Posted by niasbaru on November 25, 2008
The Jakarta Post, Dian Kuswandini
The Rehabilitation and Reconstruction Agency on Nias Island (BRR Nias) has said more projects will continue after its tenure expires next month, including those aimed at alleviating poverty and sustaining the local economy.
BRR Nias regional director William P. Sabandar said that as Nias was among the poorest regions in the country, more work was needed to ensure the region’s future prosperity.
“In developing Nias’ economy we will focus on soft projects like improving agricultural production, such as rubber, cacao and rice, as well as expanding their market penetration,” William told The Jakarta Post on Monday. Read the rest of this entry »
Posted in Tidak terkategori | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on November 21, 2008
Menjadi seorang motivator, inspirator bagi orang lain bukanlah perkara mudah. Di berbagai Universitas dapat dihitung dengan jari berapa banyak mahasiswa-mahasiswi yang menjadi motivator, inspirator bagi mahasiswa/i atau orang lain.
Di jaman kini, di mana bidang ekonomi yang lebih diperhatikan, para mahasiswa/i lebih senang bercita-cita menjadi seorang pebisnis, pengusaha sukses kelak dengan perusahaan yang sukses pula ketimbang bercita-cita menjadi seorang motivator, inspirator yang memberi jalan, membangun harapan bagi orang lain.
Namun bagi saudara Postinus GulŐ, bercita-cita, bekerja menjadi seorang motivator, inspirator justru merupakan aktivitas, pekerjaan yang lumrah, mulia sebab kita memberi dan membangun hal-hal positif dalam diri orang lain. Bahkan memberi harapan kepada orang lain untuk mewujudkan cita-cita mulianya. Dengan itu, orang lain akan merasa optimis dalam menatap, mempersiapkan masa depan indahnya. Read the rest of this entry »
Posted in Berita Aktual Nias | 4 Comments »
Posted by niasbaru on November 18, 2008
Marinus W.
Terpilihnya Barack Obama dalam pemilu presiden Amerika menunjukkan bahwa orang Amerika sudah siap menerima perubahan seperti yang didengung-dengungkan Obama pada setiap kampanyenya (Cange, we can believe in). Orang Amerika yang mayoritas kulit putih telah siap menerima Obama sebagai penguasa Gedung Putih walaupun Obama sendiri seorang kulit hitam (African-American). Kedewasaan orang Amerika dalam berdemokrasi telah menembus batas. Masalah ras, agama, atau golongan di kesampingkan demi tujuan bersama yaitu mewujudkan mimpi amerika yang memberi kesempatan kepada setiap golongan baik mayoritas maupun minoritas untuk memimpin.
Kemenangan Obama menjadi pelajaran berharga bahwa demokrasi yang diterapkan secara total dapat memberi peluang kepada golongan minoritas untuk memimpin. Maka, dominasi-dominasi kaum mayoritas (kulit putih amerika) yang identik dengan Gedung Putih pupus sudah. Itu dimungkinkan terjadi karena demokrasi sungguh-sungguh dipraktekan secara total. Karena itu, sekat-sekat, tembok pemisah antara kaum mayoritas dan kaum minoritas (African-American) telah dirobohkan. Yang tertinggal tinggal puing-puingnya, dan kenangan. Itulah namanya demokrasi total.
Bagaimana dengan kita?
Kemenangan Obama dalam pesta demokrasi Amerika menjadi inspirasi untuk rakyat Indonesia dan dunia. Dalam konteks Indonesia, seperti juga di Amerika, ada tiga tembok pemisah yang seringkali menjadi pemecah belah bangsa ini. Read the rest of this entry »
Posted in Opini | Leave a Comment »
Posted by niasbaru on November 15, 2008
Marinus W.
Barack Obama akhirnya mencetak sejarah. Ia bukan saja menjadi Presiden kulit hitam pertama di Gedung Putih, (The United State), tetapi juga menempatkan dirinya sebagai salah satu Presiden termuda Amerika serikat. Menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat memang bukan hal muda. Bagi orang yang berasal dari kelompok minoritas seperti Obama (Afro-Amerika) atau (Alm) mantan Presiden Jhon F. Kennedy (Katolik) akan sulit menembus tembok pemisah nan kokoh dari kelompok mayoritas. Karena itu, dalam konstitusi lama Amerika, seorang calon Presiden harus memenuhi syarat-syarat yang mutlak ada dalam diri setiap calon Presiden. Yaitu demografi White, Anglo-Saxon, and Protestant (WASP). Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, misalnya seorang Afrikan, Katolik, atau Indian, lebih baik mundur dari pertarungan. Sebab hanya menghambur-hamburkan uang untuk biaya kampanye kandindat, yang hasilnya sudah langsung ditebak. Singkatnya, secara tradisional, golongan WASP tidak akan begitu saja menyerahkan kekuasaan kepada golongan minoritas.
Jhon F.Kennedy dan Barack Obama merupakan dua generasi Amerika yang datang pada waktu yang berbeda. Mereka mampu menembus tembok pemisah yang telah berdiri kokoh kuat selama berabad-abad. Pada tahun 1960-an, Kennedy membuat sejarah sebagai Presiden Katolik pertama (minoritas), dan juga termuda. Lalu pada tahun 2008, Barack Obama keturunan Afro-Amerikan, dan pernah tinggal di Indonesia yang mayoritas beragama muslim mampu menarik simpati warga Amerika untuk memilihnya dalam pertarungan melelahkan dengan lawannya dari Partai Republik. Pidatonya, pembawaanya, visi dan misinya yang menggemakan tema perubahan (Change) yang berlawanan dengan status quo mampu menyihir Amerika. Ia pun berhasil mengalahkan lawannya secara meyakinkan, menang mutlak. Read the rest of this entry »
Posted in Opini | 1 Comment »