<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>NIAS BARU</title>
	<atom:link href="http://niasbaru.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://niasbaru.wordpress.com</link>
	<description>Nias Bangkit, Nias Berjuang, Nias Bertindak, Nias Sejahtera!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 07:28:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='niasbaru.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>NIAS BARU</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://niasbaru.wordpress.com/osd.xml" title="NIAS BARU" />
	<atom:link rel='hub' href='http://niasbaru.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Fegero: Ungkapan Kemurahan Hati Masyarakat Nias</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/11/04/fegero-ungkapan-kemurahan-hati-masyarakat-nias/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/11/04/fegero-ungkapan-kemurahan-hati-masyarakat-nias/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 06:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[“He ama-inagu si’a haya’e duria ni’odöra ndra’amagu nomangawuli ira moroi khö ndra sibayagu” (‘Bapak-Ibu sulung ini makanan yang dibawa orangtuaku, mereka baru saja pulang bertamu dari pamanku’). Itulah salah satu kalimat jika seorang anak mengantarkan fegero kepada tetangga, seperti kepada keluarga Bapak Sulung, atau kepada tetangga lainnya. Fegero berarti tindakan membagikan makanan kepada tetangga. Masyarakat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=362&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>“He ama-inagu si’a haya’e duria ni’odöra ndra’amagu nomangawuli ira moroi khö ndra sibayagu” (‘Bapak-Ibu sulung ini makanan yang dibawa orangtuaku, mereka baru saja pulang bertamu dari pamanku’). Itulah salah satu kalimat jika seorang anak mengantarkan fegero kepada tetangga, seperti kepada keluarga Bapak Sulung, atau kepada tetangga lainnya.</p>
<p>Fegero berarti tindakan membagikan makanan kepada tetangga. Masyarakat Nias yang masih setia pada kearifan lokalnya, biasanya tidak akan menikmati sendiri makanannya. Misalnya, jika Keluarga Ama Melvin Gulö berhasil menangkap banyak ikan ketika memancing di sungai, maka setelah dimasak, Ama Melvin dengan sendirinya akan memberi fegero kepada tetangganya. Demikian pula ketika Ama Melvin memanen padinya. Dalam tradisi Nias, mencicipi hasil panen padi yang pertama tidak dilakukan sembarangan. Ada ritual tertentu, yakni mengumpulkan semua anggota keluarga, lalu kaum perempuan bersama-sama menumbuk padi menjadi beras dan dimasak secara bersama-sama. Anak babi atau ayam akan disembelih sebagai lauk pauk. Sebelum santap bersama mereka berdoa syukur kepada Lowalangi ((Dewa Langit, yang dijadikan sebagai sebutan Tuhan/Allah dalam Kristianitas). Ama Melvin pun dengan kesadaran sendiri akan memberi fegero kepada tetangganya, sekaligus memberitahukan kepada tetangganya bahwa mereka sudah memanen padinya.<span id="more-362"></span></p>
<p>Suatu saat, Ama Melvin bersama istrinya, misalnya, pergi mengunjungi mertuanya dan dalam kesempatan itu mertuanya menyambutnya dengan menyembelih anak babi untuk lauk-pauknya (diwo). Jika diwo Ama Melvin itu tidak habis, maka ketika Ama Melvin pulang ke rumahnya, mertuanya biasanya mengikutsertakan kepada Ama Melvin; diwo yang dibawa itu disebut ni’odöra (yang disisakan, yang dibawa pulang). Sesampainya di rumah, Ama Melvin memanggil saudaranya dan mereka bersama-sama membagi ni’odöra itu. Ama Melvinpun tetap memperhitungkan tetangganya dengan memberi fegero kepada mereka.</p>
<p>Tradisi fegero ini merupakan kearifan masyarakat Nias yang sangat dalam nilainya. Tradisi fegero merupakan warisan nenek moyang orang Nias yang patut dipelihara. Dalam tradisi fegero tersebut menunjukkan bahwa orang Nias tidak egois, tetapi sungguh murah hati (niha sebua fa’omasi, niha sebua böwö). Tradisi fegero merupakan tradisi kemurahan hati masyarakat Nias. Melalui tradisi fegero, masyarakat Nias menyatakan dirinya sebagai masyarakat yang membina relasi personal-komunal, memiliki ikatan batin satu sama lain. Masyarakat Nias tidak hanya membina persaudaraan hampa tetapi persaudaraan penuh tindakan nyata. Melalui tradisi fegero, orang Nias menunjukkan bahwa mereka memiliki prinsip: “makananku makananmu dan makananmu makananku.”</p>
<p>Lebih jauh daripada itu, sebenarnya, dalam tradisi fegero ini masyarakat Nias bertindak nyata untuk saling membagikan anugerah berkat (howu-howu) yang mereka terima sebagai rasa syukur mereka atas anugrah itu. Itu sebabnya, kalau Ama Melvin menyembelih anak babinya, maka ia memberi fegero kepada tetangganya. Bagi Ama Melvin, anak babi itu adalah anugerah dari Lowalangi. Anugerah yang diterima tidak hanya dinikmati seorang diri saja, atau oleh satu keluarga saja.</p>
<p>Namun kita mesti akui, tradisi suatu masyarakat adat akan berubah seiring berubahnya zaman. Selain itu, perubahan kesadaran masyarakat pada makna tradisi akan membuat tradisi berubah pula. Demikian juga tradisi fegero ini yang dari zaman ke zaman mengalami erosi. Tidak hanya itu, tradisi suatu suku bangsa akan semakin bernilai luhur jika disertai niat tulus. Tadinya, dalam tradisi fegero disertai niat tulus, ungkapan kemurahan hati, akan tetapi kemudian disusupi oleh niat yang buruk. Tidak heran jika, sebut saja keluarga Ama Safaito membenci tetangganya Ama Sanaögö, lalu Ama Saifaito memberi fegero kepada Ama Sanaögö, tetapi fegero itu sudah “dibumbui” racun mematikan. Pada zaman dahulu, ada banyak masyarakat Nias yang meninggal karena diracun tetangganya sendiri melalui fegero ini. Tentu saja kasus racun semacam inilah membuat tradisi fegero mengalami erosi. Kasus racun ini &#8211; yang merupakan tindakan segelintir orang &#8211; juga yang membuat keluarga tidak memakan begitu saja fegero dari tetangga yang pernah konflik dengannya. Bisa saja fegero yang mereka terima itu dipotong dulu lalu diberi kepada anjing untuk melihat apakah anjing ini tidak mati, tidak sakit, setelah memakan fegero tersebut. Jika anjing itu tidak sakit/mati, maka fegero itu baru aman untuk dimakan. Karena kasus racun ini pula, maka ada tetangga yang tidak mau memakan sama sekali fegero dari keluarga tertentu yang pernah berkonflik dengannya; fegero yang ia terima pasti ia buang!</p>
<p>Dari paparan di atas, suatu tradisi akan terpelihara dengan baik, jika manusia pelaksana tradisi itu sungguh menghayati nilai di balik tindakan tradisi itu sendiri. Niat tulus semestinya selalu menyertai tradisi fegero. Sebab tradisi suatu suku bangsa akan semakin bernilai luhur jika disertai niat tulus (fa’ahele-hele dödö). (</p>
<p>® Postinus Gulö, adalah lulusan S-1 Ilmu Filsafat dan S-2 Ilmu Teologi Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/362/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=362&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/11/04/fegero-ungkapan-kemurahan-hati-masyarakat-nias/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mantan Bupati Nias Selatan Jadi Tersangka Kasus Penyuapan</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/04/27/mantan-bupati-nias-selatan-jadi-tersangka-kasus-penyuapan/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/04/27/mantan-bupati-nias-selatan-jadi-tersangka-kasus-penyuapan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Apr 2011 14:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Aktual Nias]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Kompas – Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan mantan Bupati Nias Selatan Fahuwusa Laia sebagai tersangka dugaan suap terkait dengan pencalonan dirinya kembali dalam pemilihan umum kepala daerah. Ia diduga berusaha menyuap penyelenggara negara senilai sekitar Rp 100 juta. ”KPK menetapkan peningkatan kasus ini menjadi penyidikan dengan tersangka FL, mantan Bupati Nias Selatan,” kata Johan Budi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=357&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, Kompas – Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan mantan Bupati Nias Selatan Fahuwusa Laia sebagai tersangka dugaan suap terkait dengan pencalonan dirinya kembali dalam pemilihan umum kepala daerah. Ia diduga berusaha menyuap penyelenggara negara senilai sekitar Rp 100 juta.</p>
<p>”KPK menetapkan peningkatan kasus ini menjadi penyidikan dengan tersangka FL, mantan Bupati Nias Selatan,” kata Johan Budi SP, Juru Bicara KPK, di Jakarta, Selasa (26/4).</p>
<p>Menurut Johan, ”Tersangka diduga telah melakukan tindakan penyuapan terhadap seorang penyelenggara negara dengan maksud supaya penyelenggara negara tersebut melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya.”</p>
<p>Berdasarkan hasil penyelidikan ditemukan bahwa pada sekitar Oktober 2010 tersangka Fahuwusa mendatangi seorang penyelenggara negara yang berwenang dalam hal pemilihan kepala daerah di wilayah Sumatera Utara. Tersangka meminta bantuan terkait dengan pencalonan kembali dirinya sebagai Bupati Kabupaten Nias Selatan untuk periode 2011-2016.<span id="more-357"></span></p>
<p>Atas perbuatannya, Fahuwusa disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat 1 atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.</p>
<p>Johan menyatakan, KPK mendalami kasus ini setelah penyelenggara negara yang disuap melapor ke KPK. ”Setelah mempunyai bukti yang cukup, kami dapat menaikkan status ini menjadi tersangka,” ujar Johan.</p>
