Hal Mengundang Tuhan & Pertobatan
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Dalam Injil Mrk 9:2-13, berkisah tentang peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung. Peristiwa tersebut berawal ketika Yesus membawa tiga murid-Nya yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke sebuah gunung. Setelah sampai diatas gunung, tiba-tiba rupa Yesus berubah. Pakaian-Nya putih mengkilat.
Dalam peristiwa yang mengagumkan ini, nampak juga kepada para murid nabi Elia dan Musa. Kedua nabi besar tersebut ada yang disebelah kanan Yesus dan ada yang disebelah kiri. Petrus pun berkata dengan antusias kepada Yesus: Guru betapa bahagianya kami di tempat ini. Biarlah kami mendirikan tiga kemah. Satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia. Petrus mengatakan hal ini dengan penuh ketakutan karena seolah-olah mereka sedang melihat penampakkan yang luar biasa. Dan memang itu yang sedang terjadi.
Dalam kisah Injil di atas ada banyak hal yang dapat menjadi bahan permenungan kita bersama. Ia pun memaksa kita untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam bahwa ada apa gerangan dibalik peristiwa aneh tersebut.
Peristiwa ini mengingatkan saya akan dua hal. Pertama, tentang hal mendirikan kemah. Kedua, berkaitan dengan kebangkitan dari antara orang mati. Hal mendirikan kemah tidak lain berasal dari mulut seorang murid, yang bernama Petrus. Dia hanyalah manusia biasa seperti para murid lainnya.
Saat saya merefleksikan dan bertolak lebih dalam lagi, saya diingatkan akan satu hal bahwa hal mendirikan kemah sebenarnya tidak hanya melulu berkaitan dengan sesuatu hal yang terlihat secara fisik. Tidaklah sungguh kemah atau pondok para nabi diatas gunung. Bukan kemah benaran. Tetapi kemah di sini lebih menunjuk ke hati manusia.
Allah tinggal dan bersemayam dalam hati manusia bila manusia mempunyai kemauan, niat yang baik untuk mengundang Tuhan dan memberi tempat bagi Tuhan di dalam hatinya. Jadi, di sini hal mendirikan kemah berarti hal mengundang Tuhan yang disertai dengan niat yang tulus untuk tinggal dalam hati manusia. Hal mengundang Tuhan timbul sebagai tanggapan manusia atas iman dan wahyu dari Allah.
Hal kedua tentang kebangkitan dari antara orang mati. Memang saat itu, Yesus sungguh bangkit dari antara orang mati. Ia pun memperoleh kemuliaan di surga bersama dengan Bapa-Nya.
Kebangkitan dalam permenungan saya berarti pertobatan. Kembalinya si anak hilang kepada ayahnya menunjukkan bahwa anak yang hilang mempunyai niat yang tulus untuk bertobat. Ia pun kembali kepada ayahnya. Ini sepenggal perumpaan dari Yesus kepada para murid dan orang banyak.
Hal kebangkitan tidak melulu bangkit dari kematian seperti yang dialami Yesus. Tetapi makna kebangkitan ini mempunyai relevansi signifikan dalam hidup beriman kristiani. Maka dalam renungan saya ini, istilah kebangkitan, saya lebih melihatnya dari sisi pertobatan hati manusia. Pertobatan dalam arti apa? Manusia sering kali terjebak dalam kubangan dosa. Sering kali ia menjauh dari Tuhan dan berbalik kepada mamon yaitu hal-hal yang berbau duniawi semata.
Namun Allah adalah Allah yang maha pengampun. Walaupun manusia sering kali mengkhianati kasih-Nya, Ia selalu setia. Dalam perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang, ayah anak yang tersebut tidak balas dendam, atau menyingkirkan anaknya yang telah lama hilang. Tetapi ia datang kepada anaknya dan memeluknya dengan penuh kasih. Ia pun berbahagia dan mengajaknya ke perjamuan makan.
Allah pun seperti itu. Allah tetap sabar, menunggu manusia untuk bertobat. Ia bukan pendendam. Ia adalah Allah yang pengampun dan yang penuh belas kasih.
Karena itu, kita manusia yang seringkali berbuat salah baik dalam kata maupun tindakan diajak untuk datang kepada Bapa yang disertai dengan pertobatan. Bertobat berarti merubah kebiasaan lama. Dan menggantikannya dengan kebiasaan baru. Bagaimana dengan anda? Semoga!