<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>NIAS BARU</title>
	<atom:link href="http://niasbaru.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://niasbaru.wordpress.com</link>
	<description>Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Sep 2009 13:18:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='niasbaru.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/42c4a82cabcc46443f638fda0c5b2157?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>NIAS BARU</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Nias peroleh pendampingan pembangunan hingga 2011</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/09/22/nias-peroleh-pendampingan-pembangunan-hingga-2011/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/09/22/nias-peroleh-pendampingan-pembangunan-hingga-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 13:18:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Aktual Nias]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Thursday, September 3, 2009
By nias (niasonline.net)
JAKARTA: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal tetap memberikan pendampingan bagi pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan hingga 2011 pascaberakhirnya tugas Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias.
Lukman Edy, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, mengungkapkan Kementerian melalui program pendampingan masyarakat bersama dengan Bank Dunia melalui program [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=309&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Thursday, September 3, 2009</p>
<p>By nias (niasonline.net)</p>
<p>JAKARTA: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal tetap memberikan pendampingan bagi pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan hingga 2011 pascaberakhirnya tugas Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias.</p>
<p>Lukman Edy, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, mengungkapkan Kementerian melalui program pendampingan masyarakat bersama dengan Bank Dunia melalui <em>program education development project</em> (EDP) melanjutkan program BRR Nias-Aceh dengan anggaran Rp500 miliar per tahun selama 3 tahun ke depan.<span id="more-309"></span></p>
<p>“Kami akan terus mendampingi Pemkab Nias dan Nias Selatan melanjutkan program pembangunan infrastruktur pascatugas BRR Aceh-Nias. Pendampingan dari Kementerian diharapkan dapat mengembalikan kondisi sebelum terjadinya gempa tsunami,” ujarnya, di sela-sela kunjungan kerja dan safari Ramadan di Pondok Pesantren Modern Daar El Salam Pandeglang, Senin pekan ini.</p>
<p>Dia menjelaskan Nias dan Nias Selatan merupakan contoh daerah tertinggal karena faktor alam dan kondisi geografis yang sering terlanda bencana. Kedua kabupaten itu masuk dalam kriteria yang ditetapkan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal sehingga perlu terus dipacu dan diberikan pendampingan pembangunan guna mengejar ketertinggalan.</p>
<p>Menurut dia, hancurnya infrastruktur akibat gempa tsunami yang terjadi di Nias mengakibatkan kemunduran fasilitas dan infrastruktur hingga 15 tahun.</p>
<p>Menteri mengungkapkan pada tahun ini pemerintah menargetkan 10 kabupaten terangkat dari status sebagai ketertinggalan, termasuk Kabupaten Pandeglang yang punya prospek untuk segera dientaskan.</p>
<p>Adapun pada 2008 sebanyak 40 kabupaten di Jawa dan Sumatra berhasil keluar dari daftar daerah tertinggal.</p>
<p><strong>30.000 Desa</strong><br />
Namun, sambungnya, pada tahun ini masih terdapat sebanyak 30.000 desa tertinggal di Indonesia yang ditargetkan dientaskan oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.</p>
<p>“Kami mengharapkan ribuan desa tertinggal itu langsung diintervensi oleh seluruh stake holder sehingga mempercepat pengurangan jumlah desa tertinggal,” tegas Lukman.</p>
<p>Dia menjelaskan secara umum daerah yang keluar dari daftar tertinggal telah mampu melakukan sejumlah perbaikan, seperti infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, dan indikator lainnya. Namun, sambungnya, pemerintah tidak menutup mata adanya sejumlah desa di kabupaten yang tidak lagi menyandang daerah tertinggal masih terdapat sejumlah kasus dan masalah yang mengakibatkan mereka terhambat untuk berkembang. (Bambang Supriyanto – <a href="http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/regional/1id136070.html">Bisnis Indonesia</a>)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=309&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/09/22/nias-peroleh-pendampingan-pembangunan-hingga-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahur Jampur, “ Satpam Pelayan Kampung”</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/10/ahur-jampur-%e2%80%9c-satpam-pelayan-kampung%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/10/ahur-jampur-%e2%80%9c-satpam-pelayan-kampung%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 04:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Marinus W.
 (Tulisan ini dibuat pada saat pelatihan jurnalistik oleh Koran KOMPAS di Karang Tumaritis)
            Satpam yang satu ini biasa dipanggil Mang Ahur. Ia menjadi petugas satpam di Karang Tumaritis sejak delapan tahun silam. Perawakannya biasa-biasa saja, tidak ada tanda-tanda jika Ahur adalah seorang petugas keamanan di salah satu padepokan, di kota Lembang. Jika petugas satpam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=307&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Marinus W.</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>(Tulisan ini dibuat pada saat pelatihan jurnalistik oleh Koran KOMPAS di Karang Tumaritis)</strong></p>
<p>            Satpam yang satu ini biasa dipanggil Mang Ahur. Ia menjadi petugas satpam di Karang Tumaritis sejak delapan tahun silam. Perawakannya biasa-biasa saja, tidak ada tanda-tanda jika Ahur adalah seorang petugas keamanan di salah satu padepokan, di kota Lembang. Jika petugas satpam biasanya terlihat garang-garang, namun Ahur justru kelihatan santai, murah senyum, dan bisa diajak bicara. Karena itulah, banyak warga kampung sangat dekat dengan sosok satpam kelahiran 48 tahun silam ini. Menurut cerita tetangganya, sosok Ahur dipandang sangat perhatian akan kebutuhan warga. Apa pun keluhan warga pasti diusahakan oleh Ahur semampunya.</p>
<p>            Sosok satpam yang mempunyai tiga orang anak ini memang unik. Ketika masih kecil tidak pernah terlintas dipikirannya menjadi seorang satpam. Sebaliknya, Ahur kecil mempunyai mimpi untuk sekolah setinggi-tingginya. Namun mimpi indah tersebut bukannya tanpa hambatan. Factor keuangan keluarga yang morat-marit membuatnya berhenti bersekolah. Dia pun mencari pekerjaan. Mula-mula diterima salah satu pabrik kebaya di kota bandung. Di sini, Ahur bekerja di bidang listrik. Belum genap enam tahun bekerja di tempat tersebut, Ahur berhenti dan melamar bekerja di PT yang lain. Ia pun diterima. Tetapi belum genap seumur jagung bekerja di tempat ini, Ahur keluar. Ia  pun menjadi pengangguran. Namun karena kasih Gusti Allah kepadanya dan keluarganya, sekitar delapan tahun silam, ia diterima sebagai security di Karang Tumaritis. Pekerjaan ini pada awalnya dirasa tidak sesuai dengan cita-citanya, juga karena gaji yang tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga. Keadaan ekonomi yang tidak mengutungkanlah yang membuatnya tetap bertahan, bertahan, dan bertahan menjadi petugas <em>security</em> di Karang Tumaritis.<span id="more-307"></span></p>
<p>                 </p>
<p><strong>Sosok rendah hati</strong></p>
<p>            Umumnya petugas <em>security</em> identik dengan kegarangan, kesombongan, keras kepala, bahkan kekerasan terhadap orang lain. Contoh nyata misalnya, kejadian di gedung Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu. Di gedung yang menjadi simbol keuangan Indonesia tersebut sempat terjadi insiden pemukulan wartawan oleh anggota satpam BI. Kejadian ini paling tidak semakin memperkuat citra bahwa pekerjaan satpam identik dengan kekerasan, kearoganan terhadap orang lain. Memang, tujuannya demi menjaga keamanan. Tetapi seringkali petugas satpam berlaku semaunya demi menegakkan aturan yang dianutnya.</p>
<p>            Sosok Ahur sebaliknya justru memberikan gambaran kepada umum bahwa tidak semua satpam tinggi hati, keras, sombong. Ahur adalah sosok satpam yang rendah hati, melayani, dan mudah menjalin relasi dengan orang lain. Kerendahan hati satpam kampung ini tampak dalam sikapnya yang murah senyum, menyapa para tamu yang berkunjung di Karang Tumaritis. Sayangnya, karena kerendahan hatinya tersebut, seringkali membuat para tamu bertindak seenaknya, dengan tidak menyapa, cuek-cuek bebek. Menghadapi keadaan seperti ini, Ahur tidak putus harapan, sebaliknya membuatnya semakin matang dan sabar dalam menghadapi kehidupan yang keras ini.</p>
<p>            Kerendahan hati Ahur, juga diakui oleh tetangga dekatnya. Menurut tetangganya, selain sosok yang rendah hati, Ahur juga seorang pelayan setia di kampungnya. Hal ini ditunjukkannya dalam membantu warga kampung yang membutuhkan pertolongan misalnya, meminta bantuan untuk meminjam kursi, atau peralatan lainnya di tempat Ahur bekerja.</p>
<p> <strong>Modal menjadi satpam</strong></p>
<p>            Biasanya, menjadi seorang <em>security</em> handal perlu pendidikan atau pelatihan khusus, sehingga pada saat bertugas, dia tinggal mempraktekkan pendidikan yang telah diterimanya tersebut untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi saat bertugas.</p>
<p>            Masalahnya, satpam yang satu ini tidak pernah mendapatkan pendidikan semacam itu. Modalnya menjadi satpam hanyalah keberanian. Menurutnya, keberanian akan menjadikan seseorang percaya diri. percaya diri dalam arti untuk memecahkan segala rintangan, persoalan yang dihadapi pada saat bekerja. Selain itu, keberanian yang paling utama , bukanlah keberanian memukul, menunjukkan <em>body, </em>atau intimidasi kepada orang lain. Keberanian yang baik adalah keberanian dalam hal kejujuran. Menurutnya, bahwa keberanian untuk jujur adalah mutlak dalam pekerjaan. Meskipun terkadang itu menyakitkan untuk diri sendiri, orang lain, namun orang harus berani untuk jujur, mengatakan yang sesungguhnya. Misalnya, ketika sedang bermasalah dengan istri, sesegera mungkin masalah tersebut harus diselesaikan. Caranya dengan mengatakan secara jujur apa yang tidak disenangi pada orang yang dicintai. Kendati menyakitkan, hal itu harus dilakukan demi keharmonisan dalam keluarga. Dalam hubungan dengan orang lain, juga harus berani untuk jujur, dan terbuka. Sikap inilah yang menjadikan Ahur disenangi oleh warga kampung.</p>
<p> <strong>Refleksi singkat</strong></p>
<p>            Beberapa point penting yang saya dapatkan dari sosok Mang Ahur, Sang Satpam Kampung itu adalah <em>pertama,</em> bahwa keluar masuknya Mang Ahur dari PT yang satu ke PT yang lain menunjukkan kelemahan dan kegelisahan seorang buruh pabrik dalam menghadapi dominasi pihak perusahaan. Para buruh tak jarang menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh pihak perusahaan. Alasannya pun bermacam-macam, dan reasonable, seperti masalah <em>skill,</em> relasi, juga karena krisis ekonomi, sehingga modal perusahaan untuk memberi upah kepada para buruh tak mampu lagi.  Kondisi seperti ini menunjukkan masih timpangnya pembagian hak-hak antara pihak perusahaan dan buruh, yang mana undang-undang tentang perburuhan masih banyak berpihak kepada perusahaan di negeri ini. Akibatnya, buruh bukan lagi sebagai kolega yang setara dalam pekerjaan, tetapi sebagai pekerja yang harus dieksploitasi. <em>Kedua,</em> kerendahan hati, dan kejujuran. Kedua hal ini bukanlah hanya sebatas retorika, tetapi perlu aksi untuk mewujudkannya. Mang Ahur, sang satpam kampung itu pun sudah mempraktekkannya. <em>Ketiga, </em>keberanian. Mang Ahur, sang guru kehidupan itu mengajarkan bahwa pendidikan itu penting, tetapi keberanian lebih penting. Pendidikan tanpa keberanian adalah nihil, <em>sambungnya.</em></p>
<p><em> </em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=307&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/10/ahur-jampur-%e2%80%9c-satpam-pelayan-kampung%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menilik Potensi Tanah Kelahiran</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/09/menilik-potensi-tanah-kelahiran/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/09/menilik-potensi-tanah-kelahiran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 13:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/09/menilik-potensi-tanah-kelahiran/</guid>
		<description><![CDATA[Marinus W.