<p>Menurut Johan, KPK tengah mengembangkan kasus mengenai penyelenggara negara yang diduga menerima uang dalam kasus ini. ”Yang jelas ada yang diberikan uang oleh Fahuwusa Laia dalam rangka untuk melakukan sesuatu, nilainya sekitar Rp 100 juta,” tutur Johan.</p>
<p>Menurut anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara, Turunan Gulo, sebelum mencalonkan diri menjadi Bupati Nias Selatan 2006-2011, Fahuwusa berkarier sebagai jaksa. Bahkan beberapa kali Fahuwusa menjabat sebagai kepala kejaksaan negeri. ”Termasuk pernah menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Nias. Setelah menjadi Bupati Nias Selatan, Fahuwusa kemudian menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Nias Selatan,” kata Turunan. (RAY/BIL). <em>Sumber: Kompas.Com</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=357&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/04/27/mantan-bupati-nias-selatan-jadi-tersangka-kasus-penyuapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HEZA I`OTARAI SOI NONO NIHA?</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/04/10/heza-iotarai-soi-nono-niha/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/04/10/heza-iotarai-soi-nono-niha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 03:29:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Bakha ba mbuku Famareso Ngawalö Huku Föna Awö Gowe Nifasindro ba Danö Nias, nifa’anö Dr M.G. Thomsen, tete 10, imane wanguma’ö: Heza i’o`tarai Soi Nono Niha. Balö tatu nasa irugi ma’öchö. Hasinahö dödö zi so. Si ndruhu ha sambua soi ira, si no faehu ba soi tanö bö`ö simane Batak, Aceh, Minangkabau ba tanö bö’ö [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=348&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bakha ba mbuku <strong><em>Famareso Ngawalö Huku Föna Awö Gowe <a href="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/04/old-soldier.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-349" title="Old Soldier" src="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/04/old-soldier.jpg?w=187&#038;h=300" alt="" width="187" height="300" /></a>Nifasindro ba Danö Nias</em></strong>, nifa’anö Dr M.G. Thomsen, tete 10, imane wanguma’ö: Heza i’o`tarai Soi Nono Niha. Balö tatu nasa irugi ma’öchö. Hasinahö dödö zi so. Si ndruhu ha sambua soi ira, si no faehu ba soi tanö bö`ö simane Batak, Aceh, Minangkabau ba tanö bö’ö nia na, he dali ngawalö huku ba hikaya, he dali dandratandra mboto ba he dali li….</p>
<p>Ba no tatu sa’atö wa fao Soi Nono Niha ha gangowuloa Soi Indonesia nifotöi <em>Altvoiker Indonesia</em>, eluaha nia Soi Sagatua, me oroma göi zi fachili- chili tandra ba mbotora, he huku ba he li, Ha sara dödö ndra <em>ahli etnologi</em> fefu wa soi andre sawu’a moroi ba danö Tionghoa Raya simumalö ba Asia Tenggara ba ginötö ± sarangahönö fache döna wa’atumbu Keriso.</p>
<p>Molo`ö DR. Marshall ba mbuku nia <em>Metallur-gieund Frube Besiedlung Indonesiens (1968)</em>, itutunö na dali wa mare so nia niha sawu’a andrö, ba no to’ölö ira sa’ae monowi ba wananö fache, mangambuchi si’öli, ma mözi ana’a ba mananö ohi bamo gowi. No so göi ba gotaluara zamasindro gowe molo`ö hukura. Te no f’ao Nono Niha ba gotalua soi sagawu’a andrö. Me’ ofeta ira ba Hulo Niha (he lö ato ira), ba labörötaigö wombabaya halöwöra molo`ö si no to`ölö ira ba danö ni’otaraira.</p>
<p>Simanö göi molo’ö F’.M. Schnitger bacha ha mbuku nia Fogetten Kingdoms, ha niha zi fachili-chili ba huku Nono Niha (famasindro gowe sifachai ba gowasa) ya`ia da`ö huku Niha Naga ba Khassi si so ba danö Assam – Burma. Molo`ö si so ba dödö nia, zi hasambua naha ma tanö mege la`otarai soi sidombua andrö.<span id="more-348"></span></p>
<p><strong>Fanutunö Zatua</strong></p>
<p>Molo’ö fanutunö zatua Nono Niha föna ha niha mböröta niha ba danöda. Me lö na sa la’ila manura ba ha faoma li ngawalö nidunödunö gofu hadia ia chöra. Duma-duma nia, si mane hikaya, hoho, hada ba gorahua ma ba gowuloa, huku ba mbanua.</p>
<p>Börö me tohare Niha Ulandro ba he goi Zending Geremani ni borotaigö wama’anö ni’ombacha’ö ma nirongo-rongora. La fa’anö ba mbuku. Börö me lö ha’uga oya ni’ilara li ba he göi huku Nono Niha, fa me’era ba mbuku ha ma’ifu sibai.</p>
<p>Awena ba ginötö Tua Thomas, Kramer, Sunderman, Lagemann ba Fries zangowuloi hikaya hikaya, amaedola ba huku mbanua. He wa’ae hatö fa zambua tö zitoröi mbuku nisurara andrö, ba irugi ia da’a na sa so mbuku andrö.</p>
<p>Baero Zanding Geremani, famareta Ulandro ya’ia da’ö Contoleur K.E.W.G. Schroder si no erai toröi ba Dano Niha i’otarai ndröfi 1904 irugi ndröfi 1910, zamareso Hulo Nono Niha ma’afefu. Angowuloa wamaresonia, ya’ia da’ö tefa’anö hacha ba mbuku Nias Ethnographische. Buku da’ö abölö ebua moroi ba mbuku nifa`anö nöra Tua tanö bö`ö.</p>
<p>Oya ngawalö hikaya zitesöndra na dali mböröta niha ba danö Niha. Ba’arakhagö fagölögölö hikaya wanguma’ö: Ono Niha si’oföna nidada moroi ba Dete Höli Ana’a. Tanö si sagörö tou andre, no la haogö wamazöchi ira Tua moroi yawa, ena’ö tola auri niha ba da’ö.</p>
<p>Si’oföna ladada, ya’ia Hi a Walangi Adu. Nahania ladada ba Zifalagö Gomo ia da’a, ma tetötöi ia föna Mbörönadu. Terongo göi mbanua Mazingö Gomo ba hikaya andrö ösa. Me ladada Gözö si yöu ba gaechula ba nasi. Ba’ena’o lö manaere danö ma hulo, andrö lafailo Daeli ba gatumbucha, ba Hulu ha gaekhula Danö Niha. Na tafaigi ngawalö nidunödunö andrö, ba aboto sibai ba dödöda wa lö fagögölögölö hikaya-hikaya wanutunö.</p>
<p>Ha moroi ba ma’uwu Luamewöna Silögu te’ombacha’ö nasa, wa ladada ia moroi ba Dete Holi Ana’a ofeta tou ba Mbörönadu. La’ila na sa la’oroma’ö naha mado Zebua ba gambara, ba mbanua Mbörönadu me föna.</p>
<p>Banua Sifalago Gomo, ma Börönadu, ba so na sa irugi ma’öchö. Niha sowanua ba da’ö ba ya’ira mado Hia. Ha sara manö dödö zanutunö hikaya wa ya’ia mbanua si oföna ba Nono Niha ba wa moroi ba mbanua Mbörönadu ibörögö muzawili niha mi sa ba zi sagörö Hulo Danö Niha. Numalö ba dalu danö zi oföna, awena miraya. aefa da’ö ba gaechula, ba mi yöu göi ösa ba wanarura banua sibohou.</p>
<p>Nidunoduno zatua föna ba Mbörönadu, ba ya’ia hikaya Duada Hia, Latutunö chö Tua Thomsen me döfi 1935, ya’ia da’ö itutunö chönia Tambalina Tuha Ana’a (Fangulu Idanö), ba awena lafa’anö ba zura. Börö wasuwöta, salina nisöndra doto Thomsen no taya. Ba me no aefa wasuwöta, Thomsen isöndra mangawuli salina nibe’e Rasoli Hia, ma’uwu Dambalina Tuha Ana’a.</p>
<p>He wa’ae lö oya sibai nidunödunö, ba na lafaigi si no mube’e ba zura irugi ma’öchö, ba lö fagölögölö sibai. Fabö’öbö’ö niwa’ö ba fabö’ö goi gera’era zamösana</p>
<p>ösi nidunödunö Tambalina Tuha Ana’a andrö, ba ya’ia da’ö wangombacha hewisa me tumbu Hia, me ladada ia halöwönia tou ba danö awö gochötania irugi wa’amatenia.</p>
<p>Si’otarai mbanua si yawa ba latötöi ha datölu warugi Hia “Daulu Sagörö si tumbu moroi ba nangi; ba ihalö wo’omonia Zotöla Gana’a, ono Orahua Zoya, si tumbu moroi ha nangi göi. Mo’ono ira Ara Foriwu Zihönö, fo’omonia Fuci Ta’oranö Usö, ono Dua Oroi ba Regerege Da’o. Onora ya’ia Langi Sagörö sangai dania fo`omonia Gaweda Nazariata Langi Ono matua si tumbu chöra dania, ya’ia da’ö Hia Walangi Adu.</p>
<p>Tabina ninania ba tenga simanö sito’ölö. Notoröi nono ba dalu ninania me ziwa fache wa’ara, ba’i&#8217;ila muhede sa’ae ba dalu ninania. I’ombacha`ö hewisa wame`e böröta danö sitou. I’andrö ena’ö iahalö ndra’i mbu ninania Nazariata Langi, lakaoni Mazai Sobaya Wö röcha ba wamazöchi tanö, ba lafailo nono sia’a chö langi Sagörö, Nazuwa Danö, Danedane Danö, ba ladada nasa sita simatua silötönia. Ere simaniga Razo zanofi tanö si sagörö. Me no awai fefu, ba tebato wehede Hia ha dalu ninania irugi inötö wa’atumbunia. Lo’itörö lala sito’ölö na tumbu niha, itörö wela-wela dödö ninania.</p>
<p>Me’ebua Hia Walangi Adu, ba ihalö fo’omonia Buruti Huna, ono Mali ba Wasulöna Danö. Awena i’andrö chö namania Langi Sagörö, ena’ö itörö sa’ae ni’ombacha’önia ba dalu ninania, wa lafailo ia tou tanömö niha ba danö. Fao chönia ena’ö nomo, osali, lafaogö göi gafore, tumba da tanö bö’önia na, ba laf’aogö göi ziambu Aya Langi.</p>
<p>I’andrö göi zawuyu ba nomo. Ba maoso Mali ba Wasulöna Danö, ifazöchi zihulö niha moroi ba lewuö, eu, la`uri ba ache, sitobali sawuyu Hia dania, dula’öfa niha wa’atora.</p>
<p>Awö Hia me ladada ia, ya’ia da’ö wo’omonia, ba baero da’ö geu Tora’a Langi, böröta zisiwa motöi. Ladada ira ba Zifalagö Gomo ma Börönadu andrö</p>
<p>Moroi ba Dora’a andrö itugu ara ba itugu aechu zi siwa motöi, ya’ia da’ö: ana’a, bawi, fache, gowi, manu, fino, tawuo, ohi ba bago.</p>
<p>Awena itaru`ö mbanua Hia Walangi Adu, ba if’a&#8217;anö fefu zi so chönia. Ya’ia zamatörö awönia ba ifobawalala chö gana’ania. Lafasindro nomora eu, la’uri mbawi, latanö wache, lalau gowasa, labözi gana’a, latoto gara ba wamazöchi behu, darodaro, harefa ba tanö bö’önia na. Chö namania Langi Sagörö sitoröi yawa ba Dete Höli Ana’a, ibe’e nadu eu, adu zatua, Hia Walangi Adu.</p>
<p>Dasiwa nonomatua chö Hia, ba latörötöröi mi sa danö ba hulo tanö bö’önia. Aefa wa’amate namara Hia, ba labe’e dödönia ba zi sambua guri, ena’ö toröi ia na sa ba nomo ba wame’e menemene chö ndraono nia. Ba börö me fa’udu ira dödö Hia ba ndronga owöliwa, Raina Huna, andrö ilau mofanö tödö Hia: Fao ba molö sebua itörö Gomo, Susua, itörö nasi irugi siyefo chö nononia alawe.</p>
