“FILM ONO SITEFUYU: Sebuah Tragedi Kehidupan”
Posted by niasbaru on October 8, 2010
Marinus Waruwu
Pengantar
Pertama, kita perlu memberikan apresiasi kepada Bapak Ponti Gea (sutradara & produser), dan Bapak Yunus Gea (cerita & scenario) serta para pemain film Ono Sitefuyu=Anak Sesat. Atas kerja sama mereka semua, film ini akhirnya berhasil diluncurkan, dan mudah-mudahan film ini mampu menembus industri perfilman nasional, dan juga internasional. Film ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang Nias. Bahwa ternyata kita juga mampu melakukan hal-hal yang lebih besar jika punya kemauan, dan niat. Itu saja!
Kedua, film ini berusaha memberikan kesadaran kepada anak muda Nias agar tidak bermain-main dalam menjalani hidup. Kita punya kendali atas hidup. Maju mundurnya kehidupan tergantung kita. Sebaliknya, hidup berfoya-foya berarti sebuah tragedi! Tragedi karena ditandai dengan rasa hopeless, meaningless atas hidup. Untuk apa hidup jika demikian? Film Ono Sitefuyu adalah gambaran akan hidup seorang anak sesat, yang terjebak dalam perasaan hopeless, dan meaningless. Baginya, hidup hanyalah untuk saat ini, kenikmatan sesaat. Maka, apapun cara dilakukan untuk memperoleh kenikmatan itu termasuk memiskinkan orang tuanya dan saudarinya.
Kisah film
Pada intinya fim ONO SITEFUYU berkisah tentang keluarga Bapak Ama Wanohu, dan Ina Wanohu di Nias. A/I Wanohu memiliki 2 orang anak, yakni Sanohugö dan Di`a.
Keluarga Bapak A/I Wanohu adalah keluarga miskin. Mata pencaharian mereka sama seperti penduduk Nias pada umumnya, yakni berkebun karet, dan sawah. Kendati kondisi ekonominya sangat memprihatinkan, namun mereka sangat bahagia, dan bisa menikmati kehidupan.
Bencana mulai datang ketika Sanohugö beranjak dewasa. Setelah selesai sekolah di bangku SD, dan SMP ba mbanua (di kampung), ia memaksa kedua orang tuanya agar menyekolahkannya di kota (ba fasa Gunungsitoli). Orang tuanya pun kaget, dan tidak berdaya menolak paksaan Sanohugö untuk melanjutkan sekolah SMA ba fasa (kota Gunungsitoli).
Untuk membiayai sekolah Sanohugö ba fasa, A/I Wanohu menjual kebun dan sawah mereka kepada tetangga. Mereka berharap bahwa Sanohugö mampu mengubah keadaan keluarga setelah sekolah.
Apa yang terjadi kemudian? Sanohugö ternyata berfoya-foya di kota. Semua uang orang tuanya digunakannya untuk bermain judi, dan mabuk-mabukkan. Ia sering bolos sekolah. Nilainya anjlok, dan suka main cewek. Ia juga sering berkelahi dengan pemuda lain. Singkatnya, uang orang tuanya digunakan bukan untuk membiayai sekolahnya, melainkan untuk berfoya-foya. Seolah-olah dia adalah anak sang raja.
Sayang bahwa sampai akhir hidup orang tua-nya A/I Wanohu tidak mengetahui jika Sanohugö hidup dalam kesia-siaan. Muncul harapan bahwa anak mereka kelak menjadi anak yang bijak dalam menjalani hidup. Ternyata tidaklah demikian.
Fiktif atau realitas?
Apakah kisah film Ono Sitefuyu merupakan kisah sungguhan atau hanya karya fiktif belaka? Kisahnya tidak hanya berbicara tentang fiktif atau realitas. Sebaliknya ada makna tersembunyi dibalik kisah. Misalnya dalam bentuk pertanyaan: pertama, mengapa anak perempuan (Di`a) tidak disekolahkan oleh orang tuanya? Ini adalah persoalan gender yang sampai kini masih hangat diperbincangkan di Nias. Tapi mungkinkah muncul tokoh-tokoh feminisme di Nias, sehingga bisa mengubah keadaan? Kedua, mengapa di Nias masih identik dengan kemiskinan, dan keterbelakangan dari segala hal? Film ini juga menyangkut kritik sosial.
