BULAN TERTUSUK ILALANG
Posted by niasbaru on April 18, 2008
Marinus W.
“Tulisan ini merupakan refleksi singkat dari saya akan film yang berjudul: Bulan Tertusuk Ilalang”
Kalau saya tidak salah, film yang berjudul di atas merupakan film yang dibuat ketika pemerintahan orde baru masih berkuasa di Indonesia. Film ini merupakan bentuk kegelisahan seorang Garin Nugoroho (Sang Sutradara) akan kondisi bangsa ketika itu. Bagaimana tidak, pemerintahan dibawah orde baru sungguh memilukkan, dan hak-hak rakyat merasa terancam akibat sistem pemerintahan yang bersifat otoritarianisme. Maka warga merasa tidak nyaman, bahkan merasa terasing di negerinya sendiri akibat sistem kekuasaan yang sangat mengekang rakyat. Maka film Garin Nugroho ini merupakan salah satu bentuk kritik atas itu semua. Dan singkat kata untuk menyadarkan pemerintahan yang saat itu kurang peka terhadap hidup warganya sehingga rakyat merasa ditindas, trauma akibat berbagai pelanggaran HAM yang korbannya adalah rakyat sendiri.
Maka saya akan melihat, dan merefleksikan beberapa tema penting yang ingin di sampaikan oleh film yang menohok ini. Pertama, darah merupakan simbol kelahiran. Dalam film ini, seorang anak karena telah berbuat salah terhadap ibu kandungnya sendiri, dan karena itu, ayahnya sangat marah besar, sehingga sang ayah karena kemarahannya ia menusuk ujung jari anak yang bersangkutan di mana jari tersebutlah yang telah berbuat salah. Maka anak itu pula karena kesakitan yang dialaminya ia merasa berdosa, bersalah akan tindakannya. Dan mungkin saja hal itu disebabkan oleh hukuman ayahnya kepadanya sehingga ia menjadi sadar. Namun peristiwa itu menjadi trauma bagi anak tersebut karena darah keluar dari tubuhnya sendiri oleh ayahnya yang bertindak berlebihan. Darah dalam film menarik ini tidak lain adalah sebuah simbol kelahiran kembali, dan bangkit dari rasa bersalah, dan keputuasaan.
Kemudian dalam film ini juga mau menegskan bahwa perdamaian hanya bisa tercipta lewat pertumpahan darah. Kenapa? Karena seorang raja merasa kurang sreg dalam memerintah jika dalam lingkup sosial yang menjadi wilayahnya banyak kritik yang dialamat kepada institusinya. Dan kemudian kritik ini dapat menjadi penyebab terjadinya ketidakstabilan dalam kerajaan. Karena itu pulalah, raja bertindak dengan sekeras-kerasnya. Inilah yang terjadi pada pemerintahan orde baru ketika masih menjadi nomor wahid di negeri kita ini. Segala kritik terhadap pemerintahan harus dihindarkan. Jika tidak maka akan menjadi bencana tersendiri untuk orang atau golongan yang melancarkan kritik terhadap pemerintahan. Pada masa orde baru berapa ratus ribu nyawa hilang akibat kekejaman orde baru yang tidak mau dikritik? Seorang pemimpin tidak mau dikritik oleh warga adalah tidak lain merupakan kebiasaan raja-raja jaman dulu terutama di Jawa, sehingga hal tersebut menjadi turun-temurun terhadap sistem pemerintahan orang indonesia yang tidak lain dikuasai oleh buaday Jawa. Maka apa yang dikatakan oleh mantan ketua MPR-RI Amien Rais ketika Soeharto meninggal adalah benar. Menurutnya, penguasa orde baru tersebut mirip dengan Raja-raja Djawa zaman dulu, dimana tidak mau menerima kritik dan koreksi dari rakyat. Apa yang dikatakan raja semuanya benar, dan tidak terbantahkan. Bagi orang Djawa, seorang raja adalah titisan dewa, karena itu apa saja yang diperbuatnya adalah benar. Dan itu yang ada dalam diri Soeharto ketika masih berkuasa. Selain itu, unsur darah ini juga mengandung makna bahwa untuk memperjuangkan demokrasi, dan ketertindasan itu harus ditempuh lewat pertumpahan darah. Maka peristiwa semanggi I, dan II adalah contoh konkretnya. Bahwa demi memperjuangkan kebebasan, para mahasiswa rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi tujuan mulia mereka untuk kebebasan dari penguasa yang tidak becus.
Film ini kurang lebih menyngkut tentang bagaimana seseorang dapat keluar dari traumatis yang dialaminya sejak kecil. Dan hal ini menjadi trauma ketika yang bersangkutan menjadi dewasa. Traumatis ini pada akhirnya sangat mempengaruhi hubungan sosial anak yang bersangkutan sehingga pada titik tertentu ia kadang merasa minder, atau merasa bahwa orang-orang di sekitarnya membencinya. Padahal ini hanya pemikirannya semata. Di mana trauma-trauma masa kecil atau masa remaja melekat dalam diri sang anak. Trauma biasanya dialami karena merasa ditindas, dan sering mengalami kekerasan baik dalam rumah tangga maupun orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya.
Yang paling menarik bagi saya adalah film ini juga menonjolkan sosok sang buta. Sosok sang buta walaupun punya keterbatan dalam hal penglihatan. Namun ia punya ketrampilan yang luar biasa. Dan keterampilan tersebut adalah kemampuannya bermain musik Jawa, atau memainkan musik wayang. Ini adalah luar biasa dengan pendengaranya, ia dapat membedakan mana not yang cocok untuk lagu tersebut dan mana yang tidak.
Yang mau disasar oleh film ini adalah kepekaan. Orang buta ini walaupun buta, tapi ia sangat peka terhadap berbagai hal yang berada di sekitar. Apa maksunya? Film ini ingin mengajak kita agar peka juga terhadap orang lain. Ketika sesama berada dalam pendeirtaan, atau kemiskinan hendaklah kita juga tergerak oleh belaskasihan, dan bertindak untuk menolong mereka dengan kemampuan yang ada pada kita. Sikap ini jugalah yang menjadi kekuatan Yesus. Ketika melihat orang yang menderita, buta, dan meninggal, hati Yesus selalu tergerak oleh belaskasihan. Dan ia datang untuk menolong mereka dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Amin.
Tuhan Memberkati!