<p>Söchi na asese taba so zura nidunö andre ba tanö bö’önia, era’era satua Nono Niha, nihaogö wanötöna ba li niha.</p>
<p><em>Sumber: Majalah Suara Ya`ahowu, No. 04/Th.I/September 1996 (Nias Post.com)<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/348/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=348&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/04/10/heza-iotarai-soi-nono-niha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/04/old-soldier.jpg?w=187" medium="image">
			<media:title type="html">Old Soldier</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAKIL BUPATI NIAS BARAT: “PANGGILAN HATI UNTUK BERBAKTI LAGI”</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/03/28/wakil-bupati-nias-barat-%e2%80%9cpanggilan-hati-untuk-berbakti-lagi%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/03/28/wakil-bupati-nias-barat-%e2%80%9cpanggilan-hati-untuk-berbakti-lagi%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Mar 2011 03:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Marinus Waruwu Pada hari Sabtu, 26 Maret 2011, Redaktur Nias Baru Marinus Waruwu melakukan wawancara dengan Wakil Bupati terpilih Nias Barat Bapak Hermit Hia. Diharapkan bahwa hasil wawancara tersebut membuat masyarakat Nias Barat, semakin mengenal sosok Wakil Bupati Nias Barat beserta dengan program kerjanya bersama dengan Bapak Bupati Nias Barat untuk lima tahun ke depan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=343&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Marinus Waruwu</p>
<p>Pada hari Sabtu, 26 Maret 2011, Redaktur Nias Baru Marinus Waruwu melakukan wawancara dengan Wakil Bupati terpilih Nias Barat Bapak Hermit Hia. Diharapkan bahwa hasil wawancara tersebut membuat masyarakat Nias Barat, semakin mengenal sosok Wakil Bupati Nias Barat beserta dengan program kerjanya bersama dengan Bapak Bupati Nias Barat untuk lima tahun ke depan.</p>
<p><em>1. </em><em>Bapak Sudah menjadi Wakil Bupati Terpilih sekarang?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syukur kepada Allah sudah terpilih menjadi Wakil Bupati. No folau lowalangi da`a fefu.</p>
<p><a href="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/03/tj074420a-thumb-112x73.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-344" title="TJ074420a-Thumb-112x73" src="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/03/tj074420a-thumb-112x73.jpg" alt="" width="112" height="73" /></a>2.    <em>Saya sering membaca artikel tentang sosok Bapak di berbagai situs/website tentang Nias. Bapak ternyata bukan orang baru dalam dunia politik. Bapak pernah menjabat sebagai Camat di beberapa kecamatan di Nias. Lalu mengapa Bapak terpanggil untuk mengabdi Nias Barat? </em></p>
<p>Saya terpanggil karena panggilan Hati untuk berbakti lagi. Sepanjang hayat dikandung badan. Semasa kita masih bisa berbuat, kita melayani masyarakat. Kebetulan saya lulusan APDN akademik pemerintahan dalam negeri. Lalu pasanganku Bapak A. A GULO pernah bekerja bersama. Bapak A. A Gulo pimpinan saya, dan saya adalah bawahannya. Saya tahu dia orang yang baik hati, dan jujur. Makanya, kami maju bersama untuk sama-sama membangun Nias Barat ke depan.</p>
<p>Syukur bahwa kita diberi waktu dan ruang. Kita akan mendukung Pak Bupati untuk melaksanakan kebijakan PEMDA Nias Barat ke depan. Kita bantu Bapak Bupati memberikan saran-saran.</p>
<p><em>3. </em><em>Apa program jangka pendek Bapak Wakil Bupati bersama dengan Bapak Bupati beberapa bulan ke depan?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Menurut petunjuk Pak Bupati terpilih kepada saya, bahwa setelah pelantikan, kita akan merampungkan program 100 hari. Artinya kita akan bahas program mana yang mampu dilakukan oleh teman-teman dan mana yang bisa diserap oleh masyarakat. Kita akan diskusikan mana yang kita mampu lakukan. Karena itu, kita tidak bisa karang-karang terlebih dahulu. Program 100 hari kita akan orientasikan pada visi dan misi yang sudah ada. Dan program tersebut kita kemukakan pada masyarakat.</p>
<p><em>4. </em><em>Apa program jangka panjangnya?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kita akan mewujudkan masyarakat yang sejahtera, beriman, berbudaya, dan pemerintahan yang baik dan bersih. Tentu jangka menengahnya fokus pada program 100 hari. Kita akan buat nanti rencana jangka menengahnya.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>5. </em><em>Tak disangkal lagi bahwa daerah Nias Barat salah satu daerah tertinggal dalam bidang pendidikan. Hal ini sangat mendesak untuk ditangani atau diatasi oleh pemerintahan daerah untuk periode lima tahun ke depan. Apa yang akan dilakukan oleh pemerintahan daerah Nias Barat untuk memecahkan masalah tersebut?<span id="more-343"></span></em></p>
<p>Kalau kita berbicara pendidikan pertama-tama kita akan kembali pada bagaimana upaya meningkatkan kualitas. Tapi kita tidak bisa berangan-angan seperti membalikan telapak tangan. Mengapa? Karena kompleksnya permasalahan yang kita hadapi di Nias Barat. Nanti kita identifikasikan permasalahannya, lalu kita diskusikan bersama apa yang menjadi solusinya. Kita lihat pokok masalah yang sangat mendesak untuk diselesaikan, kita lihat fakta di lapangan. Lalu kita diskusikan apa yang menjadi solusinya.</p>
<p><em> </em></p>
<p>6.    <em>Untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat, beberapa PEMDA mengirim putera-puteri terbaik daerah untuk dikuliahkan di beberapa Perguruan Tinggi, dengan harapan bahwa setelah mereka selesai, mereka bisa melakukan sesuatu untuk daerah asalnya. </em>Apakah PEMDA Nias Barat ke depan punya program yang sama dengan daerah lain?</p>
<p>Sumber Daya Manusia kita masih kurang (SDM). Maka, kita perlu meningkatkan sumber daya manusia ini. Sekarang kalau kita mau memperbaiki sumber daya manusia di Nias Barat, Pertama: kita usahakan bagamana para petani kita bisa makan. Kedua, bagaimana anak-anak yang memang pintar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Lalu kita kerja sama dengan beberapa pihak, misalnya Perguruan Tinggi, dan mencari orang tua asuh untuk mereka. Bapak Waruwu juga bisa ikut membantu mencari informasi para dermawan yang memang bisa membantu anak-anak tersebut nantinya.</p>
<p><em>7. </em><em>Bapak Bersama dengan Bapak Bupati punya rencana untuk mendirikan Universitas atau perguruan tinggi di Nias Barat?</em></p>
<p>Boleh-boleh saja kita punya rencana membangun Universitas untuk jangka panjang ke depan. Namun yang perlu kita dukung adalah bagaimana IKIP dan STIE Gunung Sitoli bisa berkembang terlebih dahulu. Jangan sampai kita membangun perguruan tinggi di Nias Barat, sementara di Gunung Sitoli saja tidak berkembang. Makanya perlu pengkajian secara menyeluruh dan tidak terkesan terburu.</p>
<p>Yaahowu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=343&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/03/28/wakil-bupati-nias-barat-%e2%80%9cpanggilan-hati-untuk-berbakti-lagi%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/03/tj074420a-thumb-112x73.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">TJ074420a-Thumb-112x73</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias?</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/sistem-adat-perkawinan-nias-salah-satu-penyebab-kemiskinan-masyarakat-nias-2/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/sistem-adat-perkawinan-nias-salah-satu-penyebab-kemiskinan-masyarakat-nias-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Feb 2011 12:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Aktual Nias]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Tetapi Böwö ini telah melahirkan problem baru yang tidak selalu disadari oleh masyarakat Nias sendiri. Keganjilan penerapan Böwö ini juga dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal (berkunjung) di Pulau Nias. Dan tidak heran jika kebanyakan orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=340&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/02/niasbaru1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-341" title="niasbaru1" src="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/02/niasbaru1.jpg?w=300&#038;h=181" alt="" width="300" height="181" /></a></p>
<p><strong>Pengantar</strong><br />
Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Tetapi Böwö ini telah melahirkan problem baru yang tidak selalu disadari oleh masyarakat Nias sendiri. Keganjilan penerapan Böwö ini juga dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal (berkunjung) di Pulau Nias. Dan tidak heran jika kebanyakan orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias selalu memiliki kesan: mahar, jujuran (böwö, gogoila) perkawinan Nias mahal! Oleh karenanya ketika mereka mau (baca: akan) menikah dengan gadis Nias ada semacam ketakutan, keengganan, keragu-raguan. Dan, tentu hal ini adalah kesan buruk! Ada apa dengan sistem adat perkawinan Nias? Yang salah “sistemnya” atau “masyarakat Niasnya”?</p>
<p><strong>Arti Böwö</strong></p>
<p>Etimologi böwö adalah hadiah, pemberian yang cuma-cuma. Sama halnya kalau kita memiliki hajatan, entah karena ada tamu atau ada pesta keluarga, dsb., lalu kita beri fegero kepada tetangga kita (makanan, baik nasi maupun lauk-pauk yang kita makan saat hajatan itu kita beri juga kepada tetangga kita secara cuma-cuma). Ini adalah aktualisasi kepekaan untuk selalu memperhitungkan orang lain di sekitar kita, juga untuk mempererat persaudaraan. Oleh karenanya tak heran jika masyarakat Nias menyebut orang yang ringan tangan sebagai <em>niha soböwö sibai</em>. Jadi, arti sejati <em>böwö </em>mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orangtua kepada anaknya: bukti perhatian orangtua kepada anaknya!</p>
