Fenomena Perkawinan Usia Dini di Nias Difilmkan: Diputar di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli
Posted by niasbaru on October 28, 2008
Kisah perkawinan usia dini di Kabupaten Nias bukan merupakan hal baru yang kita dengar. Berdasarkan penelitian Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), sepanjang 2005 – 2007 tercatat 109 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan dominasi kasus perkawinan usia dini.
Karenanya, PKPA bekerjasama dengan Sineas Film Documentary (SFD) dan didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, membuat film bergenre dokudrama yang mengangkat fenomena kentalnya perkawinan dini di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Nias.
Film berjudul “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” dan berdurasi 35 menit ini akan ditayangkan di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli, Sabtu malam (25/10), setelah sebelumnya ditayangkan di Kecamatan Lahewa pada Selasa (21/10) dan di Desa Sawo, Rabu (23/10).
“Film ini merupakan kisah nyata yang berangkat dari hasil penelitian PKPA atas kekerasan terhadap anak dan perempuan, terutama tentang perkawinan di usia dini. Film ini adalah sebuah kampanye betapa kekerasan terhadap perempuan tidak seharusnya terjadi lagi,” kata Direktur PKPA Medan, Ahmad Sofyan, kepada wartawan, Rabu (22/10).
Film dokudrama ini diproduksi untuk tidak dikomersilkan. Film ini diproduksi sebagai media kampanye PKPA menolak segala bentuk kekerasan terhadap anak dan perempuan terutama menolak pernikahan di usia dini.
Film berkisah tentang Yanti, anak perempuan Nias berusia 15 tahun yang cantik, energik dan cerdas, yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMA favorit dengan beasiswa yang ia peroleh karena prestasinya. Namun, keinginannya tersebut terkendala karena tiba-tiba ia mendengar bahwa dirinya akan segera dinikahkan dengan keluarga terpandang di desa mereka. Bahkan, jujuran (uang pinangan) sudah dipersiapkan. Tak ingin adiknya mengalami pernikahan dini yang bakal menyeretnya dalam penderitaan sebagaimana yang dialaminya, Mira sang kakak mencoba berbagai cara untuk menggagalkan rencana yang sudah disusun sang ayah meski harus mendapat berbagai perlakuan kasar dan kekerasan.
“Kisah Yanti tentu merupakan fakta yang semestinya tidak boleh terjadi lagi di saat dunia menjunjung tinggi derajat perempuan. Tapi, di beberapa daerah di Indonesia, fakta-fakta ini masih dapat diendus dengan begitu mudah. Di Nias, kawin paksa yang lebih identik dengan kekerasan terhadap perempuan lebih cenderung dilatarbelakangi penafsiran adat dan agama yang bias gender,” ujar Producer Film Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan, Misran Lubis
Di mata sutradara dokudrama ini , Onny Kresnawan yang juga Direktur SFD, ada fenomena sosial yang terjadi di Nias sehingga menggerakkan SFD dengan PKPA untuk membuat film dokudrama, dimana 50 persen di antaranya merupakan fakta dan 50 persen lainnya merupakan bumbu-bumbu dari sinematografi.
Penggarapan fim ini memakan waktu 13 hari (10 shooting di lapangan dan 3 hari audisi pemain). Pemain-pemain sendiri berasal dari daerah yang dalam penelitian PKPA termasuk daerah dengan angka tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan, di antaranya di Desa Sawo, Kecamatan Tuhemberua, Kab. Nias.
Meski bukan aktor dan aktris, namun dengan semangat yang cukup tinggi, sejumlah pemain yang direkrut dengan tokoh utama Vini S Zega sebagai Yanti dan Noveria Zega sebagai Mira serta dibantu beberapa warga setempat serta personil PKPA, dapat menghasilkan sebuah film non komersil yang layak tonton.
Saat draft editing film 75 persen dikerjakan SFD, dan kemudian dilakukan evaluasi yang melibatkan beberapa tokoh masyarakat, pihak kepolisian dan stakeholder di Gunung Sitoli mendapat respon positif. “Ternyata, di luar dugaan film ini diakui mereka sebagai karya besar Ono Niha, bahwa film ini merupakan karya anak Nias yang cukup membanggakan. Dan mereka meminta agar film ini diputar secara umum,” ujar Onny.
