Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Tak disangkal lagi bahwa tema perubahan (change) di abad-21 ini telah menjadi tema yang sangat laku, magis, dan mampu menyihir publik agar beralih ke tokoh-tokoh muda, progresif, terbuka, berpandangan visioner akan kesejahateraan rakyat. Tak heran dengan label perubahan ini juga, beberapa tokoh muda dunia berhasil menjadi orang no.1 di negerinya masing-masing, misalnya di Amerika Serikat, Barack Obama dengan slogan: Yes, We Can Change, hanya dalam sekejab saja karier politiknya menanjak drastis. Ia pun berhasil menjadi orang no.1 di negeri adi daya itu. Selain di Amerika, tema-tema perubahan juga diusung oleh tokoh-tokoh muda seperti PM Abishit di Thailand, Presiden Ahmadinejad di Iran, dan terakhir di Madagaskar oleh pemimpin oposisi, yang kemudian menjadi Perdana Menteri Yaitu Andry Rajoelina dan lain-lain. Tentu sikap rakyat yang cenderung lebih memilih tokoh-tokoh muda bukan tanpa alasan. Krisis ekonomi, ketidakstabilan politik dalam negeri akibat tekanan internasional maupun tekanan dari dalam negeri sendiri, kemiskinan yang semakin bertambah, perilaku para elite politik yang cenderung pragmatis-hedonis ketimbang menjadi tulang punggung masyarakat dalam mewujudkan negara sejahtera (welfare state) semakin menyadarkan publik pada umumnya untuk lebih memilih tokoh-tokoh yang baru muncul kemarin sore, namun menjanjikan untuk membawa sebuah perubahan (change) di masa depan. Maka muncullah istilah utopia masyarakat akan perubahan itu.
Utopia perubahan seringkali diartikan dengan impian akan terjadinya perubahan di masa depan. Ia menunjuk ke masa yang akan datang dimana hidup yang kita alami kini, yang penuh dengan penderitaan (suffering), penolakan (refusal), dosa (sin) suatu ketika akan berakhir dan digantikan oleh situasi di mana tema-tema perubahan terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Maka tidak heran bila tema perubahan itu selalu menjadi harapan (expectation), tumpuan masyarakat untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Namun, slogan tokoh-tokoh muda akan perubahan itu seringkali menjadi bahan tertawaan kaum elit politik, kaum mapan, kaum tua. Akan tetapi slogan perubahan itu sendiri justru mendapat tempat di hati masyarakat bawah. Tokoh-tokoh muda seperti di Amerika, Thailand, dan Madagaskar, dll telah membuktikannya. Read the rest of this entry »
Posted in Opini | 4 Comments »
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Rumah! Kalau diartikan secara harafiah berarti tempat untuk beristirahat, tidur, tempat berlindung. Rumah juga dapat diartikan sebagai tempat untuk melakukan hal-hal positif misalnya tempat untuk mengembangkan diri, membangun diri yang berkualitas, kompoten. Namun hal itu hanya dapat tercapai jika pemilik rumah sungguh-sungguh menciptakan suatu suasana yang kondusif, nyaman untuk didiami sehingga orang-orang yang mendiaminya pun terasa nyaman, damai. Maka istilah rumah sebagai istana akan terwujud bila pemilik rumah dapat menciptakan suasana kondusif dan nyaman untuk didiamin dalam rumah tersebut.
Sayang! Alangkah menyedihkan jika sebuah rumah sarang dengan aktivitas negatif misalnya tempat untuk merencanakan kejahatan, tempat untuk bersekongkol atau tempat untuk mencari rejeki dari hal-hal yang tidak halal, misalnya rumah dimanfaatkan sebagai tempat WTS, aborsi, judi, klab malam, atau sebagai tempat warung remang-remang, dll. Maka dengan fungsinya yang seperti ini rumah akan menjadi tidak nyaman untuk didiamin oleh orang lain. Setiap orang yang berkunjung ke sana akan selalu merasa tidak nyaman karena takut jika secara tiba-tiba polisi datang dan merajia setiap pengunjung dalam rumah.. Dengan itu, rumah ini bukan lagi menjadi berkah bagi orang lain, sesama. Tetapi rumah ini beralih fungsi sebagai pembawa bencana. Bukan hanya bagi pemilik rumah tetapi semua orang yang terkait dengan rumah tersebut. Rumah ini pun bukan lagi sebagai istana yang nyaman, damai tetapi sebagai sarang penyamun seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil minggu ini. Read the rest of this entry »
Posted in Renungan | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Dalam Injil Mrk 9:2-13, berkisah tentang peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung. Peristiwa tersebut berawal ketika Yesus membawa tiga murid-Nya yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke sebuah gunung. Setelah sampai diatas gunung, tiba-tiba rupa Yesus berubah. Pakaian-Nya putih mengkilat.