<p>Lantas kenapa <em>böwö </em>itu kayak dikomersialkan? Indikasi pengomersialan böwö sebenarnya gampang kita lihat. Misalnya, istilah böwö bergeser menjadi gogoila (goi-goila: ketentuan). Malah kata gogoila yang lebih familiar dikalangan tokoh adat Nias saat ini. Untuk mencapai “ketentuan” tentu ditempuh cara “musyawarah”(yang dimediasi oleh siso bahuhuo) dan sepengetahuan saya, dalam musyawah itu terjadi “tawar-menawar” berapa gogoila yang harus dibayar oleh pihak mempelai laki-laki. Jadi, böwö semakin direduksi maknanya: lebih dekat pada konotasi ekonomis (ibarat aktivitas jual-beli) dan bukan pada konotasi budaya. Dan saya percaya, jika pernyataan ini kita lemparkan ke orangtua kita atau ke “orang zaman dahulu”, pasti salah satu jawabannya adalah: da’ana hada Nono Niha (ini adalah adat Nias). Pernyataan semacam itu tentu mengokohkan dimensi statis budaya Nias juga mereduksi nilai-nilai sakral budaya Nias! Padahal seharusnya, budaya itu dinamis sesuai perkembangan zaman. Bahkan dalam pernyataan itu seolah adat yang terpenting dan bukan manusianya. Saudaraku, adat dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk adat. Ariflah menerapkan adat yang tidak membangun. Dulu böwö itu masih masuk akal. Mengapa? Karena sistem perekonomian Nias masih barter. Artinya böwö dihitung berdasarkan jumlah babi dan bukan uang. Sekarang kalau böwö itu di-uangkan, maka akan menjadi beban kehidupan berlapis generasi, karena babi tidak murah (misalnya, seekor babi yang diameternya 8 alisi harganya bisa mencapai Rp 900. 000 – Rp 1 Juta).<span id="more-340"></span></p>
<p>Nah, kalau dalam gogoila (böwö) terdapat 25 ekor babi, coba Anda bayangkan berapa juta. Belum lagi beras, dan emas (balaki, firö famokai danga, misalnya). Padahal mencari uang di Nias sangat susah. Mata pencaharian mayoritas masyarakat Nias adalah bersawah/berladang dan menyadap karet (dari pohon havea). Seperti kita tahu bahwa sawah di Nias tidak seperti Di Pulau Jawa yang sawahnya dikelola dengan baik: ada irigasi, lengkap pestisida pembasmi hama padi. Setahu saya, rata-rata sawah di Nias tidak ada irigasi yang dibangun oleh pemerintah atau yang dibangun oleh swasta. Pengairan sawah di Nias cuma mengandalkan hujan! Sedangkan menyadap karet, juga ada masalah. Karet bisa diharapkan menjadi duit jika tidak ada hujan. Coba kita bayangkan jika musim hujan, mau makan apa masyarakat Nias? Singkatnya, mengumpulkan dan mencari uang di Nias yang puluhan juta, bisa bertahun-tahun.</p>
<p>Kebiasaan masyarakat Nias jika pesta perkawinan banyak sekali yang harus di-folaya (dihormati dengan cara memberi babi). Selain itu, babi pun banyak yang harus disembelih dengan berbagai macam fungsional adatnya, misalnya: tiga ekor bawi wangowalu (babi pernikahan), seekor babi khusus untuk fabanuasa (babi yang disembelih untuk dibagikan ke warga kampung dari pihak mempelai perempuan) , seekor untuk kaum ibu-ibu (ö ndra’alawe) yang memberikan nasehat kepada kedua mempelai, seekor untuk solu’i (yang menghantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki), dan masih banyak lagi babi-babi yang disembelih.</p>
<p>Selain yang disembelih, ada juga babi yang dipergunakan untuk “<em>famolaya sitenga bö’ö</em>“. Di sini saya sebut beberapa saja: sekurang-kurangnya seekor untuk “<em>nga’ötö nuwu</em>” (paman dari ibu mempelai perempuan), sekurang-kurangnya seekor sampai tiga ekor untuk “uwu” (paman mempelai perempuan), seekor untuk talifusö sia’a (anak sulung dari keluarga mempelai perempuan), seekor untuk “sirege” (saudara dari orangtua mempelai perempuan), seekor untuk “mbolo’mbolo” (masyakat kampung dari pihak mempelai perempuan, biasanya babi ini di-uang-kan dan uang itu dibagikan kepada masyarakat kampung), seekor untuk ono siakhi (saudara bungsu mempelai perempuan), seekor untuk balö ndela yang diberikan kepada siso bahuhuo, dsb (dan jika pas hari “H” perkawinan, ibu atau ayah atau paman, atau sirege dari pihak saudara perempuan menghadiri pesta perkawinan, maka mereka-mereka ini juga harus difolaya, biasanya seekor hingga tiga ekor babi). Dan masih ada pernik lain, yakni fame’e balaki atau ana’a (ritual memberi berlian atau emas), berupa famokai danga kepada nenek dan ibu mempelai perempuan; juga fame’e laeduru ana’a khö ni’owalu (pemberian cincin kepada mempelai perempuan, cincin itu diharuskan emas). Singkatnya, jika adat itu diterapkan pada zaman sekarang, maka Anda harus menyediakan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah hanya untuk membeli babi dan emas belum lagi biaya pas hari “H” perkawiannya. Kalau kita melihat uraian di atas, böwö itu dibagi-bagi. Dan, kadangkala dalam pembagian semacam ini muncul berbagai macam perseteruan, permasalahan.</p>
<p><strong>Akibat Böwö yang Mahal</strong></p>
<p><strong>a. Akibat Negatif</strong><br />
Ada berbagai macam problem sosial dan juga ekonomi yang disebabkan oleh mahalnya böwö di Nias. Di bawah ini saya akan menguraikan beberapa argumen berdasarkan fakta yang memang saya dengar dan alami (terutama di Kecamatan Mandrehe).</p>
<p><em>Pertama</em>, akibat negatif dari böwö yang mahal adalah kemiskinan dan pemiskinan. Alasannya boleh dilihat dalam uraian akibat negatif berikutnya.</p>
<p><em>Kedua</em>, akibat mahalnya böwö, orangtua si anak bukan lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anaknya, tapi mereka bekerja untuk membayar utangnya, membayar böwö yang dibebankan kepadanya. Bahkan utang böwö yang belum sempat terbayarkan oleh orangtua si anak mesti si anak harus bersedia membayarnya. Mahalnya böwö semakin diperparah sejak masyarakat Nias mengenal uang, karena böwö juga diuangkan. Mempelai laki-laki yang tidak mampu mencukupi nilai böwö yang harus ia bayar, tidak ada pilihan lain baginya selain meminjam. Anda tahu yang namanya pinjaman pasti ada bunganya perbulan. Dan, lingkaran semacam inilah yang menyebabkan banyak keluarga Nias hanya bekerja untuk membayar bunga utangnya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, mungkin kita pernah mendengar cerita Nono Niha yang berani melakukan pembunuhan hanya karena tidak dibayarkan kepadanya böwö yang sudah dijanjikan. Ini adalah akibat sosial yang sangat fatal dari böwö yang mahal. Hanya demi seekor babi atau berapalah itu, ia berani menghabiskan nyawa orang lain dan harus mendekam di penjara. Ini sungguh memilukan sekaligus memalukan.</p>
<p><em>Keempat</em>, akibat keempat ini masih ada kaitannya dengan akibat kedua di atas tadi. Kerapkali mempelai laki-laki jika menikah, apalagi dari keluarga yang pas-pasan (tidak mampu), terpaksa menjual tanahnya, menjual sawah-ladangnya, bahkan bila kepepet ia juga meminjam sejumlah uang atau menyusun kongsi (kalau di Mandrehe, pas acara femanga ladegö, pihak dari mempelai laki-laki mengajak semua pihak untuk membantunya dan pada saat itu babi mesti disembelih sebagai tanda pemberitahuan kepada orang-orang yang akan menolongnya/yang mau memberikan kongsi). Jangan salah, jika meminjam uang, bunga bukan main bung. Dan, itu tradisi buruk Nias selama ini. Masyarakat Nias seolah melingkarkan tali di lehernya sendiri. Atau seperti seorang yang menggali lobang, ia sendiri yang jatuh ke dalamnya. Coba kita bayangkan, tanah habis dijual, masih ngutang lagi. Lalu di mana keluarga baru ini mengadu nasib, mencari nafkah sehari-hari? Mungkin ada yang masih rendah hati : menjadi kuli kepada orang lain. Dan, hal ini adalah «perbudakan» yang disengaja, yang kita buat sendiri walaupun sebenarnya bisa kita hilangkan, bisa kita atasi dengan tidak menerapkan sistem böwö yang mahal.</p>
<p><em>Kelima</em>, jika orangtua masih berada dalam lingkaran «utang» sudah bisa dipastikan bahwa para orangtua tidak mungkin bisa menyekolahkan anaknya. Lantas kapan pola pikir Nias bisa ber-evolusi, berkembang, dinamis jika terjadi ke-vakum-an seperti ini, hanya karena böwö yang mahal itu. Melihat penerapan böwö yang tidak menguntungkan itu, sebaiknya para orangtua yang berasal dari Nias (apalagi mereka yang masih menerapkan böwö yang mahal) mesti menyadari apa tugas pokok jika sudah membentuk keluarga. Selain itu, mesti disadari: apa arti böwö yang sebenarnya. Saya rasa ada benarnya jika böwö adalah salah satu faktor utama kemiskinan di Nias secara turun-temurun. Boro-boro si orangtua menyekolahkan anaknya, utang böwönya saja belum lunas. Hal ini menjadi kendala bagi orang Nias sendiri untuk mencetak generasi penerus yang berpendidikan. Dan, jika demikian, jangan kaget jika berapa puluh tahun lagi Nias tidak akan mungkin membenahi kekurangan sumber daya manusianya.</p>
