Kiamatkah Nias Pasca BRR?
Posted by niasbaru on December 29, 2008
Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd
Seminar Nasional Kesinambungan Percepatan Rekonstruksi Nias Pasca BRR tanggal 6 Desember 2008 itu seolah memunculkan cemas dan bimbang bagi sebagian pihak. Ditaja oleh DPP Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI), ruangan Grand Menza Jakarta dipenuhi tokoh masyarakat dari berbagai kalangan. Antaranya, Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, Letjen TNI (purn) DR. TB Silalahi, Hekenus Manao M.Acc.PhD (Irjen Depkeu), Binahati Baeha, SH (Bupati Nias), Herman Laia, SH (mewakili Bupati Nias Selatan), Ir.Icitiar Nduru (Ketua Umum DPP HIMNI) serta perwakilan dari Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Meneg PDT).
Intinya, seminar itu membahas nasib Nias setelah ditinggal BRR yang masa tugasnya berakhir April 2009. Saya rasa, wajar timbul kecemasan dan beragam sikap lainnya. Sebab, setelah diluluhlantakkan bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004, disusul pula gempa bumi pada 28 Maret 2005 (saya berada di Nias ketika itu dan mengalami langsung kejadian ini), pembangunan fisik yang kini ada tak bisa lepas dari peran keberadaan BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi).
Dalam tulisan ini, sengaja saya batasi hanya membahas keberadaan BRR di Nias. Sebenarnya, kiprah lembaga yang ditunjuk pemerintah ini juga ada di Aceh. Tapi, sebagai masyarakat Nias, rasanya tentu lebih baik saya mengomentari keberadaannya di tanah kelahiran saya. Walau saya tak mengikuti secara detil pekembangannya, saya pastikan, lewat tulisan inil setidak-tidaknya bisa memberikan manfaat. Barangkali juga sebagai salah satu bakti yang dapat saya berikan.
Secara harfiah, rehabilitasi dan rekonstruksi bisa dianggap sebagai upaya penyembuhan bagi mereka yang tertimpa musibah agar kembali pada kondisi yang mendekati semula. Artinya, rehabilitasi dan rekonstruksi tak hanya pada tataran fisik, tapi mencakup pembangunan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan hidup. Dari definisi itu jelas bahwa BRR adalah sebagai wadah untuk memfasilitasi masyarakat agar dapat mandiri sehingga mampu menjalankan fungsi kehidupannya kembali.
BRR hadir di Nias sejak tahun 2005. Sepanjang kiprahnya, secara kasat mata dapat dilihat, pembangunan fisik yang dilakukan sangat terasa. Bahkan, bukan hendak membandingkan, jauh lebih maju ketika sebelum Nias ditimpa musibah. Masa kerja BRR di Nias terbagi menjadi dua tahap, yaitu rehabilitasi (April 2005 – Desember 2006) dan rekonstruksi (Juli 2006 – Desember 2008). Sesuai keputusan pemerintah, masa kerja BRR berakhir April 2009. Makanya, seminar nasional yang digelar itu tak lain bertujuan mencari formula antisipasi setelah pembangunan di Nias setelah tak lagi di-handle BRR. Bagaimana pembangunan Nias selanjutnya? Apakah Nias akan kiamat ditinggalkan BRR? Inilah pertanyaan yang banyak muncul ditengah masyarakat Nias. Bagi saya, pertanyaan demikian hanya ada satu jawaban, yakni tidak. Justru kepergian BRR harus dijadikan modal pemacu semangat oleh Pemerintah Daerah di Nias. Berkaca dari pola yang dilakukan BRR, Pemda setempat dituntut lebih inovatif dan kreatif menciptakan hal-hal baru untuk memacu daerah agar semakin baik dan lebih maju.
Hemat saya, pembangunan Nias ke depan akan lebih mudah dari membangun Nias sebelum gempa. Pasalnya, kondisi Nias sebelum gempa sangat jauh tertinggal dan hanya ditangani dua kabupaten. Kini, di Pulau Nias sudah ada lima daerah otonom, 4 kabupaten dan 1 kota. Rasanya mustahil kalau Nias tidak maju, terkecuali pemerintah yang ada tidak tau apa yang hendak mereka buat.
Tentu banyak yang sependapat dengan saya. Bahwa ada rasa khawatir dan bimbang pada masyarakat Nias ditinggalkan BRR, saya menilai itu wajar. Malah ada yang pesimis pun, itu sesuatu yang sangat manusiawi. ”Kelak, jangankan pembangunan seperti yang dilakukan BRR, biaya pemeliharaan bangunan-bangunan yang telah dibangun BRR saja akan kesulitan,” begitu salah satu komentar yang saya tangkap.
Nah, soal ini, tentu pemerintah tak tinggal diam. Dalam seminar tersebut terungkap Pemerintah Pusat tetap akan meneruskan pemberian bantuan ke Nias dengan wadah lain dan dananya disalurkan melalui Menteri Negara PDT. Jadi, pembangunan di Nias masih tetap berlangsung walaupun tentunya tidak sebesar dana yang diberikan selama ini melalui BRR. Kepergian BRR memang banyak menimbulkan pro dan kontra. Namun, terlepas dari itu semua, suatu hal yang wajar jika kepada semua yang sudah terlibat dalam kegiatan BRR kita apresiasikan terima kasih setulus-tulusnya. Meski banyak kekurangan dan dituding banyak pula kecurangan, itu masalah lain. Yang jelas, setelah Nias remuk dihantam bencana, keadaan suram yang dulu kini mulai memancarkan sinar cerah.