Dalam peristiwa yang mengagumkan ini, nampak juga kepada para murid nabi Elia dan Musa. Kedua nabi besar tersebut ada yang disebelah kanan Yesus dan ada yang disebelah kiri. Petrus pun berkata dengan antusias kepada Yesus: Guru betapa bahagianya kami di tempat ini. Biarlah kami mendirikan tiga kemah. Satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia. Petrus mengatakan hal ini dengan penuh ketakutan karena seolah-olah mereka sedang melihat penampakkan yang luar biasa. Dan memang itu yang sedang terjadi. Read the rest of this entry »
Posted in Gema Gereja | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on March 31, 2009
Marinus Waruwu
Dunia kita jahat. Dunia kita gelap. Kekerasan demi kekerasan yang terjadi antara manusia tak terhindarkan. Bahkan kekerasan (violence) itu telah membudaya. Tak terelakkan lagi. Itulah dunia kita saat ini. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Kekerasan di dunia yang mengindentikkan dirinya pejuang kebebasan, pejuang kemanusiaan, malah membawa bencana bagi kemanusiaan itu sendiri. Itulah gambaran dunia. Itulah wajah dunia yang muram. Dunia yang penuh dengan lumuran darah. Dunia yang penuh dengan kebencian manusia. Dunia para setan! Seru korban teror di Bali sesaat setelah terjadi bom pada tahu 2003.
Kejahatan manusia. Kebencian manusia. Kekerasan manusia terhadap sesamanya tampak dalam wajah terorisme, perang antara negara, pembantaian etnis minoritas, perusakan rumah ibadat penganut agama lain. Dunia pun tidak nyaman untuk di huni. Dunia seolah-olah neraka bagi manusia. Bukan sebagai surga bagi kemanusiaan. Contoh paling praktis adalah serangan terorisme di gedung WTC dan Pentagon (USA) tahun 2001. Lebih dari 3000 jiwa manusia melayang sia-sia. Mereka adalah orang-orang tak berdosa. Mereka tidak tahu apa itu politik. Mereka tidak tahu apa itu fundamentalisme agama yang tampak dalam wajah terorisme. Mereka tidak tahu apa itu kekeuasaan. Mereka hanya tahu apa dan untuk apa hidup. Sebelum kejadian yang memilukkan itu, hidup mereka hanyalah dicurahkan untuk kebaikan keluarga, dan mencari nafkah di gedung pencakar langit itu. Namuan apa daya, mereka menjadi korban keganasan sesama manusia. Mereka menjadi korban balas dendam karena kebencian. Mereka menjadi korban peradaban yang buruk, tak berperikemanusiaan. Itulah hidup manusia. Hidup penuh kejahatan dan kekerasan. Read the rest of this entry »
Posted in Gema Gereja | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on March 1, 2009
“Amaedola” (pepatah) sangat disukai oleh orang Nias.
Misalnya:
Ono nidegu-degu mõi bõrõ wa’aurigu,
ono nidehe-dehe mõi bõrõ wa’amate.
Nah, saya mau minta pendapat/komentar Saudara-saudari orang Nias berkaitan dengan “amaedola’ ini.
Apa sih peran dan fungsinya dalam hidup harian orang Nias? Komentarnya bisa ilmiah atau sekedar opini.
Terima kasih banyak sebelumnya.
Ote Daeli – Manila Philippines
Posted in Filsafat | 2 Comments »