<p><em>Keenam</em>, apakah Anda bahagia jika memiliki utang ? pasti tidak. Bagaimana suasana hati Anda jika memiliki utang? Pasti tidak tenteram, apalagi kalau setiap minggu, bulan ditagih. Ini suatu ancaman. Jika demikian, orang yang memiliki utang, juga pasti selalu tenggelam dalam kegelapan, bukan lagi kebahagiaan (tenga fa’owua-wua dödö ni rasoira ero ma’ökhö bahiza fa’ogömi-gömi dödö). Ketidak-tenteraman hati seperti ini bisa merembes ke sasaran lain: suami-istri sering bertengkar, suami menyalahkan istrinya yang memang pihak penuntut böwö; orangtua dan anak saling bertengkar, berkelahi; orangtua sering memarahi anaknya. Maka jangan heran jika banyak keluarga di Nias yang “makanan” sehari-harinya adalah “broken home”, perseteruan. Lalu kapan sebuah keluarga mempraktekkan cinta sebagai suami-istri, jika situasinya seperti ini? Marilah kita menjawabnya sendiri-sendiri!</p>
<p><em>Ketujuh</em>, böwö identik dengan pemberian sejumlah harta benda, sejumlah uang, sejumlah babi yang harus ditanggung oleh pihak mempelai laki-laki. Nah, jika demikian, apa bedanya sistem böwö Nias ini dengan perdagangan perempuan dan perdagangan anak? Menurut saya, jika para orangtua memiliki motif bahwa böwö (gogoila) dijadikan sebagai modalnya, maka pada saat itu mereka termasuk dalam lingkaran perdagangan anak mereka sendiri. Dan hal ini bertentangan dengan hak azasi manusia! Tendensi perdagangan anak dalam system perkawinan Nias sebenarnya sudah mulai kelihatan. Misalnya, mempelai perempuan sering disebut sebagai böli gana’a (pengganti emas). Jadi seolah-olah perempuan itu sama dengan barang!</p>
<p><strong>b. Akibat Positif</strong></p>
<p>Pihak mempelai laki-laki, sebelum hari “H” perkawinan selalu mengumpulkan semua kerabatnya (seperti fadono, sirege, fabanuasa). Tentu dengan tujuan agar mereka-mereka ini bisa menolongnya, bahu-membahu menanggung böwö. Dari sisi ini ada juga beberapa hal positif.</p>
<p><em>Pertama</em>, kekerabatan, fambambatösa, fasitenga bö’ösa semakin terjalin, semakin harmoni. Dan, menurut kepercayaan Nias, semua “fadono” yang taat kepada matua nia (mertua) akan diberkati (tefahowu’ö) dan mendapat rezeki.</p>
<p><em>Kedua</em>, fadono selalu diingatkan akan kewajibannya. Hal ini bisa jadi menumbuhkan kesadaran akan “tanggung jawab” yang sejati dari para fadono. Dalam sistem adat perkawianan Nias, fasitengabö’ösa, fadonosa atau fambambatösa terjadi selama 3 generasi. Dalam sistem adat Nias (khususnya di Mandrehe) mempelai laki-laki memiliki kewajiban untuk selalau menjadi soko guru (tiang) bagi saudara mempelai perempuan (saudara dari istrinya yang dalam bahasa Nias disebut la’o). Misalnya, jika salah seorang saudara dari mempelai perempuan menikah, si mempelai laki-laki mesti membantunya. Di satu sisi ini baik. Tetapi di sisi lain, hal ini membebankan.</p>
<p><em>Ketiga</em>, dengan böwö yang mahal, setahu saya para orangtua di Nias tidak mudah cerai (tetapi jangan-jangan karena orang Nias sendiri memang tidak biasa bercerai).</p>
<p>Melihat ambivalensi (negatif dan positif) böwö seperti yang terurai di atas, maka sebanarnya penerapan böwö yang mahal lebih banyak sisi buruknya, sisi negatifnya. Oleh karena itu, di bawah ini saya menguraikan bagaimana “problem solving”-nya.</p>
<p><strong>Problem Solving</strong></p>
<p>Pada bagian terakhir ini, saya juga mencoba mencari solusi yang perlu direfleksikan (baca: diinternalisasikan) oleh semua masyarakat Nias, niha khöda.</p>
<p><em>Tesis Pertama</em>, lalu bagaimana adat ini, apakah harus tetap diterapkan? Kalau menurut saya secara ritual adat Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, karena ini warisan berharga dari leluhur Nias. Ritual dalam arti: penghormatan kepada paman, kepada saudara, kepada ibu mertua, kepada nenek, kepada penatua adat, dst.. Jadi, dimensi kultik dan etis budaya Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, malah seharusnya kita dilestarikan.</p>
<p>Namun yang perlu diperhatikan adalah bentuk penghormatan itu bukan dengan material, bukan dengan pemberian babi yang sekarang tergolong mahal di Nias (tetapi jika ada keluarga yang mampu dengan penghormatan secara material, silahkan saja yang penting jangan sampai pemberian itu adalah hasil pinjaman yang justru menjadi utang berlapis generasi). Bentuk penghormatan itu bisa melalui perhatian, menolong kerabat, mertua dikala mengalami situasi yang memang memerlukan bantuan tenaga manusia. Jadi, penghormatan itu lebih pada hal spiritual, afeksional, sosial dan bukan material-ekonomis. Dan, yang harus selalu dilestarikan oleh orang Nias adalah budaya, seperti: maena, tarian (tarian baluse, tari moyo, hoho, dst.), fame’e afo, ni’oköli’ö manu, dst. Sangat disayangkan, akhir-akhir ini justru tarian maena semakin hari semakin tidak dikenal lagi oleh generasi muda Nias. Padahal, tarian maena adalah salah satu tarian rakyat Nias yang kalau dilestarikan secara benar menjadi ciri khas dan kebanggaan Nias.</p>
<p>Setiap orangtua pasti bahagia jika anaknya menjadi “orang”. Namun, jika para orangtua Nias belum menyadari bahwa böwö itu sangat membebankan maka saya kurang tahu sampai kapan masyarakat Nias akan menyadari bahwa pola pikir semacam itu justru menenggelamkan orang ke lembah kemiskinan. Pengalaman saya sendiri, kadang-kadang böwö itu diperebutkan antara pihak paman, talifuso, dan juga so’ono (dari pihak saudara dan juga orangtua mempelai perempuan). Ironisnya (masih terjadi) babi-babi yang mereka terima itu dijadikan sebagai modal. Ini komersial bung dan apa bedanya dengan “perdagangan anak”? ini bukan melebih-lebihkan, hal ini sungguh terjadi pada zaman dahulu kala (dan mungkin sampai sekarang, walaupun tidak sebanyak dulu).</p>
<p><em>Tesis kedua</em>, setiap orangtua yang berpendidikan mencoba menjadi pilar untuk mengubah tradisi Nias yang justru membebankan. Mula-mula para orangtua itu mesti melakukan penyuluhan kepada anaknya dan oleh karena itu juga jangan mereka terapkan böwö yang mahal kepada anak mereka sendiri. Tidak selamanya bahwa budaya itu positif dan manusiawi. Misalnya, budaya orang-orang Eskimo yang menyembelih orangtua mereka jika sudah tua. Menurut masyarakat Eskimo, tindakan mereka ini memiliki nilai yang tinggi: mencoba menyelamatkan orangtua mereka dari penyakit tua yang bisa membawa pada penderitaan. Bahkan tindakan itu adalah salah satu bentuk perwujudan penghormatan kepada orangtua. Budaya Mangayau di Kalimantan (tradisi memenggal kepala orang, dan ternyata hal ini terjadi di Nias pada zaman dahulu). Seperti kita tahu bahwa menghilangkan nyawa orang lain, bertentangan dengan hukum kodrat yang dikenal oleh orang Kristen, terutama dalam gagasan Santo Thomas Aquinas: Hukum kodrat adalah pemberian dari surga, anugrah tertinggi dari Allah yang tidak bisa diciptakan oleh manusia. Manusia lahir dan mati, itu adalah hak Allah.</p>
<p><em>Tesis ketiga</em>, tokoh agama harus terlibat dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat Nias yang masih menerapkan böwö yang mahal. Sebagai orang Nias, saya berterima kasih (juga salut) kepada Pastor Mathias Kuppens, OSC (misionaris Ordo Sanctae Crucis, berkewarganegaraan Belanda), yang cukup antusias untuk memberikan pemahaman kepada orang Nias (terutama di Kecamatan Sirombu dan Mandrehe) bahwa böwö yang mahal tidak membangun. Beliau adalah salah satu tokoh agama Katolik yang cukup berhasil “menekan” jumlah besarnya böwö dengan cara-cara yang persuasif. Namun, perjuangan beliau bukan tanpa hambatan. Ada beberapa orang Nias yang pernah melontarkan kata-kata pedas, mencoba menentang kebijakan Pastor Mathias, sang pencinta Nias itu. Tetapi Pastor Mathias menanggapi dengan tindakan yang diwarnai kerendahan hati: ia tidak pernah berprasangka negatif (tidak su’udzon) walau ia dicerca. Ini luar biasa!</p>
<p><em>Tesis keempat</em>, Dinas Pendidikan Kabupaten Nias dan Nias Selatan, seharusnya memikirkan bagaimana jika penyuluhan tentang böwö diajarkan di sekolah sebagai pelajaran “muatan lokal” atau semacam pelajaran “ektra kurikuler”. Menurut saya, böwö dan juga adat Nias yang lain perlu dijelaskan kepada generasi muda agar mereka kelak mengerti dampak ambivelensi adat Nias itu sendiri. Dan oleh karena itu, mereka kelak bisa menegasi hal-hal yang tidak membangun dari adat Nias itu sendiri; sehingga budaya Nias tidak mandeg pada ke-statis-an melainkan berkembang (dinamis). Dan, tugas ini tentu didelegasikan kepada para guru yang mengajar: mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. (<em>Postinus Gulö)</em></p>
<p>Semoga!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/340/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=340&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/sistem-adat-perkawinan-nias-salah-satu-penyebab-kemiskinan-masyarakat-nias-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/02/niasbaru1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">niasbaru1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MK Mulai Proses Gugatan Hasil Pilkada Nias Utara &amp; Nias Barat</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/mk-mulai-proses-gugatan-hasil-pilkada-nias-utara-nias-barat/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/mk-mulai-proses-gugatan-hasil-pilkada-nias-utara-nias-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Feb 2011 04:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Aktual Nias]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, Nias Online – Mahkamah Konstitusi (MK) menindaklanjuti pengajuan gugatan atas hasil pilkada Nias Utara dan Nias Barat. Dikutip dari situs www.mahkamahkonstitusi.go.id, persidangan pertama dengan agenda pemeriksaan perkara gugatan pilkada Nias Utara dilaksanakan pada Rabu (23/2) pukul 11.00 Wib. Gugatan atas pilkada Nias Utara dengan nomor perkara 23/PHPU.D-IX/2011 dimohonkan oleh pasangan nomor urut 3 Darius [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=338&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA, Nias Online – Mahkamah Konstitusi (MK) menindaklanjuti pengajuan gugatan atas hasil pilkada Nias Utara dan Nias Barat. Dikutip dari situs www.mahkamahkonstitusi.go.id, persidangan pertama dengan agenda pemeriksaan perkara gugatan pilkada Nias Utara dilaksanakan pada Rabu (23/2) pukul 11.00 Wib.</p>