Film ini juga menjadi pemicu bagi SFD untuk memproduksi film-film dokudrama sejenis bersama anak-anak di tingkat II se-Sumatetra Utara dengan thema “Suara Anak Bawah Langit”. “Film ini akan berkonsep tentang kisah anak-anak di beberapa daerah, dengan persoalan mereka masing-masing dan didaerah masing-masing. Misalnya di Labuhan Batu, kita bisa membuat dokudrama tentang pekerja anak di perkebunan. Di Langkat, bisa diangkat kehidupan anak-anak di jermal,” jelas Onny yang tahun lalu karya Film Dokumenternya “Pantang di Jaring Halus” dan “BADAI” merai anugrah film terbaik di J-Festival Jawa Timur dan Juara III di Jakarta.
“Saya optimis masyarakat Nias akan tumpah ke Lapangan Merdeka Gunung Sitoli karena film ini berbau edukasi sekaligus menggambarkan keindahan fanorama alam dan kebudayaan di Nias. Saya optimis ini akan disambut baik masyarakat Nias,” tutur Onny***
Ditulis Oleh
Fahriz Tanjung
aperius waruwu said
ya’ahowu,
wah…saya senang sekali melihat banyak kemajuan di daerah kita nias tercinta, terlebih lagi dengan pemutaran film sebagaimana dibahas pada tema ini.
saya hanya belum mengerti apa maksud dan tujuan dari pemutaran film ini, apakah untuk memberi pemandangan bagi masyarakat nias untuk tidak lagi melakukan hal seperti dalam film itu, atau justru akan membawa dampak negatif bagi masyarakat nias nantinya.
mengapa saya berkata demikian, karena cenderung natur manusia lebih suka pada hal-hal yang negatif. jadi, tolong diperjelas bagi saya apa makna pemutaran film ini bagi masyarakat nias ke depan.
terima kasih, ya’ahowu.-
niasbaru said
Salam Untuk Abang Saya Aperius W.
Di satu sisi saya melihat pembuatan dan pemutaran film ini memang mengandung unsur negatif, sebagai sindirin tidak langsung terhadap
berbagai tindak kekerasan terhadap kaum perempuan Nias. Kata orang di luar Nias, itu terjadi karena budaya Nias ada kecenderungan untuk mendukung budaya tersebut.
Di sisi lain, pembuatan dan pemutaran film ini pastilah ada hikmahnya. Paling tidak, masyarakat tersadarkan bahwa budaya Nias yang seringkali menomorduakan kaum Hawa dibandingkan dengan kaum adamnya tidak sesuai dengan konsep Manusia modern. Dalam manusia modern konsep tentang HAM: persamaan derajat antara kaum perempuan dan laki2 sangat dijunjung tinggi. Karena itu, film ini mau mengajak kita masyakrakat Nias agar melangkah ke depan, dan jangan berkutat dengan budaya kita yang cenderung melegalkan kekerasan kepada anak perempuan baik secara fisik maupun psikologis.
Marinus W.
Otenieli Daeli said
Sdr. Marinus yb,
Apakah ada kemungkinan untuk mendapatkan CDnya? Rasanya menarik.
Terima kasih n Ya’ahowu
Ote
Marinus W. said
Yaahowu Ama di Philiphiness…
Salam dari Bandung, Indonesia!
Berkaitan dengan Film diatas, saya kira pastilah kita punya peluang/kemungkinan untuk mendapatkannya. Sebab kata orang-orang kita dari Nias, Film tersebut akan dipasarkan layaknya film-film biasa. Jadi ternyata, film tersebut selain punya pesan/motif moral, tapi juga punya motif ekonomi. Bahkan motif moral hanya embel2 motif ekonomi…Bukan???
Saya akan usahakan Ama, saya nanti kontak kepada sdr. Postinus Yang saat ini sedang berada di sibolga. Mungkin saja dia punya film ini. Biasanya dia begitu semangat jika membahas topik diatas sehingga sampai ke sumber2nya pun akan kumpulkan.