Biar lebih objektif, selain memuji, kritik terhadap BRR juga harus dikemukakan. Selama menjalankan mandatnya, BRR terkesan kurang berkoordinasi dengan Pemda setempat. Malah indikasinya, kebijakan yang ada seperti berjalan masing-masing. BRR hanya fokus pada pembangunan fisik, sedangkan pembangunan SDM dan pemberdayaan masyarakat tidak dilakukan sama sekali. Padahal, visi BRR adalah mewujudkan masyarakat yang Amanah, Bermartabat, Sejahtera, dan Demokratis.
Realita ini tak dapat dipungkiri. Masyarakat sendiri yang merasakan bahwa kinerja BRR kurang baik walaupun BRR mengklaim mereka sudah melakukan tugasnya semaksimal mungkin. Buktinya, kondisi ekonomi masyarakat tetap pada posisi tidak mampu atau tetap seperti sebelum adanya BRR.
Ah, tapi sudahlah. BRR pergi jangan dipermasalahkan. Beberapa program rehabilitasi dan rekonstruksi yang belum dilaksanakan saat mandat BRR berakhir, keberlanjutannya menjadi tanggungjawab bersama dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta kita, masyarakat yang cintaNias.
Ke depan, yang penting adalah bagaimana merencanakan pembangunan agar lebih tertata, terkoordinasi dan bermanfaat. Untuk itu dibutuhkan strategi yang baik dan tepat sasaran. Saya harap, kita semua harus tanamkan sikap optimis. Sebab, memperhatikan kondisi Nias ke depan maka tidak mungkin Nias akan kiamat setelah ditinggal BRR. Mudah-mudahan.
Penulis:Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau
Gunawan Z. said
Pak Harefa artikel Bapak bagus-bagus semua. Di situs niasbarat, ada beberapa artikel bapak, begitu juga di situs ini.
Menurut saya sendiri sih BRR sudah memberikan banyak untuk masyarakat kita. Masalahnya orang-orang kita di sana masih saja mengelu-ngeluhkan ini dan itu. Bukannya mereka berteri maksih kepada orang yang telah membantu mereka. Watak orang kita orang nias memang seperti itu Pak harefa. Saya menunggu artikel berikutnya Pak ya.
mau nanya Pak kenapa artikel yang sama juga Bapak kirim ke http://www.niasbarat.wordpress.com tetapi di sana sini belum dimuat, hanya di bagian komentar saja.
met natal 2008 & tahun baru 2009
firman harefa said
Terima kasih koreski dan sarannya. Memang menurut etika, sebuah tulisan hanya kirim ke satu media saja. Hal itu sudah saya lakukan pada tulisan-tulisan saya selama ini yang dimuat di opini beberapa media cetak terutama di Kepulauan Riau.
Tapi sejak ada permintaan dari teman-treman agar menulis tentang Nias, maka saya mulai dengan tulisan ”Majulah Pulau Nias”. Nah, setelah siap, agak ragu mau dikirim kemana untuk mempublikasikannya karena tidak mungkin di kirim ke media yang ada di Riau ataupun Kepulauan Riau. Oleh karena itu, saya melihat media yang ada adalah situs yang mengkhususkan memuat masalah Nias.
Lalu saya pikir lagi, kalau hanya dikirim ke satu situs, mungkin sangat terbatas yang buka dan baca, sehingga saya kirim untuk ke banyak situs saja dengan tujuan biar semakin banyak yang baca. Walupun saya sadari bahwa hal itu tak sesuai etika, tapi demi kepentingan publikasi lebih luas, dan hemat saya yang penting tujuannya baik.
Yaahowu
Gunawan Z. said
Yaahowu Pak Firman Harefa.
Sebelumnya saya berterima kasih sekali atas tanggapan Bapak terhadap komentar saya, dan lebih lagi saya berterima sekali juga atas berbagai usaha Bapak dalam membangun Nias melalui tulisan-tulisan yang berupa koreksi dan ajakan demi pembangunan Nias yang sesuai dengan tema blog niasbaru ini.
Saya sendiri bukan moderator blog ini. Saya hanya agak aneh saja karena tulisan-tulisan Bapak yang sama selain bukan hanya ada di situs niasbarat, dan di situs niasbaru ini, juga ternyata ada di situs niasonline.net.
Bagi saya pribadi itu tidak apa-apa. Kan Bapak juga telah memberi alasan yang sangat masuk akal, logis buat kami-kami para pembaca tulisan Bapak. Terpenting adalah substansi yang ingin disampaikan oleh Bapak melalui tulisan yang menurut saya menarik, dan bagus serta sesuai dengan visi & misi blog ini. Terima kasih Pak atas tulisannya. Tulisan-tulisan yang lain kami tunggu. Sangat menginspirasi kami orang-orang nias di seluruh nusantara dalam membangun Nias.
Saya pingin bertanya ini Bapak F. Harefa…kan BRR sekarang sudah angkat kaki dari Nias. Seluruh pegawainya, dan juga masalah2 keuangan bukan lagi ditanggung oleh BRR, nah! yang saya mau tanya adalah sekarang ini pengganti BRR itu ada lembaga lain atau hanya mengandalkan pendapatan daerah Nias?
Semoga Pak moderator juga memberi sedikit komentarlah, atau para putera/i Nias yang punya perhatian terhadap daerah kita.
Yaahowu