<p>Gugatan atas pilkada Nias Utara dengan nomor perkara 23/PHPU.D-IX/2011 dimohonkan oleh pasangan nomor urut 3 Darius Baeha dan Desman Telaumbanua dan pasangan nomor urut 2 Edison Hulu dan Marselinus Ingati Nazara dengan kuasa hukum Hamari Laso, SH, MH, dkk. Sedangkan pihak termohon adalah KPUD Nias Utara.</p>
<p>Sedangkan pemeriksaan perkara gugatan atas pilkada Nias Barat akan dilaksanakan pada hari yang sama pada pukul 13.00 Wib. Dua pasangan yang menggugat (pemohon) adalah pasangan nomor urut 1 Faduhusi Daely dan Sinar Abdi Gulö dengan kuasa hukum Arteria Dahlan, ST., SH, dkk, dengan nomor gugatan 21/PHPU.D-IX/2011. Penggugat (pemohon) kedua adalah pasangan nomor urut 2 Yupiter Gulö dan Raradödö Daely dengan kuasa hukum Petrus Selestinus, dkk. Sedangkan pihak termohon pada kedua gugatan itu adalah KPUD Nias Barat.<span id="more-338"></span></p>
<p>Seperti diketahui, KPUD Nias Barat telah menetapkan pasangan nomor urut 3 Adrianus A Gulö-Hermit Hia sebagai bupati terpilih Kabupaten Nias Barat sebagai hasil pilkada pada 2 Februari 2011.</p>
<p>Sebelumnya, kepada Nias Online, anggota KPUD Nias Barat Meiatasi Dolai menjelaskan, perolehan suara, khususnya antara pasangan urut 1 dan 3 sangat tipis, hanya 337 suara. Pasangan urut 1 meraih 12.505 suara. Sedangkan pasangan urut 3 meraih 12.842 suara. Pasangan urut 2 meraih 9.590 suara. Perolehan suara pasangan urut 3 dan 1, kata dia, masing-masing mencapai sekitar 36% sehingga pilkada hanya berlangsung satu putaran. (EN)</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/338/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=338&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/mk-mulai-proses-gugatan-hasil-pilkada-nias-utara-nias-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nias nan Cantik</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/nias-nan-cantik/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/nias-nan-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Feb 2011 04:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Aktual Nias]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS.com -— Pulau Nias dengan luas 5.318 kilometer persegi menyimpan kearifan lokal dalam konstruksi dan arsitektur rumah. Rumah Nias yang dibangun dengan bahan kayu dan konstruksi fondasi seperti panggung terbukti tahan gempa. Ini tentu berangkat dari pengalaman leluhur suku Nias yang hidup di tanah rawan gempa. Rumah-rumah itu tetap kokoh dan berfungsi hingga kini meski [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=332&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/02/nias1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-336" title="nias" src="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/02/nias1.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><strong><em>KOMPAS.com</em> -— </strong>Pulau<strong> </strong>Nias dengan luas 5.318 kilometer persegi menyimpan kearifan lokal dalam konstruksi dan arsitektur rumah. Rumah Nias yang dibangun dengan bahan kayu dan konstruksi fondasi seperti panggung terbukti tahan gempa. Ini tentu berangkat dari pengalaman leluhur suku Nias yang hidup di tanah rawan gempa. Rumah-rumah itu tetap kokoh dan berfungsi hingga kini meski berumur ratusan tahun.</p>
<p>Dalam masyarakat Nias berkembang ungkapan <em>bo’o mbanua bo’o mbowo, bo’o mbanua bo’o vato</em> yang berarti setiap desa memiliki tradisi yang berbeda. Ini, antara lain, tecermin dari beragamnya konstruksi dan bentuk rumah di setiap wilayah di Nias.</p>
<p>Rumah tradisional di Nias Selatan berbentuk segi empat memanjang ke belakang. Posisinya berimpit dan berjajar rapi memanjang. Di setiap perkampungan, deretan rumah tradisional itu dipisahkan oleh jalan desa selebar 30 meter. Ini bisa dilihat di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama; Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam; Desa Hilinawalo Mazino, Kecamatan Mazino; dan Desa Botohilitano, Nias Selatan.<span id="more-332"></span></p>
<p>Sementara itu, rumah tradisional Nias Utara berbentuk oval, seperti yang terlihat di Desa Sihare’o Siwahili di Gunungsitoli. Rumah Nias Tengah lebih bervariasi, mulai dari yang segi empat, memanjang, sampai rustikal.</p>
<p>Rata-rata bagian ruang tamu rumah tradisional dibiarkan kosong sehingga terkesan luas. Di ruang inilah berlangsung interaksi antaranggota keluarga ataupun sesama warga desa. Ketika menggelar upacara adat atau berkabung, warga berkumpul di sini.</p>
<p>Pada dasarnya, pendirian rumah tradisional Nias tanpa menggunakan paku, hanya pasak. Atapnya dari anyaman daun rumbia. Namun, dewasa ini ada warga yang menggantinya dengan atap seng. ”Khawatir mudah terbakar dan daun rumbia cepat rusak,” kata warga Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan.</p>
<p>Di banyak desa, tata ruang perkampungan tempat rumah tradisional Nias bersanding dengan keindahan batu besar (megalitikum). Tentu bangunan-bangunan itu tak akan berarti tanpa tradisi dan budaya masyarakat yang menjadi jiwanya. <strong>(MOHAMMAD HILMI FAIQ)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=332&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/23/nias-nan-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://niasbaru.files.wordpress.com/2011/02/nias1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">nias</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Talent is Never Enough</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/20/talent-is-never-enough/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/20/talent-is-never-enough/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2011 03:25:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Marinus Waruwu Pada tahun-tahun terakhir ini, bakat mendapatkan perhatian khusus para motivator, guru-guru kepemimpinan dunia. Hal ini tidak terlepas dari berbagai spekulasi yang muncul bahwa bakat sudah cukup mengantar seseorang ke puncak, dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Masalahnya, tidak sedikit motivator ulung, dan guru kepemimpinan bereaksi keras, dan menyangkal pandangan ini. Mereka beranggapan bahwa bakat jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=329&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Marinus Waruwu</p>
<p>Pada tahun-tahun terakhir ini, bakat mendapatkan perhatian khusus para motivator, guru-guru kepemimpinan dunia. Hal ini tidak terlepas dari berbagai spekulasi yang muncul bahwa bakat sudah cukup mengantar seseorang ke puncak, dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Masalahnya, tidak sedikit motivator ulung, dan guru kepemimpinan bereaksi keras, dan menyangkal pandangan ini. Mereka beranggapan bahwa bakat jika tidak pernah diasah, dikembangkan akan mati, tidak berguna. Bahkan bisa menipu karena seseorang terlalu berharap bahwa dengan bakat, keberhasilan akan datang sendiri, sementara bakat-bakat yang dimiliki tidak pernah diasah, teruji.</p>
<p>Talent is never enough, menurut saya salah satu buku legendaris yang berbicara banyak tentang motivasi, dan talenta-talenta. Buku ini ditulis oleh John C. Maxwell. Maxwell seorang guru kepemimpinan multinasional berkebangsaan Amerika. Dari judul bukunya saja sudah terlihat jika bakat tidak pernah cukup. Sebaliknya, ia harus diefektifkan terus menerus. Tentang isi buku yang terbit pada tahun 2008 ini, saya membuat semacam resensi buku, yang pada intinya menyangkut hal-hal penting yang mampu mengefektifkan bakat-bakat seseorang. Saya berharap kaidah emas dari John Maxwell ini mampu mencerahkan hati saudara/I. Maka, mulai dari sekarang pun saudara bisa melakukan gebrakan kecil-kecil dengan mempraktekkan hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hidup saya juga tentunya.<span id="more-329"></span></p>