 “Tanö Niha menyimpan sejuta potensi, namun terbengkalai”, begitulah sekilas tentang tanah kelahiran-ku.
 Pada tanggal 9 Juli 2009 lalu, oleh pimpinan diberi kesempatan untuk cuti ke Pulau Nias, kampung halaman-ku. Lama cuti ke Nias hanya sekitar 2 (minggu) hingga tanggal 24 Juli 2009. Setelah itu, saya sudah harus pulang lagi di study home, Bandung. Teman-teman mahasiswa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=306&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Marinus W.</p>
<p> “Tanö Niha menyimpan sejuta potensi, namun terbengkalai”, begitulah sekilas tentang tanah kelahiran-ku.</p>
<p> Pada tanggal 9 Juli 2009 lalu, oleh pimpinan diberi kesempatan untuk cuti ke Pulau Nias, kampung halaman-ku. Lama cuti ke Nias hanya sekitar 2 (minggu) hingga tanggal 24 Juli 2009. Setelah itu, saya sudah harus pulang lagi di study home, Bandung. Teman-teman mahasiswa asal Nias pun menganjurkan saya untuk membuat agenda kecil selama cuti di tanah pusaka itu.</p>
<p>Yang menarik bahwa dalam benak saya sempat terlintas sejuta pertanyaan-pertanyaan kecil tentang Nias. Bahwasanya benarkah Nias memiliki segudang potensi untuk berkembang dan maju? Mengapa potensi-potensi itu menjadi terbengkalai dan justru tidak dimanfaatkan demi pembangunan masyarakat Nias terutama secara ekonomi, dan juga kebudayaan? Maklum pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena sudah lebih 7 (tujuh) tahun di negeri orang, sehingga kondisi real tentang Nias terutama perkembangan ekonomi, keterbukaan kebudayaan, dan juga situasi pendidikan serta kesehatan yang masih kabur dalam bayangan saya. sebab itu untuk membuktikan “kebenaran” tersebut, saya akhirnya berjanji bahwa masa cuti ini saya akan manfaatkan untuk melihat berbagai potensi-potensi yang dimiliki oleh Pulau Nias, yang sebenarnya mampu membawa manusia-manusia tano niha berkembang ke arah yang lebih baik.<span id="more-306"></span></p>
<p>Setelah sampai di Nias, saya pun menempatkan diri untuk melihat berbagai potensi itu, yang selama ini tidak begitu disadari oleh masyarakat Nias. Dan kendati pun disadari oleh pemerintah daerah di sana, namun biasanya masih acuh tak acuh terhadap berbagai potensi terbaik yang sungguh dimiliki oleh Nias.</p>
<p>Salah satu potensi yang luar biasa yang dimiliki itu adalah dalam bidang pariwisata. Di Desa Hilisangawöla, kecamatan Ulu Moro`ö. Di Desa Hilisangawola, yang terletak 12 kilometer dari Kecamatan Mandrehe ini, terdapat puluhan patung-patung megalitik. Patung-patung megalitik nan mahakarya ini terdapat di Hili lölö`ana`a. Patung-patung ini disebut Behu. Bentuknya beraneka ragam. Ada yang berbentuk seperti manusia, batu besar yang diukir layaknya tubuh manusia, ada juga batu-batu yang dibuat sebagai tempat pertemuan para tetua adat jaman dulu. Bentuknya pun bulat. Beberapa tahun silam patung-patung ini masih berdiri kokoh kuat, namun setelah diguncang gempa banyak yang posisinya bukan lagi berdiri tetapi tergelatak di tanah. Menurut informasi yang saya dapatkan dari sana, patung-patung megalitik ini dibangun pada jaman kerajaan hili lölö`ana`a jaman dulu. Sayang! Patung-patung megalitik ini benar-benar terbengkalai. Tidak ada yang mengurus. PEMDA NIAS juga masih belum berbuat banyak untuk melestarikan harta karung yang sangat berharga ini. Mungkin karena alasan dana atau alasan-alasan lain yang <em>reasonable</em>.</p>
<p>            Di Nias, patung-patung megalitik ini terdapat hampir di semua tempat di Nias. Namun, karena tidak terurus oleh masyarakat dan begitu juga dengan pemerintah di sana, akhirnya terbengkalai. Patung-patung ini pun seolah tidak berguna, seolah tidak mempunyai nilai historis, apalagi ekonomis bagi masyarakat Nias. Jangankan kita berpikir nilai histories, praktisnya nilai ekonomis yang menjadi agenda utama. Bahwa jika pemerintah daerah, dan juga dengan dukungan dari masyarakat, patung-patung megalitik ini sebetulnya dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Dengan itu pun pendapatan pemerintah daerah bisa meningkat, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk kesejahteraan masyarakat Nias. Masalahnya, berbagai potensi ini sungguh tidak disadari oleh pemerintah daerah dan juga para intelektual nias. Memang menyadari! Namun, itu hanya sebatas retorika. Sebatas mimpi! Usaha dan aksi untuk berubah, dan berkembang tidak ada. Seolah terjebak dalam nihilisme belaka. Bahwa segala sesuatu tak memilik makna, dan manfaat untuk kehidupan. Sebab pada akhirnya hanya akan membawa manusia pada kesia-siaan semata. Bukan pada kemajuan, di mana kebahagiaan, kemanusiaan manusia sungguh nyata.</p>
<p>            Sungguh luar biasa. Bahwa potensi yang dimiliki oleh alam Nias sangat kaya. Di sana-sini terdapat rumah adat, keindahan kebudayaannya, dengan patung-patung magalitiknya. Namun betapa menyedihkan bila kekayaan tersebut hanya sebatas kekayaan alam yang sungguh tidak dimaknai untuk kehidupan kini, di sini, untuk kebaikan, kemajuan ono niha. Seharusnya potensi berharga tersebut menjadi batu loncatan bagi pemerintah daerah nias bersama dengan seluruh element masyarakat dalam menggapai impian.</p>
<p>Saya berpimpi suatu ketika nias akan keluar dari pengaruh filsafat nihilisme, di mana selalu ragu akan keindahan mimpi-mimpi itu, karena yakin bahwa kemajuan hanyalah sebatas kemajuan, dan kebahagiaan atau kemakmuran hanyalah sebatas keduanya, karena itu manusia tak perlu menggapainya, sebab manusia selalu identik dengan penderitaan. Singkatnya, manusia hidup dalam penderitaan. Masalahnya, keyakinan filsafat nihilisme ini tidak laku di jaman kini. Di jaman kini manusia justru berlomba-lomba untuk mencapai kemanusiaannya (humanisme), yang mana di dalamnya pemikiran optismisme dalam memaknai kehidupan (sense of meaning), sense of others selalu mewarnai gerak langkah hidup manusia. Singkatnya bahwa pemikiran optimisme mengarahkan manusia pada keindahan mimpi-mimpi mereka demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Mungkinkah kita ono niha mampu mewujudkannya? Semoga!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/306/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=306&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/09/menilik-potensi-tanah-kelahiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rokok, Antara Kenikmatan &amp; Penderitaan</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/09/rokok-antara-kenikmatan-penderitaan/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/09/rokok-antara-kenikmatan-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 13:38:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Marinus W.
