KURIKULUM, GURU DAN MAKNA KEBERADAANNYA
Posted by niasbaru on May 17, 2008
Berbicara tentang kurikulum maka artinya kita berbicara persoalan yang sangat tendensial dalam dunia pendidikan, karena perlu kita akui bersama bahwa kurikukum mempunyai peran yang urgen, dimana dengan fungsinya kita dapat melihat keberhasilan suatu pendidikan, kurikulum bak sebuah kendaraan yang mengantar mata pelajaran. Ketika tidak dapat memaknai arti, tujuan serta keberadaannya, bagaimanapun bagusnya suatu mata pelajaran tidak sampai dengan sempurna terhadap siswa sehingga arti dari tujuan pendidikan menjadi semu. Karena kurikulum adalah seperangkat rencana, pengaturan tentang isi dan tujuan dan bahan perkuliahan/pengajaran serta sebagai pedoman dan cara untuk sampai pada tujuan pendidikan. Maka dapat kita bayangkan arti sebuah kurikulum.
Guru dalam hal ini dapat diidentitasi karena kemampuan dalam mengimplementasikannnya, sehingga semua perencanaan pengajaran yang ditargetkan dalam waktu tertentu dapat dilaksakan. Bukan hanya sebatas kemampuannya dalam pengetahuan. Kalau ini yang terjadi maka proses pengajaran bak sebuah sebuah kendaraan yang tidak memahami rambu-ramu perjalanan bisa dipastikan tidak akan sampai, atau bahkan tersesat.
Berangkat sadar atau tidak, kita dapat melihat bahwa sangat sedikit sekali guru memperhatikan kenyataan tersebut. Mereka hanya memprioritaskan kemampuannya dalam memahami sebuah ilmu dan menyampaikan ke siswa sebatas transformasi keilmuan, mereka tidak mau repot berfikir apakah siswa sebagai subyek dalam pendidikan dapat mencerna baik? Apakah nilai-nilai dapat terserap pula? Apakah pengajaran menuju pada tujuannya? Atau inikah sebuah realitas dalam dunia pendidikan kita? Sehingga akhirnya kita memperoleh peringkat ke 109 dari 172 negara dalam pantauan UNDP dalam peringkat HDI-nya (Human Development Index). Padahal guru yang Indonesia sudah tidak diragukan lagi dalam keilmuannya, mengapa akhirnya pada kenyataannya akan memperoleh predikat memalukan tersebut? Maka kita sebenarnya berilmu tapi lemah dalam memahami tujuan dan target dalam penyampaian keilmuan. Ibarat seorang yang memegang ceret air, menyiramnya terus ke gelas tetapi tidak mau perduli apakah air itu sudah masuk dengan baik ke dalam gelas? Atau malah hanya akan membuat sekitarnya becek?
Sejenak dengan usaha sadar kita mencoba mengurai perumpamaan apa arti kurikulum, guru atau bahkan lembaga pendidikan. Di abad yang serba cannggih ini semua pengetahuan tersedia dimana-dimana, melalui media massa, internet dan sebagainya. Seseorang walaupun tidak masuk dalam dunia pendidikan formal atau nonformal bisa saja tahu dan mendengar tentang keberadaan internet. Bahkan mengoperasikannya. Tapi mampukah mereka memahami tentang semua fungsi yang ada dalam media tersebut? Bahwa internet tidak hanya sebatas media informasi, bahkan masih banyak fasilitas lainnya seperti komunikasi. Dengan internet seseorang dapat melakukan hubungan dengan lainnya tanpa dibatasi tempat. Masih belum kedalam bagian yang terdalam lagi, tentang pembuatan internet baik dari sisi hardware maupun software serta bagaimana memproses sehingga sampai ke monitor komputer? Dapatkah mempelajarinya tanpa lembaga pendidikan dan tuntunan guru? Maka dapat dipastikan bahwa jawabnya adalah sulit. Nah persoalan ini yang hanya dapat di temui dalam lembaga pendidikan formal.
Melihat uraian diatas bahwa keberadaan guru adalah puncak pada proses pendidikan. Namun apalah arti seorang guru apabila tidak memahami makna kurikulum secara integral? Bak petani yang tidak punya cangkul. Maka paling tidak akan memberikan sumbangsih yang jelek terhadap proses pendidikan. Memang sekarang saatnya pemerintah untuk melihat kebawah atau kebelakang tentang kompetensi guru-guru kita. Predikat guru tidak hanya sebatas lahan pencarian penghasilan seperti pekerjaan lainnya. Karena guru adalah ikon yang melahirkan generasi-generasi. Maka pepatah klassik benar ketika guru kencing berdiri maka murid kencing berlari. Pertanyaannya adalah “Relakah kita apabila murid-murid di Indonesia kencing berlari?”. Menurut Drs. Syaiful Bahri Djamarah (2000) Guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan peranan penting dalam pendidikan, ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti terlibat dalam agenda pembicaraan, terutama yang menyangkut pendidikan formal disekolah
Indonesia kita yang tercinta ini dalam tataran dunia pendidikan sudah beberapa kali menerapkan berbagai model kurikulum, mulai dari CBSA, KBK, KTSP bahkan masih banyak model-model kurikulum dalam tataran wacana. Tapi dapatkah mengangkat harkat dan martabat dunia pendidikan kita ke permukaan pendidikan internasional? Tapi yang terjadi justeru pendidikan kita dalam berbagai pertanyaan. Atau malah-malah bukan kurikulumnya yang tidak layak pakai, dalam istilah modern ada Manajemen error dan Human error. Mungkin dalam tataran logis ketika otak-atik manajemen tidak mampu, maka kemungkinannya adalah human error. Pendidikan di Vietnam, bahwa semua pendidikan yang mencetak guru wajib dipegang pemerintah, dalam rangka menjaga nilai kompetensi seorang guru atau yang lebih ekstrim lagi bahwa paling tidak profesi guru tidak hanya sebatas profesi untuk mencari penghasilan semata. Dari gambaran tersebut dapat kita tarik maknanya bahwa begitu berhati-hatinya pemerintah vietnam terhadap kwalitas guru-guru yang dimilikinya. Tidak asal-asalan seperti negara kita, yang akhirnya harus ditebus semua dosa dengan sertifikasi guru. Mengapa baru sadar? Atau kita terbiasa melakukan sesuatu berorientasi pada proyek?
Maka perlu sekali kita beropini “Buzzword” guru-guru diindonesia. Penting sekali, tidak semata-mata mengolok-olok seorang guru tetapi paling tidak agar memotivasi kepada mereka untuk menghargai profesinya sendiri. Agar melihat diri sejauh mana kualifikasi akademiknya? Sejauhmana kemampuan memahami kurikulum serta apakah guru mengajar sudah membuat rencana yang tentunya ada silabus yang dapat dipertanggungjawabkan? Jika tidak maka jangan harap pendidikan di Indonesia masuk pada ranah globalisasi, tetapi terus menerus berada digaris tepi (terpinggirkan). Atau malah kita akan bangga dengan predikat yang diberikan masyarakat dunia bahwa pendidikan kita berperingkat ratusan dari sekian ratus, End.
* Penulis sedang studi S2 Prodi Pendidikan Dasar UPI Bandung