PENDIDIKAN TANPA AWAL TANPA AKHIR
Posted by niasbaru on May 28, 2009
Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd
Pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia mencapai kedewasaan. Sebagai suatu upaya menuju ke arah perbaikan hidup dan kehidupan manusia yang lebih baik, pendidikan harus berlangsung tanpa awal dan akhir, tanpa batas, ruang dan waktu.
Indonesia ditengah persaingan global, mutlak memerlukan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, jujur, berakhklak mulia, berkarakter dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Manusia Indonesia harus punya daya tahan dan daya saing paripurna.
Upaya apa yang harus dilakukan untuk memenuhi harapan itu? Tak ada jalur lain selain pendidikan sebagai jalur utama pengembangan SDM dan pembentukan karakter. Dalam pengertian lebih luas, eksistensi bangsa ini bergantung bagaimana manusia-manusia didalamnya mengelola dan memuliakan pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah kata kunci dalam mementukan nasib bangsa.
Ironi Pendidikan Kita
Belakangan, permasalahan pendidikan di Indonesia terus menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Bukan saja masalah hasil belajar yang rendah, tapi juga soal carut marut serta inkonsistensi aturan dan kebijakan tentang sistem pendidikan nasional. Soal rendahnya mutu pendidikan, jujur harus dikaui serta tak usah diperdebatkan lagi. Hasil survei dan penelitian baik tataran nasional maupun dunia membuktikan hal itu.
Pemerintah, setidaknya dalam berbagai peraturan telah melakukan upaya perbaikan. Bahwa hasilnya belum maksimal sesuai yang diharapkan, pasti ada yang salah atau kurang terperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Penulis tak hendak menyimpulkan karena pemerintah tentu lebih tau dimana dan apa saja yang harus diperbaiki.
Tapi yang jelas, kualitas dan mutu pendidikan Indonesia ketinggalan 20 tahun jika dibandingkan dengan negara Malaysia. Sekali lagi, ini tak perlu diperdebatkan karena survei dan penelitian yang bicara. 20 tahun silam, Indonesia menjadi acuan bagi Malaysia dalam hal
pendidikan. Mereka meminta pengiriman guru untuk mengajar di sekolah milik negara Malaysia. Pun, tak sedikit ketika itu pelajar asal Malaysia yang menuntut ilmu di Indonesia.
Kondisi dewasa ini justru terbalik. Pelajar Indonesia berbondong ke Malaysia. Mahasiswa Indonesia juga bangga menyandang gelar kesarjanaannya dari Malaysia sehingga negara yang 20 tahun lalu belajar dari Indonesia itu menjelma menjadi salah satu negara yang paling banyak dituju masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Ironis. Lalu timbul pertanyaan dimana salahnya? Pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, juga peningkatan kualitas manajemen sekolah telah dilakukan pemerintah. Tak cukup hanya itu, penyediaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN dan APBD juga telah dilakukan. Hasilnya? Pendidikan kita tetap belum mampu keluar dari ketertinggalan dibanding perkembangan pendidikan negara lain.
Ada yang mengatakan pendidikan Indonesia tidak maju karena setiap kegiatan pendidikan selalu dijadikan konsumsi politik? Entahlah.
Kualitas dan Ketulusan Guru
Banyak yang percaya bahwa didunia ini cuma ada dua profesi yakni, guru dan bukan guru. Sangat beralasan karena profesi apapun seperti hakim, jaksa, polisi, wali kota, gubernur hingga presiden dilahirkan dari profesi guru. Ini berarti, guru merupakan salah satu bagian penting sukses atau tidaknya dunia pendidikan. Guru adalah profesi yang sangat mulia.
Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2009 ini, barangkali ada baiknya kita memikirkan kembali fungsi dan peran guru. Saya bukan hendak mengatakan bahwa saat ini guru tak lagi sesuai peran dan fungsinya.
Tugas guru itu sangat berat dan tidaklah gampang jika dibandingkan profesi lainnya. Sebagai ujung tombak peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, seyogyanya guru tidak dan jangan dibebankan dengan berbagai tugas mengerjakan berbagai proyek fisik dan sejensinya selain mengajar, mengajar dan mengajar. Dalam kaitan ini, termasuklah mengembalikan kewenangan dan kewibawaan guru dan sekolah dalam menentukan kelulusan siswa yang selama ini telah dirampas oleh UN (Ujian Nasional).
