BARACK OBAMA, dan KITA
Posted by niasbaru on November 18, 2008
Marinus W.
Terpilihnya Barack Obama dalam pemilu presiden Amerika menunjukkan bahwa orang Amerika sudah siap menerima perubahan seperti yang didengung-dengungkan Obama pada setiap kampanyenya (Cange, we can believe in). Orang Amerika yang mayoritas kulit putih telah siap menerima Obama sebagai penguasa Gedung Putih walaupun Obama sendiri seorang kulit hitam (African-American). Kedewasaan orang Amerika dalam berdemokrasi telah menembus batas. Masalah ras, agama, atau golongan di kesampingkan demi tujuan bersama yaitu mewujudkan mimpi amerika yang memberi kesempatan kepada setiap golongan baik mayoritas maupun minoritas untuk memimpin.
Kemenangan Obama menjadi pelajaran berharga bahwa demokrasi yang diterapkan secara total dapat memberi peluang kepada golongan minoritas untuk memimpin. Maka, dominasi-dominasi kaum mayoritas (kulit putih amerika) yang identik dengan Gedung Putih pupus sudah. Itu dimungkinkan terjadi karena demokrasi sungguh-sungguh dipraktekan secara total. Karena itu, sekat-sekat, tembok pemisah antara kaum mayoritas dan kaum minoritas (African-American) telah dirobohkan. Yang tertinggal tinggal puing-puingnya, dan kenangan. Itulah namanya demokrasi total.
Bagaimana dengan kita?
Kemenangan Obama dalam pesta demokrasi Amerika menjadi inspirasi untuk rakyat Indonesia dan dunia. Dalam konteks Indonesia, seperti juga di Amerika, ada tiga tembok pemisah yang seringkali menjadi pemecah belah bangsa ini.
Pertama, dominasi agama mayoritas terhadap agama minoritas (religion domination). Religion domination tertentu menjadi hal biasa di negeri ini. Bahkan ada istilah yang mengatakan bahwa, Presiden harus berasal dari agama mayoritas. Itu berarti menutup pintu bagi kaum minoritas untuk tampil, mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin negeri ini. Maka tidak heran bila selama berdirinya republik ini, tak pernah muncul pemimpin yang berasal dari agama minoritas.
Kedua, dominasi pribumi terhadap non-pribumi (indigene domination). Etnik pribumi yang mayoritas identik dengan warga negara asli Indonesia. Sedangkan Etnik non-pribumi yang minoritas, identik dengan etnis Tionghoa, dan para pendatang lainnya. Di negeri ini, yang nota bene pernah terpilih menjadi Ketua Komisi Hak Asasi Manusia PBB, ternyata masih mempraktikan diskriminasi terhadap etnik minoritas terutama etnik Tionghoa. Bahkan ada image warga pribumi yang mengganggap etnik Tionghoa sebagai pendatang dan bukan sebagai warga negara Indonesia asli. Dengan itu, etnik minoritas merasa diperlakukan tidak adil, walaupun mereka sendiri lebih Indonesia dari warga pribumi.
Ketiga, dominasi suku mayoritas terhadap suku-suku minoritas (ethnic group domination). Di negeri ini, kita sangat prihatin terhadap praktik-praktik sukuisme, dan golongan tertentu. Biasanya itu terjadi antara suku mayoritas dan suku minoritas. Misalnya, menjelang pemilu, kita seringkali mendengar istilah Jawa dan luar jawa. Jika mau menjadi Presiden berarti harus menguasasi pulau jawa. Atau menjadi seorang Presiden berarti harus seorang Jawa. Akibatnya selama berdirinya republik ini, hampir semua penguasa berasal dari Pulau Jawa atau suku jawa.
Ketiga bentuk dominasi yang mengakibatkan diskriminasi terhadap kaum minoritas di atas menjadi refleksi bersama di republik tercinta ini. Namun, kemenangan Barack Obama memberi secercah harapan untuk kaum minoritas agar berani tampil, siap memimpin negeri ini. bahwa dalam demokrasi tak ada yang tak mungkin seperti pengalaman Obama di Amerika.
Masalahnya adalah demokrasi Amerika berbeda dengan demokrasi Indonesia. Pengetahuan dan pengalaman orang Amerika dalam berdemokrasi berbeda dengan pengalaman dan pengetahuan orang Indonesia dalam berdemokrasi. Jika warga Amerika menerapkan demokrasi secara total, maka di Indonesia masih memperhitungkan agama, suku, dan golongan tertentu.
Karena itu, demokrasi sungguh-sungguh menang, tegak di republik ini bila demokrasi diterapkan secara total seperti di Amerika. Demokrasi tidak memperhitungkan ras, agama, suku, atau golongan tertentu. Demokrasi mampu menembus sekat-sekat, membagun persaudaraan, menegakkan persatuan bangsa. Demokrasi mampu merobohkan tembok pemisah antara agama mayoritas dan agama minoritas (religion domination), Etnik pribumi dan non pribumi (indigene domination), suku mayoritas dan suku minoritas (ethnic group domination).
Kita berharap agar di republik tercinta ini demokrasi sungguh-sungguh menang, dan tegak. Demokrasi menang dan tegak, jika tidak ada lagi tembok pemisah antara mayoritas dan minoritas. Yang ada adalah persaudaraan sejati. Dalam persadaraan sejati tercipta persatuan dan kesatuan sejati. Sebab semua saling menghormati, dan menerima sebagai saudara demi tujuan bersama yaitu masyarakat adil, damai, dan sejahtera. Maka, demokrasi menang!