<p>Ketiga belas kaidah emas itu antara lain, Pertama, keyakinan. Keyakinan menjadikan seseorang percaya diri, dengan itu seseorang akan menemukan potensi terbaiknya, dan mempraktekannya. Kedua, gairah. Gairah lebih utama dari sebuah perencanaan matang. Ia menciptakan api, dan memberikan bahan bakar. Ia memaksa orang untuk terus maju, dan menggunakan bakat yang dimiliki sebaik-baiknya. Orang yang mempunyai gairah tidak pernah berhenti sampai impian mereka terwujud. Ketiga, inisiatif. Inisiatif tidak menunggu masalah selesai, sebaliknya selalu bergerak cepat menghidupkan bakat terus-menerus. Momentum adalah sahabat mereka. Keempat, fokus. Bakat dan fokus mengarahkan seseorang untuk menemukan, dan mengembangkan segala potensi terbaik mereka. Ia menolong orang untuk hidup tanpa penyesalan, karena itu mengarahkan serta menggunakan bakat dan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Kelima, persiapan. Persiapan menempatkan orang di posisi yang tepat. Orang yang berbakat lebih mempersiapkan dengan baik hidup sesuai dengan semboyan legendaris dalam dunia motivasi, “segala sesuatu berjalan dengan baik jika dimulai dengan baik.” Keenam, latihan. Melalui latihan, bakat semakin dipertajam terus-menerus. Ketujuh, kegigihan. Ia berbicara tentang penyelesaian. Bakat memberi harapan untuk keberhasilan hidup, tetapi kegigihan menjaminnya. Kedelapan, keberanian. Keberanian mendorong orang untuk berani mencoba, mencoba, dan mencoba lagi. Kesembilan, sikap bisa diajar. Sikap ini membantu seseorang untuk selalu mengharapkan dan berusaha keras untuk belajar. Ia pun membantu memperluas bakat. Kesepuluh, karakter. Karakter menolong orang berbakat untuk mengetahui lebih baik lagi. Ia membangun apa yang ada dalam diri, dan membuat perbedaan dalam diri. Kesebelas, hubungan. Hubungan sangat mempengaruhi bakat terutama orang-orang sekitar. Jika kita bergaul dengan orang-orang positif, dan optimal bakat kita pun dipaksa untuk berkembang, dan sebaliknya. Keduabelas, tanggungjawab. Tanggungjawab memperkuat bakat. Ia memberikan dasar keberhasilan, dan memaksimalkan kemampuan dan kesempatan, serta membangun reputasi yang teguh. Ketigabelas, kerja tim. Melalui kerja tim, bakat-bakat dilipatgandakan.</p>
<p>Ketiga belas kaidah emas Maxwell ini merupakan cara paling jitu untuk menghidupkan bakat, dan mewujudkan impian. Karena itu, bakat tidak pernahlah cukup (faktor interen). Bakat perlu disokong oleh factor eksteren, sehingga bakat bukan sekedar istilah, simbol, melainkan ia sungguh hidup, dan berapi.<br />
Bermimpi menjadi seorang sukses sangatlah mudah. Ada banyak orang yang bakatnya sangat pas-passan, lagi malas-malasan. Namun, mereka sukses dalam hidupnya. Sebaliknya, ada juga orang yang sejak kecil bakatnya begitu mempesona setiap orang. Ia pun selalu mendapatkan perhatian semua orang. Sayang, kehidupannya penuh dengan cerita tragis. Ia pun hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Cerita ini sangat kontras. Namun mengundang sejuta pertanyaan. Mengapa orang yang kedua hidup dalam kemiskinan dan penderitaan? Mario Teguh, salah satu motivator terkemuka di negeri ini memberikan dua jawaban. Pertama, kesempatan. Menurutnya, seorang yang punya bakat harus mencari kesempatan, dan peluang terus menerus untuk mengasah bakatnya. Kedua, kesiapan. Bakat harus diasah. Sebab jika diasah terus-menerus, maka hal itu akan sangat membantu seseorang untuk siap memanfaatkan setiap peluang yang ada. Maka, kelemahan orang yang kedua sudah bisa ditebak. Orang yang kedua mempunyai bakat yang lebih. Tetapi ia kurang dalam hal kesiapan, dan memanfaatkan setiap peluang yang ada. Bakat emasnya pun menjadi sia-sia, mati.<br />
Beberapa tokoh yang mampu mengembangkan bakat-bakat mereka hingga menjadi orang-orang tersohor di dunia, yakni Albert Einstein, Theodore Roosevelt, John F. Kennedy, Abraham L., atau Oprah Winfrey, Tiger Wood, dan Sekarang ini adalah Barack Obama, dll. Mereka semua dikagumi, dikenang dalam sejarah umat manusia. Dan hal itu hanya dimungkinkan karena mereka mampu memaksimalkan bakat mereka. Bagaimana dengan anda? Semoga!</p>
<p>Penulis, Penikmat Buku-buku motivation, leadership, philosophy, politic, dan lain-lain. Penulis di berbagai media cetak (NOLA, HIDUP, KOMUNIKASI, dll)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/329/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=329&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/20/talent-is-never-enough/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hope &amp; Success</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/20/hope-success/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/20/hope-success/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2011 03:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Marinus Waruwu Berbicara success berarti berbicara hope. Artinya bahwa ketika seseorang ingin hidup sukses (success), maka ia harus memiliki sebuah harapan (hope), bahwa suatu saat hidupnya, keluarga, komunitasnya akan hidup sukses, dan hidup bahagia. Harapan dan sukses merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Keduanya bagai pinang dibelah dua. Mereka sama-sama memiliki peran penting (win-win solution). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=325&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Marinus Waruwu</p>
<p>Berbicara success berarti berbicara hope. Artinya bahwa ketika seseorang ingin hidup sukses <em>(success),</em> maka ia harus memiliki sebuah harapan <em>(hope),</em> bahwa suatu saat hidupnya, keluarga, komunitasnya akan hidup sukses, dan hidup bahagia. Harapan dan sukses merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Keduanya bagai pinang dibelah dua. Mereka sama-sama memiliki peran penting <em>(win-win solution).</em></p>
<p>Harapan tanpa sebuah ideal hidup sukses adalah sia-sia belaka. Tidak punya arah, nilai, atau tujuan yang ingin dituju. Harapan hanya tinggal harapan jika tidak memiliki ideal hidup. Jalan di tempat. Sebaliknya, ideal hidup sukses selalu mendorong setiap orang untuk selalu berharap, berharap, dan berharap. Harapan memaksa orang untuk action. Orang-orang sukses tidak pernah meremehkan <em>“HOPE”.</em> <em>Hope </em>adalah kekuatan. Ia memberi motivasi demi ideal hidup sukses.<span id="more-325"></span></p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari pun kita seringkali menemukan orang-orang yang penuh semangat, antusias, keyakinan, inisiatif, kegigihan, keberanian mengambil resiko, dan tentu saja tanggung jawab yang luar biasa. Biasanya, sikap-sikap demikian telah menjadi an habit, an trusting, and an life value. Hidup mereka pun serasa ada sesuatu yang kurang jika dalam sedetik, sejam, or sehari pun tidak menganut prinsip-prinsip hidup demikian. Keyakinan inilah yang membuat mereka bisa meraih impian.</p>
<p>Singkatnya, <em>hope</em> dapat menjadi penuntun bagi tiap orang untuk meraih a dream, a successful of life. Tetapi penting dipahami bahwa action adalah kuncinya. <em>Action</em> tak lain merupakan sebuah realisasi dari sebuah harapan. <em>It`s like a bridge!</em> Ia bagai sebuah jembatan. <em>Action</em> adalah jembatan antara hope dan <em>success.</em> Ia bertindak sebagai penghubung. Tanpa <em>action,</em> seseorang tidak pernah akan sampai kepada <em>a success.</em> Ia pasti memutar arah, dan balik ke tempat semula. Itulah peran penting sebuah tindakan dalam menjembatani antara harapan dan ideal hidup sukses. Namun harapan masih tetaplah yang terpenting. Dialah yang membakar, memaksa seseorang untuk bertindak.</p>
<p>Ciri-ciri orang yang memiliki hope adalah orang tersebut terus bekerja, berjuang, dan berusaha. Hope mengangkat moral seseorang untuk terus bekerja, berjuang, dan berusaha. Karena itu, ia meningkatkan citra diri. Ia membangkitkan energi, dan meningkatkan perkiraan Membangun inisiatif, keberanian. Jika dalam pengalaman sehari-hari menemukan ciri-ciri orang demikian, maka dia-lah orang yang memiliki harapan. Dalam keluarga, atau pribadi kita pun kita dapat menilai apakah <em>ourself, our family, our community, or ect</em> merupakan orang yang mempunyai hope. Jika Ya, maka realisasikanlah harapan tersebut dalam sebuah tindakan. Sebaliknya jika tidak, maka adopsi ideal-ideal tersebut dalam kehidupan anda. Untung kita masih diberi waktu. Semoga membantu!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/325/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=325&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2011/02/20/hope-success/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“FILM ONO SITEFUYU: Sebuah Tragedi Kehidupan”</title>
		<link>http://niasbaru.wordpress.com/2010/10/08/%e2%80%9cfilm-ono-sitefuyu-sebuah-tragedi-kehidupan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://niasbaru.wordpress.com/2010/10/08/%e2%80%9cfilm-ono-sitefuyu-sebuah-tragedi-kehidupan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2010 04:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niasbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://niasbaru.wordpress.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Marinus Waruwu Pengantar Pertama, kita perlu memberikan apresiasi kepada Bapak Ponti Gea (sutradara &#38; produser), dan Bapak Yunus Gea (cerita &#38; scenario) serta para pemain film Ono Sitefuyu=Anak Sesat. Atas kerja sama mereka semua, film ini akhirnya berhasil diluncurkan, dan mudah-mudahan film ini mampu menembus industri perfilman nasional, dan juga internasional. Film ini adalah sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=322&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Marinus Waruwu</strong></p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Pertama, kita perlu memberikan apresiasi kepada Bapak Ponti Gea (sutradara &amp; produser), dan Bapak Yunus Gea (cerita &amp; scenario) serta para pemain film Ono Sitefuyu=Anak Sesat. Atas kerja sama mereka semua, film ini akhirnya berhasil diluncurkan, dan mudah-mudahan film ini mampu menembus industri perfilman nasional, dan juga internasional. Film ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang Nias. Bahwa ternyata kita juga mampu melakukan hal-hal yang lebih besar jika punya kemauan, dan niat. Itu saja!</p>