Namun demikian, mengembalikan kewenangan dan kewibawaan guru itu bukan pula berarti dengan serta merta peningkatan kualitas pendidikan Indonesia langsung terdongkrak. Ada pandangan yang harus diubah baik oleh guru itu sendiri maupun generasi muda yang berniat menjadi guru.
Saat ini semakin nyata, generasi muda kita nyaris tidak memiliki kebanggaan menjadi guru, bahkan profesi guru pun sudah tidak dianggap sebagai profesi pilihan utama. Buktinya dapat dilihat dari minat lulusan sekolah menengah memilih perguruan tinggi. Pilihan menjadi guru kadang adalah keterpaksaan karena gagal memilih jurusan yang diinginkan. Akibatnya kita mendapatkan para pelaku pendidikan yang hilang dalam hal pengabdian.
30 tahun lalu, menjadi guru adalah kebanggaan tersendiri. Demikian juga peserta didik, sangat menghormati dan menghargai guru sehingga mendorong pengabdian guru memberikan apa yang dia miliki untuk peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan kualitas merupakan yang
utama dari segalanya. Padahal di zaman itu yang namanya anggaran untuk dunia pendidikan dan fasilitas sangat terbatas. Tapi, mutu pendidikan kita setidaknya lebih bagus dari Malaysia.
Mungkin inilah yang kita lupakan, bahwa di zaman itu orang-orang yang menangani dunia pendidikan adalah orang-orang yang betul-betul memiliki niat mengabdi. Memiliki ketulusan. Mereka fokus, tak pernah berpikir bagaimana mendapatkan proyek, tidak pernah berfikir masalah apa yang mereka terima cukup atau tidak. Mereka jauh dari bicara masalah kesejahteraan.
Saat ini, ketika perhatian besar diberikan terhadap dunia pendidikan, mengapa justru banyak guru telah kehilangan nilai-nilai ketulusan, kejujuran, dan kebanggan tersebut?
Menurut hemat saya, selama 20 tahun terakhir pembangunan pendidikan Indonesia tidak berorientasi pada pengembangan mutu dan kualitas. Tapi lebih fokus pada pembangunan fisik. Anggaran 20 persen untuk dunia pendidikan justru lebih besar untuk birokrasi pendidikan ketimbang peningkatan mutu pendidikan. Lebih ekstremnya, ada anggapan bahwa 20 persen anggaran untuk dunia pendidikan tak lebih sekadar pencitraan politik.
Harapan
Sejarah dunia pendidikan di Indonesia mencatat bahwa dari dulu– entah sampai sekarang– belum satu partai politik, organisasi massa, atau lembaga negara yang mampu dan benar-benar berkomitmen mengubah wajah dunia pendidikan. Banyak elite politik membicarakan nasib pendidikan, mengklaim dirinya berkomitmen pada pendidikan, tetapi hanya untuk kepentingan politik semata.
Setelah Pemilu 2009 yang baru saja kita lalui, harapan itu agaknya bisa kita gantungkan pada mereka yang telah terpilih menjadi wakil rakyat. Dengan mereka kita berharap komitmen untuk memajukan dunia pendidikan tak sekedar kepedulian semu. Perlu dipahami benar hakikat pendidikan demi eksistensi sebuah bangsa. Pendidikan tanpa awal dan akhir serta tanpa ruang, batas dan waktu.
Semoga kejayaan 30 tahun silam dapat kita rengkuh kembali.
* Penulis adalah Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai-Riau
Hendik Keinsyafan Telaumbanua said
Ya’ahowu, buat: Drs. Firman Harefa, S.Pd
Perkembangan teknologi saat ini sudah semakin berkembang pesat. Politik para pemegang kekuasaan sedang berpikir untuk mendapatkan teknologi untuk kepentingan diri mereka sendiri. Kadang mereka mengira bahwa mereka sudah memiliki posisi yang paling tinggi tanpa menghiraukan orang-orang yang masih jauh menderita karena ulah egoisme yang mereka lakukan. Di Indonesia sampai sekarang tidak berhenti kasus-kasus korupsi dan bahkan perbuatan yang sangat-sangat-sangat dan sangat merugikan masyarakat yang semakin terlantar hanya gara-gara ulah korupsi yang mereka lakukan.
