Nama saya Alina
Posted by niasbaru on January 19, 2008
“Apa kabar?” sapaan itu terdengar khas dari dari Alina Brad. Dia perempuan dari Austria yang berambut pirang dan berparas ayu. Aksennya memang terdengar janggal di telinga. Namun usahanya untuk bisa berbahasa Indonesia membuat setiap orang yang pernah mendengarnya menjadi terharu.
Oleh: Veronika Lase
Alina Brad lahir pada 14 juli 1978. Tepatnya Sighetu Marmatiei sebuah kota kecil di daerah Maramure, Rumania. Alina sangat beruntung memiliki daerah yang indah seperti Rumania. Negara kecil ini sangat terkenal karena lukisannya yang indah. Keindahan-keindahan bisa dilihat dengan mudah dibanyak tempat, seperti di gereja dan biara.
Kenangan masa kecil cukup membekas bagi Alina. Karena keadaan politik yang tidak menentu, Ayah Alina terpaksa pindah ke Austria di tahun 1988. Setahun kemudian, keluarganya yang lain ikut menyusul. Waktu itu Alina masih berusia 11 tahun.“Kami ke sana (Austria) karena rezim komunis di Rumania,” kenangnya. “Sesampai di Austria keluarga saya dibantu oleh Caritas Austria,” lanjutnya.
Seperti kisah pendatang (imigran) kebanyakan. Hidup di negeri asing pasti tidak mudah. Hal itu juga dialami Alina dan keluarga ketika menapaki hari-hari pertama mereka di Austria. Kesulitan demi kesulitan mendera mereka. Salah satunya masalah bahasa. Maklum bahasa Rumania sangat berbeda dengan bahasa Austria yang kental dengan aksen Jerman. Mau tidak mau Alina kecil harus mempelajari bahasa negara Viennese Waltz itu. Hampir setahun lamanya Alina harus beradaptasi dengan bahasa Jerman ini. Di bulan-bulan pertamanya, Alina tidak banyak berkomunikasi. Alina hanya bisa mendengar orang-orang berbicara.“Dua bulan pertama saya hanya tinggal diam…,” tukas Alina.Di bidang pekerjaaan, Alina punya segudang pengalaman sebagai pekerjaan sosial (social workes). Panggilan batinnya pernah membawanya bekerja pada sebuah NGO (Non Goverment Orgnization) yang bergerak dibidang perlindungan terhadap perempuan korban perdagangan manusia (woman victim for human trafficking) di Austria. Menurut Alina, banyak perempuan yang dipekerjakan secara tidak layak dipelbagai kota di Austria. Perempuan-perempuan itu diiming-imingin pekerjaan yang baik. Namun kenyataanya berbeda. “ Mereka diberi janji misalnya sebagai pelayan namun sesampai di Austria menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial),” jelas Alina dengan mimik wajah yang serius.Perempuan-perempuan itu kebanyakan berasal dari Albania dan Rumania. Kesulitan ekonomi di negara-negara Eropa Selatan itu, membuat banyak perempuan terpaksa mencari pekerjaan ke belahan Eropa yang lain. Sebagai seorang konsultan Alina melakukan konseling, diskusi dan mengunjungi para korban. Dia bersama NGOnya berusaha membantu para korban agar mempunyai kehidupan yang layak di negara kelahiran Mozart itu. Setelah bekerja di NGO itu, perempuan energetik ini memutuskan bekerja untuk Caritas Austria. Rupanya pertemuannya dengan Caritas Austria semasa kecil bukanlah pertemuan yang terakhir. Keinginannya untuk membantu orang-orang miskinpun kembali mendapatkan tempat. “Caritas adalah organisasi yang tepat untuk mewujudkannya,” kata Alina.
Perempuan yang suka membaca dan menulis itu ditugaskan Caritas Austria untuk menulis sebuah tesis. Isinya bagimana Caritas sebagai sebuah lembaga sosial bekerja.”Tugas saya adalah memperkuat partisipasi dan perkembangan kerja,” jelasnya.