<p>Kedua, film ini berusaha memberikan kesadaran kepada anak muda Nias agar tidak bermain-main dalam menjalani hidup. Kita punya kendali atas hidup. Maju mundurnya kehidupan tergantung kita. Sebaliknya, hidup berfoya-foya berarti sebuah tragedi! Tragedi karena ditandai dengan rasa hopeless, meaningless atas hidup. Untuk apa hidup jika demikian? Film Ono Sitefuyu adalah gambaran akan hidup seorang anak sesat, yang terjebak dalam perasaan hopeless, dan meaningless. Baginya, hidup hanyalah untuk saat ini, kenikmatan sesaat. Maka, apapun cara dilakukan untuk memperoleh kenikmatan itu termasuk memiskinkan orang tuanya dan saudarinya.<span id="more-322"></span></p>
<p><strong>Kisah film</strong></p>
<p>Pada intinya fim ONO SITEFUYU berkisah tentang keluarga Bapak Ama Wanohu, dan Ina Wanohu di Nias. A/I Wanohu memiliki 2 orang anak, yakni Sanohugö dan Di`a.</p>
<p>Keluarga Bapak A/I Wanohu adalah keluarga miskin. Mata pencaharian mereka sama seperti penduduk Nias pada umumnya, yakni berkebun karet, dan sawah. Kendati kondisi ekonominya sangat memprihatinkan, namun mereka sangat bahagia, dan bisa menikmati kehidupan.</p>
<p>Bencana mulai datang ketika Sanohugö beranjak dewasa. Setelah selesai sekolah di bangku SD, dan SMP ba mbanua (di kampung), ia memaksa kedua orang tuanya agar menyekolahkannya di kota (ba fasa Gunungsitoli). Orang tuanya pun kaget, dan tidak berdaya menolak paksaan Sanohugö untuk melanjutkan sekolah SMA ba fasa (kota Gunungsitoli).</p>
<p>Untuk membiayai sekolah Sanohugö ba fasa, A/I Wanohu menjual kebun dan sawah mereka kepada tetangga. Mereka berharap bahwa Sanohugö mampu mengubah keadaan keluarga setelah sekolah.</p>
<p>Apa yang terjadi kemudian? Sanohugö ternyata berfoya-foya di kota. Semua uang orang tuanya digunakannya untuk bermain judi, dan mabuk-mabukkan. Ia sering bolos sekolah. Nilainya anjlok, dan suka main cewek. Ia juga sering berkelahi dengan pemuda lain. Singkatnya, uang orang tuanya digunakan bukan untuk membiayai sekolahnya, melainkan untuk berfoya-foya. Seolah-olah dia adalah anak sang raja.</p>
<p>Sayang bahwa sampai akhir hidup orang tua-nya A/I Wanohu tidak mengetahui jika Sanohugö hidup dalam kesia-siaan. Muncul harapan bahwa anak mereka kelak menjadi anak yang bijak dalam menjalani hidup. Ternyata tidaklah demikian.</p>
<p><strong>Fiktif atau realitas?</strong></p>
<p>Apakah kisah film Ono Sitefuyu merupakan kisah sungguhan atau hanya karya fiktif belaka? Kisahnya tidak hanya berbicara tentang fiktif atau realitas. Sebaliknya ada makna tersembunyi dibalik kisah. Misalnya dalam bentuk pertanyaan: pertama, mengapa anak perempuan (Di`a) tidak disekolahkan oleh orang tuanya? Ini adalah persoalan gender yang sampai kini masih hangat diperbincangkan di Nias. Tapi mungkinkah muncul tokoh-tokoh feminisme di Nias, sehingga bisa mengubah keadaan? Kedua, mengapa di Nias masih identik dengan kemiskinan, dan keterbelakangan dari segala hal? Film ini juga menyangkut kritik sosial.</p>
<p>Film ini tidaklah fiktif! Kisahnya bukan hanya dalam tataran ide/gagasan atau konsep-konsep belaka. Ia berbicara tentang keadaan yang sesungguhnya di Nias. Ketika masih duduk di bangku SD dan SMP, saya masih menyaksikan beberapa peristiwa serupa. Hidup berfoya-foya, mabuk-mabukkan, pemalas, judi, dan kebiasaan berkelahi kadang-kadang menjadi kebiasaan anak muda. Padahal kondisi ekonomi orang tua sangat tidak memungkinkan. Ölö Zatua (harta orang tua) terbuang sia-sia. Itulah pesan film Ono Sitefuyu. Orang tua, dan saudarinya Di`a rela menjual seluruh harta benda seperti kebun, sawah, hingga rumah yang sangat sederhana itu demi biaya sekolah Sanohugö ba fasa. Namun semuanya terbuang sia-sia. Sanohugo hidup dalam hopeless, meaningless sehingga tidak mampu mengendalikan kehidupannya. Ia dipermainkan oleh kehidupannya. Hidup berandalan. Ia pun kalah!</p>
<p><strong>Sosok Di`a: Perempuan tegar!</strong></p>
<p>Film ini juga menampilkan sosok Di`a (adik Sanohugö). Ia lugu. Polos. Rajin. Tidak macam-macam. Tidak reaktif. Tidak banyak bicara. Ia sungguh-sungguh merenungkan segala peristiwa dalam keluarganya. Ketika Ayahnya (Ama Wanohu) meninggal, ia terpukul. Tetapi hidup harus berlanjut. Ia harus mendampingi Ibu yang sudah tua, dan sakit-sakitan itu.</p>
<p>Peristiwa menarik dari sosok Di`a adalah saat tetangganya datang untuk menagih utang. Saat itu Di`a sedang mobogö gae (memanggang pisang). Ibunya juga sedang sakit berat. Penagih utang itu memaksa agar segera membayar Ömöra (utang mereka). Namun karena Di`a dan Ibunya tidak memiliki kefe (uang) ba wobu`a Ömöra tersebut, penagih utang dengan nada menantang berkata, :</p>
<p>“He Ina Wanohu! Börö metebai mibai gömömi andrö, ma`andrö khöu ena`ö toröi ba khöma nakhigu Di`a. Ena`ö mohalöwö ia khöma. Akhigu Di`a ufangörö-ngörö dania bada`a” (Ina Wanohu! Karena kalian tidak bisa membayar utang tersebut, kami meminta agar Di`a tinggal di rumah kami untuk bekerja. Di`a akan sering saya kirim ke sini untuk bertemu dengan Ibu).</p>
<p>Mendengar permintaan tersebut, kelihatan bahwa Di`a marah dalam hati. Mukanya memerah. Mungkin saja menangisi keadaan, seperti kemiskinan, dan pendidikan. Namun ia tidak mampu berkata apapun. Ia merenung sejenak: Antara memilih untuk tinggal bersama Ibunya, karena itu menjaganya karena sudah sakit-sakitan atau bekerja dan tinggal di rumah orang lain demi melunasi utang yang dipinjam untuk membiayai sekolah Abangnya Sanohugö di kota. Ibunya mengijinkannya pergi dan tinggal di rumah penagih utang tersebut. Namun hati nuraninya berkata: TIDAK! Dalam kesunyiannya dia berkata kepada Ibunya:</p>
<p>“Saya tidak ingin berpisah dengan Ibu. Saya ingin menjaga Ibu. Biarkanlah mereka mengambil rumah ini untuk melunasi utang tersebut”</p>
<p>Luar biasa! Kendati seorang perempuan yang terkesan lugu, namun dia menampakkan pribadi yang kuat, tegar. Sesungguhnya hatinya tidak menerima keadaan demikian, namun apa daya! Ini adalah tragedi kehidupan.</p>
<p>Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, dia berharap bahwa Abangnya Sanohugö menjadi harapannya. Sayang! Abangnya tersebut justru menitipkannya ke paman mereka karena Dia pergi mukoli (merantau). Saat berpisah dengan abangnya, dia termenung dalam kesunyian. Ia diam! Kita tidak tahu apa yang dipikirkannya. Ia pun bersalaman dengan abangnya dan berkata, “Abang! Abang harus kembali. Tinggal Engkaulah harapanku” Ia pun menangis. Sakit rasanya perpisahan itu. Namun ia harus menerima keadaan itu. Ini adalah sebuah tragedi. Mungkinkah orang-orang seperti ini merasakan kebahagiaan kelak?</p>
<p><strong> Peran Imagi dalam konteks film</strong></p>
<p>Pada tataran tertentu film ini juga mengangkat tema-tema imaginasi postmodernisme. Bahwa jikalau di jaman modern peran imagi, feeling, intuition, heart, dll tersingkirkan. Justru dalam film ini mengakui peran aliran posmodernisme dalam konteks imagi, heart, dll. Salah satu adegan yang membuat film bisa identik dengan karya para pemikir posmodernisme adalah “saat Sanohugö membayangkan, atau mengimaginasikan ulang pesan-pesan kedua orang tuanya saat pertama kali berangkat ke kota. Kedua orang tuanya berpesan agar fokus sekolah, dan menyadari keterbatasan ekonomi keluarga., tidak bermain wanita, mabukkan, berkelahi….” Proses imaginasi ini terjadi ketika kedua orang tua sudah meninggal. Ia teringat akan pesan-pesan mereka. Mungkin saja ia menyesal, dan mau bertobat. Sayang terlambat! Orang tuanya telah tiada. Hidup harus berlanjut. Imaginasi mengantarnya pada masa lampau. Namun apa gunanya jika peristiwa lampau tersebut hanya sekedar dibayangkan, diimaginasikan ulang? Mungkin pesan positifnya perlu ditinjau ulang!</p>
<p><strong>Kritik atas film:</strong></p>
<p>Film ini masih dalam tataran “permasalahan”. Film Ono Sitefuyu hanya mengisahkan, dan tidak mencarikan solusinya. Para penonton bertanya-tanya; Apakah pada akhirnya Sanohugö bertobat atau tidak? Bagaimana proses pertobatannya? Sehingga dengan itu bisa menjadi pembelajaran bagi kaum muda!</p>
<p>Marinus Waruwu, Penulis diberbagai media cetak nasional maupun lokal. Diantaranya: HIDUP, KOMUNIKASI, NOLA, MERAGI, dll. Bertindak sebagai Editor of International Nola Magazine for Crossiers.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/niasbaru.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/niasbaru.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/niasbaru.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/niasbaru.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/niasbaru.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/niasbaru.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/niasbaru.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/niasbaru.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/niasbaru.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/niasbaru.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/niasbaru.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/niasbaru.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/niasbaru.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/niasbaru.wordpress.com/322/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=niasbaru.wordpress.com&amp;blog=1812783&amp;post=322&amp;subd=niasbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://niasbaru.wordpress.com/2010/10/08/%e2%80%9cfilm-ono-sitefuyu-sebuah-tragedi-kehidupan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd54d799b991e5fcab617635d2ef81c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marinus Waruwu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