Yaahowu dari Bandung!
Salam buat teman2 di Philiphiness.
Otenieli Daeli said
Ok. Kalau begitu. Semoga dapat. Ini salah satu fenomena masyarakat yang perlu kita pelajari.
Apakah film ini bermotif moral atau ekonomi? …… saya belum bisa berkomentar. Baik kalau kita tonton dulu filmnya dan melihat pengaruh/arus apa yang muncul karenanya.
Ya’ahowu
Ando Gurning said
Fr. Marinus apakah Anda tahu alamat email Pst. Otenieli Daeli. Tolong tulis di sini yah saya mau menghubungi dia.
P. Ote, ytk…tolong kirim alamat email pastor ke saya, soalnya pastor Ando mau surat-suratan sama pastor tentang antropologi. Ya’ahowu
niasbaru said
Salam Kasih Pastor Ando G.
Terima Kasih Pastor sudah berkenan berkunjung di gubuk kita yang sederhana ini.
Ini alamat email Pastor Ote D. : onesiusosc@gmail.com
Tuhan Memberkati!
Otenieli Daeli said
Ya’ahowu Pst. Ando,
Salam kenal. Silkan aja kontak langsung ke alamat email yang telah dituliskan oleh Sdr. Marinus. Semoga kita bisa berbagi pengalaman.
Ote
John Travolta said
Salam Ya’ahowu buat Pastor Onesius Otenieli Daeli,
Sepertinya sudah lama kita ga basuo, saya baru tahu sudah jadi pastor dan terakhir saya dengar pernah kepala paroki di papua.
Selamat & sukses buat Pastor, saya masih ingat memory di Asrama Katolik Stefanus Gusit..he..he..he..
Buat Bapak Marinus W, tolong kalau sudah dapat VCD-nya kasitau kita-kita ya..
John Travolta Daeli – Serang Banten
Otenieli Daeli said
Ya’ahowu juga buat Sdr. John T. Daeli.
Senang bisa mendengar kabar dari teman lama. Maaf, dulu nama panggilannya apa?
Benar, saya pernah tugas di Asmat Papua selama 5 tahun dan kemudian awal tahun 2008 ini pindah dari sana lalu ke Manila.
Semoga hidup makin indah dan membahagiakan.
Ya’ahowu
Ote
Fauzan S Nazara said
Wah, saya sangat terkejut baca berita ini… sungguh saya ono niha yang sudah sangat lama tidak kembali ke nias…(mohon maaf)…. sangat miris mendengar dan melihat pelecehan terhadap wanita dan anak termasuk pernikahan dini di negeri orang (luar nias maksudnya)…tidak pernah membayangkan akan terjadi kasus tersebut di kampung sendiri….
Kita perlu dukung Laranganan pernikahan dini di pulau Nias tercinta karena mungkin ini salah satu faktor ketertinggalan ono niha….
oh ya… gimana caranya koleksi film tsb? mohon infonya ya…
ivan waruwu said
YA’AHOWU
Berbicara mengenai pemutaran film pernikahan dini di Nias, memang ada pro dan kontrak bagi masyarakat Nias sendiri.Akan tetapi kita mengambil sisi positifnya saja,khususnya kita masyarakat nias.Berdasarakan penelitian yg dilakukan oleh PKPA(Pusat Kajian Perlindungan Anak),Nias termasuk salah satu daerah yg tingkat pernikahan dini tinggi.Jadi dari situ kita mengambil hikmah dari pemutaran film itu agar masyarakat Nias lebih menyadari apa resiko dari pernikahan dini tersebut serta mau menghapus stikma dari masyarakat Nias yg slama ini mengatakan”Oya nono Oya Harazaki”.Selaku Seorang DUTA REMAJA SUMATERA UTARA,berpesan kepada kita semua khususnya kita masyarakat Nias agar tidak lagi melakukan yg namanya pernikahan dini,dalam arti kita berupaya untuk mendewssakan usia pernikahan.OK.Thanx.
SOKHIFAO WARUWU
DUTA REMAJA SUMATERA UTARA 2008
rahman said
wah penasaran nih belum nonton filmnya.
souvenir pernikahan ?