NIAS adalah salah satu Pulau yang menyimpan sumber daya Alam yang luar biasa. Sumber daya alam di Nias diolah oleh orang-orang yang bukan orang Nias. Mana generasi-generasi penerus ononiha.. ??????
Apakah ononiha sudah tidak memiliki generasi penerus ?
atau pendidikan di Nias sudah tidak memiliki guru-guru yang dapat handal.
Saya sebagai generasi penerus bangsa Indonesia dan khususnya generasi ononiha yang sedang menimbang ilmu di luar pulau ononiha yaitu di Universitas Pelita Harapan (JAKARTA), yaitu salah satu Universitas Kristen di Indonesia yang Berstandar Internasional, yang memiliki relasi erat (bekerjasama) dengan perguruan tinggi yang ada di Luar Negri (Australia, dan AS). Universitas ini menampung serta mendidik siswa-siswa yang memiliki kemampuan dalam bidang pedidikan, yang kelak akan menjadi seorang guru yang mampu mendidik generasi penerus bangsa Indonesia. SAlah satu fakultas yang menangani Pendidikan guru di Universitas Pelita Harapan ini adalah Teacher College.
Universitas ini juga memliki dosen-dosen yang yang berkualitas dan mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Kami hanya ada 6 orang dari NIas yang dapat menerima program beasiswa untuk melanjutkan pendidikan menjadi seorang guru di Universitas ini. Yakni, (Hendik Keinsyafan Telaumbanua dari SMA Pembda Gunungsitoli, Hasanti Putra Gea dari SMAN 1 Gunungsitoli, Syukur Gulo dari SMAN 1 Gunungsitoli, Perhatian Ndruru dari SMA S XAVERIUS, Yan Kristiaman Lase dari SMAN 1 Gunungsitoli dan Andreas Sastra Wijaya Zandroto dari SMAN 3 Gunungsitoli) kami mahasiswa angkatan 2008.
Kami sangat bangga karena bisa melanjut di sini. Kami berenam sudah memutuskan jika kelak kami selesai dari sini kami akan kembali ke Nias untuk bersama-sama memajukan pendikan di Nias yang selama ini telah tidur.
Saya sangat sedih melihat perkembangan pendidikan di Nias. Saya tidak akan diam dan kami merasa terbeban dan peduli dengan generasi penerus Nias yang saat ini masih dalam kebohongan (Pendikan) yang luar biasa.
Benar yang Drs. Firman Harefa, S.Pd katakan bahwa pelaksanaan UN di dunia pendidikan di Indonesia saat ini sudah tidak dapat dipercaya lagi, terkhusus di Nias.
Harapan kami kepada Drs. Firman Harefa, S.Pd, dukunglah kami generasi penerus ononiha dalam dunia pendidikan agar bisa membawa dampak yang baik ke Nias untuk mentranformasi pendidikan di NIas.
Bukan hanya kami tetapi masih banyak yang berada di Universitas yang lain, yang sekarang masih dalam proses penimbangan ilmu.
Tanpa pendidikan, maka pembangunan yang akan dilakukan untuk membangun Nias tidaklah akan berjalan dengan baik. tetapi sebaliknya hanyalah pendidikan yang bisa memberikan trasformasi bagi generasi penerus ononiha.
Salam dari saya,
Hendik Keinsyafan Telaumbanua
Semoga Tuhan memberkati kita , dan juga seluruh generasi penerus ononiha.
Semoga bapak di berkati >..>…>….>…..>……>…….>>>>>>
YA’AHOWU
Merlin H. said
Untuk Hendik K. T
Kami setuju unek-unek-mu! Ini tidak lain sebagai bentuk keprihatinan-mu terhadap kondisi dan situasi kita Ono Niha. Gue sendiri akan menununggumu Hendik untuk menempati janjimu dalam membangun nias kita.
Yang gue bingung tuh ama looo ya…komentar loo ini promosi UPH atau memang mau membangun nias. Karena gue sendiri kuliah di Universitas ternama, malah lebih ok dibanding UPH, tetapi gue ga pernah promosi sperti ini.
gue tunggu janjimu ya…
Anonimus said
kita org nias hanya banyak beretorika, tanpa tindakan satu pun!!!
kipas said
bwt merlin: ya fine2 z donk klo hendrik blg kyk gt…
mank napa??
lw sirik??!!
mrka tu da mnujukan pa yg baik bwt daerah na..
sdkgkn qm???
gmn??