Alina yang pernah berkunjung ke benua Amerika itu akhirnya datang ke Nias (Indonesia). Di pulau Nias dia akan melakukan penelitian pengembangan program livelihood yang didonori Caritas AustriaBagi Silvia Holzer, perwakilan Caritas Austria di Indonesia, kedatangan Alina ke Nias mempunyai arti penting. Karena hasil penelitian Alina akan menjadi panduan bagi program livelihood yang dirancang untuk daerah Moroe (Nias Barat). “Ini merupakan langkah pertama bagi kami sebagai panduan livelihood bagi proyek di Alasa,” kata Silvia.Sebelum ke Nias, Pastor Raymond Laia (Wakil Direktur Caritas Keuskupan Sibolga) sempat bertemu dengan istri dari Oliver Ottenschlàger ini. Dengan maksud bercanda Pastor Raymod menakuti Alina dengan cerita buruk tentang Nias. “Jangan ke Nias, orang Nias suka makan orang,” kata sang Pastor.Bagi perempuan yang pernah ke Afrika Selatan ini, cerita menyeramkan seperti itu adalah tantangan. Dan ia pun tak takut dengan kata-kata Pastor ini. Alinapun memutuskan untuk ke pulau Nias.Setelah melakoni penerbangan yang menegangkan selama satu jam. Pada Kamis (18/10) Alina tiba juga di pulau Nias. Pulau yang tersohor akibat tsunami dan gempa buminya.Selama di Nias Alina bekerja dengan keras. Dia mengunjungi daerah yang sulit diakses seperti Alasa. Hujan, panas terik dan jalan yang penuh lumpurpun menjadi teman kesehariaannya di Danggari, satu daerah miskin di Alasa, Nias Barat.Alasa bukanlah satu-satunya daerah miskin yang pernah dia kunjungi. Dia sudah pernah pula berkunjung ke Calcuta, India. Di Calcutta, Alina melihat banyak orang miskin yang tidur dipinggir jalan karena tidak punya rumah. “Saya tidak pernah melihat (itu) sebelumnya …,” kenangnya.Selama di India, Alina juga hidup bersama petani disana. “Sewaktu di India saya punya kesempatan untuk berjumpa dengan para petani. Mengunjungi mereka, tidur bersama mereka, melihat bagaimana mereka bekerja…” tambahnya lagi.Untuk urusan tempat tidur atau pemondokan. Alina bukan type yang bermanja-manja. “Saya tidak suka travelling dengan memilih tinggal di hotel dengan kolam renangnya,” katanya dengan serius. Alina lebih memilih tinggal dan hidup dengan kesederhanaan. Terlebih dengan yang miskin. Menurut Alina kemewahan bisa dengan mudah didapatkan di mana saja. Tapi tidak demikina dengan kemiskinan. “Hal-hal yang seperti ini (kemewahan) kita bisa dapatkan dimana saja…,” jelas alina lagi.Hal itu dibuktikan Alina ketika di Alasa. Dia harus hidup dengan akses komunikasi yang terbatas. Tidak hanya itu, Alina juga memilih menginap dirumah warga desa yang miskin. Alina menceritakan pengalamannya selama di Alasa. Salah satu yang paling diingatnya adalah pertemuannya dengan Nani Waruwu.“Nani masih berumur 18 tahun ketika menikah,” tukas Alina mengenang teman barunya itu.
Alina melihat bagaimana Nani bertahan hidup. Dari cerita Nani, Alina mengetahui bahwa wanita muda tersebut harus bekerja mulai jam 4 pagi sampai sore hari. Semuanya demi untuk kebutuhan melanjutkan hidup. Terlihat Alina juga amat dekat dengan Nani dan bahkan nomor telpon Nanipun ia simpan .Tapi sebagai bule (orang asing) Alina kerap kesulitan berkomunikasi dengan penduduk setempat. Terutama kendala bahasa.“…seringkali saya merasa mereka membuat tembok pemisah hanya karena saya adalah orang asing,” ucapnya dengan sedih.Pengalaman lucu sebagai orang asing juga dia rasakan. Pengalaman Alina itu dituturkan Barbara Dettori, perwakilan Caritas Italia di Indonesia. “… suatu malam di rumah dia (Alina) menginap, orang-orang duduk disekitarnya hanya untuk melihat dan memandang Alina,” kata Barbara.Seperti pepatah : Dimana Bumi di Pijak disitu langit dijunjung. Pepatah itu ternyata dilakoni Alina dengan baik. Budaya Nias yang kental dengan makanan dari daging sebenarnya bertolak belakang dengan Alina. Dia tidak mengkonsumsi daging. Namun Alina mencoba mensiasati semua itu. Dengan senang hati dia memakan daging yang disuguhkan untuknya.”