Film ini tidaklah fiktif! Kisahnya bukan hanya dalam tataran ide/gagasan atau konsep-konsep belaka. Ia berbicara tentang keadaan yang sesungguhnya di Nias. Ketika masih duduk di bangku SD dan SMP, saya masih menyaksikan beberapa peristiwa serupa. Hidup berfoya-foya, mabuk-mabukkan, pemalas, judi, dan kebiasaan berkelahi kadang-kadang menjadi kebiasaan anak muda. Padahal kondisi ekonomi orang tua sangat tidak memungkinkan. Ölö Zatua (harta orang tua) terbuang sia-sia. Itulah pesan film Ono Sitefuyu. Orang tua, dan saudarinya Di`a rela menjual seluruh harta benda seperti kebun, sawah, hingga rumah yang sangat sederhana itu demi biaya sekolah Sanohugö ba fasa. Namun semuanya terbuang sia-sia. Sanohugo hidup dalam hopeless, meaningless sehingga tidak mampu mengendalikan kehidupannya. Ia dipermainkan oleh kehidupannya. Hidup berandalan. Ia pun kalah!
Sosok Di`a: Perempuan tegar!
Film ini juga menampilkan sosok Di`a (adik Sanohugö). Ia lugu. Polos. Rajin. Tidak macam-macam. Tidak reaktif. Tidak banyak bicara. Ia sungguh-sungguh merenungkan segala peristiwa dalam keluarganya. Ketika Ayahnya (Ama Wanohu) meninggal, ia terpukul. Tetapi hidup harus berlanjut. Ia harus mendampingi Ibu yang sudah tua, dan sakit-sakitan itu.
Peristiwa menarik dari sosok Di`a adalah saat tetangganya datang untuk menagih utang. Saat itu Di`a sedang mobogö gae (memanggang pisang). Ibunya juga sedang sakit berat. Penagih utang itu memaksa agar segera membayar Ömöra (utang mereka). Namun karena Di`a dan Ibunya tidak memiliki kefe (uang) ba wobu`a Ömöra tersebut, penagih utang dengan nada menantang berkata, :
“He Ina Wanohu! Börö metebai mibai gömömi andrö, ma`andrö khöu ena`ö toröi ba khöma nakhigu Di`a. Ena`ö mohalöwö ia khöma. Akhigu Di`a ufangörö-ngörö dania bada`a” (Ina Wanohu! Karena kalian tidak bisa membayar utang tersebut, kami meminta agar Di`a tinggal di rumah kami untuk bekerja. Di`a akan sering saya kirim ke sini untuk bertemu dengan Ibu).
Mendengar permintaan tersebut, kelihatan bahwa Di`a marah dalam hati. Mukanya memerah. Mungkin saja menangisi keadaan, seperti kemiskinan, dan pendidikan. Namun ia tidak mampu berkata apapun. Ia merenung sejenak: Antara memilih untuk tinggal bersama Ibunya, karena itu menjaganya karena sudah sakit-sakitan atau bekerja dan tinggal di rumah orang lain demi melunasi utang yang dipinjam untuk membiayai sekolah Abangnya Sanohugö di kota. Ibunya mengijinkannya pergi dan tinggal di rumah penagih utang tersebut. Namun hati nuraninya berkata: TIDAK! Dalam kesunyiannya dia berkata kepada Ibunya:
“Saya tidak ingin berpisah dengan Ibu. Saya ingin menjaga Ibu. Biarkanlah mereka mengambil rumah ini untuk melunasi utang tersebut”
Luar biasa! Kendati seorang perempuan yang terkesan lugu, namun dia menampakkan pribadi yang kuat, tegar. Sesungguhnya hatinya tidak menerima keadaan demikian, namun apa daya! Ini adalah tragedi kehidupan.
Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, dia berharap bahwa Abangnya Sanohugö menjadi harapannya. Sayang! Abangnya tersebut justru menitipkannya ke paman mereka karena Dia pergi mukoli (merantau). Saat berpisah dengan abangnya, dia termenung dalam kesunyian. Ia diam! Kita tidak tahu apa yang dipikirkannya. Ia pun bersalaman dengan abangnya dan berkata, “Abang! Abang harus kembali. Tinggal Engkaulah harapanku” Ia pun menangis. Sakit rasanya perpisahan itu. Namun ia harus menerima keadaan itu. Ini adalah sebuah tragedi. Mungkinkah orang-orang seperti ini merasakan kebahagiaan kelak?
