Selama ini, orang sering beranggapan bahwa orang nias itu sukuismenya tinggi sekali. Saat di perantauan, orang nias selalu membentuk kelompok sendiri. Dan tidak mau bergaul dengan yang yang beda suku dengannya. Komunikasi antar orang nias selalu menggunakan bahasa daerah, dan jarang menggunakan bahasa Indonesia. Walaupun sebenarnya berada lingkungan yang mayoritasnya suku lain, namun tetap ngotot menggunakan bahasa daerah. Akibatnya rasa curiga antara suku yang berbeda selalu tinggi. Dan kadang berujung pada konflik. Penilaian ini merupakan image orang asing yang malang melintang pulau nias dan juga yang bergaul dengan orang nias yang kuliah di luar nias. Karena itu, orang-orang asing ini, tahu betul watak, sikap, kepribadian orang nias khususnya rasa sukuimenya yang tinggi, terlalu partikularis. Read the rest of this entry »