Marinus W.
Pengantar
Badui! Sebuah daerah yang khas, istimewa untuk sebagian besar para Antropolog dan Sosiolog. Kekhasan dan keistimewaan Badui tampak pada budaya (culture), adat istiadat, dan manusianya. Kekhasan dan keistimewaanya itulah yang membuat para ilmuwan dari berbagai Universitas ternama di dunia jatuh hati padanya.
Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman dari Universitas Parahyangan (Fakultas Filsafat) berkunjung ke Badui. Sungguh berkesan! Begitulah opinion beberapa teman ketika ditanya bagaimana perasaan mereka selama pejiarahan kami ke Badui. Perjalanan yang menyenangkan. Seolah kami berada di dunia lain. Dunia yang sebelumnya tidak pernah kami alami, kunjungin. Maka pendapat Om Don yang mengatakan bahwa kami sedang berada di zaman batu, jaman 2000 tahun Sebelum Masehi benar. Tak terbantahkan!
Karena itu, artikel yang sangat sederhana ini tidak lebih dari sebuah sharing pejiarahan kami selama berkunjung ke Badui. Tentu sharing tersebut bukan hanya sharing kosong. But juga disertai refleksi mendalam dari sang penulis. Bentuk sharingnya berupa cerita & refleksi yang dilihat, dialami, dirasakan penulis dari diri orang-orang tertentu. Hal itulah yang ingin dibagikan ole penulis.
Totalitas Om Don Hasman
Setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer dari kota kembang, Bandung, akhirnya kami turun di desa Citorek – Bogor. Di situ kami beristirahat sejenak sambil beres-beres dan sarapan. Tanpa menunggu lama setelah sarapan, kami memulai perjalanan panjang lagi. Perjalanan kali ini tidak menggunakan bus, tetapi cukup dengan berjalan kaki dari desa ke desa. Dari desa Citorek kami menuju kampung Lebah Cibeduk yang jaraknya sekitar 9 kilometer. Suatu perjalanan yang menarik sekaligus menantang karena kami harus melalui jurang, kaki gunung, sawah, dan lembah-lembah berbahaya. Jika tidak hati-hati, kecelakaan bisa saja terjadi setiap saat. Perjalanan ini saya ibaratkan sebagai santapan yang harus kami makan selama perjalanan meskipun tidak enak.
Meskipun capek, pada akhirnya sampailah kami di kampung Lebah Cibeduk ketika jam sudah menunjuk angka 13.00 siang. Di kampung itu kami beristirahat di rumah bapak Murda, teman lama Om Done. Di rumah inilah kami menghabiskan malam sambil bercerita dan melepaskan lelah setelah perjalanan panjang yang kami lalui hari itu.
Ada banyak pengalaman yang bagi saya sendiri sangat menarik dan membuat hati tergugah olehnya selama dalam perjalanan dari desa Citorek ke kampung Cibeduk. Namun, dari sekian banyak pengalaman yang menarik itu ada satu hal yang bagi saya perlu diangkat, yaitu kepribadian Om Done. Hal ini saya anggap penting karena bisa menjadi bahan refleksi anak manusia. Menurut saya, Om Done merupakan orang yang luar biasa karena perhatian dan kasihnya kepada siapa saja.
Sejak kami berangkat dari desa Citorek ke kampung Lebah Cibeduk, Om Done selalu berbicara, mengobrol, dan memotivasi kami semua. Apapun pertanyaan yang dilimpahkan oleh para frater, selalu beliau jawab dengan mantap dan dengan hati. Dari jawaban dan penjelasan beliau, tampaklah pada kami sisi kelembutan seorang bapak kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu, perjalanan kami tidak sepi karena selalu saja ada bahan pembicaraan dari beliau.
Umur tuanya yang sangat jauh dari kami yang muda-muda ini, bahkan lebih pantas disebut cucu-cucunya, tidak menjadi jarak penghalang bagi kami untuk bersahabat dan berbagi rasa. Beliau sangat hangat dan ramah serta selalu melemparkan senyum kepada para frater. Ilmu ini sangat mujarab ketika ada frater yang sudah mulai capek, lelah, dan loyo karena bisa memompa motivasi dan membangkitkan semangat baru. Oleh karena sikapnya yang hangat dan kebapaan, kami pun tak pernah sungkan untuk mengobrol dan bertanya kepadanya tentang apa saja, terutama tentang Badui dan suku-suku terasing lainnya di Indonesia. Beliau tidak pernah membeda-bedakan siapa kami dan memilih siapa yang paling pantas untuk berbicara dengannya. Kami semua sama di hadapannya. Beliau selalu menjawab pertanyaan yang kami lontarkan dan berbicara apa adanya. Tentu saja sesuai dengan pengetahuan yang beliau miliki. Di sinilah letak kebapaan Om Done yang dapat kami alami sendiri. Bukan hanya satu orang yang mengalami kehangatan Om Done, melainkan kami semua. Kami semua merasa senang, dan lebih dari pada itu kami merasa termotivasi oleh kehadiran dan kepribadiannya.
Perhatian beliau menjadi lebih kentara lagi ketika salah seorang dari kami kena pisau. Beliau langsung turun tangan untuk memberi obat. Dia mengikatnya dengan kain. Akibatnya, tangan beliau penuh dengan darah. Sebenarnya hal ini, kena darah, merupakan pamali bagi beliau, namun pada saat itu tidak menjadi masalah bagi beliau karena ada orang yang memerlukan bantuan. Sekali lagi, tampaklah sikap pelayanan dan pengorbanan Om Done.
Pengalaman-pengalaman yang kami temukan selama perjalanan bersama Om Done membuktikan bahwa beliau sungguh-sungguh merupakan bapak bagi kami. Ia sungguh-sungguh memberi diri bagi kami secara total. Totalitasnya dalam pekerjaan dan perhatian tidak perlu diragukan lagi. Walaupun umurnya sangat jauh di atas kami, tetapi beliau sungguh-sungguh dapat menyesuaikan diri dengan kami yang masih muda-muda ini. Di sinilah saya melihat inti kerendahan hati Om Done yang luar biasa. Beliau tidak menuntut supaya orang lain menghargai dan memujinya. Namun, sebaliknya beliau memberi contoh kepada kami semua bagaimana menghargai orang lain. Ini merupakan poin yang sangat penting yang selalu saya ingat dalam hidup ini. Kata-katanya menjadi aktual dalam sikap, tindakan, tingkah laku, dan seluruh kepribadiannya. Pribadinya utuh dan seimbang, antara kata dan tindakan. Read the rest of this entry »