(Tulisan ini dibuat pada saat pelatihan jurnalistik oleh Koran KOMPAS)
Rokok, Sebuah Isu Kontroversial
            Rokok! Sebenarnya “nama benda” ini sangat kontroversial. Di satu sisi ia menawarkan keenakan, atau kenikmatan bagi setiap pemakainya. Di sisi lain juga, secara tidak langsung memberi efek yang sangat buruk bagi kesehatan pemakainya. Efek buruknya pun bukan hanya bagi pemakainya saja, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=304&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Marinus W.</p>
<p>(Tulisan ini dibuat pada saat pelatihan jurnalistik oleh Koran KOMPAS)</p>
<p><strong>Rokok, Sebuah Isu Kontroversial</strong></p>
<p><strong>            </strong>Rokok! Sebenarnya “nama benda” ini sangat kontroversial. Di satu sisi ia menawarkan keenakan, atau kenikmatan bagi setiap pemakainya. Di sisi lain juga, secara tidak langsung memberi efek yang sangat buruk bagi kesehatan pemakainya. Efek buruknya pun bukan hanya bagi pemakainya saja, tetapi juga memberikan efek buruk bagi kesehatan setiap orang, yang pada saat itu berada di dalam lingkungan orang-orang yang menghirup rokok (smokers). Bahkan pabrik-pabrik rokok sangat menyadari efek buruk rokok ini bagi kesehatan manusia, hal ini sangat jelas dari tulisan yang tertera disampul luar rokok yang berbunyi : <em>“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”.</em> Himbauan ini, paling tidak menyadarkan para smokers bahwa merokok dapat mempunyai efek yang sangat buruk bagi kesehatan manusia. Pertanyaannya adalah kenapa para smokers masih menghirup rokok? Lalu pabrik-pabrik rokok ini sudah menyadari dengan sangat bahwa rokok memiliki efek buruk bagi kesehatan manusia, namun mengapa masih saja membuat dan menyebarkan rokok-rokok tersebut ke pasaran? Dengan itu pun orang akan beranggapan bahwa himbauan tersebut tak lebih dari sebuah coretan kecil yang tak memiliki makna sama sekali, karena memang dibalik peredaran rokok tersebut mempunyai kepentingan ekonomi yang sangat menyenangkan bagi kaum kapitalis untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara di sana sini semakin banyak para smokers yang terserang penyakit, lalu meninggal akibat merokok, bahkan ada di antara smokers yang melakukan kriminalitas demi rokok. Itulah sebab mengapa rokok dikatakan sebagai sebuah isu kontroversial. Namun sebelum masuk terlalu jauh, saya akan menjelaskan secara singkat tentang sejarah rokok ini.</p>
<p> <strong>Rokok, dan Sejarahnya<span id="more-304"></span></strong></p>
<p>            Rokok adalah silinder dari kertas yang berukuran antara 70 sampai 120 mm. Rokok berisi daun-daun yang telah dicacah. Rokok dibakar ujungnya, lalu dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut. Biasanya, rokok dijual dalam bungkusan. Kendati mempunyai efek buruk bagi kesehatan manusia, namun rokok tetap saja diedarkan di pasaran. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan rokok tersebut disertai dengan pesan kesehatan yang memperingatkan para smokers, dan juga orang-orang yang tidak, dan mau mencicipinya bahwa rokok memilik efek yang sangat buruk untuk kesehatan manusia, misalnya kanker paru-paru, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Dalam kenyataanya, himbauan ini hanyalah tinggal hiasan, sebab jarang dipatuhi oleh orang-orang yang telah kecanduan oleh rokok.</p>
<p>Menurut sejarahnya, manusia di dunia yang pertama kali merokok adalah suku bangsa Indian di Amerika. Biasanya orang Indian menggunakan rokok untuk keperluan ritual seperti memuja roh atau dewa-dewi. Namun, pada abad 16, ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah itu ikut mencoba-coba untuk menghisap rokok, yang kemudian membawa tembakau ke Eropa untuk keperluan rokok dan juga ekonomis. Hanya saja, penggunaan rokok dalam masyarakat Indian berbeda dengan masyarakat Eropa. Jika rokok dalam masyarakat Indian digunakan untuk keperluan ritual, maka rokok dalam masyarakat Eropa justru digunakan untuk kesenangan semata-mata. Dalam perkembangan selanjutnya sekitar abad 17, rokok masuk ke Negara-negara Islam seperti Turki yang dibawa oleh para pedagang dari Spanyol.</p>
<p>Di jaman modern pun, rokok bukan lagi sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia. Jika pada awalnya, rokok hanya dinikmati oleh kaum bangsawan, atau kaum tetua di sekitar altar penyembahan berhala dalam masyarakat Indian, sekarang telah menjadi salah satu gaya hidup <em>(life style).</em> Ia sebuah pilihan yang membudaya dalam masyarakat terutama di antara kaum remaja dan pria dewasa, yang memang sebagian besar sebagai penghirup rokok dengan berbagai aneka jenisnya. Latar belakang kaum laki-laki merokok pun beraneka ragam. Ada alasan karena merokok dapat memberi kenikmatan, ketenangan, kebahagiaan. Ada juga alasan karena faktor gengsi supaya disebut jagoan. <em>Hebat!</em> Merokok berarti identik dengan kelaki-lakian, yang adalah sebagian besar dari smokers. Tidak merokok berarti terlalu kebencong-bencongan, feminim, tidak punya harga diri. Itu berarti, makna eksistensial dari rokok itu sendiri kabur, hilang, dan malah semakin ditarik ke masalah gender antara kaum pria, yang memang identik dengan smokers, dengan kaum wanita, yang sebagian kecil dari smokers. Dengan itu,  makna eksistensial dari rokok, di mana pada awalnya mempunyai tujuan religius telah berubah menjadi salah satu a life style, a choce, yang membudaya dalam dunia modern. Ia bukan lagi salah satu sarana untuk melangsungkan peribatan untuk Yang Kuasa, namun justru sebagai sarana untuk mencapai kebagiaan, kenikmatan, dan juga penderitaan manusia di bumi ini.  </p>
<p><strong> </strong><strong>Efek Asap Rokok</strong></p>
<p>            Seperti yang telah dijelaskan berulang-ulang di atas bahwa selain memberi efek kenikmatan, kebahagian bagi para penikmat rokok, asap rokok juga dapat menyebakan efek buruk bagi kesehatan para penghirup serta orang-orang yang berada di sekitar penghirup rokok. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari <em>wikipedia,</em> asap rokok dapat menyebabkan beberapa penyakit antara lain kanker pada tubuh, mengandung bahan pengiritasi mata dan pernapasan, menyebabkan kecanduan, berbagai penyakit lainnya serta rokok juga dapat menyebabkan dosa seperti pandangan golongan kalvinis dan kaum reformasi lainnya.</p>
<p> <strong>Rokok, Antara Kenimatan dan Penderitaan</strong></p>
<p>            Rokok terentang antara kenikmatan dan penderitaan manusia! Sangat mungkin pendapat ini disangkal oleh mereka yang menganut paham patristik, skolastik, bahkan posmodernisme sekalipun. Biasanya, para pelopor dan penganut aliran-aliran besar tersebut masih berkutat seputar pertanyaan apa itu kenikmatan, kebahagiaan bagi manusia. Lalu apa itu penderitaan bagi manusia. Apakah penderitaan ada atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan ini memang dicoba dijawab secara mendetail oleh berbagai aliran filsafat besar dunia seperti filsafat patristik, yang diwakili oleh St. Agustinus, dll dan juga skolastikat oleh St. Thomas Aquinas, dll. Bahwa yang menentukan kebahagiaan seseorang tergantung dari dosa dan rahmat Allah. Bila dosa besar berarti rahmat semakin mengecil. Dengan itu pun kebahagiaan di akhirat hampir tidak ada. Ia pun akan menderita di neraka. Sebaliknya, jika dosanya kecil berarti peluang untuk memperoleh rahmat dan kebahagiaan sangat besar. Berbeda dengan pandangan ini, para filsuf modern seperti Frederik Nietszche, menganggap bahwa kebahagiaan adalah sebuah nihilisme. Baginya kebahagiaan tidak ada, dan begitu juga dengan penderitaan. Atau pendapat lain yang menegaskan bahwa kebahagiaan hanyalah sebuah ilusi, fantasi, yang tidak pernah menjadi kenyataan. Begitu juga dengan penderitaan. Bahwa penderitaan memang sudah dikondisikan seperti itu, dan manusia tidak mampu lari darinya. Itu karena manusia hanyalah makluk kecil yang memang dikondisikan untuk menderita.</p>
<p>            Terlepas dari perdebatan para filsuf di atas tentang kebahagiaan dan penderitaan, saya mau menegaskan bahwa rokok terentang antara kebahagiaan dan penderitaan. Rokok memberi efek kenikmatan, kebahagiaan bagi pemakainya. Atau istilah kerennya juga terasa lebih maskulin atau jagoan. Namun di sisi lain rokok justru memberi efek penderitaan bagi manusia. Rokok dapat membuat seseorang menderita, dan gila! Ketika seorang smoker tidak mempunyai uang untuk membeli rokok sementara ia sangat membutuhkan, maka ia dengan sadar atau tidak dapat berbuat kriminal, misalnya mencuri, merampas hak milik orang lain demi memenuhi keinginan. Selain itu, berbagai penyakit yang disebabkan oleh rokok juga sebagai sebuah penderitaan. Baru-baru ini ada sebagian dosen saya di kampus, dan kasus lain menderita penyakit jantung, kanker, kematian janin sebelum lahir, impotensi, dan gangguan kehamilan. Penyebabnya adalah rokok. mereka pun dengan lantang, terbuka mengakui bahwa sejak remaja hingga kepala enam telah menjadi perokok berat. Dan itu tidak bisa dihentikan karena kecanduan. Akibatnya, kenikmatan yang mereka dapatkan sia-sia (nihilisme) belaka, sebaliknya berbagai penyakit menggerogoti tubuh mereka. Lalu di manakah kenikmatan itu? Kendati menyakitkan, smokers akan menjawab: ASAP ROKOK!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/304/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=304&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/08/09/rokok-antara-kenikmatan-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN TANPA AWAL TANPA AKHIR</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/28/pendidikan-tanpa-awal-tanpa-akhir/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/28/pendidikan-tanpa-awal-tanpa-akhir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 02:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd
Pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia mencapai kedewasaan.  Sebagai suatu upaya menuju ke arah perbaikan hidup dan kehidupan manusia yang lebih baik, pendidikan harus berlangsung tanpa awal dan akhir, tanpa batas, ruang dan waktu.
