Rokok, Antara Kenikmatan & Penderitaan
Posted by niasbaru on August 9, 2009
Marinus W.
(Tulisan ini dibuat pada saat pelatihan jurnalistik oleh Koran KOMPAS)
Rokok, Sebuah Isu Kontroversial
Rokok! Sebenarnya “nama benda” ini sangat kontroversial. Di satu sisi ia menawarkan keenakan, atau kenikmatan bagi setiap pemakainya. Di sisi lain juga, secara tidak langsung memberi efek yang sangat buruk bagi kesehatan pemakainya. Efek buruknya pun bukan hanya bagi pemakainya saja, tetapi juga memberikan efek buruk bagi kesehatan setiap orang, yang pada saat itu berada di dalam lingkungan orang-orang yang menghirup rokok (smokers). Bahkan pabrik-pabrik rokok sangat menyadari efek buruk rokok ini bagi kesehatan manusia, hal ini sangat jelas dari tulisan yang tertera disampul luar rokok yang berbunyi : “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Himbauan ini, paling tidak menyadarkan para smokers bahwa merokok dapat mempunyai efek yang sangat buruk bagi kesehatan manusia. Pertanyaannya adalah kenapa para smokers masih menghirup rokok? Lalu pabrik-pabrik rokok ini sudah menyadari dengan sangat bahwa rokok memiliki efek buruk bagi kesehatan manusia, namun mengapa masih saja membuat dan menyebarkan rokok-rokok tersebut ke pasaran? Dengan itu pun orang akan beranggapan bahwa himbauan tersebut tak lebih dari sebuah coretan kecil yang tak memiliki makna sama sekali, karena memang dibalik peredaran rokok tersebut mempunyai kepentingan ekonomi yang sangat menyenangkan bagi kaum kapitalis untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara di sana sini semakin banyak para smokers yang terserang penyakit, lalu meninggal akibat merokok, bahkan ada di antara smokers yang melakukan kriminalitas demi rokok. Itulah sebab mengapa rokok dikatakan sebagai sebuah isu kontroversial. Namun sebelum masuk terlalu jauh, saya akan menjelaskan secara singkat tentang sejarah rokok ini.
Rokok, dan Sejarahnya
Rokok adalah silinder dari kertas yang berukuran antara 70 sampai 120 mm. Rokok berisi daun-daun yang telah dicacah. Rokok dibakar ujungnya, lalu dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut. Biasanya, rokok dijual dalam bungkusan. Kendati mempunyai efek buruk bagi kesehatan manusia, namun rokok tetap saja diedarkan di pasaran. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan rokok tersebut disertai dengan pesan kesehatan yang memperingatkan para smokers, dan juga orang-orang yang tidak, dan mau mencicipinya bahwa rokok memilik efek yang sangat buruk untuk kesehatan manusia, misalnya kanker paru-paru, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Dalam kenyataanya, himbauan ini hanyalah tinggal hiasan, sebab jarang dipatuhi oleh orang-orang yang telah kecanduan oleh rokok.
Menurut sejarahnya, manusia di dunia yang pertama kali merokok adalah suku bangsa Indian di Amerika. Biasanya orang Indian menggunakan rokok untuk keperluan ritual seperti memuja roh atau dewa-dewi. Namun, pada abad 16, ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah itu ikut mencoba-coba untuk menghisap rokok, yang kemudian membawa tembakau ke Eropa untuk keperluan rokok dan juga ekonomis. Hanya saja, penggunaan rokok dalam masyarakat Indian berbeda dengan masyarakat Eropa. Jika rokok dalam masyarakat Indian digunakan untuk keperluan ritual, maka rokok dalam masyarakat Eropa justru digunakan untuk kesenangan semata-mata. Dalam perkembangan selanjutnya sekitar abad 17, rokok masuk ke Negara-negara Islam seperti Turki yang dibawa oleh para pedagang dari Spanyol.
Di jaman modern pun, rokok bukan lagi sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia. Jika pada awalnya, rokok hanya dinikmati oleh kaum bangsawan, atau kaum tetua di sekitar altar penyembahan berhala dalam masyarakat Indian, sekarang telah menjadi salah satu gaya hidup (life style). Ia sebuah pilihan yang membudaya dalam masyarakat terutama di antara kaum remaja dan pria dewasa, yang memang sebagian besar sebagai penghirup rokok dengan berbagai aneka jenisnya. Latar belakang kaum laki-laki merokok pun beraneka ragam. Ada alasan karena merokok dapat memberi kenikmatan, ketenangan, kebahagiaan. Ada juga alasan karena faktor gengsi supaya disebut jagoan. Hebat! Merokok berarti identik dengan kelaki-lakian, yang adalah sebagian besar dari smokers. Tidak merokok berarti terlalu kebencong-bencongan, feminim, tidak punya harga diri. Itu berarti, makna eksistensial dari rokok itu sendiri kabur, hilang, dan malah semakin ditarik ke masalah gender antara kaum pria, yang memang identik dengan smokers, dengan kaum wanita, yang sebagian kecil dari smokers. Dengan itu, makna eksistensial dari rokok, di mana pada awalnya mempunyai tujuan religius telah berubah menjadi salah satu a life style, a choce, yang membudaya dalam dunia modern. Ia bukan lagi salah satu sarana untuk melangsungkan peribatan untuk Yang Kuasa, namun justru sebagai sarana untuk mencapai kebagiaan, kenikmatan, dan juga penderitaan manusia di bumi ini.
