak ada yang kebetulan, tak ada apapun yang terjadi secara “kebetulan”. Setiap peristiwa dan petualangan dipanggil ke diri kita oleh diri kita agar kita dapat menciptakan dan mengalami siapa diri kita sebenarnya. Yang diperlukan hanyalah mengetahui ini. Karena kita adalah pencipta relitas kita, dan hidup tak dapat muncul dengan cara lain bagi kita daripada dengan cara yang kita pikirkan. Kita memikirkannya hingga ada. Ini adalah langkah pertama dalam penciptaan. Pikiran adalah orang tua yang melahirkan segala sesuatu. Rahasia terdalamnya adalah bahwa hidup bukanlah proses penemuan melainkan proses penciptaan. Kita tidak sedang menemukan diri kita sendiri tetapi menciptakan ulang diri kita. Karena itu, berusahalah tidak untuk menemukan siapa diri kita melainkan beruasahalah untuk menentukan Diri yang Kita cita-citakan. Kita berada di sini untuk mengingat, menciptakan kembali siapa diri kita. Sejatinya, kalau kita tidak menciptakan diri kita sebagai siapa Diri kita, kita tidak akan menjadi diri kita. Hidup adalah suatu kesempatan bagi kita untuk mengetahui berdasarkan pengalaman apa yang telah kita ketahui secara konseptual. Kita hanya perlu mengingat apa yang telah kita ketahui dan bertindak menurut hal itu.

Akan tetapi, kita sering menyangkal pikiran yang kita miliki dan kita telah menyangkal diri kita karena rasa takut. Apa yang sangat kita takutkan akan terjadi dan dialami. Emosi adalah energi yang sedang bergerak. Saat memindahkan energi, kita telah menciptakan efek. Pikiran adalah energi yang murni. Setiap pikiran yang kita miliki, yang pernah kita miliki dan yang akan selalu kita miliki bersifat menciptakan. Energi pikiran kita tak akan pernah mati. Selamanya. Energi itu meninggalkan tubuh kita dan keluar menuju alam semesta selamanya meluas. Pikiran adalah abadi. Semua pikiran membeku; semua pikiran bertemu dengan pikiran-pikiran lain, sambil saling menyilang dalam labirin energi yang luar biasa, membentuk pola keindahan yang tak terucapkan dan kompleksitas yang tak masuk akal yang terus berubah. Cinta adalah realitas tertinggi. Satu-satunya. Segalanya. Perasaan cinta adalah pengalaman kita tentang Tuhan. Dalam kebenaran teragung, cinta adalah satu-satunya yang ada sekarang, satu-satunya yang ada dulu, dan satu-satunya yang akan selalu ada. Saat kita masuk ke dalam yang absolut, kita masuk ke dalam cinta. Pada kenyataannya, setiap orang mempunyai tendensi dasar untuk melupakan relasi bahwa kita mempunyai hubungan yang satu dengan yang lain dan dengan berbagai cara kita menyentuh kehidupan orang lain dan sebaliknya banyak orang yang menyentuh dan berperanan dalam hidup kita. Sebab apa? Sebab kita adalah satu. Tidak ada yang kebetulan sebab semua bersumber dari Yang Satu. Kebenaran, kebahagiaan dan cinta hendaklah mengarah pada satu kesatuan, bahwa kita adalah satu.

Penulis: Mahasiswa Filsafat dan Teologi Unpar, Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: