Abad-21, Kematian Modernitas dan Kebangkitan Agama-agama
Posted by niasbaru on July 8, 2008
Marinus W.
Abad-21 identik dengan bangkitnya agama-agama. Kebangkitan Agama-agama bukan dikarenakan modernitas tidak mampu lagi menjawab segala tuntutan hidup manusia. tapi karena modernitas tidak menyentuh inner/hati manusia yang bersifat rohani yang merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. artinya modernitas hanya terbatas pada materi, kenikamatan hidup, sementara bagian dalam manusia tidak tersentuh sehingga manusia mengalami kekosongan rohani. akibatnya, hidup manusia selalu identik dengan kegelisahan, kekacauan, dan rasa ketidakbermaknaan hidup. mungkin saja karena modernitas hanya bergulat dengan sisi luarnya saja. artinya yang fisikal semata. sedangkan inti dalamnya terabaikan. akibatnya, Agama adalah pelabuhan terakhir hidup manusia. sebab sisi dalam hidup manusia, hanya agama yang bisa memasukinya. sayang, kebangkitan agama-agama bagai pisau bermata dua. di satu sisi, agama dapat mengkonstruksi kembali hidup manusia yang sudah hancur karena kegelisahan. di sisi lain, agama justru menjadi sebab terjadinya krisis sosial akhir-akhir ini. triumfalisme atau rasa benar sendiri agama-agama tertentu mengakibatkan munculnya fundamentalime yang berujung pada kekerasan, penganiayaan, kefanatikkan, rasa saling curiga dan saling tidak percaya antar komunitas sosial. dan ujungnya juga adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. lalu setelah modernitas dan agama ternyata sama-sama penyebab krisis dalam hidup manusia, kemanakah nantinya manusia berlabuh. adakah paham selain itu, apakah ateis.
torasham said
artikel menarik pak…senang bisa membaca.
Otenieli Daeli said
Saya tidak tahu, apakah modernitas sudah mati dan agama-agama sudah bangkit. Namun, dengan melihat secara kasat mata fenomena dalam masyarakat kita, justru yang terjadi, menurut saya, modernitas menjual agama-agama. Lihat saja barang-barang rohani (produk untuk kegiatan keagamaan) dijual di mana-mana dengan berbagai replikasi, bentuk yang makin menarik, dan bahan dari berbagai sumber. Ada banyak orang berbisnis “benda rohani” itu semata-mata hanya untuk bisnis dan bukan untuk majunya hidup rohani. Di sini muncullah persaingan bisnis. Dalam arti ini, secara kasar boleh dikatakan: agama menjadi sarana bisnis bahkan sumber bisnis. Dengan kata lain, agama menjadi komoditi, sementara komoditi berkubang dalam arus modernitas.
Dr. Wilfred SH said
Horas!
Yaahowu fefu. Salam kenal untuk semua orang nias yang telah memberi waktu berkunjung di situs ini. Istri saya juga orang niazzz marga zega. Karena itu saya tidak merasa jauh jika bergaul dengan sesama ono niha.
Bagi saya artikel diatas menyentuh. Saya ingin menanggapinya, tapi karena keterbatasan saya tentang judlnya saya mohon maaf. Saya pengagum modernitas. Tapi saya juga mengagungkan agama. Agamalah yang membuat hidup saya kini merasa bahagia.
Dosen di Berbagai tempat.