Indonesia ditengah persaingan global, mutlak memerlukan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, jujur, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=302&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd</p>
<p>Pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia mencapai kedewasaan.  Sebagai suatu upaya menuju ke arah perbaikan hidup dan kehidupan manusia yang lebih baik, pendidikan harus berlangsung tanpa awal dan akhir, tanpa batas, ruang dan waktu.</p>
<p>Indonesia ditengah persaingan global, mutlak memerlukan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, jujur, berakhklak mulia, berkarakter dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Manusia Indonesia harus punya daya tahan dan daya saing paripurna.<span id="more-302"></span></p>
<p>Upaya apa yang harus dilakukan untuk memenuhi harapan itu? Tak ada jalur lain selain pendidikan sebagai jalur utama pengembangan SDM dan pembentukan karakter. Dalam pengertian lebih luas, eksistensi bangsa ini bergantung bagaimana manusia-manusia didalamnya mengelola dan memuliakan pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah kata kunci dalam mementukan nasib bangsa.</p>
<p><strong>Ironi Pendidikan Kita</strong></p>
<p>Belakangan, permasalahan pendidikan di Indonesia terus menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Bukan saja masalah hasil belajar yang rendah, tapi juga soal carut marut serta inkonsistensi aturan dan kebijakan tentang sistem pendidikan nasional. Soal rendahnya mutu pendidikan, jujur harus dikaui serta tak usah diperdebatkan lagi. Hasil survei dan penelitian baik tataran nasional maupun dunia membuktikan hal itu.</p>
<p>Pemerintah, setidaknya dalam berbagai peraturan telah melakukan upaya perbaikan. Bahwa hasilnya belum maksimal sesuai yang diharapkan, pasti ada yang salah atau kurang terperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Penulis tak hendak menyimpulkan karena pemerintah tentu lebih tau dimana dan apa saja yang harus diperbaiki.</p>
<p>Tapi yang jelas, kualitas dan mutu pendidikan Indonesia ketinggalan 20 tahun jika dibandingkan dengan negara Malaysia. Sekali lagi, ini tak perlu diperdebatkan karena survei dan penelitian yang bicara. 20 tahun silam, Indonesia menjadi acuan bagi Malaysia dalam hal<br />
pendidikan. Mereka meminta pengiriman guru untuk mengajar di sekolah milik negara Malaysia. Pun, tak sedikit ketika itu pelajar asal Malaysia yang menuntut ilmu di Indonesia.</p>
<p>Kondisi dewasa ini justru terbalik. Pelajar Indonesia berbondong ke Malaysia. Mahasiswa Indonesia juga bangga menyandang gelar kesarjanaannya dari Malaysia sehingga negara yang 20 tahun lalu belajar dari Indonesia itu menjelma menjadi salah satu negara yang paling banyak dituju masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.</p>
<p>Ironis. Lalu timbul pertanyaan dimana salahnya? Pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, juga peningkatan kualitas manajemen sekolah telah dilakukan pemerintah. Tak cukup hanya itu, penyediaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN dan APBD juga telah dilakukan. Hasilnya? Pendidikan kita tetap belum mampu keluar dari ketertinggalan dibanding perkembangan pendidikan negara lain.</p>
<p>Ada yang mengatakan pendidikan Indonesia tidak maju karena setiap kegiatan pendidikan selalu dijadikan konsumsi politik? Entahlah.</p>
<p><strong>Kualitas dan Ketulusan Guru</strong></p>
<p>Banyak yang percaya bahwa didunia ini cuma ada dua profesi yakni, guru dan bukan guru. Sangat beralasan karena profesi apapun seperti hakim, jaksa, polisi, wali kota, gubernur hingga presiden dilahirkan dari profesi guru. Ini berarti, guru merupakan salah satu bagian penting sukses atau tidaknya dunia pendidikan. Guru adalah profesi yang sangat mulia.</p>
<p>Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2009 ini, barangkali ada baiknya kita memikirkan kembali fungsi dan peran guru. Saya bukan hendak mengatakan bahwa saat ini guru tak lagi sesuai peran dan fungsinya.</p>
<p>Tugas guru itu sangat berat dan tidaklah gampang jika dibandingkan profesi lainnya. Sebagai ujung tombak peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, seyogyanya guru tidak dan jangan dibebankan dengan berbagai tugas mengerjakan berbagai proyek fisik dan sejensinya selain mengajar, mengajar dan mengajar. Dalam kaitan ini, termasuklah mengembalikan kewenangan dan kewibawaan guru dan sekolah dalam menentukan kelulusan siswa yang selama ini telah dirampas oleh UN (Ujian Nasional).</p>
<p>Namun demikian, mengembalikan kewenangan dan kewibawaan guru itu bukan pula berarti dengan serta merta peningkatan kualitas pendidikan Indonesia langsung terdongkrak. Ada pandangan yang harus diubah baik oleh guru itu sendiri maupun generasi muda yang berniat menjadi guru.</p>
<p>Saat ini semakin nyata, generasi muda kita nyaris tidak memiliki kebanggaan menjadi guru, bahkan profesi guru pun sudah tidak dianggap sebagai profesi pilihan utama. Buktinya dapat dilihat dari minat lulusan sekolah menengah memilih perguruan tinggi. Pilihan menjadi guru kadang adalah keterpaksaan karena gagal memilih jurusan yang diinginkan. Akibatnya kita mendapatkan para pelaku pendidikan yang hilang dalam hal pengabdian.</p>
<p>30 tahun lalu, menjadi guru adalah kebanggaan tersendiri. Demikian juga peserta didik, sangat menghormati dan menghargai guru sehingga mendorong pengabdian guru memberikan apa yang dia miliki untuk peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan kualitas merupakan yang<br />
utama dari segalanya. Padahal di zaman itu yang namanya anggaran untuk dunia pendidikan dan fasilitas sangat terbatas. Tapi, mutu pendidikan kita setidaknya lebih bagus dari Malaysia.</p>
<p>Mungkin inilah yang kita lupakan, bahwa di zaman itu orang-orang yang menangani dunia pendidikan adalah orang-orang yang betul-betul memiliki niat mengabdi. Memiliki ketulusan. Mereka fokus, tak pernah berpikir bagaimana mendapatkan proyek, tidak pernah berfikir masalah apa yang mereka terima cukup atau tidak. Mereka jauh dari bicara masalah kesejahteraan.</p>
<p>Saat ini, ketika perhatian besar diberikan terhadap dunia pendidikan, mengapa justru banyak guru telah kehilangan nilai-nilai ketulusan, kejujuran, dan kebanggan tersebut?</p>
<p>Menurut hemat saya, selama 20 tahun terakhir pembangunan pendidikan Indonesia tidak berorientasi pada pengembangan mutu dan kualitas. Tapi lebih fokus pada pembangunan fisik. Anggaran 20 persen untuk dunia pendidikan justru lebih besar untuk birokrasi pendidikan ketimbang peningkatan mutu pendidikan. Lebih ekstremnya, ada anggapan bahwa 20 persen anggaran untuk dunia pendidikan tak lebih sekadar pencitraan politik.</p>
<p><strong>Harapan</strong><br />
Sejarah dunia pendidikan di Indonesia mencatat bahwa dari dulu– entah sampai sekarang– belum satu partai politik, organisasi massa, atau lembaga negara yang mampu dan benar-benar berkomitmen mengubah wajah dunia pendidikan. Banyak elite politik membicarakan nasib pendidikan, mengklaim dirinya berkomitmen pada pendidikan, tetapi hanya untuk kepentingan politik semata.</p>
<p>Setelah Pemilu 2009 yang baru saja kita lalui, harapan itu agaknya bisa kita gantungkan pada mereka yang telah terpilih menjadi wakil rakyat. Dengan mereka kita berharap komitmen untuk memajukan dunia pendidikan tak sekedar kepedulian semu. Perlu dipahami benar hakikat pendidikan demi eksistensi sebuah bangsa. Pendidikan tanpa awal dan akhir serta tanpa ruang, batas dan waktu.</p>
<p>Semoga kejayaan 30 tahun silam dapat kita rengkuh kembali.</p>
<p>* <em>Penulis adalah Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai-Riau</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=302&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/28/pendidikan-tanpa-awal-tanpa-akhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/27/teknologi-baru-relasi-baru-memajukan-budaya-menghormati-dialog-dan-persahabatan/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/27/teknologi-baru-relasi-baru-memajukan-budaya-menghormati-dialog-dan-persahabatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 05:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/27/teknologi-baru-relasi-baru-memajukan-budaya-menghormati-dialog-dan-persahabatan/</guid>
		<description><![CDATA[Saudara dan Saudari Terkasih, 
Pertama, Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang,  Saya ingin menyampaikan kepada  anda beberapa   permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni Teknologi Baru, Relasi Baru:  Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki  terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=301&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Saudara dan Saudari Terkasih, </em><em></em></p>
<p>Pertama, Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang,  Saya ingin menyampaikan kepada  anda beberapa   permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni <em>Teknologi Baru, Relasi Baru:  Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan</em>. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki  terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran itu secara istimewa  dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri.  Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan  peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya ingat akan mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru demi  mamajukan pemahaman  dan rasa kesetiakawanan manusia.  Teknologi baru  sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti  memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya tentu dipergunakan untuk melayani semua manusia secara pribadi dan komunitas, teristimewa mereka yang kurang beruntung dan menderita.<span id="more-301"></span></p>
<p><em><strong>(Manfaat Media Baru)</strong></em></p>
<p>Kedua, Akses terhadap telpon seluler dan komputer yang kian mudah disertai dengan jangkauan dan penyebaran internet secara meluas sampai ke wilayah jauh dan terpencil telah menjadikan internet sebagai prasarana jalan bagi penyampaian berbagai jenis pesan. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Daya dasyat media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih ke media baru  sebagai sarana berkomunikasi dengan teman-teman, berjumpa dengan teman-teman baru, membangun paguyuban dan jejaring, mencari informasi dan berita, serta sarana berbagi gagasan dan pendapat. Budaya baru ini membawa banyak manfaat bagi  komunikasi, antara lain keluarga-keluarga tetap bisa berkomunikasi meski terpisah oleh jarak yang jauh, para pelajar dan peneliti memperoleh  peluang lebih cepat dan  mudah kepada dokumen, sumber-sumber rujukan dan penemuan-penemuan ilmiah sehingga mereka mampu bekerja secara bersama meski dari tempat yang berbeda. Lebih dari itu, kodrat interaktif yang dihadirkan oleh berbagai media baru mempermudah pembelajaran dan komunikasi dalam bentuk yang lebih dinamis dan pada akhirnya memberikan sumbangsih bagi perkembangan sosial.</p>
<p><em><strong>(Jangan hanya terpukau dengan kecanggihan teknis media baru. Media baru sebagai jawaban mendasar kerinduan umat manusia untuk berkomunikasi)</strong></em><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p>Ketiga, Kita tidak perlu terlalu terpukau dengan kehebatan media baru dalam menjawab kerinduan manusia dalam berkomunikasi dan berelasi dengan sesama, karena sesungguhnya, hasrat berkomunikasi dan bersahabat ini berakar dari kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh dimengerti sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan, yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga. Tatkala kita ingin mendekati orang lain, tatkala kita ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka dan membuat kita dikenal oleh mereka maka saat itulah kita sedang menjawab panggilan Allah,  yakni panggilan yang terpatri dalam kodrat kita sebagai mahkluk yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan.</p>
<p><em><strong>( Hasrat mendasar manusia adalah berkomunikasi)</strong></em></p>
<p>Keempat, Hasrat  saling berhubungan dan naluri komunikasi  yang  melekat dalam kebudayaan masa kini sungguh dipahami sebagai ungkapan kecenderungan mendasar dan berkelanjutan manusia modern untuk menjangkau keluar serta mengupayakan persekutuan dengan orang lain. Tatkala kita membuka diri terhadap orang lain,  kita sedang memenuhi hasrat kita yang terdalam dan menjadi lebih sungguh manusia.  Pada dasarnya, mengasihi adalah hal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.  Dalam hal ini, Saya tidak berbicara tentang hubungan sekilas dan dangkal, tetapi tentang kasih yang sesungguhnya, yang menjadi inti ajaran moral Yesus: “Kasihilah TuhanAllahmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa raga,  dengan seluruh akal budimu dan dengan seluruh kekuatanmu” dan ” kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (bdk. Mrk 12:30-31).  Dalam terang pemahaman ini, merenungi  makna teknologi baru sungguh penting, agar kita tidak sekadar menaruh pehatian pada kemampuannya yang tak dapat diragukan itu, tetapi terutama pada kwalitas isi yang disebarkan melalui media tersebut. Saya ingin mendorong semua orang yang berkehendak baik yang sedang bergiat di lingkungan komunikasi digital masa kini untuk sungguh membaktikan diri  dalam memajukan budaya menghomati, dialog dan persahabatan.</p>
<p>Oleh karena itu,  mereka yang bergiat dalam pembuatan dan penyebaran isi media baru  harus benar-benar menghormati martabat dan nilai pribadi manusia. Apabila teknologi baru dipergunakan untuk melayani kebaikan pribadi dan masyarakat,  semua penggunanya akan mengelakkan tukar menukar kata dan gambar yang merendahkan umat manusia, keintiman hubungan seksual, atau yang mengeksploitasi orang lemah dan menderita.</p>
<p><em><strong>( Media baru sebagai gelanggang berdialog)</strong></em></p>
<p>Kelima, Teknologi baru juga membuka jalan untuk dialog di antara orang-orang dari berbagai negara, budaya dan agama. Gelanggang digital baru yang disebut jagat maya, memungkinkan mereka untuk bertemu dan saling mengenal kebiasaan dan nilai-nilai mereka masing-masing. Perjumpaan-perjumpaan yang demikian, jika ingin berhasil guna, menuntut bentuk pengungkapan bersama yang jujur dan tepat disertai  sikap mendengar dengan penuh perhatian dan penghargaan.  Bila dialog bertujuan untuk memajukan pertumbuhan pengertian dan sikap setia kawan, ia harus  berakar pada ikhtiar mencari kebenaran sejati dan bersama. Hidup bukanlah sekadar rangkaian peristiwa dan pengalaman. Hidup adalah sebuah pencarian kebenaran, kebaikan dan keindahan. Untuk maksud inilah maka kita membuat pilihan; untuk maksud inilah maka kita meragakan kebebasan kita, dengan maksud inilah-yakni dalam kebenaran, dalam kebaikan dan dalam keindahan-kita menemukan kebahagiaan dan sukacita.  Kita tidak boleh membiarkan diri diperdaya oleh orang-orang yang memandang kita semata-mata sebagai konsumen sebuah pasar, yang dijejali dengan aneka ragam kemungkinan, yang mengubah pilihan menjadi barang, kebaruan mengganti keindahan dan pengalaman sukyektif menggantikan kebenaran.</p>
<p><em><strong>(Persahabatan ‘on-line’ dan persahabatan riil)</strong></em></p>
<p>Keenam, Gagasan tentang persahabatan telah mendapat pemahaman  baru  oleh munculnya kosa kata <em>jaringan sosial digital</em> dalam beberapa tahun belakangan ini. Gagasan ini merupakan suatu pencapaian yang paling luhur dalam budaya manusia. Dalam dan melalui persahabatan, kita bertumbuh dan berkembang sebagai manusia. Karena itu,  persahabatan yang benar harus selalu dilihat sebagai  kekayaan  paling besar yang dapat dialami oleh pribadi manusia. Dengan ini, kita mestinya hati-hati memandang remeh gagasan atau pengalaman persahabatan. Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan ‘on-line’ mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga serta mereka  yang kita jumpai dalam keseharian di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi. Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi, maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial sehari-hari sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia.</p>
<p>Ketujuh, Persahabatan adalah kekayaan terbesar manusia, tetapi nilai ulungnya bisa hilang apabila persahabatan itu dipahami sebagai tujuan itu sendiri. Sahabat harus saling mendukung dan saling memberi dorongan dalam mengembangkan bakat dan pembawaan mereka serta memanfaatkannya demi pelayanan umat manusia. Dalam konteks ini, sungguh membanggakan bila jejaring digital baru beriktiar memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaring ini dapat mempermudah  bentuk-bentuk kerjasama antar manusia dari  konteks geografis dan budaya yang berbeda serta membuat mereka mampu memperdalam rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu, secara tegas kita harus menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaring serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang. Sungguh menjadi  tragedi masa depan umat manusia apabila sarana baru komunikasi  yang memungkinkan orang berbagi pengetahuan dan informasi dengan cara yang lebih cepat dan berdayaguna, tidak terakses oleh mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, atau apabila ia hanya membantu memperbesar kesenjangan yang memisahkan orang miskin dari jejaringan baru itu yang  justru dikembangkan bagi pelayanan sosialisasi manusia dan penyebaran informasi.</p>
<p><em><strong>(Pesan khusus untuk kaum muda: menginjil di dunia digital)</strong></em></p>
<p>Kedelapan, Saya bermaksud menyimpulkan pesan ini dengan menyampaikan secara khusus kepada orang muda katolik untuk mendorong mereka memberikan kesaksian iman dalam dunia digital. Saudara dan Saudari terkasih, Saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya teknologi komunikasi dan informasi. Pada awal kehidupan gereja, para rasul bersama murid-muridnya  mewartakan  kabar gembira tentang Yesus kepada dunia orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu, keberhasilan karya evangelisasi menuntut  perhatian yang seksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir  sehingga kebenaran Injil dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini, karya pewartaan Kristus  dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia jika teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna.</p>
<p>Kesimbilan, Kepada anda kalian, orang-orang muda, yang memiliki  hubungan spontan terhadap sarana baru komunikasi, supaya bertanggungjawab terhadap evangelisasi ‘benua digital’ ini.  Pastikan untuk mewartakan Injil  ke dalam dunia jaman sekarang  dengan penuh semangat. Kamu mengetahui kecemasan dan harapan mereka, cita-cita dan kekecewaan mereka.  Hadiah terbesar yang dapat kalian berikan kepada mereka adalah berbagi dengan mereka “kabar gembira” Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati umat manusia sedang haus akan sebuah dunia dimana kasih meraja,  dimana anugerah dibagikan dan dimana jati diri ditemukan dalam bentuk persekutuan yang saling menghargai.  Iman kita mampu menjawab harapan-harapan itu.  Semoga kamu menjadi bentaraNya! Ketahuilah, Bapa Suci memberkati anda dengan doa dan berkatnya</p>
<p><strong>Vatikan, 24 Januari 2009, pesta Santo Fransiskus de Sales</strong></p>
<p><strong><em>Paus Benediktus XVI</em></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=301&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/27/teknologi-baru-relasi-baru-memajukan-budaya-menghormati-dialog-dan-persahabatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Koalisi Pragmatisme Vs Koalisi Deontologisme</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/27/koalisi-pragmatisme-vs-koalisi-deontologisme/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/27/koalisi-pragmatisme-vs-koalisi-deontologisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 05:18:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Marinus W. (Artikel April, 2009)
 Pemilu legislatif 9 April lalu memberi banyak kesan. Untuk sebagian warga negara, pemilu ini dianggap berhasil, sesuai rencana, dan berlangsung damai, tertib. Kendati pun negara ini berada dalam situasi sulit, dimana rakyat masih banyak yang tidak bisa makan karena miskin, ternyata kita mampu menyelenggarakan pemilu legislatif yang memakan biaya triliunan rupiah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=298&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Marinus W. <em>(Artikel April, 2009)</em></p>
