Manusia Lebih Menyukai kegelapan
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Dunia kita jahat. Dunia kita gelap. Kekerasan demi kekerasan yang terjadi antara manusia tak terhindarkan. Bahkan kekerasan (violence) itu telah membudaya. Tak terelakkan lagi. Itulah dunia kita saat ini. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Kekerasan di dunia yang mengindentikkan dirinya pejuang kebebasan, pejuang kemanusiaan, malah membawa bencana bagi kemanusiaan itu sendiri. Itulah gambaran dunia. Itulah wajah dunia yang muram. Dunia yang penuh dengan lumuran darah. Dunia yang penuh dengan kebencian manusia. Dunia para setan! Seru korban teror di Bali sesaat setelah terjadi bom pada tahu 2003.
Kejahatan manusia. Kebencian manusia. Kekerasan manusia terhadap sesamanya tampak dalam wajah terorisme, perang antara negara, pembantaian etnis minoritas, perusakan rumah ibadat penganut agama lain. Dunia pun tidak nyaman untuk di huni. Dunia seolah-olah neraka bagi manusia. Bukan sebagai surga bagi kemanusiaan. Contoh paling praktis adalah serangan terorisme di gedung WTC dan Pentagon (USA) tahun 2001. Lebih dari 3000 jiwa manusia melayang sia-sia. Mereka adalah orang-orang tak berdosa. Mereka tidak tahu apa itu politik. Mereka tidak tahu apa itu fundamentalisme agama yang tampak dalam wajah terorisme. Mereka tidak tahu apa itu kekeuasaan. Mereka hanya tahu apa dan untuk apa hidup. Sebelum kejadian yang memilukkan itu, hidup mereka hanyalah dicurahkan untuk kebaikan keluarga, dan mencari nafkah di gedung pencakar langit itu. Namuan apa daya, mereka menjadi korban keganasan sesama manusia. Mereka menjadi korban balas dendam karena kebencian. Mereka menjadi korban peradaban yang buruk, tak berperikemanusiaan. Itulah hidup manusia. Hidup penuh kejahatan dan kekerasan.
Kisah di atas hanyalah pengantar singkat dari renungan sederhana ini. Namun cerita diatas mengingatkan saya apa makna dari perkataan Yesus kepada Nikodemus dalam Yohanes 3:19, yang mengatakan bahwa: “Terang telah datang kepada dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” Bagi saya, perkataan Yesus ini sangat luar biasa. Nats ini menunjukkan kekhawatiran seorang Yesus akan sikap manusia yang tidak pernah mau menerima terang. Tidak tertarik dengan kebaikan. Sebaliknya merasa nyaman dengan kegelapan, kejahatan. Dan itu terbukti! Ketika Yesus mewartakan kerajaan Allah diantara orang-orang Yahudi, malah mereka menganggapnya sebagai seorang gila. Mereka beranggapan Dia bukanlah utusan Allah, mesias seperti yang ditunggu-tunggu. Dia hanyalah seorang penghujat Allah. Sebab itu pantaslah Dia menerima setimpal dari apa yang dilakukan-Nya. Yesus pun di hukum mati di kayu salib. Ia mati sebagai korban keganasan manusia. Ia mati bukan karena sikap-Nya menolak kehendak Bapa-Nya. Ia mati justru karena Bapalah yang menghendaki semuanya terjadi. Namun dalam penderitaan, kematian-Nya, Yesus justru mendapat kemuliaan setelah bangkit dari kematian yang menyedihkan. Memilukan hati. Ia pun duduk di sisi kanan Allah.
Sewaktu saya merenungkan semua teks Injil pada hari minggu 22 Maret 2009 ini, ayat 19 menjadi satu-satunya teks yang membuat hati teriris, tergelitik. Dalam hati kecilku berkata “Oh betapa jeniusnya Yesus dengan kata-kata-Nya pada ayat 19 ini”. Bagi saya, kata-Nya ini berasal dari sebuah pengalaman dalam perjumpaan dengan orang-orang Yahudi yang tidak mau menerima khabar sukacita yang dibawa-Nya, dan menganggap-Nya sebagai penghujat Allah. Kemudian kata-kata ini sebagai sebuah antisipasi dari seorang Yesus untuk para pengikut-Nya bahwa manusia lebih menyukai kejahatan seperti orang-orang Yahudi yang menyalibkan—Nya di Kayu salib ketimbang kebaikan.
Kata-kata Yesus tersebut melampaui jamannya. Alasannya, justru 2000 tahun setelah Yesus mengatakan teks 19 itu, malahan sampai sekarang pun manusia masih menggelutinya kegelapan, kejahatan, kekerasan. Lalu penyebabnya sehingga manusia lebih menyukai kegelapan ketimbang terang? Beberapa poin yang ingin saya bagikan adalah pertama, manusia masih belum mau menerima keperbedaan seperti yang ditunjukan oleh kaum terorisme atau fundamentalisme agama, atau seperti orang Yahudi yang tidak mau menerima Yesus sebagai utusan Allah. Kedua, manusia masih belum mampu merenungkan apa itu hidup. Hidup di dunia ini untuk melakukan kekerasan terhadap sesama atau melakukan sesuatu yang bermakna untuk orang lain. Ketiga, manusia lebih memutlakkan kebenaran kelompok ketimbang menghargai keperbedaan. Maka apa pun cara dilakukan demi membela harga diri kelompok seperti kaum fundamentalisme agama yang sering kali menyulut kekerasan. Bagi saya ketiga hal menjadi penyebab manusia untuk gelap hati, dan melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Pertanyaannya: Apa yang kita lakukan untuk mengatasi ketiga hal itu? Iman kepada Kristuslah jawabannya.