…dia melakukannya demi untuk (bisa) menjalin hubungan dengan orang-orang,” tambah Barbara.Salah satu “trik” jitu yang digunakan Alina adalah mempelajari bahasa lokal. Alina belajar keras agar bisa berbicara dalam bahasa Indonesia. Sampai-sampai dia mengikuti kursus. Tidak hanya belajar keras, Alinapun mempraktekkannya sehari-hari. Salah satu dengan selalu mengucapkan,” Apa kabar,” kepada siapapun yang dia temui.Tak cukup hanya bahasa Indonesia. Beberapa kata-kata dalam bahasa Nias pun dia kuasai. Dengan fasih dia bisa mengucapkan amisibai, mõigauwa he (enak sekali, kami duluan ya)Kehangatan dan keramahan Alina juga dirasakan banyak orang. Diantaranya Yusuf Nehe, seorang pekerja Caritas. Dia seringkali menemani Alina dalam mengunjungi desa-desa. Dengan wajah ekspresif, Pak Yusuf berujar,”Alina adalah orang yang baik, terbuka dan suka bergaul dengan siapa saja.”Hal senada juga diungkapkan Silvia Holzer.” Dia adalah teman yang baik untuk berdiskusi, bisa diajak untuk meluangkan waktu bersama dan humoris,” tukas Silvia.Selama di Nias Alina telah membuktikan ucapannya. Menurutnya, apa yang dilakukan selama di Nias bukan karena paksaan. Bahkan sampai dipemondokan masih saja dia meneruskan pekerjaan. “saya tidak memiliki dinding pemisah antara kerja dan rumah” kata Alina. Banyak orang bekerja hanya demi uang. Namun bagi Alina tidaklah demikian. “uang bisa membuat kita senang namun hanya sebentar saja,”ujarnya. Alina ingin melakukan banyak hal untuk orang lain, tetapi bukan semata-mata karena uang.Setelah hampir 45 hari tinggal di Nias, perempuan yang menyukai lagu Tano Niha (tanah Nias-red) ini pun harus kembali negaranya. Dia harus menyelesaikan tesis di jurusan Political science and International Development dan tentunya laporan program livelihood untuk Caritas Austria.Kamis (29/11) adalah hari terakhir kerja buat Alina. Dengan mata yang berkaca-kaca, Alina tersenyum dan berkata ,”..Terimakasih…” “Saya senang bisa melakukan banyak hal” ungkap Alina dengan bangga. ***Sumber: Situs Caritas Keuskupan Sibolga
Marinus W. said
Sungguh fantastis hidup Alina. Di tengah gaya hidup yang serba modern, yang ditandai dengan individualisme, acuh tak acuh akan kehidupan orang lain, dan kebutaan terhadap penderitaan orang lain justru pribadi Alina menampilkan sisi-sisi lain dari itu semua. Ketika gempa melanda pulau Nias beberapa tahun lalu, Alina datang bagai seorang gembala. Ia bukan hanya mendengar dari seberang sana, negeri jauh. Tapi ia datang ke Pulau Nias untuk bertindak, dan memberi secercah harapan di tengah-tengah keputusasaan orang Nias yang merasa bahwa Tuhan tidak berpihak kepada mereka dan telah meninggalkan mereka akibat dosa-dosa yang diperbuatnya.
Alina hanyalah sebagian dari sekian banyak orang yang telah berkorban untuk Nias kita. Selain kita harus berterima kasih kepada mereka dan terutama Sister Alina, marilah kita juga meneladani hidup mereka dan tidak tengelam dalam individualisme yang berlebihan dan buta akan penderitaan orang lain.
Alina, walaupun engkau telah pulang ke negeri tempat asalmu, namun kami orang Nias selalu mengenangmu sebagai orang yang telah berkorban untuk Nias.
Salam
Postinus said
Sang guru kebijaksanaan, Konfusius pernah berkata: seseorang yang berbudi adalah pribadi yang peduli pada kemanusiaan. Manusia tak tergantikan nilainya dan tak terbandingkan maknanya. Mrs Alina adalah figur yang peduli pada kemanusiaan tanpa pamrih tanpa do ut des. Semoga perjuangan semacam ini kita teladani dan hayati bersama. Anda setuju?….
Postinus Gulo (moderator http://www.mandrehe.wordpress.com).