<p> Pemilu legislatif 9 April lalu memberi banyak kesan. Untuk sebagian warga negara, pemilu ini dianggap berhasil, sesuai rencana, dan berlangsung damai, tertib. Kendati pun negara ini berada dalam situasi sulit, dimana rakyat masih banyak yang tidak bisa makan karena miskin, ternyata kita mampu menyelenggarakan pemilu legislatif yang memakan biaya triliunan rupiah. Biaya sebesar itu pun tidaklah sia-sia. Biaya perlu, dan harus demi berlangsungnya pesta demokrasi yang lahir, berkembang, dan berdiri kokoh kuat sejak reformasi.</p>
<p>Di sisi lain, pemilu legislatif yang telah berlalu bukannya tanpa masalah. Masalah DPT <em>(Daftar Pemilih Tetap),</em> dugaan kecurangan oleh sejumlah partai politik peserta pemilu, ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja KPU (Komisi Pemilihan Umum) dalam menyelenggarakan pemilu, paling tidak memberi gambaran kepada kita bahwa pemilu memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Rakyat pun seolah-olah terbelah dalam menanggapi berbagai persoalan pasca pemilu legislatif 9 April lalu.<span id="more-298"></span></p>
<p>Yang menarik untuk dicermati adalah gerak-gerik para elit partai politik pasca pemilu legislatif. Kendati muncul ketidakpuasan karena <em>“kalah pemilu”,</em> juga merasa dicurangi oleh partai pemenang pemilu, namun diantara petinggi partai politik sendiri sudah muncul niat, sinyal untuk mengaku kalah. Mengaku kalah berarti menerima hasil pemilu. Di sini ada dua tanda-tanda para petinggi partai politik mengakui kekalahan partainya dalam pemilu. <strong><em>Pertama,</em></strong> semakin diintensifkannya komunikasi politik diantara elit partai politik dalam menjejaki koalisi, seperti yang dilakukan oleh blok PDI-P, Hanura, Gerindra, dan juga PPP, serta di blok lain adalah Partai Demokrat, PKS, PKB, PBB, dan partai GOLKAR yang masih gamang, belum mengambil sikap. <strong><em>Kedua,</em></strong> pengakuan beberapa petinggi partai politik akan kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu legislatif. Elit partai politik pun berlomba-lomba memberi ucapan selamat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang adalah ketua dewan pembina partai demokrat, seperti yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai GOLKAR Jusuf Kalla, yang langsung menelepon Presiden SBY dan memberi ucapan selamat.</p>
<p>Pertanyaan pun bermunculan seputar koalisi yang akan dibentuk pasca pemilu legilastif. Belajar dari pengalaman, koalisi yang dibentuk biasanya selalu mengarah ke pragmatisme politik para elit partai politik. Masalahnya, koalisi seperti ini bukannya membawa kebaikan, malah menimbulkan sejumlah masalah. Mungkinkah koalisi deontologisme mampu mengubah keadaan negeri ini?</p>
<p> <strong><em>Koalisi Pragmatisme</em></strong></p>
<p> Istilah pragmatisme sebetulnya hanya dikenal dalam ilmu filsafat, dan jarang diperbincangkan dalam ranah politik. Menurut pengertiannya, pragmatisme berarti aliran yang beranggapan bahwa kebenaran adalah apa yang bernilai praktis dalam pengalaman hidup manusia. Ia merupakan instrumen dalam pencapaian-pencapaian tujuan, manfaat (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, hlm. 877).  Maka, sesuatu dilakukan sejauh memberi manfaat, kegunaannya bagi saya atau kelompok-ku.</p>
<p>Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa para elite politik tak jarang terjebak dalam <strong><em>koalisi pragmatisme</em></strong>. Koalisi pragmatisme bararti koalisi yang dibangun berdasarkan manfaat, kegunaan untuk elite politik saja. Terbentuk sebuah koalisi bukanlah atas dasar kepentingan rakyat banyak, tetapi atas dasar kepentingan para petinggi partai politik peserta koalisi. Sasarannya tidak lain adalah kekuasaan semata, bagi-bagi jatah kursi menteri di kabinet. Tak heran, partai-partai yang sebelumnya sangat bertolak belakang baik asas, visi dan misi partai, dalam hitungan detik runtuh seketika. Hal itu terkondisikan oleh sikap elite partai politik yang lebih mengedepankan kekuasaan, kursi menteri ketimbang kepentingan rakyat banyak, misalnya partai-partai yang berasaskan religius seperti PKS, PPP yang akhirnya lebih memilih koalisi dengan partai demokrat (nasionalis) ketimbang partai yang se-asas. Bagi mereka figur SBY, yang adalah capres dari partai demokrat periode 2009-2014 sangat signifikan. Ide koalisi agamis-nasionalis pun bermunculan, yang sebetulnya didasarkan pada pragmatisme politik. Lalu seharusnya bagaimana?</p>
<p> <strong><em>Menuju koalisi Deontologisme</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong>Tak dipungkiri lagi bahwa selama ini para elite politik seringkali terjebak dalam koalisi pragmatisme yaitu atas dasar kepentingan, manfaat, guna bagi para petinggi partai politik. Itu ditandai dengan tawar-menawarnya berapa jumlah kursi kabinet yang didapat oleh partai politik peserta koalisi. Pengangkatan para menteri oleh presiden bukan lagi berdasarkan kebebasan, keahlian sang menteri, tetapi berdasarkan kesepakatan partai-partai peserta koalisi. Maka, para pembantu presiden seperti menteri kabinet sebagian besar titipan partai, yang adalah para petinggi partai anggota koalisi. Rakyat pun seolah-olah dipermainkan. Sebagian besar mentri di kabinet tidak bekerja secara optimal demi kesejahteraan rakyat. Maklum, para menteri tidak mempunyai keahlian di bidangnya. Mereka diangkat bukan berdasarkan visi dan misi strategis sang presiden dalam mewujudkan bangsa sejahtera tetapi atas dasar saran, titipan dari partai-partai. Akibatnya, bermunculan para menteri yang berwajah GATAL-GATAL <strong><em>(Gagal-gagal Total),</em></strong> dan para menteri yang bersikap, berperilaku GADO-GADO<em> <strong>(Gagal-gagal Doang).</strong></em> Mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk rakyat. Celakanya, malah terlibat korupsi.</p>
<p>Mengingat koalisi pragmatisme yang dipertontonkan oleh para elite partai politik ternyata tidak memberi keuntungan bagi rakyat, sudah saatnyalah pemerintahan yang akan datang beserta elite partai politik  perlu membuat sebuah gebrakan baru dalam perpolitikan negeri ini dengan membangun koalisi deontologisme.</p>
<p>Istilah deontologis berasal dari bahasa yunani, <strong><em>deon</em></strong> (keharusan, kewajiban). Jadi, secara harafiah istilah ini semacam teori tentang kewajiban (tugas). Ia menunjuk pada tanggung jawab, komitmen, perintah moral, dan gagasan mengenai kewajiban sebagai keharusan sosial (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, hlm.158).</p>
<p>Merujuk pada pengertian tersebut, maka koalisi deontologis berarti koalisi yang dibentuk oleh sejumlah partai politik atas dasar kesepatakan bersama. Dalam koalisi tersebut, setiap partai peserta koalisi merasa memiliki kewajiban, tanggung jawab, komitmen berdasar nilai moral dalam membangun pemerintahan yang kuat, kompeten. Dengan itu, konsekuensi apa pun yang terjadi dalam koalisi deontologis harus diterima dengan rendah hati, lapang dada oleh partai peserta koalisi.</p>
<p>Yang menarik bahwa dalam koalisi deontologis ini para pembantu presiden seperti menteri diangkat secara langsung, bebas, oleh presiden. Maka, para menteri tidak harus berasal dari partai peserta koalisi, tetapi lebih diutamakan profesionalisme, keahlian dalam bidang yang akan digeluti oleh sang mentri ketimbang kader-kader partai politik yang hanya mampu mengumbar janji tanpa aksi nyata.</p>
<p>Dalam hal ini, koalisi deontologis antara sejumlah partai politik lebih mengedepankan pencapaian kebaikan bersama seluruh rakyat Indonesia ketimbang bagi-bagi jabatan menteri di kabinet (koalisi pragmatisme). Koalisi yang terbangun merasa mempunyai tanggung jawab, pesan moral, kewajiban mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ia mempunyai keharusan untuk membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Baginya, rakyat bukan semata-mata sarana mencapai kekuasaan (pemilu), melainkan sebagai tujuan utama yaitu menyejahterakan rakyat. Seandainya koalisi pragmatisme mati, dan koalisi deontologis hidup, negeri ini akan berjalan ke arah yang benar. Semoga!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=298&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/05/27/koalisi-pragmatisme-vs-koalisi-deontologisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Vs Aktor Perubahan</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/perubahan-vs-aktor-perubahan/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/perubahan-vs-aktor-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Marinus Waruwu
 
            Tak disangkal lagi bahwa tema perubahan (change) di abad-21 ini telah menjadi tema yang sangat laku, magis, dan mampu menyihir publik agar beralih ke tokoh-tokoh muda, progresif, terbuka, berpandangan visioner akan kesejahateraan rakyat. Tak heran dengan label perubahan ini juga, beberapa tokoh muda dunia berhasil menjadi orang no.1 di negerinya masing-masing, misalnya di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=294&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><img class="alignright size-full wp-image-296" title="baku" src="http://niasbaru.files.wordpress.com/2009/03/baku.jpg?w=195&#038;h=213" alt="baku" width="195" height="213" />Marinus Waruwu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tak disangkal lagi bahwa tema perubahan <em>(change)</em> di abad-21 ini telah menjadi tema yang sangat laku, magis, dan mampu menyihir publik agar beralih ke tokoh-tokoh muda, progresif, terbuka, berpandangan visioner akan kesejahateraan rakyat. Tak heran dengan label perubahan ini juga, beberapa tokoh muda dunia berhasil menjadi orang no.1 di negerinya masing-masing, misalnya di Amerika Serikat, Barack Obama dengan slogan: <em>Yes, We Can Change</em>, hanya dalam sekejab saja karier politiknya menanjak drastis. Ia pun berhasil menjadi orang no.1 di negeri adi daya itu. Selain di Amerika, tema-tema perubahan juga diusung oleh tokoh-tokoh muda seperti PM Abishit di Thailand, Presiden Ahmadinejad di Iran, dan terakhir di Madagaskar oleh pemimpin oposisi, yang kemudian menjadi Perdana Menteri Yaitu Andry Rajoelina dan lain-lain. Tentu sikap rakyat yang cenderung lebih memilih tokoh-tokoh muda bukan tanpa alasan. Krisis ekonomi, ketidakstabilan politik dalam negeri akibat tekanan internasional maupun tekanan dari dalam negeri sendiri, kemiskinan yang semakin bertambah, perilaku para elite politik yang cenderung pragmatis-hedonis ketimbang menjadi tulang punggung masyarakat dalam mewujudkan negara sejahtera <em>(welfare state)</em> semakin menyadarkan publik pada umumnya untuk lebih memilih tokoh-tokoh yang baru muncul kemarin sore, namun menjanjikan untuk membawa sebuah perubahan <em>(change)</em> di masa depan. Maka muncullah istilah utopia masyarakat akan perubahan itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Utopia perubahan seringkali diartikan dengan impian akan terjadinya perubahan di masa depan. Ia menunjuk ke masa yang akan datang dimana hidup yang kita alami kini, yang penuh dengan penderitaan <em>(suffering),</em> penolakan <em>(refusal),</em> dosa <em>(sin)</em> suatu ketika akan berakhir dan digantikan oleh situasi di mana tema-tema perubahan terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Maka tidak heran bila tema perubahan itu selalu menjadi harapan <em>(expectation),</em> tumpuan masyarakat untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Namun, slogan tokoh-tokoh muda akan perubahan itu seringkali menjadi bahan tertawaan kaum elit politik, kaum mapan, kaum tua. Akan tetapi slogan perubahan itu sendiri justru mendapat tempat di hati masyarakat bawah. Tokoh-tokoh muda seperti di Amerika, Thailand, dan Madagaskar, dll telah membuktikannya.