Peran Imagi dalam konteks film
Pada tataran tertentu film ini juga mengangkat tema-tema imaginasi postmodernisme. Bahwa jikalau di jaman modern peran imagi, feeling, intuition, heart, dll tersingkirkan. Justru dalam film ini mengakui peran aliran posmodernisme dalam konteks imagi, heart, dll. Salah satu adegan yang membuat film bisa identik dengan karya para pemikir posmodernisme adalah “saat Sanohugö membayangkan, atau mengimaginasikan ulang pesan-pesan kedua orang tuanya saat pertama kali berangkat ke kota. Kedua orang tuanya berpesan agar fokus sekolah, dan menyadari keterbatasan ekonomi keluarga., tidak bermain wanita, mabukkan, berkelahi….” Proses imaginasi ini terjadi ketika kedua orang tua sudah meninggal. Ia teringat akan pesan-pesan mereka. Mungkin saja ia menyesal, dan mau bertobat. Sayang terlambat! Orang tuanya telah tiada. Hidup harus berlanjut. Imaginasi mengantarnya pada masa lampau. Namun apa gunanya jika peristiwa lampau tersebut hanya sekedar dibayangkan, diimaginasikan ulang? Mungkin pesan positifnya perlu ditinjau ulang!
Kritik atas film:
Film ini masih dalam tataran “permasalahan”. Film Ono Sitefuyu hanya mengisahkan, dan tidak mencarikan solusinya. Para penonton bertanya-tanya; Apakah pada akhirnya Sanohugö bertobat atau tidak? Bagaimana proses pertobatannya? Sehingga dengan itu bisa menjadi pembelajaran bagi kaum muda!
Marinus Waruwu, Penulis diberbagai media cetak nasional maupun lokal. Diantaranya: HIDUP, KOMUNIKASI, NOLA, MERAGI, dll. Bertindak sebagai Editor of International Nola Magazine for Crossiers.
enals hulu said
aku sungguh bangga dengan adanya sesuatu hal yang bisa membuat orang Nias ternama dan terpuji di mana-mana,,dengan adanya film ini semoga Nias semakin ke depan,,dan film ini juga bisa menjadi pengalaman ataupun teguran bagi anak-anak muda sekarang atau para anak sekolah yang melanjut di luar pulau Nias,,
himbauan:mari lah kita saling mendukung demi Nias pulau kesangan kita,,
(untuk kita,,oleh kita,,dan dari kita)…
maju terus pantang mundur,,, Love YOU NIas…
Marinus W. said
Yaahowu Sdr. Enals H.
1 Hal yang kita harapkan bahwa film tersebut dpt memberikan kontribusi penting pada perkembangan kepribadian anak2 Nias di mana pun mereka berada.
Salam Persahabatan
Redaktur
Yunus Gea said
Saya senang Respon’y
yanu said
film sanohugo sangat diminati oleh masyarakat nias. mungkin kerena merupakan produksi film yang pertama beredar. memperlihatkan dengan jelas realita hidup yang tidak mengenal Tuhan dan kualitas sipritual rendah bahkan tidak ada dari sebagian besar muda-mudi Nias. keberanian orangtua Sanohugo menyekolahkan anaknya padahal tidak adanya biaya yang cukup perlu dipuji namun tidak memberi pengawalan yang baik bagi karakter anaknya, ini tidak wajar (bagi saya orang tua punya tanggung jawab penuh dalam membentuk karakter anaknya). orangtua yang begini banyak kita jumpai di pulau nias. Film ini bersifat “menyindir” setia keluarga nias. kiranya aja ada kesadaran bagi yang merasa tersinggung, dan berubah menjadi lebih baik. salam
linda said
puji Tuhan atas semua yang Dialakukan bagi tanah yang trcinta kita ini, dimana sebuah Film yang berjudul :anak yang! dimana untuk menjadi sebuah contoh bagi anak-anak yang masih sekaloh baik yang tinggal di Nias maupun yang ada di luar kota, supaya lebih sungguh-sungguh belajar supaya apa yang di harapkan oleh orangtua menjadi satu penghargaan bagi mereka.
agusman waruwu said
film yang berjudul Ono Sitefuyu merupakan suatu bentuk pengembangan potensi bagi muda-mudi secara khusus anak Nias didalam menemukan bakat atau talenta, hal ini sudah menjadi sebuah realita, dimana,,,, ada banyak anak Nias skrg mulai mencari sendiri bakat yang selama ini mereka abaikan. Maka dalm hal sprti ini perlu ada keseriusan kepada setiap anak muda, biarlah semakin hari semakin bertambah pengatauan, dan jangan biarkan hal-hal yang dapat membangun melewati kehidupan saudara…….ambillah sebuah makna dari flm tsbt, dan coba tanyakan pada dirimu apakah ini dapat membangun atau tidak,,,,,jikalau itu membangu jangn pernah biarkan ia berlalu……