Tubuh-mu pun Istana Jiwamu
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Rumah! Kalau diartikan secara harafiah berarti tempat untuk beristirahat, tidur, tempat berlindung. Rumah juga dapat diartikan sebagai tempat untuk melakukan hal-hal positif misalnya tempat untuk mengembangkan diri, membangun diri yang berkualitas, kompoten. Namun hal itu hanya dapat tercapai jika pemilik rumah sungguh-sungguh menciptakan suatu suasana yang kondusif, nyaman untuk didiami sehingga orang-orang yang mendiaminya pun terasa nyaman, damai. Maka istilah rumah sebagai istana akan terwujud bila pemilik rumah dapat menciptakan suasana kondusif dan nyaman untuk didiamin dalam rumah tersebut.
Sayang! Alangkah menyedihkan jika sebuah rumah sarang dengan aktivitas negatif misalnya tempat untuk merencanakan kejahatan, tempat untuk bersekongkol atau tempat untuk mencari rejeki dari hal-hal yang tidak halal, misalnya rumah dimanfaatkan sebagai tempat WTS, aborsi, judi, klab malam, atau sebagai tempat warung remang-remang, dll. Maka dengan fungsinya yang seperti ini rumah akan menjadi tidak nyaman untuk didiamin oleh orang lain. Setiap orang yang berkunjung ke sana akan selalu merasa tidak nyaman karena takut jika secara tiba-tiba polisi datang dan merajia setiap pengunjung dalam rumah.. Dengan itu, rumah ini bukan lagi menjadi berkah bagi orang lain, sesama. Tetapi rumah ini beralih fungsi sebagai pembawa bencana. Bukan hanya bagi pemilik rumah tetapi semua orang yang terkait dengan rumah tersebut. Rumah ini pun bukan lagi sebagai istana yang nyaman, damai tetapi sebagai sarang penyamun seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil minggu ini.
Cerita di atas hanyalah sebuah ilustrasi singkat dari Injil Yohanes 2:13-15. Dalam Injil Yohanes ini mengisahkan tentang penyucian bait Allah oleh Yesus. Pertanyaannya adalah kenapa Yesus menyucikan Bait Allah dan bukannya setiap hari para petugas cleaning services datang ke sana untuk membersihkannya, yang biasanya di suruh oleh orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat? Dalam konteks Injil Yohanes ini, penyucian Bait Allah berarti membersihkannya dari sarang penyamun, para penjual dan pedagang serta para penukar uang dan emas. Suasana ini membuat ramai karena sebelumnya bait Allah terkesan sepi, jarang pengunjung. Tetapi secara tiba-tiba mendadak ramai, banyak pengunjung karena telah beralih fungsi, yang sebelumnya tempat berdoa, malah diganti menjadi tempat berjualan dan melakukan aktivitas duniawi. Barang-barang dagangan pun laku dengan cepatnya.
Melihat suasana yang tidak terkendali tersebut, Yesus pun berontak. Ia mengusir mereka semua dan berkata: ”Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” Tidak berhenti di situ. Malah orang-orang ini meminta tanda dari Yesus sehingga mempunyai hak untuk mengusir mereka dari Bait Allah.
Ketika saya membaca lalu merenungkan kisah Injil ini dengan tema pokoknya, penyucian Bait Allah oleh Yesus justru memaksa saya untuk masuk ke tempat yang lebih dalam dan merenungkan makna sebenarnya. Ia memaksa saya mencari apa sebetulnya yang mau disampaikan. Dalam permenungan saya selanjutnya, di sini saya menemukan satu hal yang mau disasar yaitu Bait Allah. Dalam kisah Injil ini ”Bait Allah” sangat sentral. Di sini Bait Allah saya identikkan dengan diri (self). Tentu saja diri, tubuh (soma) tempat berdiamnya jiwa (psiche) tidak terbebas dari dosa, kesalahan. Itu karena soma hidup dalam dunia nyata (reality) dan selalu bersangkut paut dengan dunia sekitarnya. Soma yang tidak mempunyai kesalahan, dosa, bukanlah soma dan tidak hidup dalam dunia nyata kita. Namun walaupun soma selalu berurusan dengan dosa, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk membersihkannya, menyucikannya. Justru melalui dosa, soma dapat mencai kesempurnaannya. Hal itu bisa dilakukan dengan perubahan sikap, mengubah mind yang kotor. Dan sesegera mungkin mengisinya dengan positif thingking, atau bahkan bila perlu mengisinya dengan optimal thingking yang menurut para motivator dunia, pemikiran ini dapat mengubah sikap seseorang dalam bertindak sehingga negative thingking yang seringkali menyebabkan dosa bisa dihindarkan.
Maka dalam hal ini saya menemukan bahwa penyucian diri ternyata bukan hanya melulu melalui pengakuan dosa dihadapan seorang imam tetapi penyucian diri bisa juga dilalui dengan cara mengubah mind yang memang berpengaruh kuat pada sikap. Untuk mengubah mind-set ini perlu usaha keras misalnya dengan membaca buku-buku rohani, kitab suci, atau buku-buku yang dirasa dapat mengubah pikiran negative (negative thingking), yang seringkali menyebabkan dosa menjadi pikiran positif (positive thingking). Pada tahap positive thingking inilah, manusia bisa merasa nyaman dengan dirinya, bahwa hidup ini tidak lain adalah sebuah anugerah istimewa untuk orang lain (others), hidup yang dapat menjadi pahlawan untuk yang lain (sense of hero). Maka, orang yang mencapai titik ini bisa merasakan apa itu kebermaknaan hidup (sense of meaning).
Orang-orang yang memiliki sense of hero, sense of others, sense of meaning adalah orang-orang yang telah mencapai titik puncak penyucian diri. Mereka pun merasa nyaman dengan tubuhnya, dengan dirinya sendiri karena segala sesuatu dilakukan berdasarkan nilai-nilai hidup yang positif, dan punya orientasi hidup yang jelas.
Maka dalam akhir renungan ini saya mau menegaskan kembali akan pentingnya penyucian tubuh, dan pikiran. Di dalam pikiran yang sehat, yang positif terdapat tubuh yang sehat. Jika pikiran sakit, penuh dengan dosa maka tubuh pun akan sakit, penuh dengan dosa juga. Sebaliknya, jika pikiran penuh dengan hal-hal yang positif, punya orientasi hidup yang jelas, penuh dengan ayat-ayat dan perkataan-perkataan kitab suci, maka tubuh pun akan terasa segar, nyaman dan damai. Jiwa pun akan merasa nyaman tinggal dalam tubuh. Dengan itu, tubuhmu pun akan menjadi istana jiwa-mu….Itulah yang dimaksud oleh Yesus. Tubuh-mu adalah Bait Allah minimu!