<span id="more-294"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dalam sejarah manusia, para aktor perubahan seringkali menjadi bahan tertawaan kaum mapan terutama elit politik dan juga masyarakat pada umumnya. Mereka menjadi bahan tertawaan justru karena ide-ide mereka biasanya sangat berlawanan dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya khususnya kaum elit pemerintahan. Mereka dianggap terlalu idealis, tidak realistis. Mereka seolah-olah ingin menggenggam awan padahal mereka tidak pernah berhasil mendapatkannya. Mereka hanya bisa melihat dan bermimpi tentang sesuatu tetapi mereka tidak mampu untuk mewujudkannya. Mungkin saja ini hanyalah pandangan orang-orang yang pesimis akan tema-tema perubahan yang diusung oleh aktor-aktor perubahan. Namun perlu diingat juga bahwa para aktor perubahan biasanya rela mengorbankan segala harta yang dimiliki termasuk jiwa dan raga mereka demi mencapai perubahan dan mempertahankan slogan-slogan perubahan itu sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dalam sejarah peradaban manusia sejak jaman axial hingga abad 21 ini ada banyak aktor perubahan yang rela mengorbankan dirinya demi perubahan itu. <strong>Sokrates</strong>, filsuf dan guru kebijaksanaan itu bersedia kehilangan hidupnya di dunia ini demi kebenaran yang diyakininya. Bahwa sebagai guru kebijaksanaan, Sokrates mengajarkan manusia agar menjadi pribadi yang berjiwa <span> </span>besar. Ini adalah tema perubahan dari guru kebijaksanan. Sayang, ajarannya yang memang berlawanan dengan kebiasaan orang-orang Yunani pada umumnya ketika itu menjadi sebab ia mengorbankan dirinya demi mempertahankan keyakinannya dengan meminum racun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span><strong>Marthin L. King,</strong> pada tahun 1960-an dengan gagah beraninya mengumandangkan tema perubahan dengan slogan “persamaan hak ras kulit putih dan kulit hitam Amerika”. Padahal pada saat itu, kebencian dan perlakukan semena-mena pemerintahan ras kulit putih terhadap ras kulit hitam telah membudaya, tidak dapat digugat lagi. Dan itu tidak terlepas dari rasa superior ras kulit putih terhadap ras kulit hitam. Selain itu, identitas budak yang melekat pada diri orang-orang kulit hitam menjadikan mereka merasa lebih rendah dibawah ras kulit putih yang superior. Kendati telah membudaya, bahkan tidak dapat digugat lagi, namun Marthin L. King maju ke front terdepan untuk memperjuangkan tema perubahannya yaitu persamaan hak. Sayang Ia mati terbunuh oleh orang-orang yang benci akan nilai-nilai kemanusiaan. Ia pun menjadi kurban persembahan untuk kebebasan, persamaan hak dengan merelakan jiwa dan raganya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Siapa yang tidak mengenal <strong>John F. Kennedy?</strong> Di jamannya, ia dikenal sebagai seorang yang humanis, orator ulung, pemimpin muda kharismatis, pemikir kenegaraan, dan mempunyai pengaruh besar dalam percaturan politik internasional. Slogan terkenalnya adalah <em>“Change is the law of life”.</em> Namun nasibnya tidak jauh berbeda dengan Marthin L. King. Ia hanya memerintah selama tiga tahun karena mati terbunuh oleh orang-orang yang tidak senang dengan tema-tema perubahannya. Ia mati, dan menjadi kurban persembahan bagi perubahan. Ia mengorbankan nyawanya demi cintanya akan kemanusiaan manusia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Pada tahun 1998, <strong>para mahasiswa</strong> di seluruh Indonesia secara serentak menyerukan reformasi dalam rangka mencapai perubahan itu. Mereka berbondong-bondong ke Ibu Kota Republik Indonesia untuk memimpin gerakan demonstrasi demi impian akan perubahan yang di dalamnya terselubung tema-tema kebebasan, demokrasi, dan juga kehidupan yang layak sebagai warga negara. Kendati para mahasiswa ini, yang adalah aktor dari perubahan mampu mencapai tujuannya, namun mereka tidak mendapatkannya dengan mudah. Diantara mereka pun banyak yang menjadi korban kekerasan hingga tewas, tentu juga banyak yang diculik. Dalam rangka perubahan tersebut, para mahasiswa sejati ini mengorbankan jiwa dan raganya demi tema perubahan: kebebasan, demokrasi, tegaknya hukum, dan lain-lain. <span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Selain kasus-kasus diatas, ada banyak juga kasus lain yang membuktikan bahwa memperjuangkan, menerapkan, mempertahankan tema perubahan dengan segala aspeknya tidaklah mudah. Sebab pada dasarnya, tema perubahan bukanlah semacam khotbah, cerita yang tak berisi, atau janji-janji yang tak terealisasi dalam kehidupan nyata. Perubahan adalah sebuah harapan akan perubahan hidup yang sungguh-sungguh nyata. Maka pengorbanan diri dari sang aktor perubahan adalah mutlak ada. Demi impian akan ide-ide perubahan itu sendiri, para aktor perubahan bersedia kehilangan segalanya baik harta, bahkan jiwa dan raga. Tujuannya mencapai kehidupan yang lebih baik, dan berpihak kepada rakyat.<span>  </span>Sokrates sang guru kebijaksaan itu, Marthin L. King, John F. Kennedy, , para mahasiswa, dan juga pejuang HAM Munir adalah orang-orang yang telah mencapai integritas diri sepenuhnya. Mereka adalah aktor-aktor perubahan yang bersedia kehilangan jiwa, raga demi perubahan itu. Bagaimana dengan para elit politik kita di negeri ini????<span style="font-size:16pt;font-family:Abbey-Medium;"></span></span></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/294/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=294&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/perubahan-vs-aktor-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://niasbaru.files.wordpress.com/2009/03/baku.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tubuh-mu pun Istana Jiwamu</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/tubuh-mu-pun-istana-jiwamu/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/tubuh-mu-pun-istana-jiwamu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Marinus Waruwu
 
Rumah! Kalau diartikan secara harafiah berarti tempat untuk beristirahat, tidur, tempat berlindung. Rumah juga dapat diartikan sebagai tempat untuk melakukan hal-hal positif misalnya tempat untuk mengembangkan diri, membangun diri yang berkualitas, kompoten. Namun hal itu hanya dapat tercapai jika pemilik rumah sungguh-sungguh menciptakan suatu suasana yang kondusif, nyaman untuk didiami sehingga orang-orang yang mendiaminya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=290&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Marinus Waruwu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="FI">Rumah! </span>Kalau diartikan secara harafiah berarti tempat untuk beristirahat, tidur, tempat berlindung. Rumah juga dapat diartikan sebagai tempat untuk melakukan hal-hal positif misalnya tempat untuk mengembangkan diri, membangun diri yang berkualitas, kompoten. Namun hal itu hanya dapat tercapai jika pemilik rumah sungguh-sungguh menciptakan suatu suasana yang kondusif, nyaman untuk didiami sehingga orang-orang yang mendiaminya pun terasa nyaman, damai. Maka istilah rumah sebagai istana akan terwujud bila pemilik rumah dapat menciptakan suasana kondusif dan nyaman untuk didiamin dalam rumah tersebut.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Sayang! Alangkah menyedihkan jika sebuah rumah sarang dengan aktivitas negatif misalnya tempat untuk merencanakan kejahatan, tempat untuk bersekongkol atau tempat untuk mencari rejeki dari hal-hal yang tidak halal, misalnya rumah dimanfaatkan sebagai tempat WTS, aborsi, judi, klab malam, atau sebagai tempat warung remang-remang, dll. </em><em><span lang="FI">Maka dengan fungsinya yang seperti ini rumah akan menjadi tidak nyaman untuk didiamin oleh orang lain. Setiap orang yang berkunjung ke sana akan selalu merasa tidak nyaman karena takut jika secara tiba-tiba polisi datang dan merajia setiap pengunjung dalam<span>  </span>rumah.. Dengan itu, rumah ini bukan lagi menjadi berkah bagi orang lain, sesama. Tetapi rumah ini beralih fungsi sebagai pembawa bencana. Bukan hanya bagi pemilik rumah tetapi semua orang yang terkait dengan rumah tersebut. Rumah ini pun bukan lagi sebagai istana yang nyaman, damai tetapi sebagai sarang penyamun seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil minggu ini.<span id="more-290"></span></span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><em><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="FI">Cerita di atas hanyalah sebuah ilustrasi singkat dari Injil <em>Yohanes 2:13-15</em>. </span>Dalam Injil Yohanes ini mengisahkan tentang <em>penyucian bait Allah oleh Yesus</em>. Pertanyaannya adalah kenapa Yesus menyucikan Bait Allah dan bukannya setiap hari para petugas <em>cleaning services</em> datang ke sana untuk membersihkannya, yang biasanya di suruh oleh orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat? Dalam konteks Injil Yohanes ini, penyucian Bait Allah berarti membersihkannya dari sarang penyamun, para penjual dan pedagang serta para penukar uang dan emas. Suasana ini membuat ramai karena sebelumnya bait Allah terkesan sepi, jarang pengunjung. Tetapi secara tiba-tiba mendadak ramai, banyak pengunjung karena telah beralih fungsi, yang sebelumnya tempat berdoa, malah diganti menjadi tempat berjualan dan melakukan aktivitas duniawi. Barang-barang dagangan pun laku dengan cepatnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Melihat suasana yang tidak terkendali tersebut, Yesus pun berontak. Ia mengusir mereka semua dan berkata: ”<em>Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi</em> <em>tempat berjualan</em>” Tidak berhenti di situ. Malah orang-orang ini meminta tanda dari Yesus sehingga mempunyai hak untuk mengusir mereka dari Bait Allah. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ketika saya membaca lalu merenungkan kisah Injil ini dengan tema pokoknya, <em>penyucian Bait Allah oleh Yesus</em> justru memaksa saya untuk masuk ke tempat yang lebih dalam dan merenungkan makna sebenarnya. Ia memaksa saya mencari apa sebetulnya yang mau disampaikan. Dalam permenungan saya selanjutnya, di sini saya menemukan satu hal yang mau disasar yaitu Bait Allah. Dalam kisah Injil ini ”Bait Allah” sangat sentral. Di sini Bait Allah saya identikkan dengan diri <em>(self).</em> Tentu saja diri, tubuh <em>(soma)</em> tempat berdiamnya jiwa <em>(psiche)</em> tidak terbebas dari dosa, kesalahan. Itu karena <em>soma </em>hidup dalam dunia nyata <em>(reality)</em> dan selalu bersangkut paut dengan dunia sekitarnya. <em>Soma</em> yang tidak mempunyai kesalahan, dosa, bukanlah soma dan tidak hidup dalam dunia nyata kita. Namun walaupun <em>soma </em>selalu berurusan dengan dosa, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk membersihkannya, menyucikannya. Justru melalui dosa, soma dapat mencai kesempurnaannya. Hal itu bisa dilakukan dengan perubahan sikap, mengubah <em>mind y</em>ang kotor. Dan sesegera mungkin mengisinya dengan <em>positif thingking</em>, atau bahkan bila perlu mengisinya dengan <em>optimal thingking</em> yang menurut para motivator dunia, pemikiran ini dapat mengubah sikap seseorang dalam bertindak sehingga <em>negative thingking</em> yang seringkali menyebabkan dosa bisa dihindarkan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span><span> </span>Maka dalam hal ini saya menemukan bahwa penyucian diri ternyata bukan hanya melulu melalui pengakuan dosa dihadapan seorang imam tetapi penyucian diri bisa juga dilalui dengan cara mengubah mind yang memang berpengaruh kuat pada sikap. Untuk mengubah <em>mind-set</em> ini perlu usaha keras misalnya dengan membaca buku-buku rohani, kitab suci, atau buku-buku yang dirasa dapat mengubah pikiran negative <em>(negative thingking),</em> yang seringkali menyebabkan dosa menjadi pikiran positif <em>(positive thingking).</em> Pada tahap positive thingking inilah, manusia bisa merasa nyaman dengan dirinya, bahwa hidup ini tidak lain adalah sebuah anugerah istimewa untuk orang lain <em>(others)</em>, hidup yang dapat menjadi pahlawan untuk yang lain <em>(sense of hero).</em> Maka, orang yang mencapai titik ini bisa merasakan apa itu kebermaknaan hidup <em>(sense of meaning).</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Orang-orang yang memiliki <em>sense of hero, sense of others, sense of meaning</em> adalah orang-orang yang telah mencapai titik puncak penyucian diri. Mereka pun merasa nyaman dengan tubuhnya, dengan dirinya sendiri karena segala sesuatu dilakukan berdasarkan nilai-nilai hidup yang positif, dan punya orientasi hidup yang jelas. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Maka dalam akhir renungan ini saya mau menegaskan kembali akan pentingnya penyucian tubuh, dan pikiran. Di dalam pikiran yang sehat, yang positif terdapat tubuh yang sehat. Jika pikiran sakit, penuh dengan dosa maka tubuh pun akan sakit, penuh dengan dosa juga. <em>Sebaliknya, jika pikiran penuh dengan hal-hal yang positif, punya orientasi hidup yang jelas, penuh dengan ayat-ayat dan perkataan-perkataan kitab suci, maka tubuh pun akan terasa segar, nyaman dan damai. Jiwa pun akan merasa nyaman tinggal dalam tubuh. Dengan itu, tubuhmu pun akan menjadi istana jiwa-mu&#8230;.Itulah yang dimaksud oleh Yesus. Tubuh-mu adalah Bait Allah minimu!</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/290/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=290&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/tubuh-mu-pun-istana-jiwamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hal Mengundang Tuhan &amp; Pertobatan</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/hal-mengundang-tuhan-pertobatan/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/hal-mengundang-tuhan-pertobatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gema Gereja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Marinus Waruwu
 
       Dalam Injil Mrk 9:2-13, berkisah tentang peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung. Peristiwa tersebut berawal ketika Yesus membawa tiga murid-Nya yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke sebuah gunung. Setelah sampai diatas gunung, tiba-tiba rupa Yesus berubah. Pakaian-Nya putih mengkilat. 
            Dalam peristiwa yang mengagumkan ini, nampak juga kepada para murid nabi Elia dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=288&subd=niasbaru&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Marinus Waruwu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:CenturySchoolbook;"><span>       </span></span><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam Injil <em>Mrk 9:2-13</em>, berkisah tentang peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung. Peristiwa tersebut berawal ketika Yesus membawa tiga murid-Nya yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke sebuah gunung. Setelah sampai diatas gunung, tiba-tiba rupa Yesus berubah. Pakaian-Nya putih mengkilat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dalam peristiwa yang mengagumkan ini, nampak juga kepada para murid nabi Elia dan Musa. Kedua nabi besar tersebut ada yang disebelah kanan Yesus dan ada yang disebelah kiri. Petrus pun berkata dengan antusias kepada Yesus: <em>Guru betapa bahagianya kami di tempat ini. Biarlah kami</em> <em>mendirikan tiga kemah. Satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu</em> <em>untuk Elia</em>. Petrus mengatakan hal ini dengan penuh ketakutan karena seolah-olah mereka sedang melihat penampakkan yang luar biasa. Dan memang itu yang sedang terjadi.<span id="more-288"></span><span>      </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dalam kisah Injil di atas ada banyak hal yang dapat menjadi bahan permenungan kita bersama. Ia pun memaksa kita untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam bahwa ada apa gerangan dibalik peristiwa aneh tersebut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span><span> </span>Peristiwa ini mengingatkan saya akan dua hal. <em>Pertama,</em> tentang hal mendirikan kemah. <em>Kedua,</em> berkaitan dengan kebangkitan dari antara orang mati. Hal mendirikan kemah tidak lain berasal dari mulut seorang murid, yang bernama Petrus. Dia hanyalah manusia biasa seperti para murid lainnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Saat saya merefleksikan dan bertolak lebih dalam lagi, saya diingatkan akan satu hal bahwa hal mendirikan kemah sebenarnya tidak hanya melulu berkaitan dengan sesuatu hal yang terlihat secara fisik. Tidaklah sungguh kemah atau pondok para nabi diatas gunung. Bukan kemah benaran. Tetapi kemah di sini lebih menunjuk ke <em>hati</em> manusia. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Allah tinggal dan bersemayam dalam hati manusia bila manusia mempunyai kemauan, niat yang baik untuk mengundang Tuhan dan memberi tempat bagi Tuhan di dalam hatinya. Jadi, di sini hal mendirikan kemah berarti hal mengundang Tuhan yang disertai dengan niat yang tulus untuk tinggal dalam hati manusia. Hal mengundang Tuhan timbul sebagai tanggapan manusia atas iman dan wahyu dari Allah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Hal kedua tentang kebangkitan dari antara orang mati. Memang saat itu, Yesus sungguh bangkit dari antara orang mati. Ia pun memperoleh kemuliaan di surga bersama dengan Bapa-Nya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kebangkitan dalam permenungan saya berarti pertobatan. Kembalinya si anak hilang kepada ayahnya menunjukkan bahwa anak yang hilang mempunyai niat yang tulus untuk bertobat. Ia pun kembali kepada ayahnya. Ini sepenggal perumpaan dari Yesus kepada para murid dan orang banyak.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Hal kebangkitan tidak melulu bangkit dari kematian seperti yang dialami Yesus. Tetapi makna kebangkitan ini mempunyai relevansi signifikan dalam hidup beriman kristiani. Maka dalam renungan saya ini, istilah kebangkitan, saya lebih melihatnya dari sisi pertobatan hati manusia. Pertobatan dalam arti apa? Manusia sering kali terjebak dalam kubangan dosa. Sering kali ia menjauh dari Tuhan dan berbalik kepada mamon yaitu hal-hal yang berbau duniawi semata.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Namun Allah adalah Allah yang maha pengampun. Walaupun manusia sering kali mengkhianati kasih-Nya, Ia selalu setia. Dalam perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang, ayah anak yang tersebut tidak balas dendam, atau menyingkirkan anaknya yang telah lama hilang. Tetapi ia datang kepada anaknya dan memeluknya dengan penuh kasih. Ia pun berbahagia dan mengajaknya ke perjamuan makan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Allah pun seperti itu. Allah tetap sabar, menunggu manusia untuk bertobat. Ia bukan pendendam. Ia adalah Allah yang pengampun dan yang penuh belas kasih. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Karena itu, kita manusia yang seringkali berbuat salah baik dalam kata maupun tindakan diajak untuk datang kepada Bapa yang disertai dengan pertobatan. Bertobat berarti merubah kebiasaan lama. Dan menggantikannya dengan kebiasaan baru. Bagaimana dengan anda? Semoga! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/288/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&blog=1812783&post=288&subd=niasbaru&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2009/03/31/hal-mengundang-tuhan-pertobatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>