Efek Asap Rokok
Seperti yang telah dijelaskan berulang-ulang di atas bahwa selain memberi efek kenikmatan, kebahagian bagi para penikmat rokok, asap rokok juga dapat menyebakan efek buruk bagi kesehatan para penghirup serta orang-orang yang berada di sekitar penghirup rokok. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari wikipedia, asap rokok dapat menyebabkan beberapa penyakit antara lain kanker pada tubuh, mengandung bahan pengiritasi mata dan pernapasan, menyebabkan kecanduan, berbagai penyakit lainnya serta rokok juga dapat menyebabkan dosa seperti pandangan golongan kalvinis dan kaum reformasi lainnya.
Rokok, Antara Kenimatan dan Penderitaan
Rokok terentang antara kenikmatan dan penderitaan manusia! Sangat mungkin pendapat ini disangkal oleh mereka yang menganut paham patristik, skolastik, bahkan posmodernisme sekalipun. Biasanya, para pelopor dan penganut aliran-aliran besar tersebut masih berkutat seputar pertanyaan apa itu kenikmatan, kebahagiaan bagi manusia. Lalu apa itu penderitaan bagi manusia. Apakah penderitaan ada atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan ini memang dicoba dijawab secara mendetail oleh berbagai aliran filsafat besar dunia seperti filsafat patristik, yang diwakili oleh St. Agustinus, dll dan juga skolastikat oleh St. Thomas Aquinas, dll. Bahwa yang menentukan kebahagiaan seseorang tergantung dari dosa dan rahmat Allah. Bila dosa besar berarti rahmat semakin mengecil. Dengan itu pun kebahagiaan di akhirat hampir tidak ada. Ia pun akan menderita di neraka. Sebaliknya, jika dosanya kecil berarti peluang untuk memperoleh rahmat dan kebahagiaan sangat besar. Berbeda dengan pandangan ini, para filsuf modern seperti Frederik Nietszche, menganggap bahwa kebahagiaan adalah sebuah nihilisme. Baginya kebahagiaan tidak ada, dan begitu juga dengan penderitaan. Atau pendapat lain yang menegaskan bahwa kebahagiaan hanyalah sebuah ilusi, fantasi, yang tidak pernah menjadi kenyataan. Begitu juga dengan penderitaan. Bahwa penderitaan memang sudah dikondisikan seperti itu, dan manusia tidak mampu lari darinya. Itu karena manusia hanyalah makluk kecil yang memang dikondisikan untuk menderita.
Terlepas dari perdebatan para filsuf di atas tentang kebahagiaan dan penderitaan, saya mau menegaskan bahwa rokok terentang antara kebahagiaan dan penderitaan. Rokok memberi efek kenikmatan, kebahagiaan bagi pemakainya. Atau istilah kerennya juga terasa lebih maskulin atau jagoan. Namun di sisi lain rokok justru memberi efek penderitaan bagi manusia. Rokok dapat membuat seseorang menderita, dan gila! Ketika seorang smoker tidak mempunyai uang untuk membeli rokok sementara ia sangat membutuhkan, maka ia dengan sadar atau tidak dapat berbuat kriminal, misalnya mencuri, merampas hak milik orang lain demi memenuhi keinginan. Selain itu, berbagai penyakit yang disebabkan oleh rokok juga sebagai sebuah penderitaan. Baru-baru ini ada sebagian dosen saya di kampus, dan kasus lain menderita penyakit jantung, kanker, kematian janin sebelum lahir, impotensi, dan gangguan kehamilan. Penyebabnya adalah rokok. mereka pun dengan lantang, terbuka mengakui bahwa sejak remaja hingga kepala enam telah menjadi perokok berat. Dan itu tidak bisa dihentikan karena kecanduan. Akibatnya, kenikmatan yang mereka dapatkan sia-sia (nihilisme) belaka, sebaliknya berbagai penyakit menggerogoti tubuh mereka. Lalu di manakah kenikmatan itu? Kendati menyakitkan, smokers akan menjawab: ASAP ROKOK!